The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 21. Menjadi Maharani Agung?



Xiao Mingyui kini berada tepat di atas kepala Naga Shenlong, wanita itu tak hentinya bersikap siaga. Memikirkan Utusan Agung mencarinya secara tiba-tiba, ini membuat hatinya tidak nyaman. Dia tidak pernah bertemu dengan Utusan Agung sebelumnya. Tetapi, membayangkan perkiraan sosok Utusan Agung, Xiao Mingyui merasa bahwa Utusan Agung pasti seorang orang tua yang sepuh. Mengingat cerita mengenai ibu dan ayahnya yang bertemu dengan Utusan Agung telah terjadi belasan tahun lalu.


Ketika Xiao Mingyui tersadar dari lamunannya, wanita itu takjub ketika melihat gerbang besar yang dikelilingi awan putih. Naga Shenlong mendarat tepat di depan gerbang besar tersebut, kemudian Xiao Mingyui diperintahkan turun.


Xiao Mingyui melompat turun, baru saja kakinya menginjak permukaan awan yang keras, tiba-tiba gerbang besar itu terbuka lebar dengan sendirinya.


Xiao Mingyui menoleh ke Naga Shenlong, namun yang ditatap hanya menampilkan wajah acuh tak acuh. Dengan ragu, Xiao Mingyui melangkahkan kakinya masuk. Matanya menyapu seluruh letak wilayah Istana, keningnya terlipat dalam kala melihat para penghuni Istana yang mengenakan pakaian indah berlutut dalam ke arahnya.


Xiao Mingyui menatap mereka dengan penuh kebingungan, mengapa mereka semua berlutut? Apakah ini bagian dari cara mereka menyambut seorang tamu?


Cahaya putih tiba-tiba muncul tepat di atas kepalanya, ketika Xiao Mingyui menyadari sumber cahayanya adalah tusuk rambut giok putih peninggalan ibunya, wanita itu semakin kebingungan, tangan kanannya menarik tusuk rambut itu dan menatapnya heran.


Seorang pria muda berkharisma mendekat ke arahnya sambil membungkuk, lalu berkata,"Selamat datang di Istana Utusan Agung, Maharani Agung."


Xiao Mingyui membelalakkan matanya, ketika mulutnya hendak melontarkan sebuah pertanyaan, tiba-tiba pria itu melanjutkan bicaranya sambil berbalik memunggunginya. "Yang mulia Utusan Agung sudah menunggu di dalam, yang mulia. Mari ...."


Xiao Mingyui dengan penuh tanda tanya mengikuti pria itu, kemudian tanpa ia sadari, langkah demi langkahnya menuju ruangan utama tempat Utusan Agung berada, penampilan Xiao Mingyui berubah perlahan.


Pedang yang dia bawa tiba-tiba menghilang, pakaian khusus bertarungnya pun lenyap. Kini Xiao Mingyui tampil dengan hanfu berwarna merah dengan motif burung Phoenix, lalu kepalanya pun dihiasi oleh Mahkota Phoenix, khas seperti pengantin wanita. Satu-satunya barang yang tetap melekat padanya adalah tusuk rambut giok putih peninggalan Huang Mingxiang, tusuk rambut itu masih terus memancarkan cahaya putih.


Pintu ruangan Utusan Agung dibuka, wewangian yang menenangkan pikiran mulai tercium. Pria yang tadi mengantarnya pun segera pergi dan membiarkan dia berdua di ruangan megah Utusan Agung.


Xiao Mingyui menyapu seluruh ruangan dengan pengelihatannya untuk menemukan Utusan Agung, namun dia tidak melihat siapapun di ruangan ini. Ketika sedang sibuk mencari, tiba-tina Xiao Mingyui merasakan hembusan napas kecil di lehernya. Xiao Mingyui melirik tajam ke belakang menggunakan ekor matanya, saat dia bersiap untuk melompat sambil berputar sambil menghunuskan tusuk rambut giok putih, pinggangnya tiba-tiba dirangkul, membuat gerakannya tertahan.


