The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 83. Halo, Putri Mahkota ... Istriku | END



Peperangan telah berakhir, dan kini ... Huan Tenggara resmi menjadi bagian dari wilayah Kekaisaran Timur. Xie Wanting dieksekusi dua hari setelah hasil peperangan diumumkan. Mo Wanwan? Pria itu telah kembali ke Kekaisaran Barat setelah sadar, Xiao Xiangqing menerima hadiah bunga Gold God dari Kaisar atas jasanya, lalu pria itu gunakan untuk Mo Wanwan tanpa ragu. Pernikahan mereka akan berlangsung tak lama setelah pernikahan Xiao Mingyui selesai.


Dan hari ini, seluruh rakyat bersorak penuh kebahagiaan. Pernikahan Putra Mahkota mereka yang selama bertahun-tahun tidak pernah memiliki wanita pun akhirnya dilaksanakan. Para rakyat dan pejabat yang tadinya menentang posisi Xiao Jiwang, kini perlahan mulai mempercayai pria itu. Turunnya Putra Mahkota ke medan perang sangat membuktikan bahwa ia layak menjadi Kaisar selanjutnya.


Sekarang, Xiao Mingyui berjalan di samping Xiao Jiwang mengenakan hanfu pernikahan merah. Langkah mereka mantap beriringan menuju aula pernikahan, di dalam sana sudah hadir para bangsawan tersohor serta anggota keluarga Kekaisaran lainnya.


Ketika Xiao Mingyui menginjakkan kakinya di aula pernikahan, dari balik tudung merah pengantinnya, dia melihat Xiao Xiangqing yang biasanya selalu menatap raut wajah tidak senang setiap kali Xiao Mingyui berada di samping Xiao Jiwang, kini ikut tersenyum bahagia.


Sampai tiba Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang di hadapan Kaisar, Xiao Jihuang, pria itu tersenyum.


Kasim pribadi Kaisar mulai menyerukan perintah membungkuk untuk kedua orang tua dari kedua belah pihak dan langit. Karena Xiao Mingyui sudah tidak memiliki orang tua, maka Huang Dajie, kakeknya dari pihak ibu lah yang menggantikan perang kedua orang tuanya.


Huang Dajie terlihat meneteskan air mata, pria itu bahagia bukan main. Dia bersyukur diberikan umur panjang sehingga dapat melihat pernikahan mendiang putrinya dulu dan kini cucuk perempuannya.


Setelah selesai membungkuk, Xiao Jihuang dan Xiao Mingyui kini mengambil posisi berhadapan saat kasim pribadi Kaisar memerintahkan keduanya memberikan hormat kepada pasangan.


Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang pun saling membungkuk, keduanya tersenyum. Begitu selesai, Xiao Jiwang perlahan mendekat ke arah Xiao Mingyui dan membuka tudung pengantin Xiao Mingyui secara pribadi.


Begitu tudung pengantin jatuh ke lantai, semua orang bertepuk tangan meriah. Semuanya bahagia, tidak ada kesedihan setitik debu pun di sini.


"Selanjutnya kita akan menyaksikan pernikahan Xiao Wangye dan Putri Mo!" seru Xiao Jihuang, membuat seluruh tamu tertawa dan menatap Xiao Xiangqing yang langsung mengubah ekspresinya menjadi datar.


Xiao Mingyui ikut tertawa ketika melihat perubahan drastis raut wajah adiknya, lalu ... dia mulai memperhatikan senyum tawa semua orang. Rasanya hangat, Xiao Mingyui merasa lega. Xiao Mingyui harap, senyuman ini dapat bertahan lama, bahkan abadi.


Xiao Jiwang tiba-tiba merangkul pundaknya ketika semuanya masih tertawa, membuat Xiao Mingyui sedikit terkejut dan menoleh ke arah pria itu yang kini resmi menjadi suaminya.


Xiao Jiwang balas menatap Xiao Mingyui, lalu berkata,"Halo, Putri Mahkota, Istriku." Kemudian dia mengecup singkat kening Xiao Mingyui.


>>>>>>>>>


*Hari Ketika Mo Wanwan Hendak Kembali*


"Hati-hati di jalan," ucap Xiao Xiangqing datar, mereka saat ini tengah menjadi tontonan rakyat. Posisi mereka berada di pintu gerbang Ibu Kota.


Xiao Mingyui dan yang lain ada di sana, termasuk Gu Sinjie dan Baili Ruyi. Mereka semua berdiri di belakang Xiao Xiangqing yang sedang mengucapkan kalimat perpisahan dengan Mo Wanwan. Di belakang Mo Wanwan pun terdapat Mo Wangye, pria itu dikabarkan berhasil sadarkan diri ketika perang antara Timur dan Huan Tenggara berlangsung.


"Terima kasih banyak atas bantuan anda, Xiao Wangye. Jika anda tidak--" Ketika Mo Wangye hendak mengucapkan terima kasih, Xiao Xiangqing dengan cepat memotong.


