The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 69. Mawar Putih Berduri



"Ada apa, yang mulia?" tanya Xiao Mingyui sambil melirik Xiao Jiwang dengan sudut ekor matanya, kedua tangannya pun perlahan membalas pelukan Xiao Jiwang.


Xiao Jiwang menggeleng, pelukannya semakin erat.


>>>>>>


Xiao Mingyui mendorong pelan Xiao Jiwang untuk mendengar penjelasan pria itu. Pasalnya ini pertama kalinya Xiao Mingyui merasakan aura dan pelukan yang tidak biasa dari Xiao Jiwang.


Xiao Jiwang mengerutkan keningnya bingung ketika Xiao Mingyui mendorongnya perlahan untuk saling menatap.


"Sekarang kau menolak pelukanku?" tanya Xiao Jiwang.


Xiao Mingyui menggeleng, lalu menarik Xiao Jiwang untuk duduk di sofa panjang yang terletak tidak jauh dari kasurnya. Mereka duduk berdekatan.


"Bukan seperti itu, namun saya ingin mendengar alasan yang mulia berkunjung kemari tengah malam begini, dan ... melalui jendela?" tanya Xiao Mingyui sambil melirik jendela-nya yang masih terbuka.


Xiao Jiwang menggeleng pelan. "Tidak penting. Apa aku harus memiliki alasan khusus terlebih dahulu untuk bertemu dengan tunanganku sendiri?"


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya sedikit, Xiao Jiwang saat ini seperti sedang memperbesar masalah yang tidak perlu. Pria itu bertingkah seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Nada bicaranya juga terdengar menahan kekesalan.


Xiao Mingyui menghela napas tipis, kemudian menarik pelan Xiao Mingyui ke dalam pelukannya lagi. Dia tidak tahu alasan Xiao Jiwang mendadak bersikap aneh seperti ini.


Xiao Jiwang tersenyum tipis, lalu membalas pelukan Xiao Mingyui erat. Ketika Xiao Mingyui hendak melirik ke arah pintu kamarnya karena khawatir Bingbing tiba-tiba masuk mengantarkan makan malam, Xiao Jiwang tiba-tiba mengangkat tubuh Xiao Mingyui, membuat wanita itu duduk tepat di pangkuannya.


"Yang mulia, pelayan saya akan masuk untuk mengantar makan malam. Jika mereka--"


"Kamu bisa meminta mereka untuk meletakkannya di bagian depan, bukan? Tidak perlu sampai ke bagian dalam kamar?" potong Xiao Jiwang.


Xiao Mingyui semakin heran, mengapa pria itu mendadak agresif sekarang?


"Sebenarnya apa yang terjadi? Anda bertingkah aneh malam ini," ucap Xiao Mingyui, kemudian tangan kanannya bergerak mengelus kepala Xiao Jiwang.


Xiao Jiwang tertegun, dia tidak menyangka Xiao Mingyui menyadari perasaan gelisahnya. Pria itu segera teringat dengan apa yang dia lihat tadi siang di butik dan sore di depan gerbang Xiao Wangfu. Kedua sudut alis Xiao Jiwang menyatu, lalu bertanya,"Bagaimana rasanya ditemani berkeliling butik dengan Fang Laowang?"


Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya sekilas. "Bagaimana rasanya ditemani berkeliling butik dengan Xie Wanting?"


Xiao Jiwang berdecak. "Aku bertanya mengharapkan jawaban, bukan pertanyaan kembali." Lalu dia membenamkan wajahnya seperti mengumpat di dada Xiao Mingyui.


Wajah Xiao Mingyui sedikit memerah karena ini, kemudian dia mengapit dagu Xiao Jiwang menggunakan dua jarinya agar pria itu kembali mendongak untuk menatapnya.


"Anda merasa tidak nyaman karena pemandangan itu?" tanya Xiao Mingyui.


Xiao Jiwang mengangguk, dia tidak menjawab apa pun.


Xiao Mingyui terkekeh, lalu berkata,"Bukankah Anda juga melakukan hal yang sama dengan putri Xie?"


Xiao Jiwang kesal. "Tetapi aku tidak menyukainya dan kau bertingkah seolah hal ini adalah kesempatan."


"Kesempatan?" tanya Xiao Mingyui bingung.


Xiao Jiwang mengangguk. "Kesempatan untuk berpaling dariku."


Xiao Mingyui tersenyum tipis, lalu dia memeluk Xiao Jiwang lagi, membuat pria itu membenamkan wajahnya kembali di dada Xiao Mingyui. Mereka berdua sangat menikmati momen ini.


"Ini akan segera berakhir. Sedikit lagi," bisik Xiao Mingyui.


Xiao Jiwang mengangguk, lalu perlahan kembali mendongakkan kepalanya untuk mencium bibir Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya lagi kala merasakan ciuman agresif Xiao Jiwang, wanita itu sedikit kesulitan bernapas.


Xiao Jiwang memeluk Xiao Mingyui semakin erat, kemudian perlahan merubah posisi mereka hingga berbaring di sofa panjang tersebut.