Xiao Mingyui melotot galak, kini dia sedang berhadapan dengan jarak yang sangat dekat dengan seorang pria berambut ungu yang memiliki wajah sangat cantik. Walaupun cantik, namun Xiao Mingyui tahu bahwa dia adalah pria.


Pria itu tersenyum ke arahnya, matanya memandang wajah Xiao Mingyui dengan teduh. Siapapun yang melihat caranya menatap dan tersenyum pasti akan tersipu malu. Tetapi berbeda dengan Xiao Mingyui, wanita itu tidak terkecoh sama sekali dengan wajah indahnya. Wanita itu justru menganggap pria di depannya ini adalah orang mesum. Dia tiba-tiba berada tepat di belakangnya, lalu kini memeluk erat pinggangnya.


"Sepertinya ... kamu sedikit sulit dikendalikan," ujar pria itu, kemudian tangan kanannya bergerak cepat untuk menekan titik rahasia di leher Xiao Mingyui untuk menghentikan gerakan wanita itu.


Xiao Mingyui menggerakkan giginya marah, tubuhnya saat ini tidak dapat digerakkan sama sekali, mematung begitu saja di pelukan pria itu.


Pria itu tersenyum semakin dalam, kemudian mengangkat tubuh Xiao Mingyui ke dalam gendongannya. Dengan lembut dan hati-hati, pria itu meletakkan Xiao Mingyui tepat di sofa panjang yang terletak di ruangan itu. Pria itu menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk kepala Xiao Mingyui.


"Siapa kamu?" tanya Xiao Mingyui, dia kesal karena pria itu tiba-tiba berani menyentuhnya dengan sembarangan.


"Suamimu," jawab pria itu sambil terus memandangi wajah Xiao Mingyui.


"Katakan dengan benar." Xiao Mingyui kesal setengah mati, dia kini benar-benar ingin membunuh pria itu.


Pria itu tiba-tiba tersenyum semakin lembut, tangan kanannya kembali bergerak untuk membelai lembut wajah Xiao Mingyui.


"Aku adalah pria yang mencintaimu, bahkan sebelum kamu terlahir ke dunia ini."


"Aku tidak membutuhkan kalimat puitismu! Katakan siapa identitasmu!" Xiao Mingyui membentak dengan nada bicara yang sangat dingin, matanya menatap semakin tajam.


Pria itu terkekeh, kemudian menjawab,"Identitasku? Bukankah sudah aku katakan sejak awal? Aku adalah suamimu."


"Atas dasar apa?" tanya Xiao Mingyui kesal, baiklah ... dia akan meladeni sedikit ucapan orang gila di hadapannya ini.


"Takdir. Atas dasar takdir. Aku mencintaimu karena takdir dan pilihanku sendiri. Kamu tidak tahu rasanya menunggu, bukan? Aku sedikit tersiksa selama ratusan tahun belakangan ini, bahkan sampai sempat keliru." Di akhir kalimat, pria itu terkekeh karena mengingat kejadian di masa lalu.


Mengetahui apa isi pikiran Xiao Mingyui, Utusan Agung terkekeh lagi, kemudian berkata,"Kamu akan menjadi ibu dari anak Utusan Agung, bukankah itu luar biasa? Bersamaku, kamu tidak akan pernah merasakan lelah atau sedih. Kamu dapat menunjuk negara yang ingin kamu kuasai atau tempat yang ingin kamu miliki khusus hanya untukmu, aku akan mengabulkan semuanya."


Xiao Mingyui semakin kesal. Apa ini lelucon? Bagaimana bisa ada kejadian tiba-tiba seperti ini padanya? Utusan Agung suaminya? Mereka ditakdirkan bersama? Menjadi Maharani Agung? Gila!!


"Kembalikan kuasaku untuk bergerak!" Xiao Mingyui tidak mempedulikan kalimat penuh api cinta tersebut, dia tidak tersentuh sama sekali.


