The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 76. Mari Kita Saling Menghancurkan!



"Kondisinya buruk. Sepertinya ... pedang itu telah dilapisi oleh racun. Kita terlambat mengetahui keberadaan racunnya, sehingga sekarang racun telah menyebar lima puluh persen." Xiao Mingyui menatap sulit ke arah Mo Wanwan yang hingga kini belum sadarkan diri.


"Gawat. Kita tidak bisa membiarkan seorang putri Kekaisaran lain mati di tanah ini." Baili Ruyi yang sejak kemarin telah tinggal di Istana untuk menjaga Mo Wanwan ikut merasa cemas.


"Hanya ada satu cara." Yui, yang kini telah kembali ke Ibu Kota untuk membantu Baili Ruyi menjaga Istana memotong keheningan.


Xiao Mingyui menatap bingung ke arahnya, sebab ... racun yang berada di dalam tubuh Mo Wanwan adalah racun langka buatan Huan Tenggara. Sampai saat ini, racun itu belum memiliki penawarnya, bahkan Huan Tenggara sendiripun belum memilikinya.


"Tidak ... Yui, aku tidak ingin masa lalu itu terulang lagi." Baili Ruyi menggelengkan kepalanya pelan, dia tahu apa yang Yui pikirkan.


"Katakan, bibi Yui." Xiao Mingyui menghiraukan Baili Ruyi yang terlihat jauh lebih cemas, karena apa pun itu Xiao Mingyui harus membuat Mo Wanwan tetap hidup. Jika Mo Wanwan mati di sini, Kekaisaran Barat bisa saja membuat keributan.


Yui mengepalkan kedua tangannya, lalu berkata,"Bunga Gold God. Bunga yang hanya tumbuh di Istana kediaman Utusan Agung, puncak gunung Lang Tao."


"Putri, kita bisa menekan racunnya untuk sekarang. Kita tidak bisa pergi ke gunung Lang Tao di situasi seperti ini. Sangat--" Ketika Baili Ruyi sedang bicara, tiba-tiba dari arah pintu masuk Fang Tianyao dengan tergesa-gesa.


"Putri!"


Xiao Mingyui menoleh, segera berdiri dan menatap Fang Tianyao bingung. "Ada apa?"


"Ini." Fang Tianyao memberikan kotak kayu berukuran kecil ke arah Xiao Mingyui, kemudian membuka kotak tersebut. Begitu mengetahui apa isinya, tubuh Xiao Mingyui terhuyung ke belakang.


Baili Ruyi dan Yui sigap menahan, mereka berdua membantu Xiao Mingyui untuk kembali duduk.


Tangan Xiao Mingyui gemetar mengambil liontin giok Xiao Xiangqing yang berlumuran darah. Kemudian, dia meletakkan kembali liontin giok tersebut ke dalam kotak dan mengambil kertas kecil yang digulung rapi.


Xiao Mingyui menjatuhkan kotak itu ke lantai, tangannya saat ini sangat lemas. Baili Ruyi yang melihat isinya pun ikut terdiam, dia dan Yui tidak berani mengeluarkan kalimat.


Ketika Xiao Mingyui membuka gulungan tersebut, perlahan keningnya terlipat dalam. Kebencian mulai menyelimuti hatinya.


"Ini adalah liontin milik adikmu, bukan? Sekarang dia berada di markas militer Huan Tenggara. Statusnya persis seperti putri Xie yang berada di penjara bawah tanah Istana Kekaisaran Timur. Menurutmu ... apa yang harus aku lakukan terhadap adikmu? Dia sekarang terluka parah karena harus menahan bom beracun dengan kekuatan dalamnya seorang diri. Aku mungkin akan memotong satu atau dua jarinya? Atau lebih baik aku menggantungnya dengan pedang yang menembus lehernya? Apa sekarang kau merasakan apa yang aku rasakan? Kehilangan seseorang yang sangat kau cintai dan ... ditusuk dari belakang. Gemetar, dingin, takut, marah. Semua itu bercampur menjadi satu, benar? Xiao Mingyui, aku menyesal telah mempercayaimu. Kau membunuh ibuku, dan kini ... aku akan membunuh adikmu. Satu-satunya keluargamu, sama seperti yang kau lakukan padaku. Mari kita saling menghancurkan.


-Fang Laowang."


"FANG LAOWANG!!" Xiao Mingyui meremas surat kertas tersebut, air matanya menetes.