"Tidak, Mo Wangye. Benwang lah yang seharusnya berterima kasih. Jika bukan karena putri Mo, mungkin yang tertusuk dan tidak sadarkan diri adalah saya. Kondisi Kekaisaran pun akan semakin kacau," potong Xiao Xiangqing.


Mo Wangye tertegun, lalu bibirnya tersenyum. "Saling menolong adalah sebuah kewajiban. Sejak mendiang ayah anda masih hidup, Mo Wangfu dan Xiao Wangfu adalah rival sejati. Kalau begitu, Xiao Wangye. Saya--"


"Tunggu dulu, Mo Wangye." Xiao Xiangqing kembali memotong ucapan Mo Wangye, membuat pria itu penasaran.


"Apa ada hal lain?" tanya Mo Wangye dengan raut wajah khawatir.


Xiao Xiangqing menatap Mo Wanwan, tatapan matanya terlihat gelisah. Tetapi ketika Mo Wanwan tersenyum, pria itu menggertakkan giginya diam-diam dan menunduk. Mo Wangye yang melihat tingkah aneh Xiao Xiangqing pun mengerutkan keningnya tidak mengerti, sementara Xiao Mingyui dan yang lainnya menahan tawa di belakang.


Bruk!


"X--xiao Wangye?" tanya Mo Wangye, pria itu seperti syok. Dia tidak tahu alasan Xiao Xiangqing berlutut.


Mo Wanwan yang melihat ini pun terkejut, wajah wanita itu segera memerah. Perlahan dia berjalan mundur ke belakang ayahnya, menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Izinkan saya mempersunting putri Mo menjadi Wangfei saya. Saya bersumpah akan menjaga putri Mo dengan segenap kemampuan saya," ujar Xiao Xiangqing, Mo Wangye pun semakin syok.


Di tengah-tengah ini, Gu Sinjie tiba-tiba maju dan menepuk pundak Xiao Xiangqing, matanya menatap Mo Wangye prihatin. "Mo Wangye, menerima lamaran Xiao Wangye bukanlah sesuatu yang salah, justru sangat bermanfaat. Saya sarankan untuk menerima lamaran tulus Xiao Wangye kami, karena ...." Gu Sinjie menghela napas gusar, seperti orang putus asa.


"Karena Xiao Wangye kami sepertinya sangat mencintai putri anda. Beliau tidak akan fokus dan tenang dalam bekerja jika cintanya ditolak, hal itu akan menimbulkan dampak negatif bagi Kekaisaran," lanjut Gu Sinjie.


Xiao Xiangqing menggertakkan giginya kesal, Gu Sinjie benar-benar pandai bicara menggunakan kalimat yang menyebalkan sejak dulu!


Sementara itu di kerumunan Xiao Mingyui, Gu Lingchi tengah tertawa renyah untuk Xiao Xiangqing. Ini pertama kalinya dia melihat Xiao Xiangqing bersikap sangat kaku dan gugup.


Tiba-tiba, Baili Ruyi menyenggol bahunya. "Lihat, Xiao Wangye pun telah melamar wanita. Kamu kapan, nak? Kamu hendak membuat ibumu ini kesepian di dalam Gu Fu? Kamu pikir ibu tidak muak melihat tingkah aneh ayah dan anak seperti kalian?" Lalu dia mendengus kesal.


Gu Lingchi langsung berhenti dari aktivitas tertawanya, kemudian dia menoleh ke arah ibunya. "Ibu, mengapa Anda membahas ini?"


Baili Ruyi kesal, tangan kanannya segera melayang untuk memukul kepala anaknya. "Putra bodoh! Ibumu ini juga ingin melihatmu sukses, bahagia, dan mempunyai anak!"


Gu Lingchi meringis pelan sambil mengusap kepalanya, lalu bibirnya tersenyum. "Lihat dan tunggu saja nanti, mengapa harus terburu-buru?"


Baili Ruyi mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"


Gu Lingchi tertawa, kepalanya menggeleng pelan. Pria itu lalu melesat pergi meninggalkan ibunya dan yang lain.


Hup!


Gu Sinjie mendarat di taman belakang Istana Kekaisaran, bibirnya tersenyum.


"Feluan," ucapnya hangat.


"Lingchi? Kau sudah datang?!" Xiao Feluan berseru senang ketika mengetahui Gu Lingchi mengunjunginya, wanita itu langsung berlari riang seperti anak kecil. Senyuman Xiao Feluan benar-benar manis.


Gu Lingchi merentangkan kedua tangannya, Lu Feluan pun memeluknya erat.


"Apa nanti malam kau bersedia menemaniku menyelinap keluar untuk melihat pasar?" tanya Xiao Feluan.


Gu Lingchi mengangguk. "Tentu, apa pun untukmu, yang mulia putri Feluan."


"Jangan memanggilku seperti itu, Lingchi!"


Gu Lingchi terkekeh, lalu mengusap lembut kepala Xiao Feluan. Kini, tanpa disadari siapapun, bunga asmara baru tumbuh di Kekaisaran Timur.


...-TAMAT-...