The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 43. Permohonan Lu Fenghua



Setelah tiba di Istana kediaman Lu Fenghua, pelayan pribadi Lu Fenghua muncul menyambut Xiao Mingyui, kemudian membawanya menuju ruang ibadah tempat biasa Lu Fenghua menghabiskan waktunya.


Xiao Mingyui masuk dengan tenang ke dalam ruang ibadah Lu Fenghua, di samping wanita itu terdapat Xiao Feluan yang ikut berdoa. Mereka berdua duduk dengan tenang menghadap patung dewa. Di tangan kanan Lu Fenghua terdapat tasbih budha yang terus menerus digeser.


Xiao Mingyui duduk dengan hati-hati di belakang keduanya hingga mereka selesai berdua. Begitu selesai, Xiao Feluan dengan cepat menoleh dan tersenyum ceria ke arah Xiao Mingyui.


"Mingyui!"


Xiao Mingyui tersenyum, kemudian membungkuk ke arah Lu Fenghua begitu wanita itu ikut menoleh.


"Niangniang."


Lu Fenghua dibantu berdiri oleh putrinya, kemudian mereka duduk bersama di kursi yang telah disediakan.


"Mingyui, kamu kemari?" tanya Lu Fenghua lembut, wanita itu dikenal sebagai selir Kaisar yang paling religius.


Xiao Mingyui mengangguk, kemudian melirik Bingbing untuk mengeluarkan barang bawaannya. Bingbing dengan cepat meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.


"Tentu saja, Mingyui merasa sangat khawatir setelah melihat kondisi anda di acara kemarin. Maka dari itu hari ini Mingyui langsung memutuskan untuk menemui anda, saya tidak mungkin diam melihat anda sakit." Xiao Mingyui mengucapkan itu seolah sangat sedih, kemudian tangannya membuka kotak kecil yang diberikan Bingbing tadi dan menunjukkannya ke arah Lu Fenghua.


"Niangniang, ini adalah ramuan khusus yang baru saja saya perbarui. Ramuan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan stamina serta kekuatan tulang anda, dia juga dapat membunuh virus-virus kecil yang menyebabkan batuk atau bersin-bersin," ucap Xiao Mingyui, membuat Lu Fenghua tersenyum mendengarnya.


Lu Fenghua menyentuh bahu Xiao Mingyui, kemudian mengelusnya lembut. "Terima kasih banyak, Mingyui. Kamu benar-benar anak yang manis."


Xiao Mingyui tersenyum tulus mendengar ini, kemudian matanya melirik ke arah Xiao Feluan yang ikut merasa senang dengan pemberian Xiao Mingyui untuk ibunya.


Tak lama Lu Fenghua melirik putrinya, kemudian berkata,"Feluan, bukankah kamu memiliki sesuatu yang ingin diberikan kepada Mingyui?"


Wajah Xiao Feluan dengan cepat berubah, seolah dia baru saja mengingat sesuatu yang penting. Segera, Xiao Feluan berdiri dan berkata,"Mingyui, aku akan segera kembali, tolong jaga Mufei-ku. Aku memiliki sesuatu untuk diberikan padamu!"


Xiao Mingyui terkekeh melihat tingkah manis Xiao Feluan, wanita itu dengan cepat mengangguk dan membiarkan Xiao Feluan berlari kecil keluar dari ruang ibadah Lu Fenghua.


Setelah Xiao Feluan pergi, tatapan mata Xiao Mingyui sedikit mendingin. Sepertinya ... Lu Fenghua sengaja membuat putrinya pergi dari sini.


"Mingyui." Lu Fenghua memanggil Xiao Mingyui, nada suaranya terdengar lebih tegas dan mantap.


Xiao Mingyui mengangguk. "Ya, niangniang?"


"Apa aku boleh meminta satu permohonan padamu?" tanya Lu Fenghua, bibir pucatnya tersenyum lembut.


Xiao Mingyui tertegun, namun kemudian dia mengangguk. "Tentu, niangniang."


Lu Fenghua meraih telapak tangan Xiao Mingyui, kemudian menggenggamnya erat. "Jika aku mati dan kamu telah menjadi Putri Mahkota, aku mohon ... lindungi Feluan seolah dia adalah kakak kandungmu."


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Mengapa anda berbicara seperti itu? Anda akan tetap bersama kami untuk Jiejie Feluan, benar?"


Lu Fenghua menggeleng pelan, bibirnya masih tersenyum. "Tabib berkata penyakitku semakin parah. Aku pun tak bisa mengelak dari takdir, umurku juga tidak lagi muda. Feluan adalah anak yang aku dididik sangat baik, aku tidak pernah memperlihatkan sisi gelap dunia dan Kekaisaran ini padanya, dia hanya mengenali hal-hal baik. Hal itulah yang membuat sifat ceria dan kekanakannya selalu ada meskipun umurnya satu tahun di atasmu. Setelah aku pergi, tidak akan ada lagi yang melindunginya. Aku khawatir dia akan kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa dunia tidak seputih yang dia tahu." Kedua mata Lu Fenghua terlihat berkaca-kaca.