Xiao Mingyui tidak pernah membunuh Han Silue, Ibu kandung Fang Laowang. Xiao Mingyui menyadari bahwa kematian Han Silue adalah ulang Fang Jichang. Tetapi, kini yang mengambil adiknya adalah Fang Laowang. Baik itu atas pengaruh Fang Jichang atau tidak, Xiao Mingyui benar-benar akan membunuh Fang Laowang jika pria itu berani membunuh adiknya!


Xiao Mingyui berdiri, matanya yang memerah menatap Baili Ruyi dan Yui bersamaan.


"Aku ... aku akan ikut berperang. Fang Laowang, pria itu menculik Xiao Xiangqing. Aku tidak akan--"


"Tidak yang mulia! Anda tidak bisa ikut berperang! Terlalu berbahaya!" Baili Ruyi memotong cepat, kedua tangannya menggenggam erat Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui menepis kasar tangan Baili Ruyi, lalu membalas,"Adikku ... adikku hendak dibunuh! Aku tidak akan membiarkan para bajingan itu menyentuh adikku! Tidak akan!!" Lalu dia berjalan cepat menuju pintu.


Fang Tianyao yang melihat tekad Xiao Mingyui pun berusaha menghentikannya.


"Putri! Anda tidak bisa sembarangan! Peperangan bukanlah sesuatu yang mudah!"


Xiao Mingyui menutup kedua telinganya, Baili Ruyi, Yui, dan Fang Tianyao terus mengoceh, berusaha menghentikannya. Hingga Xiao Mingyui tiba-tiba menoleh dan membalas mereka semua dengan bentakan.


"AKU HANYA INGIN BERJUANG UNTUK ADIKKU!" Napas Xiao Mingyui menjadi tidak teratur, kedua matanya memerah dan air matanya terus mengalir. Di saat seperti ini, bola mata biru milik Xiao Mingyui terlihat jauh lebih berkilau.


Baili Ruyi, Yui, dan Fang Tianyao tertegun. Sosok Xiao Mingyui sekarang mengingatkan mereka kepada Huang Mingxiang.


Baili Ruyi tanpa sadar ikut menjatuhkan air mata.


"Jika kalian pernah menjajakkan kaki hingga ke puncak gunung Lang Tao untuk menyelamatkan ayahku, maka aku seharusnya pun bisa menjajakkan kaki di medan perang untuk menyelamatkan adikku! Bukankah sama saja? Kita sama-sama menyelamatkan seorang Xiao Wangye!" ujar Xiao Mingyui, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya cepat.


"Wangfei ..." Baili Ruyi jatuh berlutut ke lantai, air matanya semakin mengalir deras. Tak lama, dari samping muncul Yui yang memeluknya.


"Aku gagal ... Yui. Aku gagal mempertahankan kehidupan damai Xiao Wangfu. Aku gagal ... menjaga putri Mingyui dan pangeran Xiangqing. Wangfei pasti akan sangat membenciku ...." Baili Ruyi menangis terisak. Hatinya terasa sangat sesak.


Yui menggeleng. "Tidak, Ruyi. Kau tidak gagal. Setiap generasi pasti akan berganti. Setiap generasi juga pasti akan memiliki rintangannya masing-masing. Kau berhasil. Kau berhasil menjaga Xiao Wangfu, kau pun berhasil menjaga kesetiaan Gu Fu untuk Xiao Wangfu. Kau berhasil, Ruyi. Wangfei ... tidak akan kecewa kepadamu."


"Mu qin ... Fu qin ...." Xiao Mingyui masih terisak.


"Maafkan aku ... aku gagal menjaga Xiangqing ...."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang harus aku lakukan setelah membawa pasukan ke sana? Tiga ratus ribu pasukan Xiao Wangfu kesulitan mempertahankan kemenangan. Lalu apa gunanya aku ke sana dengan hanya membawa seratus ribu pasukan? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menyerah?"


"Mu qin ... Fu qin ... aku mohon, berikanlah aku petunjuk. Apa yang harus aku lakukan?"


Xiao Mingyui berada di ambang keputusasaan, dia benar-benar diselimuti oleh emosi dan rasa sedih. Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang, seluruh pikirannya kacau.


"Berbicara dengan orang mati tidak akan memberikanmu jawaban." Suara yang tidak asing terdengar, membuat Xiao Mingyui menoleh cepat dan menatap seseorang itu tajam.


"Tuan Rong?"


Rong Wangxia tersenyum, lalu menyodorkan sapu tangan ke arah Xiao Mingyui dan berjalan mendekati makam Huang Mingxiang dan meletakkan bunga mawar putih di atasnya.


"Ibumu dulu sangat menyukai mawar putih," ucap Rong Wangxia, bibirnya tersenyum tipis.


