The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 31. Kembali Bersatu



Xiao Mingyui, Xiao Xiangqing, dan Xiao Jiwang, masing-masing dari mereka mulai sibuk mempersiapkan diri untuk kembali ke Ibu Kota. Kedua kaki Xiao Mingyui sudah mulai berfungsi lebih baik dan tidak separah sebelumnya karena bantuan Xiao Jiwang. Sejujurnya, kedua mata wanita itu sedikit mengantuk karena dari malam hingga pagi dia sibuk melatih kakinya bersama Xiao Jiwang.


Penampilan Xiao Mingyui sudah sangat rapih, wanita itu kini telah kembali mengenakan pakaian siap bertarungnya seperti biasa. Ketika hendak menusukkan tusuk rambut batu giok putih ke sanggulan kecilnya, tiba-tiba Xiao Xiangqing muncul dan bertanya,"Jiejie, kau sudah siap?"


Xiao Mingyui menoleh dan melihat wajah tampan adiknya yang seperti biasa.


"Iya, aku sudah siap," jawab Xiao Mingyui, lalu melangkah ke arah Xiao Xiangqing setelah sudah selesai menusukkan tusuk rambut itu.


Xiao Xiangqing mengulurkan tangan kanannya, kini lapisan perban yang melilit kedua lengan pria itu tidak setebal kemarin. Sehingga kedua tangan Xiao Xiangqing memiliki kuasa bergerak yang lebih leluasa.


Xiao Mingyui membalas uluran tangan adiknya, pria itu benar-benar menjaganya setiap langkah.


"Hm? Sejak kapan kaki Jiejie sudah sangat membaik seperti ini?" tanya Xiao Xiangqing heran.


Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Kamu tidak perlu tahu."


Xiao Xiangqing memutar bola matanya malas, dia tidak bertanya apa pun lagi sampai tiba di lokasi para pasukan Xiao Wangfu dan yang lain berkumpul.


Seluruh orang yang ada di sana dengan cepat membungkuk ke arah Xiao Xiangqing dan Xiao Mingyui secara bersamaan, kecuali Xiao Jiwang yang tetap duduk tegak di atas kudanya sambil menatap datar Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui membalas tatapan Xiao Jiwang, kemudian menggeser tatapannya ke arah Yui dan Fang Tianyao. Bibir Xiao Mingyui tersenyum lagi. "Pengawal Yui, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk anda karena sudah bersedia menolong saya dan pasukan Xiao Wangfu."


Yui balas tersenyum, lalu membungkuk singkat dan kemudian berdiri tegak lagi untuk menatap Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing. "Anda tidak perlu mengucapkan terima kasih, yang mulia. Sebuah kewajiban bagi saya untuk melindungi anda dan Xiao Wangfu. Walaupun gelar dan status saya dicabut, bukan berarti jiwa kstaria dan rasa pengabdian besar saya untuk Xiao Wangfu karena mendiang Xiao Wangfei menghilang. Saya memiliki perjanjian hidup dan mati kepada kedua mendiang yang terhormat."


Xiao Mingyui mengangguk tipis, lalu segera berbalik dan naik ke dalam kereta kuda dibantu oleh Xiao Xiangqing.


Sebelum pasukan Xiao Wangfu dan yang lainnya berangkat, Baili Ruyi dan Gu Sinjie, pasutri itu turun kembali dari kuda untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Yui dan Fang Tianyao.


Baili Ruyi memeluk erat Yui, diam-diam kedua mata wanita yang tidak lagi muda itu saling mengeluarkan air mata.


"Aku mohon padamu, tolong setidaknya kirimkak sepucuk surat ke Gu Fu dan ceritakan kabar kalian berdua. Selama belasan tahun aku dan mendiang Xiao Wangfei sangat merindukanmu. Satu hari sebelum kematiannya, Xiao Wangfei memintaku untuk menyampaikan amanatnya agar kau kembali ke Ibu Kota untuk membantu Putri dan Pangeran mempertahankan Xiao Wangfu."


Yui melonggarkan pelukan mereka, dengan kedua sudut alis yang saling bertaut, Yui bertanya,"Jika aku dan suamiku kembali, maka konflik baru bisa saja--"


"Tidak. Justru saat ini Xiao Wangfu sedang membutuhkan kekuatan kita untuk bersama lagi. Setelah pergantian tuan besar keluarga Fang terjadi, keluarga Fang menjadi sangat berbeda. Mereka menggigit Xiao Wangfu dan membuat permusuhan dengan Putra Mahkota. Yui, kembalilah untuk Xiao Wangfu dan harapan terakhir Xiao Wangfei untukmu." Baili Ruyi meneteskan air mata saat mengatakan ini.


Gu Sinjie yang melihat istrinya menangis tidak bisa tidak merangkul pundak wanita itu dan mengelusnya lembut.


Gu Sinjie, walaupun pria itu sudah semakin menua, namun kharisma-nya tidak pernah hilang. Pria itu tersenyum tipis ke arah Yui dan Fang Tianyao. "Apa yang dikatakan istriku benar, kembalilah ke Ibu Kota. Jika kalian enggan kembali karena takut menimbulkan konflik, namun nyatanya sekarang tanpa kalian kembali pun konflik besar sudah terjadi. Xiao Wangfu membutuhkan kita untuk bersatu kembali."


Yui mengelap lembut air matanya, lalu menoleh untuk menatap Fang Tianyao. Fang Tianyao mengambil napas dalam-dalam, kemudian tangannya ikut merangkul lembut bahu istrinya seperti yang dilakukan Gu Sinjie kepada Baili Ruyi.


