The Secret Behind The Story

The Secret Behind The Story
Chapter 45 ~ Menyembunyikan



Acasha terus memikirkan ucapan Luka sepanjang koridor menuju kelas.


Sesekali melirik Yasa berjalan di samping, jarang sekali Luka berbicara dengan maksud menilai seseorang di sekelilingnya.


Apa itu suatu peringatan? Topeng ya? Selama ini Acasha sudah di ajarkan arti sesungguhnya topeng menurut mereka berlima, jadi tak perlu lagi Acasha harus memasang muka cengo.


"Yasa." Acasha memanggil, indra penglihat Acasha kemudian menangkap basah para adik kelas membentuk lingkaran di belokan yang akan keduanya lewati, mencuri pandang lalu tersenyum malu-malu.


Acasha cemberut. Mata jelalatan mereka mengarah ke satu titik.


"Aku haus." Tepat Acasha mengungkapkannya, langkah kaki sama-sama berhenti. Acasha sendiri mengikuti karena sekarang tangan kanannya di genggam.


"Kita ke mesin minuman." Mendapati pihak lain mengangguk setuju, dia membalikkan badan.


*******


Memastikan tidak ada seorang pun mendengarkan, Acasha mengubah posisi. Dengan sengaja berdiri menghadap remaja laki-laki di kenalnya semenjak TK.


"Aku mau bicara serius."


"Silahkan."


Acasha berdeham, mata menyipit seiring detik. Rupa ini, dulunya kekanak-kenakan telah sirna.


"Aku makin sadar ternyata banyak yang berubah."


"Sama."


"Apanya yang sama?"


"Menurut kamu?"


Acasha mendelik. Padahal Acasha tidak ingin bercanda, merebut botol minum di pegang Yasa dengan cepat Acasha meneguk air mineralnya kembali.


"Aku tau ada yang kamu sembunyikan dari aku, Yasa." Acasha memainkan botol di tangan kemudian, memandangi lekat wajah Yasa. "Kata Ayah, kamu pakai topeng!" lanjutnya blak-blakan.


"Aku mana berani menyembunyikan apapun dari kamu. Kamu tau semuanya, aku selalu cerita." Yasa tersenyum.


"Beda cerita, kalau Ayah aku yang bilang harus hati-hati sama kamu. Biasanya nih, ya. Orang agak kurang normal bisa mendeteksi sesamanya..." Diam-diam Acasha berharap


Luka tidak tersinggung.


"Secara nggak langsung kamu sindir aku gila."


"Emang itu sindiran ya?"


Acasha mengerjap lugu disusul Yasa terkekeh geli, tangan kanan Yasa tak tahan tetap diam maka setelahnya Yasa mengacak gemas rambut Acasha. Cuma beberapa detik, perbuatan Yasa lebih dulu mendapat penolakan.


Acasha terus berjalan mundur merasa jarak tercipta cukup, Acasha beralih bersedekap. Dagu terangkat sedikit tinggi, saling tatap dalam keheningan lama. Mengamati lurus netra gelap Yasa.


"Kita enggak boleh saling bicara dulu, sebelum kamu menunjukkan topeng kamu secara terang-terangan. Sejujurnya aku lebih suka orang kaya begitu, daripada munafik."


Tatapan Acasha berubah dingin, berbanding terlebih dengan Yasa yang justru tampak biasa-biasa saja bahkan kali ini senyuman Yasa bertambah lebar membuat Acasha jengkel bukan main.


"Aku yakin, kamu bercanda."


Sial! Acasha membatin kesal. Mengapa susah sekali menakut-nakuti Yasa Kalandra.


"Tapi aku serius soal ak-"


"Gak suka orang munafik, kan? Aku bukan orang kaya gitu, Aca." Yasa menghampiri.


Acasha terpejam sesaat sambil mendorong wajah Yasa yang terlalu dekat baginya.


"Jangan macam-macam." Acasha berbisik ketus.


"Maaf. Salah kamu sendiri yang makin manis." Yasa menyahut tenang, bukannya tersanjung Acasha malah menginjak kedua kaki Yasa bergantian.


*******


"Tadi kalian ke kelasnya barengan, habis pacaran ya?"


"Bodo amat!"


Sashi menyengir tengil. "Ampun, Ca. Lagian pacaran juga nggak papa. Gue selalu dukung."


Acasha sontak tergelak keras seolah-olah ucapan Sashi memang lucu. Beruntung kini jam istirahat jadi tak seorang pun terganggu.


"Gak mungkin kejadian kayaknya. Lo paham, kan. Gimana lima Ayah bangkotan gue itu kelakuannya lumayan ekstrem."


Sashi meringis. Kembali mengingat dia pernah pingsan lalu demam tinggi setelahnya karena tak sengaja melihat sepotong kepala berada di panci. Saat itu Sashi berkunjung ke rumah Acasha, berniat menginap jusrtu menemukan kejadian mengerikan di bagian dapur.


"Entah milik siapa kepala itu, misalnya lo dan Yasa pacaran... selain Yasa pun, gue dapat nebak akhirnya tubuh mereka di potong-potong dadu." Sashi bergidik ngeri.


Acasha menghela napas. "Kepala senior yang


dorong gue di tangga lima bulan lalu."


Sashi spontan meremas bahu Acasha, sepasang mata bulat Sashi melotot lebar.


"Gila! Kok bisa lo masih waras detik ini. Kalau itu gue, udah jelas mental gue terguncang hebat!" serunya kaget.


"Untung aja bukan lo." Acasha beranjak. "Gue pengen ke kantin mau ikut cepetan, jangan lelet." Tersirat nada ancaman di kata terakhir. Acasha malas menunggu Sashi harus berdandan sebelum pergi ke kafeteria.


*******


"Hai, anus!" Sashi menyapa riang mengenali betul sosok laki-laki yang menarik kursi di sebelahnya tanpa peduli ekspresi dongkol terpampang jelas kemudian.


"Nama gue Janu." Dia menekan kepala Sashi hingga tertunduk paksa.


Acasha di seberang menatap lempeng. Dulu, mereka berlima sekelas termasuk Yasa, tapi cuma tahun pertama tepat kelas dua tidak lagi.


Jika Yasa bersama dua temannya di kelas 11-1 maka Acasha dengan Sashi di kelas 11-2. Acasha mengetahui alasan mereka tak sekelas, ada campur tangan si pemilik sekolah.


"Yasa mana?" Acasha mengerutkan kening.


"Yasa ke perpustakaan, katanya bakal cepat-cepat datang ke sini. Secara Yasa gak akan bisa pisah lama-lama sama lo, Aca." Sakti menjawab dengan intonasi main-main.


"Terserah." Acasha memalingkan muka, mulutnya sibuk mengunyah bulatan bakso.


Situasi masih kondusif, seandainya tak ada yang membuat keributan. Namun, peluang itu terlalu kecil dan penyebab Acasha agak malas menginjakkan kaki di sini.


Si biang rusuh menyebut arti namanya matahari sedang berkelahi di tengah-tengah kafeteria. Acasha berpikir keras, mencoba mengingat namanya.


"Ngapain?" Bisikan di balik punggung mengagetkan Acasha, belum sempat menoleh mata Acasha mendadak di tutup oleh telapak tangan.


*******


Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