Utusan Agung menggelengkan kepalanya pelan, dia sepertinya tidak pernah mengira bahwa Xiao Mingyui adalah wanita yang sangat galak. Setiap kali pria itu mengamatinya dari kejauhan, Xiao Mingyui selalu bersikap tenang.


Utusan Agung kembali menyentuh titik rahasia yang ada di leher Xiao Mingyui, tak lama kemudian tubuh wanita itu kembali dapat digerakkan dengan sendirinya.


Xiao Mingyui dengan cepat melompat dan menjauh dari Utusan Agung, matanya menatap tajam Utusan Agung. "Di mana adikku?"


Utusan Agung tetap terlihat santai, pria itu sama sekali tidak merasa terancam. "Adikmu baik-baik saja, aku tidak akan pernah menyakitinya."


"Bagaimana dengan Putra Mahkota?" tanya Xiao Mingyui lagi, sesaat kemudian melanjutkan,"Dia adalah calon suamiku. Di mana dia?"


Raut wajah Utusan Agung mendadak suram, tatapan teduh dan penuh cinta yang sebelumnya menjadi tajam, seolah tak pernah ada. "Dia bukan suami yang ditakdirkan untukmu. Dia tidak setara denganmu, kamu ditakdirkan menjadi istri seorang Utusan Agung."


"Atas dasar apa anda berhak mengatakan hal seperti itu?" tanya Xiao Mingyui, dia benar-benar kesal. Utusan Agung sudah bersikap tidak sopan padanya dan walaupun Xiao Mingyui juga tidak terlalu senang dengan Xiao Jiwang, namun dia tidak merasa senang dengan kalimat Utusan Agung yang terkesan merendahkan hanya karena dia seorang manusia pilihan.


"Fakta. Takdir tidak mungkin salah, Tuhan memberimu padaku dan aku juga memilihmu. Kamu ditakdirkan melahirkan anak-anakku," jawab Utusan Agung, senyum di wajahnya benar-benar hilang. Hatinya sama sekali tidak senang kala melihat Xiao Mingyui membela pria lain. Dia sudah menunggu kelahiran Xiao Mingyui selama belasan, puluhan, dan ratusan tahu. Kali ini dia tidak mungkin keliru lagi, Xiao Mingyui adalah wanita yang ditakdirkan untuknya.


"Dan aku memilihnya. Aku memilih Xiao Jiwang sebagai suamiku," jawab Xiao Mingyui, dia masih berpegang teguh kepada Xiao Jiwang. Xiao Mingyui tidak akan menjadi bodoh hanya karena melihat sosok rupawan Utusan Agung dan derajat pria itu yang jauh lebih tinggi dari pada manusia biasa, bahkan Kaisar sekalipun. Dia sudah berjuang mengikat Xiao Jiwang, dan lagi ... masalah yang dihadapinya saat ini lebih membutuhkan kekuatan manusia yang bergerak langsung di dunia, bukan kekuatan yang berhubungan dengan kesucian manusia. Walaupun Utusan Agung memang memiliki kekuatan luar biasa besar bahkan lebih tinggi dari Kaisar, namun ... Utusan Agung tidak memiliki hak pasti akan campur tangan politik di suatu Kekaisaran. Hanya di momen dan kejadian tertentu seorang Utusan Agung berhak ikut campur.


"JIEJIE!!" Suara Xiao Xiangqing yang berseru kencang terdengar dari arah luar ruangan, membuat Xiao Mingyui menoleh. Raut wajah cemasnya kembali muncul.


Utusan Agung tidak menoleh sama sekali, pria itu masih fokus menatap Xiao Mingyui. Jawaban yang Xiao Mingyui lontarkan tadi benar-benar meremas hatinya, pria itu diam mematung dengan raut wajah datar.


BAAMM!!!


Pintu besar milik ruangan Utusan Agung didobrak paksa, alih-alih menampilkan sosok Xiao Xiangqing, yang Xiao Mingyui lihat justru adalah Xiao Jiwang.


