
"Xiangqing, apa tanganmu baik-baik saja? Sepertinya masih tidak masalah jika aku mengeluarkan sedikit tenaga untuk memberikan pengobatan." Xiao Mingyui menatap penuh cemas ke arah dua pergelangan tangan adiknya. Ketika Xiao Xiangqing menggulung lengan pakaiannya, permukaan kulit tangan pria itu terlihat memar dan dipenuhi luka. Sepertinya tangannya sempat dililit oleh ular yang menyerangnya tiba-tiba.
Xiao Xiangqing menatap pergelangan tangannya, kemudian menggeleng pelan. "Tidak masalah, aku masih bisa menahan luka kecil ini. Jiejie, nikmatilah makananmu dengan tenang."
Xiao Mingyui menghela napas tipis, sepertinya dia tidak bisa memaksa lagi. Xiao Xiangqing juga tampak khawatir akan kondisinya, maka dari itu dia tidak meminta penyembuhan apa pun darinya.
Mereka bertiga membagi adil secara rata daging rubah tersebut setelah matang, kemudian kembali naik ke atas batu besar setelah selesai makan. Xiao Jiwang lah yang membawa Xiao Mingyui turun dan naik secara pribadi karena kondisi tangan Xiao Xiangqing yang tidak memungkinkan untuk menggendong tubuhnya. Jika Xiangqing nekat, maka luka-luka yang ada di pergelangan tangannya akan bergesekan dan tertimpa dengan tubuh Xiao Mingyui.
"Bagaimana cara kita tidur? Tidak ada alas yang rata di sini, semuanya bertekstur kasar." Xiao Jiwang menatap seluruh permukaan batu dan tanah gunung Lang Tao.
Xiao Xiangqing tersenyum tipis. "Masih ada caranya, namun berjanji terlebih dahulu bahwa anda tidak akan banyak protes."
Xiao Jiwang menatap jengkel Xiao Xiangqing. "Katakan."
Xiao Xiangqing duduk di atas batu, lalu berkata,"Kita akan tidur dengan posisi saling bersandar satu sama lain. Jadikan punggung masing-masing sebagai tumpuan punggung lainnya, dengan begitu kita akan menemukan sandaran yang empuk. Ini lebih baik dari pada tertidur di permukaan kasar atau bersandar di pohon kemudian diterkam hewan buas."
Xiao Mingyui mengangguk setuju, lalu bergegas mendekat ke arah Xiao Xiangqing dengan posisi duduk, wanita itu sedikit menyeret tubuhnya. Tetapi, ketika sedang fokus merangkak pelan, tiba-tiba Xiao Jiwang mengangkat tubuhnya lagi dan membawanya tepat ke belakang Xiao Xiangqing duduk.
Xiao Xiangqing hanya diam memperhatikan, walaupun dia masih ada sedikit rasa kesal kepada Xiao Jiwang, namun ... melihat pria itu peduli kepada kakaknya, dia merasa sedikit lebih baik. Setidaknya, pria itu tidak berbuat kasar kepada saudari perempuannya.
Xiao Jiwang mengambil posisi di dekat Xiao Xiangqing dan Xiao Mingyui, punggung mereka saling bertumpu untuk bersandar. Xiao Jiwang melipar kedua tangannya, matanya perlahan terpejam dengan kening yang masih sedikit terlipat. Dia tidak bisa tidur tenang, insting waspadanya selalu menyala. Dia siap menarik pedang kapan saja jika ada bahaya yang mendekat.
Xiao Mingyui menoleh sedikit ke arah Xiao Jiwang, sosok pria itu terlihat sangat kokoh dan dingin saat ini. Entahlah, belakangan ini Xiao Mingyui jarang melihat Xiao Jiwang tersenyum menyebalkan seperti awal pertama mereka bertemu. Seperti ... Xiao Mingyui telah melihat sosok sesungguhnya dari Xiao Jiwang, pria itu nyatanya sangat kesepian dan dingin. Dia tidak semenyeramkan apa yang diceritakan orang-orang, itu menurut Xiao Mingyui yang telah mencoba untuk mengenalnya lebih dekat belakangan ini.
