
"Aku akan membantumu." Utusan Agung menarik lembut lengan Xiao Mingyui, lalu menghisap darah jari telunjuk dan tengah Xiao Mingyui.
>>>>>>>>>>
Xiao Mingyui membelalakkan matanya, kemudian dengan cepat menarik tangannya dari Utusan Agung.
"Kau gila?!" bentak Xiao Mingyui, ini pertama kalinya wanita itu meledak di hadapan orang yang baru beberapa kali bertemu dengannya.
Utusan Agung mengerutkan keningnya, kemudian kembali menarik lengan Xiao Mingyui dan mulai meletakkan jari telunjuknya di atas luka Xiao Mingyui. Sebuah cahaya berwarna putih muncul, lalu ketika cahaya itu hilang dan jari Utusan Agung diangkat, luka Xiao Mingyui menghilang.
Xiao Mingyui kembali menarik tangannya, lalu memperhatikan kedua jarinya yang tadi sempat terluka namun kini kembali bersih.
Xiao Mingyui menatap dingin Utusan Agung, dia masih kesal, namun harus tetap mengucapkan terima kasih. "Terima kasih banyak, yang mulia Utusan Agung."
Utusan Agung tersenyum kala mendengar ucapan terima kasih Xiao Mingyui, pria itu kemudian duduk dengan tenang di hadapan Xiao Mingyui, jarak mereka hanya dibatasi oleh kecapi.
"Jika saya boleh tahu, apa yang hendak yang mulia Utusan Agung lakukan di malam hari seperti dan kamar seorang gadis seperti ini?" tanya Xiao Mingyui.
Utusan Agung masih tersenyum, lalu menjawab,"Hm? Aku datang sesuai dengan saran yang diberikan adikmu, Xiao Xiangqing."
Xiao Mingyui hampir lupa dengan kalimat konyol adiknya saat mencoba keluar dari Istana Utusan Agung. Wanita itu segera tersenyum, lalu berkata,"Yang mulia, yang diucapkan adik saya tidak sepenuhnya benar. Lebih baik anda--"
"Jika memang tidak sepenuhnya benar, setidaknya sekarang aku dapat melihat dirimu lagi." Utusan Agung memotong kalimat Xiao Mingyui, kemudian tangan kanannya bergerak untuk bersandar pada kecapi dan menopang dagunya.
Kedua mata indah Utusan Agung masih menatap Xiao Mingyui, kini fokusnya tertuju pada tusuk rambut batu giok putih yang selalu dikenakan Xiao Mingyui.
"Sepertinya tusuk rambut itu semakin indah jika kamu yang mengenakannya. Dia terlihat lebih berkilau dari sebelum aku memberikannya kepada mendiang ibumu, Huang Mingxiang," ucap Utusan Agung sambil memperhatikan tusuk rambut tersebut.
Xiao Mingyui menyentuh pelan tusuk rambutnya, lalu berkata,"Sungguh seperti itu? Saya merasa tersanjung, terima kasih. Tetapi, yang mulia. Saat ini malam sudah semakin larut, rasanya tidak pantas jika anda berada di dalam kamar seorang wanita yang belum--"
"Bahkan sebelum tiga ribu tahun kamu dilahirkan, kamu sudah menjadi pengantinku, Xiao Mingyui. Jangan pernah mengusirku dengan alasan seperti itu, karena kamu tidak akan bisa mengubah takdir." Utusan Agung kembali menyela, kali ini membuat Xiao Mingyui bertambah kesal.
Xiao Mingyui benar-benar kesal setiap kali pria itu bicara mengenai 'takdir pernikahan' mereka.
"Yang mulia, saya tidak bermaksud menyinggung anda, namun ... bukankah jika ada orang yang tidak sengaja melihat dan tidak mengetahui mengenai 'takdir pernikahan yang diatur Tuhan' untuk kita berdua dia akan mudah salah paham? Dampak negatifnya pasti akan langsung berdampak pada saya." Xiao Mingyui mencoba memberikan kebohongan halus agar Utusan Agung dapat pergi dari kamarnya. Dia benar-benar merasa tidak senang dengan cara pria itu masuk.
Utusan Agung justru malah tersenyum semakin dalam. "Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, karena aku tidak akan membiarkannya, terlebih kepada dirimu. Kamu tidak perlu khawatir. Aku kemari ingin memberikanmu hadiah."
