
TRANG!
SPLASH!!
Xiao Jiwang terus menebas musuh. Kini, telah genap mereka berperang selama tiga hari penuh tanpa tidur. Perang ini benar-benar gila, sama sekali tidak ada jeda.
"Yang mulia, kita telah kehilangan seperempat pasukan. Apakah benar masih ada harapan?!" tanya Chen Qi, pria itu terlihat cukup berantakan. Pedang dan baju zirahnya telah dinodai banyak sekali noda darah.
Gu Lingchi, pria itu telah terpukul mundur. Dia terluka parah ketika hendak melindungi Xiao Jiwang dari tikaman pedang musuh. Sedangkan ayahnya, Gu Sinjie, pria itu masih gesit bergerak meskipun telah menua.
Xiao Jiwang menatap dingin Chen Qi. "Ada atau tidaknya harapan, tetaplah bertarung untuk Kekaisaran, Chen Qi."
TRACK!
Xiao Jiwang menusuk jantung musuhnya yang telah terkapar di tanah hingga memuntahkan seteguk darah.
"Bom beracun! Mereka hendak kembali menembakkannya!!"
Xiao Jiwang menoleh ke arah meriam yang bersiap meluncurkan bom kembali. Matanya terlihat sangat dingin dan tajam, rasa lelah bukan main terlihat nyata di matanya. Kondisinya cukup kacau, sama seperti Chen Qi. Mereka tidak bisa bersantai barang sedetik, karena musuh terus bermunculan dan berusaha membunuh.
"Yang mulia! Bagaimana?!" Chen Qi terlihat panik, matanya menatap Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang tidak menjawab, dia bergegas berjalan ke arah Gu Sinjie.
"Tuan Gu."
Gu Sinjie menoleh, matanya pun memancarkan kebingungan yang enggan menyerah.
"Jaga pasukan untukku," ucap Xiao Jiwang.
Gu Sinjie tertegun, lalu perlahan kepalanya menggeleng. "Tidak, yang mulia. Anda adalah pewaris takhta."
Xiao Jiwang tersenyum tipis. "Tugas pewaris takhta adalah menjadi pelindung untuk seluruh daratan Kekaisaran. Maka, jangan halangi aku untuk menjalankan tugas sebagai pewaris takhta, Tuan Gu."
Gu Sinjie menggeleng lagi. "Putri Mingyui akan--"
"Wanita itu akan baik-baik saja. Percaya padaku, aku telah mempersiapkan rencana kedua jika pada akhirnya aku harus berakhir di sini," potong Xiao Jiwang.
Gu Sinjie mengepalkan kedua tangannya, matanya terlihat memerah, menahan air mata keluar. Gu Sinjie dengan cepat membungkuk, membuat seluruh pasukan tertegun dan bingung. Tetapi, ketika mereka melihat ke arah meriam yang bersiap menembakkan bom, mereka langsung tahu jawabannya.
Chen Qi menangis, pria itu pun ikut membungkuk ke arah Xiao Jiwang.
Gu Sinjie kembali berdiri tegak, lalu menepuk pundak Chen Qi dan menariknya menjauh dari Xiao Jiwang. Seluruh pasukan pun berjalan mundur, lalu mereka menancapkan pedang tepat di hadapan mereka dan berlutut ke arah Xiao Jiwang bersamaan.
Xiao Jiwang tersenyum tipis, lalu berbalik dan memunggungi mereka. Seluruh pasukan membungkuk dalam sambil menangis, lagi-lagi ... mereka akan kehilangan pemimpin pasukan. Jika Xiao Jiwang mati, kemungkinan yang menggantikan pria itu adalah Gu Sinjie.
Klontang!
Xiao Jiwang menjatuhkan pedangnya ke tanah, setelah itu berjalan maju. Matanya menatap tajam meriam itu selagi dirinya fokus mengumpulkan seluruh kekuatan dalamnya menjadi satu.
BOOM!
SIUNGGGGG!!!!
Meriam itu mulai memuntahkan bom besar, dengan cepat Xiao Jiwang mengangkat kedua tangannya. Perisai besar berwarna oren muncul membungkus seluruh area tempat pasukan berada.