Xiao Mingyui mendongak ke atas, menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang. Dia berpikir ... apakah ini pemandangan malam yang mendiang ibunya lihat belasan tahun silam untuk mendapatkan obat mendiang ayahnya? Seberapa besar cinta ibunya sehingga rela mengarungi gunung ini? Seberapa besar pula cinta ayahnya sehingga berani menyusul ibunya ke gunung Lang Tao dengan kondisi kaki yang buruk?
Bukankah ayahnya dulu dikenal dingin dan kejam? Bagaimana cara ayahnya mengenal cinta? Bagaimana cara ayahnya jatuh cinta? Orang-orang berkata bahwa watak dan pembawaannya sangat serupa dengan mendiang ayahnya, lalu akankah dia akan berhasil seperti ayahnya?
Orang-orang juga berkata paras miliknya sangat serupa dengan mendiang ibunya, lalu apakah dia akan berhasil membuat Putra Mahkota jatuh cinta dengan kecantikannya seperti ibu yang membuat ayahnya jatuh cinta?
Xiao Mingyui terus memikirkan hal itu, bertanya-tanya akankah dia berhasil seperti kedua orang tuanya? Kaisar berkats takdirnya saat ini hampir serupa dengan takdir ibunya dulu, lalu ... apakah dia akan berhasil bertahan dan menjadi sekuat ibunya?
Perlahan, kedua mata Xiao Mingyui tertutup. Wanita itu terlelap, dia kembali tertidur. Tetapi ... anehnya tidur kali ini dia tidak mengalami mimpi buruk lagi.
Keesokan harinya, Xiao Mingyui terbangun karena lolongan serigala. Ketika membuka matanya, dia memperhatikan segera memperhatikan sekitar. Ah ... langit masih sedikit gelap, masih dini hari.
Xiao Mingyui sedikit menggerakkan tubuhnya untuk meregangkan otot-otot punggungnya yang terasa pegal, lalu tak lama Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang menoleh secara bersamaan. Sepertinya kedua pria itu telah terbangun lebih dulu, namun memilih menjadi batu agar tidur Xiao Mingyui tidak terusik.
"Jiejie, anda bangun?" tanya Xiao Xiangqing, kemudian segera memutar badannya untuk melihat saudarinya secara sempurna.
Xiao Mingyui mengangguk. "Ya. Apa kita akan langsung melanjutkan perjalanan?"
Xiao Xiangqing sedikit berpikir. "Sepertinya kita tun--"
"Ya. Kita lanjutkan." Xiao Jiwang memotong kalimat Xiao Xiangqing cepat, kemudian berdiri sambil menatap ke arah jalan yang akan mereka lewati untuk turun dari gunung.
"Jika kita mengulur waktu, maka akan semakin berbahaya," sambung Xiao Jiwang.
Xiao Xiangqing berdiri, lalu menatap tidak setuju ke arah Xiao Jiwang. "Tetapi kondisi saudari saya belum sepenuhnya baik, jika kita paksa, maka kondisi kakinya akan semakin memburuk."
Xiao Jiwang menatap dingin Xiao Jiwang. "Aku yang akan menggendongnya turun. Tanganmu sedang tidak berguna, bukan? Jika kita mengulur waktu lebih lama, maka racun aneh yang ada di tubuh saudarimu akan semakin menyebar, lalu kedua tanganmu akan membusuk karena infeksi yang tak kunjung ditangani."
Xiao Xiangqing tertegun. Apa? Pria itu bersedia menggendong kakaknya turun gunung? Bahkan memikirkan luka mereka berdua? Sebagai musuh dari kecil, Xiao Xiangqing enggan mengakui kebaikan Xiao Jiwang. Tetapi, apa yang dikatakan Xiao Jiwang saat ini benar. Mereka memang tidak seharusnya mengulur waktu lebih lama.
