
Acasha semakin menenggelamkan wajah di lipatan tangan dengan posisi duduk bersila. Penasaran yang menggebu-gebu sebelumnya telah menguap.
Ini terlalu mengejutkan. Acasha menghela napas sambil mengacak rambutnya.
"Narasea, tenang lah!" Dizelia sedari tadi mengamati akhirnya bersuara, menghentikan aksi Acasha yang seolah-olah ingin melepaskan rambut dari kepalanya sendiri.
Acasha mendongak. Mulutnya bergumam tak jelas meskipun begitu patuh. Tanpa menatap wanita paruh baya di sisinya Acasha berkata lirih. "Saya tau siapa sosok di masa lalu yang anda maksud."
"Ya, aku yakin kamu cepat memahami. Siapa namanya?" Jemari Dizelia terulur mengusap pipi Acasha.
Acasha terperangah. Pada akhirnya tidak menolak.
"Anda mengetahuinya."
"Aku lebih senang mendengar langsung dari mulut kamu."
Acasha menelan ludah, hendak tetap bungkam tapi Dizelia yang menunggu mau tak mau Acasha mengatakan isi pikirannya sekarang.
"Namanya ... Silver. Silver Jenggala. Dia yang pertama kali menemukan saya di bawah jembatan pinggiran kota," tutur Acasha.
Dizelia mengangguk. Acasha tersenyum kecut secara bersamaan punggung di buat menggigil. Acasha yang berharap Dizelia menyangkal langsung pupus.
"Bagaimana kami dulu?" Acasha bertanya pelan nyaris seperti bisikan. Lagi pula jika itu memang benar, identitasnya sebagai Narasea. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Acasha mencoba menjernihkan perasaannya yang berubah kacau.
"Kamu bisa menanyakan itu pada Hazel." Dia menyahut halus. "Jaga gelangnya baik-baik. Firasatku mengatakan gelang ini penting."
Acasha bungkam.
"Jangan mencemaskan apapun, Narasea. Tunanganmu di masa lampau melakukan hal gegabah yaitu bersumpah untuk tidak menyukaimu, jadi semuanya tidak akan terulang di masa kini bahkan di sisa dua belas kehidupan...." Dizelia meraba hati-hati gelang yang melingkar di pergelangan tangan kanan Acasha.
Acasha mendadak tertawa hambar. Tatapan Acasha bertemu sepasang mata Dizelia yang
m enyambut kebingungan.
"Pantas saja."
"Pantas?"
"Dia membenci saya."
Dizelia sontak menggeleng. "Tarik kata-katamu!" ujarnya tegas.
Acasha cemberut. "Asal anda tau, orang itu selalu membuat saya darah tinggi. Tiap saat, ada kesempatan dia bertindak usil. Apalagi kalau bukan benci? Tidak menyukai artinya memutuskan membenci."
"Narasea, kamu salah paham."
"Rasanya saya pengen nangis."
Acasha bangkit seraya menepuk-nepuk kakinya yang kesemutan. Jujur saja, kejutan yang tak pernah Acasha sangka mengantarkan Acasha
lelah. Tubuhnya meminta beristirahat di kasur
m mpuk lalu tertidur pulas tanpa di ganggu seorang pun.
"Narasea."
Namun, di sisi lain Acasha tidak bisa mengabaikan Dizelia maka Acasha menunduk
lemah.
"Segalanya tidak akan terulang. Kamu dan mereka tidak membawa ingatan sedikit pun pengecualian sosok yang kamu panggil Hazel!" Intonasi suara Dizelia menunjukkan keseriusan mendalam. Acasha menangkap itu sedikit gemetar.
"Tapi Ay-- Lukara." Acasha mengigit sudut bibir, jantungnya mulai berdebar tak nyaman agak menyesakkan. "Saya nggak yakin, Lukara justru sebaliknya."
"Sepantasnya Lukara harus menerima konsekuensi dia perbuat."
"Bukannya anda bilang konsekuensi itu dapat menghilang jika saya memaafkannya."
"Tadi kamu sempat melihat, kan, aku berbicara dengan Lukara dan bekas darah kering di dagu sampai leher ini gara-garanya. Aku sengaja menghampiri karena aku ingin memastikan sesuatu."
"Maksud anda?"
Acasha bergidik.
"Di tidak bisa bertahan lama, hati kamu masih menyimpan keraguan. Keraguan itu membuat kamu belum menerima sepenuhnya, bahwa dulu kamu punya kehidupan di masa lalu."
Dizelia berdiri menghadap Acasha, meraih kedua tangan Acasha. Meremasnya lembut.
"Sewaktu-waktu kematian akan mendatangi Lukara. Nyawanya tergantung di kamu ke depannya, kalau kamu ingin dia hidup cara satu-satunya mengakui dan mempercayai kamu adalah Narasea," ujar Dizelia penuh arti.
