The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab29. Bukan Tentang Hati Yang Mati, Tetapi Tentang Seberapa Besar Usahanya



Tangan kiri Xiao Mingyui yang baik-baik saja mulai memencet beberapa titik akupuntur di kaki, punggung, lengan, serta kepala Xiao Wujing. Setelah itu, Xiao Mingyui sedikit menekan salah satu titik akupuntur di kepala Xiao Jiwang di jarinya.


Xiao Jiwang terlihat sangat tenang, pria itu sepertinya menikmati setiap sentuhan Xiao Mingyui.


Tangan kiri Xiao Mingyui bergerak teratur untuk memijat kepala Xiao Jiwang, ketika sedang asyik memijat, tiba-tiba Xiao Jiwang membuka matanya. Kedua mata mereka bertemu, Xiao Mingyui tetap melanjutkan gerakannya tanpa berhenti sambil membalas tatapan Xiao Jiwang.


"Bagaimana jika aku membunuhmu setelah menikah dan tidak menepati janjiku padamu?" tanya Xiao Jiwang, pria itu selalu melontarkan pertanyaan kemungkinan terburuk jika mereka menikah.


Xiao Mingyui berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum tipis dan menjawab,"Mengenai nyawa saya yang jatuh di tangan anda itu bukan masalah, namun ... mengenai Xiao Wangfu, itu adalah sebuah masalah untuk saya. Tetapi, jika anda melakukan hal itu, Xiao Xiangqing, saya percaya bahwa adik saya tidak selemah dan sebodoh itu untuk membiarkan nyawa kakaknya lenyap begitu saja di tangan penguasa. Terlebih, Xiao Wangfu memiliki reputasi yang baik sebagai pahlawan sekaligus pelindung Kekaisaran di mata para rakyat. Jika rumor bahwa anda membunuh Permaisuri anda sendiri yang berasal dari Xiao Wangfu, kesialan itu hanya akan berbalik pada anda."


Xiao Jiwang terdiam sejenak, kemudian dia tertawa. Tawa pria itu bukan seperti tawa bahagia, namun tawa licik yang biasa digunakan oleh para pejabat atau bangsawan. Mata indah elang milik pria itu yang tajam menatap wajah Xiao Mingyui semakin dalam. "Kamu benar-benar wanita yang licik."


Xiao Mingyui tidak menggubris kalimat Xiao Jiwang yang itu, tetapi kemudian dia balik bertanya,"Mengapa anda selalu melontarkan pertanyaan kemungkinan terburuk jika kita menikah?"


Xiao Jiwang menaikkan alis kirinya. "Memangnya ada kemungkinan apa lagi jika kita menikah selain saling bersikap dingin atau membunuh?"


Tatapan Xiao Mingyui beralih ke arah lain, matanya enggan menatap Xiao Jiwang secara tiba-tiba. Xiao Jiwang yang menyadari ini kembali memejamkan matanya sambil berkata,"Apa lagi yang kamu harapkan selain menikah denganku? Membangun rumah tangga yang bahagia? Xiao Mingyui, hal itu tidak akan terjadi. Hatimu dan hatiku adalah hati yang mati sejak lahir, kamu asing dengan perasaan hangat begitu juga dengan aku." Xiao Jiwang kembali membuka matanya lagi, lalu melanjutkan,"Hidup di tengah orang tua yang hangat tidak membuat hatimu ikut hangat, bukan? Ibumu dan ibuku sama, mereka sangat baik dan hangat seperti malaikat. Tetapi, tidak peduli seberapa hangat keluarganya, hal itu tak cukup untuk mengubah kita menjadi hangat. Jika kamu berpikir hati ayahmu yang dulu mati dan akhirnya berhasil hangat karena 'cinta', itu disebabkan karena hati ibumu yang hidup. Di antara mereka hanya satu yang mati, sedangkan kita? Kita berdua memiliki hati yang mati. Tidak ada harapan, terkadang ... persamaan yang terlalu sama tidak cocok untuk digabungkan menjadi satu. Tidak selamanya persamaan dapat dengan serasi jika bersama."


Xiao Mingyui mengangguk tenang, lalu matanya kembali menatap Xiao Jiwang. Tatapan dingin sekaligus teduh miliknya itu menatap dalam mata Xiao Jiwang yang menampilkan kobaran badai es.