Xiao Mingyui masih kesal, kini alis kirinya terangkat sekilas. "Hadiah?"
Utusan Agung mengangguk. "Benar, hadiah yang akan membuatmu menangis, mungkin?"
Xiao Mingyui diam-diam mulai merasa penasaran. "Apa itu?"
"Kau merindukan kedua orang tuamu, bukan? Hal itu sangat terlihat setiap kali aku menatap wajahmu," ujar Utusan Agung, membuat Xiao Mingyui tertegun. Pria itu dapat membaca isi hati dan pikiran orang lain kah?
Xiao Mingyui mengangguk, sepertinya berbohong di hadapan Utusan Agung yang ditunjuk Tuhan langsung adalah keputusan bodoh.
"Sedikit," jawab Xiao Mingyui tenang.
Utusan Agung mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, pria itu terlihat sangat menawan jika diperhatikan dari jarak yang sangat dekat.
"Maka sekarang pejamkan kedua matamu, jangan pernah membukanya sebelum aku perintahkan," ucap Utusan Agung yang langsung dituruti Xiao Mingyui.
Cetak!
Suara petikan jari terdengar, Xiao Mingyui tidak membuka matanya sama sekali, sesuai dengan yang dikatakan Utusan Agung. Hingga tak lama kemudian, dia mendengar suara Utusan Agung.
"Buka, Mingyui."
Xiao Mingyui perlahan membuka matanya, ketika dia mulai merasakan cahaya matahari cerah menyinari seluruh tubuhnya.
Xiao Mingyui tertegun, kini ... dia berada di alam bawah sadarnya mengenai masa lalu. Xiao Mingyui melihat pemandangan Xiao Wangfu di masa lalu, ketika dia dan Xiao Xiangqing masih kecil.
Angin berhembus lembut, cahaya matahari pagi benar-benar terasa hangat. Xiao Mingyui berdiri di tengah halaman belakang Xiao Wangfu, berjarak sekitar lima belas meter darinya, dia melihat dirinya sendiri yang masih kecil, ayahnya, dan ibunya yang sedang berbadan dua mengandung Xiao Xiangqing.
Xiao Muqing tersenyum tipis. "Itu benar, namun tidak berlaku untuk putriku. Kamu bebas memilih jalan yang ingin kamu lalui, tidak akan ada yang berani melarang."
Suara tertawa Huang Mingxiang terdengar, wanita itu dengan lembut mengelus pipi Xiao Mingyui kecil sambil memegangi perutnya yang besar. "Mingyui sayang, apa yang dikatakan Fu qin-mu benar. Mu qin dan Fu qin akan selalu mendukungmu."
Xiao Mingyui kecil tertawa gembira ketika mendengar ini.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, pemandangan indah yang sedang dia lihat pun perlahan menghilang. Tubuh Xiao Mingyui terasa seperti ditarik, hingga sesaat kemudian dia mendapati dirinya berada di dalam sebuah ruangan, ruangan itu adalah kamar ibunya!
Suara tangis bayi terdengar, Xiao Mingyui memberanikan diri melangkah melewati tirai. Kedua matanya tertegun kala melihat sosok bayi laki-laki menangis di gendongan ibunya yang terlihat kelelahan.
Dari arah belakang, tiba-tiba muncul Xiao Muqing yang berlari sambil menggendong Xiao Mingyui kecil.
"Mingxiang ...."
Xiao Muqing duduk di tepi kasur, kedua mata birunya yang indah menatap lekat anak keduanya yang berkelamin pria. Bibir Xiao Muqing tersenyum, membuat Xiao Mingyui yang menonton adegan ini ikut tersenyum.
"Didi! Didi!" Xiao Mingyui kecil berusaha menyentuh adiknya yang baru saja lahir.
Xiao Muqing lebih dulu menggendong dengan pelan-pelan putranya, lalu menunjukkannya ke arah Xiao Mingyui kecil.
"Siapa namanya, Mu qin?" tanya Xiao Mingyui kecil, menatap bingung ke arah ibunya.
"Xiangqing. Xiao Xiangqing." Xiao Muqing lah yang menjawab pertanyaan Xiao Mingyui kecil, hingga kemudian diangguki dengan senyum tipis bahagia Huang Mingxiang.
"Xiangqing? Xiangqing!" Kedua mata Xiao Mingyui kecil berbinar menatap adiknya kecilnya, bibirnya tersenyum.
