The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 56. Tidak Akan Pernah Bersama



"Jawaban seperti apa yang ingin yang mulia dengar?"


>>>>>


Xiao Mingyui mengambil jarak mundur untuk sedikit menjauh dari Fang Laowang, kemudian belati yang sempat dia simpan kembali ia keluarkan. Xiao Mingyui mulai membangun kewaspadaan terhadap Fang Laowang.


Fang Laowang memperhatikan belati yang dipegang Xiao Mingyui, lalu bibirnya tersenyum pahit. Fang Laowang berdiri, kemudian mengangkat kedua tangannya.


"Saya tidak akan menyakiti anda," ucap Fang Laowang dengan raut wajah serius, senyum pahit di bibirnya masih terlihat samar.


Xiao Mingyui tertegun, kemudian perlahan menurunkan belatinya. Tatapan matanya masih sangat dingin, dia masih belum tahu posisi apa yang dipegang Fang Laowang. Musuh atau teman.


"Saya tidak akan membocorkan apa pun kepada Tuan besar Fang," ucap Fang Laowang lagi, membuat Xiao Mingyui semakin bingung. Dia tidak mengerti mengapa pria itu melakukan hal tersebut.


"Apa alasannya?" tanya Xiao Mingyui singkat.


"Jika saya beri tahu, apakah yang mulia akan berada di sisi saya?" tanya Fang Laowang kembali.


"Lancang! Aku tunangan Putra Mahkota." Xiao Mingyui sedikit terkejut dengan pertanyaan Fang Laowang, dia tidak menyangka pria itu berani mengatakan hal tersebut.


Raut wajah Fang Laowang terlihat sedih, namun bibirnya kembali tersenyum walaupun disertai dengan kepahitan. Tatapan matanya sedikir tertunduk. "Maafkan saya."


"Kamu belum menjawab pertanyaanku." Xiao Mingyui mengingatkan Fang Laowang akan pertanyaannya.


Fang Laowang kembali mengangkat tatapannya, setelah itu kedua telapak tangannya diam-diam mengepal. "Saya mencintai anda."


Kedua sudut alis Xiao Mingyui saling bertaut, berikutnya dia dengan cepat menyimpan kembali belatinya. Kedua mata dingin Xiao Mingyui menatap Fang Laowang intens dengan gelengan kepala singkat. "Simpan omong kosongmu. Aku sedang tidak--"


"Saya tidak bercanda. Itu bukan omong kosong. Anda ingin mendengar jawabannya bukan? Maka, itu dia. Saya, mencintai anda." Fang Laowang memotong kalimat Xiao Mingyui.


"Aku bukan orang yang bisa kau cintai, Fang Laowang. Aku adalah calon istri dari penerus takhta. Kelancangan bagimu terhadapku jika berani melontarkan kalimat seperti itu." Xiao Mingyui mencoba menyadarkan Fang Laowang. Hukuman bagi pria yang mencintai istri seorang Kaisar atau Putra Mahkota adalah kesalahan besar. Pria itu dapat dihukum mati.


"Benar. Tetapi anda belum resmi menikah, apakah anda tidak dapat memper--"


"Fang Laowang. Jangan buat aku membencimu." Xiao Mingyui giliran memotong kalimat yang hendak dilontarkan Fang Laowang. Melihat pria itu masih diam, ia akhirnya melanjutkan,"Bahkan jika aku bukan calon Putri Mahkota, kamu tidak akan pernah bisa mencintaiku, begitupun sebaliknya."


"Di mana masalahnya?" tanya Fang Laowang, keningnya mulai terlipat tipis. Ada siluet kesedihan di tatapannya.


Xiao Mingyui menarik napas sedikit, kemudian bertanya,"Jika sekarang aku menjawab bersedia hidup bersamamu, apa yang akan kau lakukan?"


"Jika anda bersedia bersabar, saya berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Izinkan saya untuk menyelesaikan--"


"Jika masalahnya sudah selesai, siapa pihak yang akan jatuh? Xiao Wangfu? Fang Fu? Apa kau rela Fang Fu mengalami kekalahan?" Lagi-lagi Xiao Mingyui memotong kalimat Fang Laowang tajam, dia tidak bisa menerima ungkapan cinta Fang Laowang.


Fang Laowang diam. Dia memang belum berpikir jauh seperti apa hasil dari hal yang ingin dia 'selesaikan'.


Fang Laowang mengepalkan kedua tangannya semakin erat. Ketika Xiao Mingyui tiba-tiba melesat pergi dan meninggalkannya sendirian di tepi hutan Ibu Kota, jiwanya merasakan kesepian yang luar biasa.