Xiao Jiwang adalah orang yang menendang pintu Utusan Agung, kemudian dari belakang pria itu perlahan baru muncul sosok Xiao Xiangqing dengan raut wajah cemas dan ... agak kebingungan.


Raut wajah Xiao Jiwang terlihat sangat keras, pria itu menggertakkan giginya kala melihat penampilan Xiao Mingyui yang mengenakan hanfu merah khas pengantin wanita.


Ketika Xiao Jiwang masuk, Utusan Agung baru menggeser tatapannya tepat ke arah pria itu. Utusan Agung dan Xiao Jiwang saling tatap dengan penuh kebencian yang keras.


Xiao Xiangqing menatap Utusan Agung dan Xiao Jiwang kesal, mengapa kedua pria itu tiba-tiba mematung dan saling tatap? Menghiraukan mereka berdua, Xiao Xiangqing dengan cepat berlari ke arah Xiao Mingyui dan memeluk erat kakaknya. Pria itu kemudian menatap tajam Utusan Agung, membuat Xiao Mingyui sedikit kebingungan. Mengapa Xiao Xiangqing menatap Utusan Agung sangat tajam? Bukankah Utusan Agung yang menyelamatkan mereka berdua? Atau ... ada cerita yang tidak dia ketahui?


Xiao Jiwang berjalan tenang namun berat ke arah Xiao Mingyui, kemudian menggenggam erat lengan Xiao Mingyui dan menariknya dari pelukan Xiao Xiangqing, membuat Xiao Xiangqing kesal. Ketika Xiao Xiangqing ingin melontarkan protes, Xiao Jiwang yang masih saling tatap dengan Utusan Agung pun berkata,"Terima kasih telah menjaga calon istriku, yang mulia Utusan Agung. Kami tidak bisa terlalu lama berada di sini karena masih banyak sekali persiapan yang harus diurus sebelum hari pernikahan tiba."


Raut wajah keras Utusan Agung tiba-tiba tersenyum, senyuman pria itu terlihat sangat berbisa. Utusan Agung mendekat dan berbisik,"Takdir tidak dapat diubah. Kamu tidak bisa melawan Tuhan, jangan bodoh seperti Xiao Muqing." Kalimat ini hanya dapat didengar oleh mereka berdua.


Xiao Jiwang tersenyum merendahkan, kemudian menjawab,"Aku tidak pernah menentang Tuhan, tetapi yang aku tentang adalah dirimu." Lalu Xiao Jiwang melangkah keluar tanpa membungkuk sedikitpun ke arah Utusan Agung sambil menyeret Xiao Mingyui.


Xiao Xiangqing mengikuti dari belakang, dia akan menonjok Xiao Jiwang di bawah nanti karena sudah berani merebut kakaknya. Mereka berdua sebelumnya berada di salah satu ruangan luas untuk beristirahat, kemudian sebuah kaca besar mengeluarkan cahaya, lalu bayangan sosok Xiao Mingyui dan Utusan Agung muncul. Sejak saat itu, Xiao Jiwang terlihat seperti orang gila. Pria itu memaksa keluar dan mengamuk, walaupun Xiao Xiangqing juga kesal karena tiba-tiba Utusan Agung memaksa kakaknya menikah dengan cara yang licik, namun Xiao Xiangqing tidak menyangka bahwa amarah Xiao Jiwang jauh lebih besar dari pada dirinya.


Xiao Mingyui berusaha mengimbangi langkah kaki Xiao Jiwang yang sangat cepat, matanya menatap wajah pria itu yang terlihat sangat suram. Ada apa dengan pria itu? Apa mereka mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Utusan Agung? Tetapi kenapa Xiao Xiangqing terlihat tidak begitu agresif? Biasanya anak itu akan langsung melawan keras jika dia menerima penghinaan sekecil apa pun, namun ini tidak, hanya Xiao Jiwang yang terlihat benar-benar masam. Ada apa?