Ketika Xiao Jiwang tiba-tiba bergerak hendak membuka lapisan pertama pakaian Xiao Mingyui, wanita itu dengan cepat menahannya sambil menggelengkan kepala. Tak lama, suara ketukan dari pintu terdengar.


"Yang mulia, makan malam anda--"


Ketika Bingbing hendak membuka pintu kamarnya, Xiao Mingyui dengan cepat berkata,"Taruh di bagian depan ruangan kamarku, Bingbing. Aku sedang tidak ingin diganggu. Kau boleh kembali dan tak perlu menunggu malam ini."


Bingbing tertegun, kemudian dia mengangguk patuh. Wanita itu mengira majikannya sedang sedih karena kejadian di toko butik Song Hua tadi siang.


Setelah Bingbing pergi, Xiao Jiwang terkekeh sambil mengusap wajah Xiao Mingyui. Xiao Mingyui bergegas bangkit dari atas tubuh Xiao Jiwang menuju ruang depan kamarnya. Kamar luas Xiao Mingyui terbagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh papan tirai. Bagian dalamnya berisi ranjang dan barang pribadi lainnya, sedangkan bagian depan hanya meja kosong dan hiasan ruangan. Bagian depan biasanya digunakan untuk menerima tamu rahasia atau tempat bersantai biasa.


Xiao Mingyui membawa makan malamnya ke bagian dalam kamarnya, lalu kembali duduk tepat di samping Xiao Jiwang dan mulai memakan makan malamnya.


"Anda tidak--"


"Aku sudah lebih dulu makan malam sebelum kemari," Potong Xiao Jiwang, dia tahu apa yang ingin Xiao Mingyui tanyakan.


Xiao Mingyui mengangguk singkat, lalu melanjutkan lagi kegiatan makannya.


Xiao Jiwang memperhatikan Xiao Mingyui dalam, lalu tiba-tiba dia berinisiatif untuk mengikat rambut Xiao Mingyui karena melihat wanita itu sedikit kesulitan memakai makanannya dengan rambut tergerai.


Xiao Jiwang berdiri dan berjalan ke arah meja rias wanita itu, lalu mengambil ikat pita yang tergeletak di sana dan kembali duduk di tempat semula. Xiao Mingyui tahu apa yang hendak pria itu lakukan, maka dari itu dia tidak banyak bergerak.


Xiao Jiwang dengan lembut mengikat rambut Xiao Mingyui, pria itu sangat berhati-hati agar tidak mengganggu aktivitas makan Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui tersenyum tipis, lalu meletakkan sumpitnya sebentar dan menyentuh pita yang mengikat rambutnya. "Anda cukup pandai, dari mana yang mulia belajar?"


Xiao Jiwang tersenyum tipis juga. "Mufei."


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, terkekeh. "Wu Guifei mengajari anda cara mengikat pita di rambut?"


Xiao Jiwang menaikkan kedua bahunya acuh. "Entahlah, tapi pada saat itu Mufei banyak sekali bicara. Dia memintaku belajar semua ini agar dapat membantu istriku di masa depan mengurus seorang anak."


Xiao Mingyui terkekeh lagi. "Wu Guifei sangat perhatian."


Xiao Mingyui kembali melanjutkan aktivitas makan malamnya, setelah selesai dia menaruh seluruh peralatan makannya di atas meja dan berjalan ke arah cermin.


Xiao Mingyui duduk di sana lagi, kali ini ada Xiao Jiwang yang berdiri di belakangnya.


Xiao Jiwang membantu Xiao Mingyui melepaskan pita buatannya, lalu mengambil sisir yang tergeletak di atas meja. Dengan lembut, dia menyisir rambut wanitanya.


"Pernahkah kamu berpikir akan menjadi 'Husnghou' paling cantik sepanjang sejarah Kekaisaran?" tanya Xiao Jiwang.


Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan. "Cantik adalah hal yang relatif, yang mulia. Semua orang memiliki pendapatnya masing-masing."


Xiao Jiwang ikut menggeleng pelan, lalu menatap ke arah cermin tembaga untuk melihat pantulan mereka berdua di sana.


"Kecantikanmu adalah kecantikan yang akan disepakati oleh seluruh makhluk di muka bumi ini," ucap Xiao Jiwang, membuat Xiao Mingyui terkekeh.


"Yang mulia, anda berlebihan."


Xiao Jiwang meletakkan sisir Xiao Mingyui, lalu dari belakang memeluk wanita itu dan meletakkan dagunya di bahu Xiao Mingyui.


"Tidak, lihat itu." Xiao Jiwang menunjuk ke arah cermin dan berkata,"Kulit sebening mutiara, sehalus sutra, mata yang indah dan tajam, serta bola mata berwarna biru yang memikat. Kamu akan menjadi yang paling menawan."


Xiao Mingyui merinding karena mendengar pujian Xiao Jiwang, ini adalah fakta terbaru yang dia amati ketika berhasil membuat Xiao Jiwang jatuh cinta padanya. Pria itu akan sangat tergila-gila seperti ini.


"Wanita paling berbahaya di Kekaisaran Timur, mawar putih berduri." Xiao Jiwang ikut terkekeh, lalu mengecup leher Xiao Mingyui.