Xiao Mingyui dengan cepat menghapus air matanya, tidak membiarkan Rong Wangxia melihat dia menangis.


"Anda setiap hari kemari?" tanya Xiao Mingyui kesal setiap kali berkunjung ke makam kedua orang tuanya selalu bertemu dengan Rong Wangxia.


Rong Wangxia mengangguk. "Benar. Setiap hari. Tidak ada hari tanpa bunga."


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, lalu melirik ke arah tumpukkan bunga mawar putih kering di dekat makam ibunya.


"Untuk apa?"


"Tidak ada arti apa pun. Aku hanya berkunjung setiap kali aku merindukannya. Dan sialnya, aku merindukannya setiap hari. Seharusnya kah berterima kasih karena berkat diriku, kedua makam orang tuamu jadi terawat." Rong Wangxia terkekeh di akhir kalimatnya.


Ketika Xiao Mingyui hendak membalas, tiba-tiba Rong Wangxia menoleh dan bertanya,"Lalu ... mengapa kau menangis tersedu-sedu? Seolah dunia ini akan berakhir dalam waktu lima menit?"


Xiao Mingyui menundukkan kepalanya, lalu menjawab,"Xiangqing. Dia diculik dan di bawa ke markas militer Huan Tenggara. Ada kesalahpahaman antara aku dan Fang Laowang, sehingga Fang Jichang memanfaatkan hal ini untuk menyentuh kelemahanku. Fang Laowang, hendak membunuh adikku."


"Pria yang mengaku mencintaimu itu?" tanya Rong Wangxia, entah sejak kapan mereka mulai bicara dengan kalimat santai.


Xiao Mingyui tertegun. Dari mana Rong Wangxia tahu?


Melihat raut wajah Xiao Mingyui, Rong Wangxia terkekeh. "Terlihat sekali di wajahnya, nak. Ketika melihatnya yang mencintaimu, aku kembali teringat akan diriku yang dulu. Nasibnya sama sepertiku, kalah cepat untuk datang ke Ibu Kota."


Xiao Mingyui diam, tidak menjawab.


"Jika cintanya untukmu benar sangat dalam, seharusnya dia tidak melakukan hal seperti itu. Aku tahu, cinta Ibu lebih dalam dari apa pun. Tetapi ... tetap, cinta adalah cinta. Perasaan yang diberi lebel cinta selalu memiliki kedalaman perasaan luar biasa. Jika dia berkata bingung di awal namun pada akhirnya memilih untuk membunuhmu, cintanya tidak sungguhan dalam. Karena semarah apa pun kita, kita tidak dapat berbuat tega sampai membunuh. Pada akhirnya orang yang benar-benar mencintai hanya ada dua pilihan. Pertama, dia membuang perasaannya. Kedua, dia memilih jalan paling tepat dan lurus untuk berdamai, meskipun itu menyakitinya."


"Apa dulu jalan yang Anda pilih adalah jalan kedua?" tanya Xiao Mingyui cepat.


Rong Wangxia mengangguk. "Benar. Aku memilih jalan yang paling benar. Aku memilih berada di pihak ibumu bukan sekedar cinta, namun karena memang pada saat itu, itulah jalan yang paling benar. Keluargaku terbukti bersalah, keluargaku terbukti sebagai penjahat. Dan aku memilih mengakhiri semua ini, membuat semuanya menjadi damai dan normal kembali dengan mengalah. Mengalah untuk cintaku dan kehidupan yang lebih bahagia. Aku menjatuhkan keluargaku sendiri untuk jalan yang benar. Hingga kini, aku tidak pernah menyesal menjadi orang yang menjatuhkan keluargaku sendiri."


"Lalu ... apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa anda berpikir seratus ribu pasukan mampu menahan bom beracun buatan mereka?"


Rong Wangxia tersenyum, lalu berkata,"Aku akan ikut denganmu ke medan perang, dan di sana ... aku akan menunjukkan bagaimana caranya."


Xiao Mingyui tertegun. Rong Wangxia tahu cara mengalahkan bom beracun itu?


"Sekarang, segera bersiap, putri. Saya akan membantu anda untuk meraih kemenangan!" Rong Wangxia menaikkan sedikit nada bicaranya, berusaha membangkitkan kembali semangat Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui tersenyum, dia seperti sedang melihat cahaya. Rambut putih albino Rong Wangxia berhembus tertiup angin lembut, keduanya saling melempar senyum percaya diri.


"Baik!"


Xiao Mingyui kembali berdiri, kedua tangannya mengepal penuh tekad.