Xiao Jiwang memblokir hantaman bom, seluruh tubuhnya lagi-lagi merasakan sensasi terbakar dari dalam.
Krak! Krak!
Perisai Xiao Jiwang mulai memunculkan keretakan, pria itu lagi dan lagi secara penuh mempertahankan perisainya agar efek ledakan sang bom yang sangat mengerikan serta asapnya yang beracun tidak mengenai pasukan.
"ARGHHH ...!" Xiao Jiwang meringis, kedua sudut alisnya menyatu rapat.
"JIWANG!!!"
Di tengah kesusahannya, dia mendengar suara Xiao Mingyui meneriaki namanya. Xiao Jiwang tersenyum tipis, apakah ... manusia yang hendak mati akan mengalami halusinasi?
Namun ....
SPLASH!
BOOM!
Cahaya berwarna biru muncul, membuat perisai baru yang menyelimuti perisai Xiao Jiwang yang berwarna oren.
Xiao Jiwang tertegun, matanya memperhatikan Xiao Mingyui yang kini berdiri tepat di sampingnya.
Xiao Mingyui yang menyadari tatapan terkejut Xiao Jiwang pun segera melirik cepat dan berkata,"Bajingan, kau tidak boleh mati. Kau berjanji untuk menikahiku, Xiao Jiwang. Aku tidak ingin menikah dengan pria lain. Jika kau mati, itu harus di tanganku!"
"GU FUREN!!"
Xiao Mingyui menyerukan Baili Ruyi, membuat seluruh pasukan yang belum selesai dari rasa keterkejutannya akan kedatangan Xiao Mingyui, kini mereka harus kembali terkejut karena tiba-tiba Gu Furen disebut. Wanita itu muncul dan ....
BOOM!!
Wanita itu menghantam bom beracun dengan tinjunya, dia telah memakai penutup wajah rapat hingga asapnya tidak terhisap.
Gu Sinjie menelan ludah ketika melihat aksi istrinya, dia sedikit terkejut kalau istrinya sama sekali tidak melemah meskipun telah termakan umur. Pria itu semakin merasa ngeri saat menyadari kepingan badan bom ulah istrinya yang hancur lebih halus dari pada kepingan bom yang dia hancurkan.
"Tuan Chen! Bawa Putra Mahkota kembali ke markas militer perang! Obati lukanya!" Xiao Mingyui berseru memerintah Chen Qi.
Xiao Jiwang menggeleng, tidak setuju. "Tidak bisa, aku harus--"
"Kita masih memiliki pertarungan selanjutnya, yang mulia. Tolong, kali ini anda harus beristirahat. Ketika pasukan Huan Tenggara berhasil dibersihkan, kita masih harus menyelinap ke dalam markas mereka untuk mencari Xiangqing," potong Xiao Mingyui.
"Sudah, yang mulia. Ayo!" Chen Qi menarik tangan Xiao Jiwang agar pria itu tidak memiliki kesempatan untuk menolak.
Tidak jauh dari posisi Xiao Mingyui berdiri, dari belakang Rong Wangxia tersenyum di atas kudanya menatap Xiao Mingyui. Sosok Xiao Mingyui benar-benar mengingatkannya kepada Huang Mingxiang.
Xiao Mingyui menarik pedangnya keluar, matanya menatap ganas ke arah musuh.
"Komando pasukan diambil alih olehku! Gunakan formasi 4! Kepung dari arah selatan dan utara! Sisanya ikut denganku, menyerang dari depan!" Xiao Mingyui berseru lantang, menatap para pasukan. Tangan kirinya terangkat menunjukkan plakat khususnya.
"Baik, yang mulia!!"
Semangat pasukan kembali bangkit, mereka kembali berdiri setelah selesai berlutut.
"Bibi Yui sudah siap?" tanya Xiao Mingyui kepada Baili Ruyi.
Baili Ruyi mengangguk. "Sudah. Dia siap."
Xiao Mingyui balas mengangguk juga dengan puas, setelah itu menoleh ke arah Rong Wangxia. "Tuan Rong, anda sungguh mengetahui cara menghentikan bom itu?"