Lu Fenghua menghembuskan napas lega, lalu berkata,"Mingyui, aku merasa sangat senang sekali mendengar kamu mengatakan itu. Sekarang, aku dapat pergi dengan tenang jika sewaktu-waktu ajalku tiba. Aku sudah tidak memiliki beban atau hutang lagi, aku juga dapat menemui mendiang Xiao Wangfei dengan percaya diri di sana."


Xiao Mingyui hanya bisa tersenyum mendengar kalimat Lu Fenghua. Memang setelah kematian mendiang ibunya satu tahun yang lalu, Lu Fenghua dan Wu Zeyuan lah yang paling sering berada di sisinya dan Xiao Xiangqing. Setiap kali mereka mengunjungi Istana, Lu Fenghua dan Wu Zeyuan dengan hangat menyambut mereka dan memberikan perhatian seorang ibu.


"Aku kembali." Suara Xiao Feluan terdengar, membuat Xiao Mingyui dan Lu Fenghua menatap pintu secara bersamaan.


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya kala melihat raut wajah Xiao Feluan yang terlihat masam setelah pergi mengambil hadiah yang katanya ingin diberikan kepada Xiao Mingyui.


"Feluan, ada apa?" tanya Lu Fenghua khawatir.


Xiao Feluan mendengus tipis, kemudian duduk di kursinya sambil menjawab,"Putri utusan Kerajaan Huan Tenggara, aku sangat tidak menyukainya!"


"Apa masalahnya?" tanya Xiao Mingyui.


Xiao Feluan mendengus lagi. "Dia bertingkah sombong hanya karena utusan sebuah Kerajaan Huan Tenggara! Saat Kaisar memintaku untuk menjadi temannya mengenal Kekaisaran Timur, wanita itu beralasan dan berusaha agar Kaisar menggantinya dengan Putra Mahkota. Alhasil, sekarang Putra Mahkota bertanggungjawab akan dua utusan. Wanita itu terlihat sekali ingin mendekati Putra Mahkota!"


Xiao Mingyui mengangguk ringan, dia tidak terlalu peduli akan hal itu sebenarnya. Tetapi karena Xiao Feluan yang bercerita, maka dia mendengarkannya sampai selesai.


Xiao Feluan menatap Xiao Mingyui. "Mingyui, kamu harus mengurusnya dengan baik. Jika tidak, mungkin dia akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada Putra Mahkota!"


Xiao Mingyui tersenyum. "Mengapa aku harus 'mengurus'nya? Yang mulia hanya sedang bekerja dan menjalani perintah Kaisar, aku--"


"Ck! Bagaimana jika dia melakukan hal nekat seperti menghalalkan segala cara agar menjadi selir atau hal gila lainnya seperti mendepakmu dari kursi Putri Mahkota?! Kamu tidak bisa membiarkan pria yang kamu cintai didekati begitu saja! Apa kamu tidak kesal atau cemburu ketika melihatnya?"


Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya. Pria yang dia cintai? Kesal atau cemburu? Sepertinya ... tidak ...?


"Tidak, aku rasa ...?" jawab Xiao Mingyui dengan ragu.


Xiao Feluan menghembuskan napas gusar. "Kamu tidak pandai berbohong di hadapanku, Mingyui!"


Xiao Mingyui tertegun. Berbohong? Jawabannya yang tadi bohong? Dia merasa telah menjawab jujur, bagaimana mungkin Xiao Feluan menganggapnya sebuah kebohongan? Tetapi ....


Xiao Mingyui kembali mengingat kejadian saat Xie Wanting terjatuh ke pelukan Xiao Jiwang, kemudian melihat wanita itu mengenakan mantel milik Xiao Jiwang. Kedua sudut alis Xiao Mingyui menyatu kala mengingat hal itu.


Lu Fenghua yang melihat perasaan dan raut wajah ragu-ragu Xiao Mingyui pun segera bertanya,"Kamu mencintai Putra Mahkota, bukan?"


Xiao Mingyui terdiam, dia tidak menyangka Lu Fenghua akan menanyakan hal ini secara tiba-tiba. Tetapi dengan tenang Xiao Mingyui akhirnya menjawab. "Tentu, saya rasa, saya mencintai Putra Mahkota."


"Saya rasa?" tanya Lu Fenghua, mengulangi kalimat Xiao Mingyui.


"Kamu tidak bisa menjawab dengan ragu pertanyaan itu, Mingyui," ujar Lu Fenghua, bibirnya tersenyum ke arah Xiao Mingyui.


Pandangan mata Xiao Mingyui sedikit mendingin, dia benci pertanyaan ini. Sebab, pertanyaan ini mampu membuat hati dan pikirannya menjadi gelisah tak nyaman.