Xiao Mingyui sedikit menundukkan kepalanya ke wajah Xiao Jiwang, lalu bertanya,"Apa yang mulia sudah mencoba untuk mencintai saya?" Ketika Xiao Jiwang mendengar pertanyaan ini, pria itu ingin langsung menjawab, namun Xiao Mingyui menahannya dengan berkata,"Jika belum, maka yang mulia tidak bisa langsung menilai seperti itu. Hati yang mati? Memangnya yang mulia tahu seperti apa hati yang benar-benar mati? Tidak, ini bukan tentang hati kita yang mati, yang mulia. Tetapi ini tentang seberapa besar usaha kita untuk saling mencintai."


Xiao Jiwang tertegun, kemudian tatapan Xiao Jiwang berubah menjadi tatapan yang sulit. Sepertinya perasaan dan pikiran rumit mulai muncul di otak pria itu.


Xiao Mingyui tersenyum tipis, tangannya masih tetap bergerak memijat kepala Xiao Jiwang. Dengan nada penuh pengertian dan lembut dia berkata,"Yang mulia, jika saya boleh jujur, tidak peduli sekuat apa wanita yang memimpin sebuah peperangan, wanita itu dapat dikalahkan jika disentuh hatinya. Hal ini juga berlaku untuk pria, tidak hanya wanita. Mendiang Ibu saya pernah berkata, bahwa cinta adalah kekuatan paling kuat di muka bumi ini. Tidak peduli siapa lawannya, entah Kaisar, Utusan Agung, atau Dewa sekalipun, jika mereka menghalangi cintamu, maka kamu pasti akan berani melawannya. Mungkin ini terdengar sangat menjijikkan di telinga anda ketika saya yang tidak tahu apa-apa tentang cinta berbicara seolah tahu apa itu cinta."


"Saya tidak berharap anda mencintai saya atau memperlakukan saya layaknya seolah istri yang anda nikahi dengan cinta, namun ... saya tetap ingin mencobanya. Saya menikah dengan anda tanpa adanya harapan suatu saat nanti akan bercerai, karena begitu saya menikah dengan anda nanti, saya tidak akan pernah bercanda atau main-main dalam mengabdikan diri saya untuk anda. Ini terdengar konyol, namun ... saya ingin menjadi wanita seperti mendiang Ibu saya. Saya tidak mengharapkan kehidupan manis yang sama seperti mendiang Ibu saya, tetapi saya berharap saya memiliki semangat dan hati seperti mendiang Ibu saya. Terkadang ... saya iri kepada Xiangqing, sebab dia memiliki pembawaan hangat seperti Ibu dan penampilan ayah, anak itu terlihat menyenangkan. Berbeda dengan saya yang terlihat sangat membo--"


"Ternyata kau memiliki sisi yang banyak bicara juga, ya?" potong Xiao Jiwang, matanya masih menatap dalam Xiao Mingyui. Xiao Mingyui yang mendengar ini merasa sedikit malu, ah ... benar, dia terlalu banyak bicara.


"Menurutku kamu tidak yang seburuk yang kamu pikirkan. Setiap tindakan dan pola pikirmu yang kritis, itu sangat menarik."


Xiao Mingyui yang mendengar itu tertegun, ini pertama kalinya dia mencurahkan seluruh apa yang dia pikirkan dan rasakan tanpa dibalas penghakiman buruk satu pun.


"Dan berhenti memaksakan dirimu untuk mencontoh ketegaran mendiang ibumu itu, karena kau dan ibumu itu berbeda. Kalian memang memiliki darah yang sama, namun kalian adalah dua orang yang berbeda. Jika kamu memiliki pemikiran dan tindakan sendiri, untuk apa melakukan pemikiran dan tindakan yang dimiliki orang lain?" tanya Xiao Jiwang, perkataan pria itu membuat Xiao Mingyui tidak bisa membalasnya lagi.


