
"Lihat! Itu bendera Xiao Wangfu!"
"Siapa itu? Bukankah pangeran Xiangqing masih terjebak di sana?"
"Perhatikan lagi! Pemimpin barisan di depan sana seorang wanita!"
"Astaga! Apakah itu Putri Mingyui?!"
Xiao Mingyui mendengar keributan yang terjadi di depan sana. Segerombolan rakyat yang menjadi korban longsor kemarin terlihat sangat ribut melihat kedatangannya.
Tiba-tiba gerombolan itu terbelah menjadi dua, menunjukkan Gu Lingchu dan Chen Qi. Prajurit Istana pun ikut muncul, mereka membuat barisan seperti pagar agar tidak ada rakyat yang menerobos mendekat.
Gu Lingchu dan Chen Qi membungkuk dalam, raut wajah mereka terlihat kebingungan. Xiao Mingyui menghentikan langkah kaki kudanya tepat di depan mereka berdua, kemudian turun dan menatap keduanya dengan dingin.
"Bagaimana?"
Gu Lingchu menggeleng lemah, raut wajahnya terlihat sangat khawatir. "Pangeran dan Putra Mahkota belum dapat ditemukan, yang mulia."
Xiao Mingyui mengepalkan kedua tangannya, lalu melangkah melewati Gu Lingchu dan Chen Qi dengan emosi tinggi. "Jika sampai besok kedua pangeran tidak dapat ditemukan, maka aku yang akan turun tangan langsung memusnahkan kalian berdua!"
Gu Lingchu menunduk dalam, keningnya terlipat. Dia juga kebingungan dan masih terkejut, ada rasa bersalah yang kini menyeruak di hatinya.
Gu Lingchu berbalik, mengikuti posisi Xiao Mingyui, kemudian dia berlutut. Melihat Gu Lingchu berlutut, Chen Qi pun menyusul.
"Bawahan ini sangat lalai dan bodoh! Pantas menerima hukuman berat dari Putri!" Keringat dingin membasahi punggung Gu Lingchu, begitu juga dengan Chen Qi yang entah mengapa juga ikut merasa takut. Dia merasa tekanan yang besar dari Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui terus berjalan, wanita itu tidak menoleh ataupun membalas. Otak dan hatinya fokus memikirkan Xiao Xiangqing. Diam-diam telapak tangan wanita itu dingin.
Xiao Mingyui masuk ke dalam tenda, di tenda itu berisi pejabat-pejabat setempat. Begitu melihat sosok Xiao Mingyui, mereka langsung berdiri dan membungkuk dengan raut wajah tegang.
"Yang mulia ...." Jenderal Han, dia adalah kepala yang mengurus lokasi bencana.
"Di mana terakhir kali kalian melihat posisi kedua pangeran?" tanya Xiao Mingyui begitu duduk di kursi yang sebelumnya disediakan untuk Putra Mahkota, karena saat ini gelarnya adalah yang paling tinggi.
"Di antara kami semua tidak ada yang melihat posisi terakhir kedua yang mulia, namun ... salah satu prajurit ada yang bersaksi bahwa pangeran Xiangqing dan Putra Mahkota berjalan bersama menuju kaki gunung Lang Tao ...." Di akhir kalimat, nada bicara Jenderal Han sedikit tercekat. Pria itu khawatir Xiao Mingyui akan mengamuk karena gunung Lang Tao adalah lokasi yang sangat berbahaya, namun tidak ada satupun yang menghentikan mereka berdua.
"Yang mulia, ada kemungkinan bahwa saat ini pangeran Xiangqing dan Putra Mahkota terjebak di kaki gunung."
"Yang mulia!" Suara prajurit yang berseru terdengar dari arah pintu tenda, membuat semua orang menoleh termasuk Xiao Mingyui.
Prajurit itu berlari tergopoh-gopoh, kedua tangannya gemetar memegang kain yang memiliki bercak darah. Prajurit itu adalah prajurit Xiao Wangfu yang dibawa oleh Xiao Xiangqing kemari.