"Tapi saya udah maafin ... Lukara, mimpi buruknya hilang." Acasha menyanggah gagap. Detik ketiga Acasha berkedip linglung, baru menyadari selain bermimpi buruk ternyata masih ada hal lain yang lebih membahayakan. "Dia sesekali menyakiti dirinya."
Dizelia tersenyum tipis. "Aku benar-benar bahagia kamu memutuskan terlahir kembali, Narasea." Kaki Dizelia menuruni undakan tangga semen lebih dulu, menyisakan jarak yang tercipta.
"Keputusan kamu buat, kemungkinan punya alasan. Aku menduga untuk menikmati penderitaan orang-orang itu. Sayangnya, sisi lembut kamu miliki berhasil melupakan tujuan kamu yang sebenarnya."
Bibir Acasha terkantup rapat setelah mendengar kesimpulan Dizelia.
*******
Mendudukan pantat di penutup sampah, Acasha mengamati arloji terapit di antara jari, sesekali meniupnya seakan itu mampu seperti semula. Arloji belum tiga bulan di pergelangan tangan rusak total padahal di dalamnya terdapat alat pelacak.
Acasha berdecak pelan. Salah satu di antara mereka, pasti akan mengatai jika dirinya hobi merusak barang apalagi benda mahal.
Sebelumnya, Acasha memang sengaja melempar ke tong sampah supaya aksinya mengejar Dizelia tidak di buntuti satu orang pun.
"Tidak akan terulang." Acasha bergumam, mengingat ucapan Dizelia beberapa menit yang lalu. "Malah bagus." Acasha tersenyum, namun tidak sampai mata dengan tatapan muram pada dinding kontrakan tingkat terbengkalai di depannya.
"Wah, ada bidadari!" Suara parau memenuhi rungu Acasha, di susul tepukan tangan seiring detik berganti nyaring.
Acasha menoleh malas.
Tiga orang pemuda berpenampilan punk yang menyapanya ternyata. Acasha melambai ringan.
"Saya istirahat bentar. Boleh, kan?" Acasha menyelipkan rambut kemudian. "Makasih. Saya emang bidadari." Tentu saja Acasha amat menghargai pujian di berikan kepadanya.
Pemuda berdiri di tengah mendekat. "Nona pasti sadar, kan, ini tempat apa? Lebih baik pergi." Tatapan tajam menghunus terang-terangan.
Acasha menyeringai samar. "Saya nggak mau, ini pemukiman umum." Acasha menggoyangkan kaki. "Kasih saya kesempatan lima menit lagi, rasanya kaki saya mau patah habis lari-larian."
Permintaan Acasha di tolak mentah-mentah,
tidak berbicara melainkan mengambil tindakan.
Belum sampai tangan pemuda berambut jabrik merah menyala tersebut, menyentuh lengan Acasha... tinjuan keras lebih tangkas menghantam dagunya.
Dua orang di belakang menyaksikan melotot terkejut. Melangkah tergesa membantu temannya bangkit yang di buat tersungkur oleh Acasha.
"Oke, saya pergi." Acasha memalingkan muka. "Jangan memegang orang lain sembarangan, saya jelas paham mata menjijikkan anda mengartikan kemesuman." Acasha melanjutkan dingin.
Ketiga orang yang Acasha perkirakan berumur dua puluhan itu kompak menunjukkan ekspresi bengis.
Bayangan Acasha untuk bermain-main di menit selanjutnya seketika hilang, menyadari dua pria datang.
"Ayah." Acasha memanggil tanpa suara. Refleks bergeser menjauh pemuda barusan Acasha tinju kembali terjatuh, kali ini Iyan menendang belakang lutut pemuda tersebut.
Acasha melirik lyan cuma di balas cengiran tengil.
"Hilang hampir dua jam, gue mau dengar penjelasan," kata Iyan usai tiba di hadapan Acasha, menepuk puncak kepala Acasha.
Mendapati keterdiaman pihak lain, Iyan mengerutkan kening. "Kenapa?" tanyanya bingung.
Acasha menggeleng, memandangi lurus ketiga pemuda punk yang kembali kompak tunggang-langgang keluar dari jalan setapak tempat Acasha berdiri kini.
"Beres." Silver tersenyum angkuh, mengusap kepalan tangan berjalan menghampiri. Bangga sungguhan habis menonjok ketiga orang itu hingga lebam. "Ck, seharusnya lo dug---" Kata-kata Silver terhenti, karena Acasha melewatinya. Begitu saja.
*******
Tinggalkan like dan komen. like udah bikin aku semangat lanjutin ceritanya. Terima kasih😘💕