Rong Wangxia mengangguk mantap. "Tentu."
Xiao Mingyui tersenyum dingin, lalu mengangguk mengerti. Tatapan wanita itu menjadi jauh lebih serius, dia kembali menatap lurus ke depan ke arah musuh.
"MULAI! SERANG MEREKA!!" Xiao Mingyui berteriak lantang, lalu berlari ke arah musuh yang juga mulai mendekat dengan kakinya. Wanita itu menggila di medan perang.
*Lima belas menit sebelum Xiao Mingyui dan pasukan lainnya berangkat ke medan perang*
Xiao Mingyui dan yang lain sedang berada di ruangan tertutup. Ruangan ini dulunya adalah tempat kerja Xiao Muqing ketika masih menjadi seorang pangeran biasa.
"Menurut laporan yang saya terima mengenai gambaran kondisi di sana, musuh memiliki dua buah meriam besar untuk menembakkan bom beracun."
Xiao Mingyui mengangguk singkat ketika mendengar kalimat Baili Ruyi, kemudian hening. Mereka berempat sibuk berpikir mengenai strategi. Xiao Mingyui, Baili Ruyi, Yui, dan Rong Wangxia berada di meja yang sama.
Tak lama, Xiao Mingyui melirik ke arah Yui dan bertanya,"Bibi Yui, apa kemampuan Qingpo anda masih sangat baik?"
Yui mengangguk. "Saya masih mampu."
Xiao Mingyui mengangguk puas, lalu berkata,"Itu bagus. Aku memiliki rencana. Bibi Yui, ketika lokasi kita semakin dekat dengan medan perang, anda harus berpisah dengan kami. Sebisa mungkin, menyelinap dengan mulus ke dalam markas militer perang Huan Tenggara. Sebab, meledakkan bom besar berbahaya seperti bom beracun bukanlah perkara mudah. Mereka harus mengatur waktunya atau tidak senjata itu akan membunuh mereka juga. Ada jeda sekitar tujuh sampai tujuh menit untuk mereka mengatur meriamnya. Kemungkinan besar, mereka menggunakan meriam itu secara bergantian, karena bom itu tidak bisa diledakkan secara bersamaan. Tekanan keduanya sangat besar, jika berbarengan meluncur dalam waktu yang sama, meriam akan meledak. Oleh karena itu, gunakan kemampuan Qingpo anda untuk merasuki salah satu tubuh tentara yang bertugas mengatur bom serta meriam. Lalu ... bakat meriamnya."
"Selanjutnya, Gu Furen dan aku akan memimpin pasukan. Aku akan mengurus pasukan yang menyerang dari depan, sementara Gu Furen akan memimpin pasukan yang menyerang dari arah selatan. Karena di sana masih ada Tuan besar Gu, kita nanti bisa memintanya untuk memimpin pasukan dari arah utara. Dan ...." Mata Xiao Mingyui melirik ke arah Rong Wangxia.
"Tuan Rong, anda bersamaku. Ketika Gu Furen dan Tuan Gu menyerang, bom tentu saja pasti akan dilayangkan. Dan pada saat itu, anda akan menggunakan cara yang anda ketahui untuk menghentikan bom tersebut. Anda siap? Saya akan membantu--"
"Tidak perlu, saya bisa mengatasinya sendiri, yang mulia. Selagi saya berusaha memblokir bom tersebut, mohon anda menjauh. Karena efeknya cukup berbahaya," potong Rong Wangxia, bibirnya tersenyum.
Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya sekilas, dia tidak tahu bahwa Rong Wangxia adalah pria yang sangat kuat, bahkan mampu memblokir bom beracun?
Xiao Mingyui mengangguk singkat dan kembali menatap Yui. "Baiklah, aku mengerti. Kemudian, bibi Yui, setelah bom itu diluncurkan, anda dapat segera membakar meriam satunya. Pastikan tidak ada tentara yang mendekati meriam untuk memadamkan api. Ketika meriam telah diselimuti api secara sempurna, anda dapat keluar dari tubuh tersebut."
Yui mengangguk mantap penuh percaya diri. "Baik, yang mulia."