Gu Sinjie dan Baili Ruyi tersenyum senang, kemudian Baili Ruyi berkata,"Pastikan kalian bersedia, maka Gu Fu yang akan melindungi perjalanan kalian kembali menuju Ibu Kota secara pribadi."


Fang Tianyao balas tersenyum. "Terima kasih banyak, Tuan Gu."


Setelah dua sampai tiga kalimat perpisahan, Gu Sinjie dan Baili Ruyi pun kembali naik ke atas kuda mereka masing-masing. Di perjalanan kali ini hanya ada satu kereta kuda karena kondisi Xiao Mingyui yang masih kurang meyakinkan jika wanita itu harus nekat menunggangi kuda dalam kurun waktu yang cukup lama menuju Ibu Kota.


Satu-satunya yang ditinggal di sana adalah Chen Qi, pria itu harus mengurus beberapa hal yang diperintahkan oleh Xiao Jiwang. Seluruh rakyat yang menjadi korban longsor gunung Lang Tao berseru meriah mengantar kepulangan mereka. Nama Xiao Jiwang, Xiao Xiangqing, dan Xiao Mingyui menjadi baik karena kedatangan mereka ke tempat ini. Mungkin, beberapa oknum yang berniat menjatuhkan atau bahkan membunuh mereka akan gigit jari karena rencana dan perkiraan mereka salah besar. Xiao Jiwang tidak bisa tidak tersenyum ketika membayangkan wajah para bedebah pejabat yang biasanya selalu mengusik ketenangan hidupnya. Pria itu kembali dengan percaya diri.


Sedangkan Xiao Xiangqing, pria itu tak henti-hentinya melirik ke arah kereta kuda untuk memastikan kondisi saudarinya baik-baik saja. Setelah misi yang dia lakukan bersama Putra Mahkota berhasil, kemungkinan besar pemberian gelar 'Xiao Wangye' untuknya akan menjadi lebih cepat. Kesuksesannya dalam mendampingi Putra Mahkota juga akan membangun tanggapan dari para oknum bahwa hubungan Xiao Wangfu dan Putra Mahkota akan menjadi sangat dekat. Terlebih, pernikahan kakak perempuannya dengan Putra Mahkota pun akan semakin berjalan lancar.


Saat ini hanya ada tanggapan positif yang menempel kepada mereka, tidak ada satupun tanggapan negatif yang mengikuti dari belakang. Perjalanan mereka menghasilkan kesuksesan besar!


Sementara itu di Ibu Kota Kekaisaran Timur, tepatnya Fang Fu, yang menjadi tempat tinggal utama dari penguasa keluarga Fang.


Fang Laoang sedang melukis seseorang di atas kertas menggunakan kuas dan tinta hitam. Pria itu menganakan pakaian berwarna putih biru, rambut panjangnya tergerai dan kedua bola mata birunya terlihat sangat indah.


"Tuan, sebenarnya siapa wanita yang sedang anda gambar itu?" tanya Ciyue, pelayan laki-laki yang bekerja di kediamannya. Ciyue adalah pelayan yang sudah berteman dengannya sejak kecil.


Fang Laowang melirik Ciyue, lalu tersenyum. "Kau tidak perlu tahu, yang pasti wanita ini memiliki kharisma yang unik. Tatapan, gerakan, dan caranya bicara benar-benar dapat dengan mudah memikat hati seseorang."


Ciyue membelalakkan kedua matanya ketika mendengar jawaban Fang Laowang. "Tuan! Apakah anda jatuh cinta??"


Fang Laowang mengangkat kedua bahunya acuh. "Entahlah, namun sepertinya belum dapat dikatakan jatuh cinta. Aku ... mungkin hanya mengaguminya."


"Sungguh? Tetapi dari lukisan anda, sepertinya ... Gunniang ini sangat cantik?" tanya Ciyue yang sedang memperhatikan lebih detail lukisan wanita cantik yang dibuat tuannya.


Fang Laowang terkekeh. "Dia memang sangat cantik, Ciyue. Tetapi, sayangnya dia tidak terlalu ramah. Dia sedikit sulit untuk didekati karena terlalu dingin."


"Perlukah saya memberitahu tuan besar mengenai Gunniang ini? Siapa tahu tuan besar dapat membantu Anda untuk--"


"Tidak! Jangan pernah berani kau cerita pada ayah, Ciyue. Aku tidak ingin ayah tahu, karena aku ingin mengurusnya tanpa bantuan ayah. Sejak kecil aku bosan karena ayah selalu ikut campur dalam semua masalahku," ucap Fang Laowang, dia tidak begitu senang dengan hal itu.


Ciyue menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Fang Laowang yang baru saja menyelesaikan lukisannya pun segera kembali menaruh kuasnya sambil berkata,"Aku dengar dia merupakan anak dari keponakan mendiang Huangtaihou Fang. Bukankah itu berarti dia masih memiliki sedikit hubungan dengan keluarga Fang karena neneknya adalah bagian dari keluarga Fang?"


Ciyue mengerutkan keningnya bingung, karena dia tidak tahu siapa identitas wanita yang dibicarakan oleh tuannya. Dia hanya diam dan menjadi pendengar yang baik.


Fang Laowang berdiri, lalu menggantungkan lukisan itu di dinding ruangan belajarnya. "Tetapi ... karena sudah berbeda marga dan terpisah oleh generasi yang cukup jauh, bukankah aku masih bisa menikahinya? Bahkan keluarga kerajaan yang saling bersepupuan dan memiliki marga yang sama saja diperbolehkan menikah, mengapa aku tidak?" Kedua mata Fang Laowang menatap intens lukisannya.


Xiao Mingyui, dia akan mencari tahu lebih dalam mengenai wanita itu.