The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 16 ~ Sayang Ayah



Sebenarnya Acasha anteng-anteng saja kelima orang itu mengikuti bahkan Acasha dibuat senang, namun menjadi masalah harus kah sampai ke ambang pintu kelas.


Padahal bagi Acasha cukup di gerbang TK Cipta Jingga. Acasha hendak protes, terpaksa urung mendapati senyum cerah Cleo dan tatapan dingin Luka yang mengamati sekitar. Acasha dengar, kali ini telah kembali. Acasha berkacak pinggang dengan matanya yang bulat melotot.


"Ayah juga jelek lebih jelek dari Aca," balas Acasha meniru gaya bicara Kallen terkekeh geli dan Iyan tengah bersandar di tembok serius terhadap gim di ponsel sembarangan.


Melly bilang Aca harus wangi jadi gak boleh bau jigong." Acasha buru-buru mengusap pipi. Melly berdiri kaku seketika kelagapan, Iyan sama sekali tak tersinggung justru kembali hendak mengulangi ingin mencium wajah Acasha secara keseluruhan.


Sayangnya Acasha lebih dulu bersembunyi di balik punggung Luka. "Ayah mau sekolah juga, kan? Gak papa aku ditinggalin sama Melly." Acasha berkata halus dalam batin sangat berharap mereka secepatnya pergi.


Keberadaan keturunan klan terkenal di ibukota "Nanti pas istirahat gue bakal ke sini. Jemput lo," ujar lyan memberitahu.


"Kalau bolos pun bisa kayaknya yang punya sekolah Ayah tergalak Aca." Acasha mengerjap.


"Jadi, sekolah gedung tinggi itu punya Ayah?" tanyanya. "Iya, bukan cuma sekolah di seberang itu, berseru kesal." Meskipun sekolah Jingga punya keluarga gue bukan berarti lo bersikap nakal.


Kenapa Silver malah membuang muka saat melanjutkan ucapannya apalagi Silver tampak gugup kemudian saat Luka melirik sekilas. "Aca gak paham," sahut Acasha sekenanya. Apa mereka tidak sadar sedari tadi menghalangi jalan Acasha, dan sebelumnya dengan kurang ajar Kallen menutup pintu lalu menguncinya, bertindak tuli oleh teriakan dan tangisan anak kecil.


"Hadiah pertama, Aca." Cleo berbisik sambil memakaikan gelang perak ke tangan kanan mungil Acasha. "Gelang ajaib, kami bisa tau lo ada di mana." Cleo tertawa merdu, nada suaranya terdengar bercanda siapapun kemungkinan mampu tertipu.


Acasha mengangguk polos, "Makasih, Ayah. Aku sayang Ayah." Acasha memandangi gelang melingkar di tangannya. Terkesan sederhana, tetapi Acasha yakin bandul-bandul kecil tersebut tertempel alat deteksi.


"Aca sayang kalian..." Acasha berlari mendekati Kallen dan Silver yang ribut, sepertinya Silver karena ke-antian Silver, Acasha selalu merasa tertantang melakukannya. "Ayah tenang aja. Sayang Aca lebih besar keduanya.


Silver kembali tercengang disusul Kallen Acasha mencium lama punggung tangan Silver. "Makasih, Ayah. menunduk. Jujur, Acasha agak takut raut wajah kelimanya sekarang apalagi Luka. Lalu, tiba-tiba Silver mendorong Acasha.


Pergi keadaan bungkam, di ikuti Kallen yang mengusap puncak kepala Acasha lebih dulu. Sementara itu Silver yang kabur, baru berhenti di tanaman rambat di area taman.


Tidak ada yang tau apa isi pikiran Silver namun lama-kelamaan sudut bibir Silver melengkung Kallen melompat muncul, gelak tawa membahana sarat akan ketidakpercayaan, "Nggak sia-sia gue dijuluki penyusup hebat akhirnya bisa liat lo salah tingkah, Ver." Senyuman luntur, ekspresi Silver berubah teramat muram. Peka bahwa detik kemudian keadaannya akan buruk Kallen buru-buru berlari.


"Pakai seragam elite pun lo masih tetap jelek." Suara itu sebelumnya selama seharian tidak Silver. Silver tercengang dan langsung mendongak. lyan yang gemas membungkuk, mengambil kesempatan mengecup pipi Acasha yang mulai berisi.


"Ayah aku pengen masuk kelas, kenapa pintunya di tutup? Mereka di dalam nangis." Cleo mendadak berjongkok di hadapan Acasha mengingatkan Acasha pada kejadian di lobi.


"Gue juga mau disayang." Iyan menunjuk mukanya. benar-benar serius mematahkan tangan Kallen, Acasha sadar cowok berperawakan tinggi besar itu tidak suka disentuh sembarangan ke Ayah galak, jadi jangan marah-marah." Acasha meraih cepat jemari Silver berhasil menghentikan adu mulut, berdiri di antara yang melongo menemukan pemandangan di depannya.


Makasih udah bawa Aca. Berkat kalian hidup Aca baik," ucapnya tulus. Tidak ada yang menanggapi dan Acasha tetap tipis.


"Astaga, kenapa muka lo merah?" Tahu-tahu Kallen melompat muncul, gelak tawa membahana sarat akan ketidakpercayaan. "Nggak sia-sia gue dijuluki penyusup hebat akhirnya bisa liat lo salah tingkah, Ver."


Senyuman luntur, ekspresi Silver berubah teramat muram. Peka bahwa detik kemudian keadaannya akan buruk Kallen buru-buru berlari.


*******


Ramai. Mau tak mau Acasha harus terbiasa, Acasha terduduk lama. Kebingungan harus bagaimana.


Jam istirahat dan Melly entah pergi ke mana. Acasha sudah lelah bersikap polos, nyaris saja mulutnya asal ceplos kala guru bertanya tentang hitung-hitungan.


Acasha rasanya ingin berteriak, bahwa dia bahkan hafal perkalian. Paling parah Acasha sempat mengebrak meja karena bosan guru itu terus-menerus menyanyi lagu yang serupa.


Sebentar.


Acasha baru menyadari anak-anak lain sedang bermain, sekedar beberapa anak memilih keluar kelas kecuali Acasha dan satu lagi sosok anak laki-laki yang duduk masih di barisan Acasha, posisinya terbelakang.


Acasha sontak beranjak, melangkah pasti menghampiri. "Halo, mau gak jadi temanku?" Acasha menyapa sedikit kaku.


Dia mendongak.


Acasha tersenyum manis hingga matanya menyipit. "Aku Acasha. Kamu?" Semoga saja tidak memalukan, Acasha punya pengalaman buruk dalam pertemanan. Teman perempuannya di kehidupan pertama semuanya sangat mengerikan.