"Yang mulia." Xiao Mingyui memanggil Xiao Jiwang, membuat pria itu menoleh dengan tatapan dinginnya disertai ekspresi bertanya.
Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Jika anda lelah di tengah jalan nanti tolong turunkan saya, saya akan mencoba sedikit berjalan. Racun ini memang menidurkan otot kaki saya, maka dari itu dia harus sesekali digerakkan agar racunnya tidak menidurkan otot saya secara sempurna. Jika anda keberatan, maka Xiangqing yang akan membantu saya perlahan, walaupun nanti kami akan sedikit kerepotan karena keduanya sedang terluka."
Xiao Xiangqing melompat turun lebih dulu dari batu besar, kemudian disusul Xiao Jiwang yang telah menggendong Xiao Mingyui di tangannya. Dia tidak bisa menggendong Xiao Mingyui di punggung karena punggungnya pun sedang terluka. Kini, masing-masing dari mereka memiliki luka.
Xiao Mingyui menatap sekitaran gunung Lang Tao, kondisinya masih sangat sepi. Sesekali langkah kaki Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing mengendap karena bertemu dengan hewan buas yang sedang tertidur. Mereka tidak ingin membangunkan para monster itu karena nanti akan memakan waktu jika digunakan bertarung.
Langkah Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang mendadak berhenti kala melihat lima serigala, dua dewasa dan tiga lagi masih sangat kecil.
"Jalan kita tertutup oleh serigala-serigala itu." Xiao Xiangqing menatap penuh waspada ke arah para serigala tersebut.
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya. "Jika kita bertarung sekarang maka para monster yang lain akan terbangun, itu hanya akan memperburuk keadaan."
"Tetapi ada yang aneh, kedua mata mereka berwarna biru. Bukankah seharusnya seluruu mata hewan di gunung ini berwarna merah?" ucap Xiao Mingyui, menyadari Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang akan keanehan serigala di depan mereka.
Xiao Xiangqing telah mengambil kuda-kuda, tangan kanannya menggenggam erat gagang pedang. Jika mereka harus bertarung, maka baiklah. Xiao Xiangqing akan berusaha sebisa mungkin untuk bertarung dengan kondisi sunyi.
Xiao Mingyui sedikit mendongak untuk menatap Xiao Jiwang. "Anda tidak lelah? Sebaiknya saya turun karena nanti anda akan membantu--"
"Eratkan lingkaran tanganmu di leherku. Jika aku meletakkanmu di sini, bagaimana jika mereka menyadari itu dan malah menyerangmu? Itu ide buruk." Xiao Jiwang mengatakan itu sambil mengeratkan pegangannya di pinggang Xiao Mingyui dan matanya masih menatap penuh waspada ke arah para serigala.
Xiao Mingyui tertegun, pria itu memikirkan dirinya sampai ke sana? Padahal bertarung dengan keadaan duduk pun Xiao Mingyui masih bisa melakukannya walaupun agak sedikit terbatas gerakannya. Tetapi setidaknya dia dapat melindungi dirinya sendiri, dia tidak selemah itu, namun ... Xiao Jiwang mengkhawatirkan dirinya seolah dia sangat rapuh dan tidak bisa apa-apa. Sejujurnya dia sedikit tersentuh, karena tidak ada yang melindungi dan memikirkannya sejauh itu. Bahkan di rumah pun dulu dia dididik keras sebagai petarung sekaligus wanita bangsawan yang sempurna dan anggun. Berada di samping Xiao Jiwang seolah membuatnya seperti dapat beristirahat sebentar untuk melepas penatnya.
Ketika mereka sedang sibuk menyusun rencana, tiba-tiba salah satu anak serigala menemukan mereka dan segera berlari ke arah mereka.
Xiao Xiangqing terkejut, kemudian dia menggertakkan giginya. Sial, sepertinya mereka akan benar-benar bertarung sekarang.