Gerakan tangan Xiao Mingyui berhenti begitu mendengar kalimat akhir Xiao Jiwang, dia mulai sadar akan sesuatu. Apa yang dikatakan Xiao Jiwang barusan masuk akal, dia juga mulai menyadari bahwa selama ini dia terlalu memaksakan dirinya agar serupa dengan ibunya Huang Mingxiang. Sejak kecil, karena reputasi kedua orang tuanya yang sangat tinggi, dia sudah dituntut diberbagai macam hal. Satu-satunya acuan yang dia miliki agar menjadi sempurna adalah ibunya sendiri, dia berusaha tampil sempurna untuk membuat orang-orang tersenyum penuh bangga ke arahnya tanpa memikirkan bagaimana perasaan dirinya sendiri.


"Yang mulia."


Xiao Jiwang berdehem untuk membalas panggilan Xiao Mingyui tanpa membuka matanya.


"Apa anda ingin mengetahui kunci utama dalam pengobatan ini?" tanya Xiao Mingyui lagi.


Xiao Jiwang mengangguk singkat. "Lakukan saja, jangan banyak bicara."


Xiao Mingyui tersenyum, lalu berkata,"Saya akan menyanyikan syair lagu yang sering dinyanyikan oleh mendiang Ibu saya untuk mendiang ayah saya. Lagu ini membawa ketenangan yang berarti untuk mendiang ayah saya."


Xiao Jiwang tidak membalas, namun di dalam hati dia diam-diam menunggu Xiao Mingyui menyanyikan syair yang dia jelaskan tadi. Dia, Xiao Jiwang, ingin merasakan tidur nyenyak sekali saja. Sejak kecil, pria itu tidak pernah tidur dengan nyenyak, gangguan tidur ini telah mengganggunya selama belasan tahun.


"Malam masih muda, aku melihat langit berbintang dan menemukan sinar lembut cahaya. Angin sejuk berlalu, cahaya lilin berkelap-kelip, menari sendirian tanpa ada yang menghargainya. Meninggalkan kelopak bunga berkibar tertiup angin. Saya ingin melestarikan masa lalu kita dan membuat mimpi indah. Anda menutup semua kesedihan saya."


"Menelan air mata saya dan memasang senyum palsu, bagi Anda untuk mengenakan pakaian militer Anda dan pergi berperang. Masa lalu tidak dapat menghentikan arus setelah semua, saya akan terbang dengan pedangku. Senja muncul, aku melihat matahari terbenam di cakrawala. Malam masih muda dan galaksi mengalir sendirian. Langit cerah, pemandangan yang bagus. Jika Anda tidak di sisiku, apa peduli bahkan jika saya bisa naik ke langit."


Xiao Jiwang menikmati setiap syair yang dinyanyikan lembut oleh Xiao Mingyui, perlahan tanpa sadar matanya mulai terasa berat. Pijatan lembut yang selalu Xiao Mingyui lakukan tanpa henti sambil bernyanyi pun menambah perasaan tenang dan aman Xiao Jiwang.


Xiao Mingyui menyanyikan syair itu sebanyak lima kali, sampai akhirnya Xiao Jiwang benar-benar terlihat sedang tertidur pulas. Bibir Xiao Mingyui tersenyum tanpa sadar, wanita itu senang karena Xiao Jiwang berhasil tidur.


Mengenai banyaknya dia bicara tadi, itu bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Xiao Mingyui sengaja lebih banyak bicara dari biasanya agar Xiao Jiwang dapat merasakan perasaan nyaman di hatinya, karena cara ini tidak akan bekerja jika tidak ada perasaan nyaman atau percaya.


Tepat setelah Xiao Jiwang mulai tertidur pulas dan Xiao Mingyui selesai bernyanyi, tiba-tiba Chen Qi masuk.


"Yang mulia, saya--"


Chen Qi dengan cepat berhenti, matanya menatap penuh keterkejutan ke arah Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang. Pria itu tidak percaya, Xiao Jiwang tertidur dengan tenang dan ditemani oleh Xiao Mingyui tepat di sampingnya. Terlebih, melihat seorang wanita di ranjang tuannya benar-benar sesuatu yang sangat mengejutkan.


Xiao Mingyui meletakkan jari telunjuknya di atas bibirnya. "Tuan Chen, tolong tenang sedikit. Yang mulia baru saja tertidur pulas."


Chen Qi tersadar, pria itu dengan cepat mengangguk dan membungkuk gugup. "Ma--maafkan saya, yang mulia. Kalau begitu sa--saya pamit undur diri." Chen Qi berputar dan berjalan keluar dari tenda dengan kaku.