Xiao Mingyui yang menonton adegan ini tanpa sadar meneteskan air mata. Ah ... dia ingat dengan samar kejadian ini, dia ingat dengan samar rasa bahagia karena memiliki adik.
Hingga seterusnya, bayangan masa lalu Xiao Mingyui bersama keluarganya terus berputar. Xiao Mingyui menontonnya dengan air mata yang terus mengalir, namun bibirnya tetap tersenyum karena bahagia dapat melihat ulang momen itu.
Hingga momen terakhir tiba, momen yang membuat Xiao Mingyui menangis pecah.
Kini, dia berdiri di antara dua ranjang yang sama persis, namun dengan orang yang berbeda. Di sebelah kanannya terdapat ranjang ibunya yang terbaring lemah, sementara itu di sebelah kirinya terdapat ranjang ayahnya yang juga terbaring lemah.
Xiao Mingyui ingat dengan sangat jelas, ini adalah momen saat kedua orang tuanya sekarat. Tetapi, entah bagaimana kedua hal yang memiliki perbedaan waktu cukup jauh ini ditampilkan pada saat yang sama.
Xiao Mingyui melihat dirinya dan Xiao Xiangqing ada dua, masing-masing dari mereka berada di tepi kasur sambil memasang raut wajah khawatir.
Ketika Xiao Mingyui masih sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba kedua orang tuanya mengulurkan lengan ke arahnya secara bersamaan.
Xiao Mingyui terkejut, ada apa?
"Mingyui ...." Suara lemah ibunya terdengar, membuat Xiao Mingyui menegang. Kedua mata ibunya menatap jelas ke arahnya yang seharusnya tak terlihat.
"Mu qin, Mingyui di sini ...." Bayangan akan dirinya di masa lalu membalas panggilan Huang Mingxiang, namun anehnya ibunya sama sekali tidak melihat ke arahnya yang pada saat itu ada di saja, tapi justru menatap ke arahnya yang sekarang yang seharusnya tak terlihat!
Menoleh ke arah ayahnya, Xiao Mingyui juga melihat mata ayahnya menatap jelas ke arahnya saat ini. Apakah ... kedua orang tuanya dapat melihatnya sekarang?
Tunggu! Xiao Mingyui ... Xiao Mingyui mengingat kejadian ini. Benar, pada saat kedua orang tuanya meninggal, masing-masing dari mereka sempat menatap objek kosong seperti melihat sesuatu. Apakah ... pada saat itu yang mereka lihat adalah dirinya saat ini?
Xiao Mingyui menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya, air mata kembali muncul. Tubuh Xiao Mingyui mulai gemetar, wanita itu dengan cepat duduk dan menyambut tangan kedua orang tuanya.
"Bagaimana ... bisa?" Suara Xiao Muqing yang tercekat terdengar, membuat Xiao Mingyui menatap ayahnya. Bulir air mata terlihat mengalir dari ujung mata Xiao Muqing, membuat Xiao Mingyui menatap ayahnya sambil menangis. Rasa sakit dan sesak itu kembali terasa, dia benar-benar merindukan kedua orang tuanya!
Kembali menoleh ke arah ibunya, Xiao Mingyui melihat ibunya berusaha bangkit dan menyentuh wajahnya yang sekarang. Ketika Xiao Mingyui hendak mendekatkan diri, tiba-tiba sebuah tangan dari belakang menariknya kencang.
Seperti disedot oleh arus yang sangat kuat, Xiao Mingyui merasa tubuhnya terpental ke tempat lain. Ketika matanya terpejam karena terkejut, begitu membuat matanya lagi, Xiao Mingyui mendapati dirinya sedang berada di pelukan Utusan Agung dengan isak tangis yang luar biasa.
Xiao Mingyui kesulitan mengendalikan isak tangisnya, air matanya terus keluar. Mendongak ke atas, dia melihat wajah Utusan Agung yang terlihat ikut bersedih.
Xiao Mingyui benar-benar pecah, dia menangis tanpa sungkan di hadapan orang yang baru dua kali bertemu dengannya.
Utusan Agung menepuk-nepuk punggung Xiao Mingyui untuk menenangkan wanita itu. "Maafkan aku kerena menarikmu secara tiba-tiba, tetapi jika tidak ... kamu bisa terjebak di dimensi itu selamanya. Kemungkinan jiwamu akan hancur, aku tidak akan sanggup melihatmu hancur di depan mataku sendiri."