Sang induk serigala yang menyadari anaknya berlari ke arah sesuatu pun mengikutinya, tak lama sang induk pun juga menyadari apa yang dilihat anaknya. Dengan cepat, sang induk menahan langkah anaknya, kemudian menggeram ke arah Xiao Xiangqing dan yang lain.
Dua anaknya yang lain dan satu serigala dewasa lainnya yang sepertinya adalah ayah dari mereka bertiga menyusul, sang serigala jantan itu berada di barisan paling depan untuk melindungi istri serta anak-anaknya.
Xiao Xiangqing perlahan keluar dari persembunyiannya dengan tatapan tajam dan pedang yang sudah ditarik keluar, begitu juga dengan Xiao Jiwang, pria itu menyusul Xiao Xiangqing dan kini berdiri tepat di samping Xiao Xiangqing sambil menggendong Xiao Mingyui.
Wajah serigala jantan itu sedikit berubah ketika mata birunya bertemu dengan mata biru Xiao Xiangqing. Serigala jantan itu kemudian menggeser tatapannya ke arah Xiao Jiwang, lalu dia menggeram lagi. Tetapi, saat dia menatap Xiao Mingyui dan melihat mata biru Xiao Mingyui, dia berhenti menggeram seperti sebelumnya saat menatap mata Xiao Xiangqing.
Serigala jantan itu menatap mata Xiao Xiangqing dan Xiao Mingyui secara bergantian hingga perlahan dia berjalan mendekat ke arah Xiao Xiangqing. Xiao Xiangqing sedikit mundur, namun ketika menyadari serigala itu tidak lagi menggeram, dia sedikit bingung. Mereka bertiga mematung, tidak ada yang bergerak, mata mereka memperhatikan serigala jantan tersebut.
Serigala jantan itu berjalan mengelilingi Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang, matanya masih tertuju ke arah Xiao Xiangqing dan Xiao Mingyui secara bergantian. Ketika puas memperhatikan mereka, serigala jantan itu kembali ke posisinya semula dan tiba-tiba berbaring di tanah dan menundukkan kepalanya. Gerakannya ini pun diikuti oleh istri dan anak-anaknya.
Xiao Xiangqing dan Xiao Mingyui saling tatap, mereka bingung. Xiao Jiwang juga tak kalah bingung, mengapa tiba-tiba serigala itu berlutut ke arah mereka? Terlebih, sebelumnya dia memperhatikan Xiao Xiangqing dan Xiao Mingyui dengan sangat dalam, seolah serigala itu mengenali mereka.
Serigala itu tak lama kembali berdiri, kemudian dia melolong. Ketika sang serigala berbalik lalu menoleh ke arah mereka lagi seperti ingin menunjukkan jalan, Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang kembali memasukkan pedangnya lagi.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Sepertinya ... dia ingin kita mengikutinya?"
"Apakah aman?" tanya Xiao Jiwang waspada.
Xiao Xiangqing mengangkat kedua bahunya singkat. "Tidak tahu, namun ... melihat dia seperti tidak menganggap kita musuh, seharusnya aman."
Xiao Jiwang mengangguk singkat, lalu mulai melangkah maju. "Baiklah ...."
Ketika Xiao Jiwang berada tepat di samping serigala itu, tiba-tiba sang serigala bergumam sambil menoleh, seolah menunjuk punggungnya. Serigala itu seperti sedang meminta Xiao Jiwang meletakkan Xiao Mingyui di atas punggungnya.
Xiao Jiwang ragu, namun pada akhirnya dia coba meletakkan Xiao Mingyui di atas serigala tersebut. Xiao Mingyui dengan hati-hati menyentuh tubuh sang serigala, ini pertama kalinya dia menunggangi seekor serigala liar dari gunung Lang Tao.
"Baiklah, serigala ini yang akan memandu jalan kita kembali sekarang." Xiao Xiangqing mengatakan itu sambil tersenyum puas.