"Yang mulia, ini ... ini adalah kain pakaian milik pangeran Xiangqing ...!"
Xiao Mingyui membelalakkan matanya, jantungnya jutaan kali berdetak lebih cepat. Tangan kanannya dengan gemetar mengambil kain itu dan memperhatikannya lamat-lamat.
Ini ... ini sungguhan milik adiknya! Xiao Xiangqing!
Mendekatkan kain itu ke hidungnya, Xiao Mingyui mencoba mengendus noda merah tersebut. Cengkeramannya pada kain itu semakin erat, pasalnya noda merah itu benar-benar beraroma darah!
Xiao Mingyui lemas, namun dia tetap berusaha terlihat kokoh di depan para pejabat. Dia tidak sudi melihat kaki tangan Fang Jichang tertawa melihatnya ketakutan.
Xiao Mingyui berdiri, lalu menatap Gu Lingchu yang kini telah berdiri di bibir pintu tenda dengan wajah tegang.
"Gu Lingchu."
Gu Lingchu sedikit terkejut, pria itu segera membungkuk dalam. "Saya, yang mulia."
"Bawa tiga ratus pasukan Xiao Wangfu lagi dari Ibu Kota! Aku ingin penyusuran dilakukan secara menyeluruh dan ketat sampai besok pagi! Jangan ada yang berani tidur sebelum adikku dan calon suamiku ditemukan!"
Gu Lingchu menelan ludah, dia pasrah ketika sisi tegas dan kejam Xiao Mingyui muncul. Pria itu mengangguk lemah. "Baik, yang mulia!"
Gu Lingchu dengan cepat berbalik, lalu berlari keluar tenda untuk mengirim surat perintah kepada ayahnya yang ada di Ibu Kota. Pria itu jamin, ayahnya dan ibunya sendirilah yang akan datang kemari untuk memimpin pasukan Xiao Wangfu ketika mendengar kabar bahwa pewaris gelar 'Xiao Wangye' hilang di kaki gunung Lang Tao.
Xiao Mingyui berjalan keluar dari tenda, lalu matanya menatap tajam para prajurit Xiao Wangfu dan Istana yang masih berdiri kaku di depan tenda.
"Sembari menunggu pasukan bantuan datang, lebih baik kita menuju kaki gunung Lang Tao sekarang juga! Ingat! Kirim sinyal jika kalian bertemu bahaya! Jangan ada yang saling meninggalkan! Mengerti?!"
"Siap! Mengerti, yang mulia!!" Prajurit itu meletakkan telapak tangan yang dikepal erat di dadanya, kemudian membungkuk.
Xiao Mingyui mulai berjalan ke arah gunung Lang Tao, dia tidak membawa tunggangan kuda, karena jalanan akan semakin sulit dilewati jika menaiki kuda.
Da Xuan dan Bingbing berada tepat di belakangnya, mereka berdua sangat waspada begitu semakin mendekati wilayah kaki gunung Lang Tao.
Xiao Mingyui menatap tanah yang terlihat sangat hancur dan berantakan menggunung menutupi jalan. Tangan kanannya tanpa sadar bergerak menyentuh tusuk rambut giok putih peninggalan ibunya. Entah mengapa, perasaan aneh mulai merasuki hati Xiao Mingyui.
"Yang mulia?" tanya Da Xuan setelah menyadari bahwa Xiao Mingyui lama sekali melamun dan tidak melanjutkan langkahnya.
Xiao Mingyui menatap Da Xuan, kemudian menggelengkan kepalanya pelan untuk menjernihkan kepalanya.
Xiao Mingyui melanjutkan langkahnya, pasukan Xiao Wangfu pun mulai menyebar dan melingkari gunung. Mereka semua melakukan yang terbaik mungkin untuk menemukan Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang.