Penyebab Fang Laowang kemari karena dia sempat menerima laporan dari mata-mata ayahnya yang bekerja di Xiao Wangfu. Mata-mata itu menuliskan pesan bahwa Xiao Xiangqing dan beberapa penghuni Xiao Wangfu lainnya menunjukkan gerak-gerik yang tidak biasa. Sebelum laporan Surat itu jatuh ke tangan ayahnya, Fang Laowang memilih untuk menyimpannya lebih dulu dan bergegas ke tepi hutan Ibu Kota. Dia merasa bahwa inilah tempat yang akan dituju oleh pihak Xiao Wangfu. Tadinya dia berusaha melawan diam-diam, namun ketika melihat pihak Xiao Wangfu yang datang ternyata adalah Xiao Mingyui langsung, atas dorongan hati secara tiba-tiba, dia merubah rencananya.


Sementara itu Xiao Mingyui, dia telah kembali ke Xiao Wangfu. Wanita itu masuk melalui jalan rahasia yang sempat dilewati Gu Lingchi untuk kemari.


Begitu Xiao Mingyui memasuki kamarnya, Bingbing terburu-buru masuk, begitu juga dengan Xiao Xiangqing yang bergegas kembali ke kamar Xiao Mingyui.


"Yang mulia, anda basah kuyup?" tanya Bingbing, kemudian dengan cepat dia mencari kain bersih kering untuk Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui mengambil kain tersebut, lalu mulai mengelap wajah serta rambutnya yang basah total.


Tak lama Xiao Xiangqing datang, pria itu pun sedikit terkejut ketika melihat kondisi Xiao Mingyui.


"Apa ada sesuatu yang sempat terjadi?" tanya Xiao Xiangqing heran.


Xiao Mingyui menggeleng singkat. "Tidak ada. Aku hanya tidak sengaja terpeleset kala melewati danau tepi hutan Ibu Kota."


Xiao Xiangqing terkekeh, kemudian menjulurkan telapak tangan kanannya ke arah Xiao Mingyui. "Ada-ada saja. Lalu, di mana surat itu?"


Xiao Mingyui tersenyum tipis, kemudian menunjun kepalanya sendiri. "Ada di ingatanku."


Xiao Xiangqing bingung. "Di mana lembaran asli surat itu?" Kemudian dia memincingkan matanya ke arah Xiao Mingyui dan melanjutkan,"Apa sungguh tidak ada sesuatu yang terjadi?"


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Iya, mengapa kau tidak mempercayaiku? Surat itu lenyap karena basah, beruntung sebelum hancur total aku membacanya dengan cepat."


"Lalu apa isinya, yang mulia?" tanya Gu Lingchi penasaran, sementara itu Bingbing berjalan keluar untuk menyiapkan air hangat.


Xiao Mingyui menjatuhkan handuk itu ke lantai. Sambil melepas ikatan rambutnya, dia menjawab,"Kerajaan Huan Tenggara hendak menjadikan Xie Wanting sebagai mata-mata mereka. Sepertinya niat Huan Tenggara mengirimkan utusan seorang Putri untuk dijadikan selir Putra Mahkota sekaligus mata-mata." Kemudian tatapan mata Xiao Mingyui berubah menjadi lebih serius dari pada sebelumnya, lalu menatap adiknya lebih intens dan berkata,"Kita tidak tahu rencana seperti apa yang akan digunakan Putri Xie Wanting untuk membuat keributan di Ibu Kota."


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Gu Lingchi, dia terlihat gelisah. Raut wajah gelisahnya saya mirip dengan Baili Ruyi ibunya.


"Mencegah Xie Wanting menjadi selir Kaisar dan menahannya di Ibu Kota untuk waktu yang lebih lama. Jika Putri Xie Wanting kembali lebih cepat, Kerajaan Huan Tenggara kemungkinan besar akan mengirimkan surat lamaran pernikahan ke Kaisar untuk Putra Mahkota dengan alasan keduanya sudah pernah bertemu dan serasi, lalu membawa 'hubungan antar dua negara'." Xiao Xiangqing mulai memberikan solusi serta pendapat, pria itu juga terlihat serius.


Xiao Mingyui mengangguk setuju. "Selagi wanita itu tetap berada di sini, usakan tutup akses darat, laut, dan udara. Pastikan para prajurit pemanah memantau langit dengan benar. Tembak burung apa pun yang dicurigai membawa surat."


"Tapi dengan alasan apa? Kita tidak bisa menutup akses begitu saja, bukan?" tanya Gu Lingchi, keningnya terlipat.


"Ulang tahun Kaisar," jawab Xiao Mingyui, lalu menggeser tatapannya ke arah Xiao Xiangqing. "Bicarakan hal ini dulu secara pribadi kepada yang mulia Kaisar dan Putra Mahkota. Mereka pasti akan setuju."


"Apa ... kita akan menghapus Kerajaan Huan Tenggara dan Fang Fu?" tanya Gu Lingchi hati-hati.


Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing menoleh ke arah Gu Lingchi terlebih dahulu, kemudian mereka berdua beralih saling menatap. Dengan kompak, keduanya mengangguk.