Begitu kaki Xiao Mingyui tepat menginjak tanah kaki gunung, tiba-tiba lolongan serigala terdengar, lalu tanpa disadari siapapun, burung-burung yang bertengger di atas pohon mulai berterbangan. Mereka semua berkicau, seolah sedang menyambut sekaligus memberitahu 'tuan rumah' bahwa ada sesuatu yang sekian lama ditunggu telah tiba.
Kedua mata Xiao Mingyui tajam memperhatikan sekitaran gunung, dia tidak melewatkan jarak pandang satu jengkal pun.
"Yang mulia! Lihat ini!" Bingbing berseru, kemudian berlari cepat ke arah Xiao Mingyui dan menunjukkan hiasan tusuk rambut kepala seorang pria berbentuk naga.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, benda itu bukan milik adiknya. Ataukah ... itu adalah milik Xiao Jiwang?
"Akankah ini milik Putra Mahkota?" tanya Da Xuan ketika memperhatikan raut wajah Xiao Mingyui yang tidak mengenali benda tersebut.
Xiao Mingyui mengambil tusuk rambut itu, matanya dinginnya memperhatikan benda tersebut. Kepalanya diam-diam berusaha mengingat penampilan Xiao Jiwang dengan detail, lalu tak lama kemudian kepalanya mengangguk ketika menemukan tusuk rambut ini di ingatannya.
"Benar, ini milik Putra Mahkota." Xiao Mingyui menggenggam tusuk rambut itu, kemudian memasukkannya ke dalam sakunya dan melanjutkan langkahnya.
Ketika sedang sibuk mencari, tiba-tiba terdengar suara jeritan keras seorang pria yang tidak jauh dari mereka.
"ULAR RAKSASA!!"
Xiao Mingyui dan yang lain dengan cepat berlari ke arah sumber suara, mereka semua segera berkumpul. Xiao Mingyui membelalakkan sedikit matanya ketika melihat ular raksasa berwarna hitam yang mengamuk.
Xiao Mingyui langsung menarik pedangnya keluar, matanya menatap tajam ular itu. Ini pertama kalinya dia melihat ular berukuran raksasa, gunung Lang Tao memang menyimpan banyak sekali misteri.
Ular itu terus menyerang, dia merambat ke sana dan kemari mengacaukan seluruh pasukan. Dalam sekali lilitan keras, ular itu berhasil melilit mati tiga puluh orang.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, dia merasa ada yang aneh. Wanita itu terus mengejar dan menyerang, namun sang ular terlihat terus menerus menghindarinya sambil menyerang manusia lain. Dia tidak tahu apa alasan ular itu terus menghindar.
Xiao Mingyui melompat tinggi menggunakan jurus ilmu bela dirinya, kemudian berputar di udara dan mendarat tepat di kepala ular raksasa itu.
Xiao Mingyui mengangkat pedangnya tinggi, namun belum sempat menancapkan pedang itu tepat di kepala sang ular, tiba-tiba suara perempuan yang berteriak lantang terdengar.
"QINGPO!!"
Dalam sekejap, ular raksasa yang sebelumnya bergerak agresif, tiba-tiba menjadi sangat senang. Xiao Mingyui mengerutkan keningnya bingung, lalu matanya memandang ke arah bawah secara tidak sengaja. Beberapa meter di belakang pasukan Xiao Wangfu yang berkumpul, dia melihat seorang pria tua yang memeluk erat istrinya terlihat.
Xiao Mingyui memincingkan matanya, wanita itu berusaha mempertajam pengelihatannya. Ketika mengingat siapa sosok wanita dan pria itu, kedua matanya terbuka lebar. Xiao Mingyui dengan cepat meloncat turun, bibirnya tersenyum tipis sambil berlari ke arah pria dan wanita tua tersebut.
"Tuan Tianyao! Pengawal Yui!!"
Pria tua itu tersenyum hangat ke arah Xiao Mingyui sambil masih memeluk erat istrinya. Mereka adalah Fang Tianyao dan Yui, sepertinya mereka langsung menuju gunung Lang Tao begitu mendengar kabar bahwa Xiao Xiangqing menghilang di gunung. Kedatangan Yui kemari justru akan sangat membantu, wanita itu pernah menyusuri gunung ini bersama mendiang ibunya. Dia pasti mengetahui seluk beluk gunung Lang Tao.
Tetapi, belum sempat Xiao Mingyui melakukan dialog berikutnya, tiba-tiba permukaan tanah gunung bergetar. Xiao Mingyui segera menghentikan langkah kakinya, matanya menatap waspada ke segala arah. Apakah akan terjadi longsor susulan kembali?!
Tiba-tiba sebuah cahaya putih muncul menyelimuti gunung Lang Tao. Dalam sekejap, sesuatu yang bergerak akan berhenti, termasuk angin, seolah waktu dihentikan begitu saja.
"GGRRRRR ... GGGGGRRRR ...."
Suara dengkuran keras terdengar, udara panas tiba-tiba terasa jelas sekali di kulitnya. Xiao Mingyui memperhatikan sekitar kembali, dia terkejut ketika melihat seluruh orang yang ada di sini kecuali dirinya, tidak ada yang bergerak atau berkedip! Semua menjadi seperti patung!
Tepat di puncak gunung Lang Tao, Xiao Mingyui melihat sesuatu bergerak di saja. Seperti ... ular-- tidak! Itu naga! Naga!!
Xiao Mingyui mengepalkan kedua tangannya, naga itu sepertinya hendak mengarah padanya. Naga itu pasti adalah naga Shenlong, naga yang pernah diceritakan oleh mendiang ibunya dulu!
Xiao Mingyui berusaha mengambil langkah mundur, naga Shenlong adalah lawan bertarung yang berbahaya. Dia tidak bisa menghadapi naga itu tanpa strategi atau persiapan apa pun, apa lagi dengan posisi yang saling berhadapan seperti ini! Tetapi, astaga ... kakinya tidak bisa bergerak! Seperti telah menancap di dalam tanah!
Naga itu semakin dekat, ketika jarak mereka hanya terpisah lima meter, Xiao Mingyui menegang bukan main. Wanita itu menatap wajah naga Shenlong, kedua tangannya mengepal erat dengan keringat yang terus bercucuran.
Naga itu terlihat menyeringai, lalu berkata,"Wajah Huang Mingxiang, namun hati dan pikirannya persis seperti bedebah Xiao Muqing."
Xiao Mingyui terkejut, naga itu bisa bicara?! Ibunya tidak pernah menceritakan bagian ini! Dan lagi, sepertinya naga Shenlong benar-benar mengingat dan mengenali kedua orang tuanya!
Xiao Mingyui mengambil napas dalam, lalu berkata,"Naga Shenlong yang Agung, apakah prajurit saya telah membuat anda tidak nyaman?"
Naga Shenlong melirik para manusia yang tidak bergerak seperti patung, kemudian kembali menatap Xiao Mingyui dan berkata,"Urusan Agung telah menunggumu."
Xiao Mingyui bingung. "Utusan Agung?"
"Adik dan pria entah siapa itu ada di Istana Utusan Agung. Utusan Agung akan mengembalikan mereka dengan selamat jika kamu bersedia menemuinya," jawab Naga Shenlong.
Xiao Mingyui tetap waspada, dia tidak mudah terlena dengan tawaran tanpa dasar seperti itu. Dia tidak tahu Utusan Agung dan Naga Shenlong ini berbahaya atau tidak untuknya.
"Jika hamba boleh tahu, ada gerangan apa yang membuat Utusan Agung mencariku?" tanya Xiao Mingyui.
"Ikut dan datang saja dulu. Utusan Agung telah menunggumu selama bertahun-tahun, bahkan sebelum kamu menjadi janin di kandungan Huang Mingxiang," jawab Naga Shenlong acuh, sepertinya dia kesal karena Xiao Mingyui tak kunjung menuruti ucapannya.