
Xiao Mingyui masuk ke dalam penjara bawah tanah khusus yang terletak persis di bawah Istana. Penjara itu khusus diperuntukkan bagi para kriminal besar seperti pemberontakan dan percobaan pembunuhan keluarga Kekaisaran.
Dan kini, Xie Wanting, dia ditempatkan secara resmi sebagai 'sandera' oleh Kaisar. Seluruh petinggi Kekaisaran saat ini tengah sangat sibuk, karena Kekaisaran Timur secara resmi mengibarkan bendera perang dengan Kerajaan Huan Tenggara.
Xiao Mingyui berdiri tepat di depan pintu sel Xie Wanting. Hanya ada kegelapan dan hawa dingin lembap di penjara ini. Pencahayaan berasal dari obor yang menggantung di dinding. Xie Wanting terlihat tengah meringkuk di pojok penjara, ketika menyadari kedatangan seseorang, dia dengan cepat mengangkat kepalanya ketakutan.
"Kau kemari untuk menertawakanku?" tanya Xie Wanting dengan penuh kebencian, matanya terlihat sembab karena menangis.
Xiao Mingyui tidak berekspresi apa pun seperti biasa, wanita itu dengan tenang membalas,"Apa kau menyesal?"
Xie Wanting tersenyum dingin, lalu tertawa penuh luka sebentar dan menjawab,"Menyesal? Aku sama sekali tidak menyesal! Timur memang sudah sepantasnya hancur! Negara besar yang semena-mena dengan negara kecil, kalian membuat banyak sekali kemiskinan di Huan Tenggara! Kematianku di sini adalah sebuah penghormatan! Dan tindakanmu adalah sebuah kekejian!"
"Negara besar yang semena-mena dengan negara kecil? Memangnya apa yang kamu tahu?" balas Xiao Mingyui, dia tetap tenang berdiri dan menatap Xie Wanting. Kedinginan dan kegelapan penjara ini tidak sebanding dengan yang ada di hatinya.
"Xiao Muqing! Hanya karena dia memiliki pasukan besar dan penguasa Timur, dia dengan kejam menghancurkan Huan Tenggara puluhan tahun silam! Dia membunuh separuh keluargaku! Dia seorang tiran!" Tubuh Xie Wanting gemetar meneriaki Xiao Mingyui, kebencian besar terlihat jelas di matanya. Air mata Xie Wanting turun dengan deras, terlihat jejak trauma yang begitu pekat.
"Masih menjadi misteri, mengapa negara tidak menyertakan peristiwa kelam diri sendiri di pelajaran sejarah," ucap Xiao Mingyui, kemudian membuka pintu sel Xie Wanting yang sempat ia pinta ke penjaga.
Xie Wanting mengepalkan kedua tangannya, matanya masih menatap Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui berdiri tepat di hadapan Xie Wanting, hanya berjarak dua langkah di antara mereka.
"Apa kamu tahu perbuatan bejat negaramu sendiri? Huan Tenggara sejak dulu memiliki ambisi besar untuk menguasai daerah Timur karena memiliki wilayah minyak bumi paling besar di antara tiga Kekaisaran. Bahkan, kalian sempat menyelinap masuk dan berhasil membuat kekacauan besar di Timur dengan membunuh Kaisar kedelapan Timur. Puncaknya ketika Xiao Muqing, ayahku, baru saja mendapatkan gelar kebesarannya. Huan Tenggara lagi-lagi bergerak menyerang dan hendak menjadikan ayahku target untuk dilumpuhkan sebab fondasi kekuatan Kekaisaran Timur berpusat di pemegang gelar 'Xiao Wangye'. Malam itu, Huan Tenggara lagi-lagi berhasil membunuh keluarga Kekaisaran, Pangeran kesembilan. Jika bukan karena kebaikan ayahku, maka Huan Tenggara tidak akan pernah ada sampai saat ini! Kalian benar-benar negara kecil yang tidak tahu diri!" Xiao Mingyui membalas Xie Wanting dengan fakta yang ada di dalam sejarah. Sepertinya Huan Tenggara benar-benar menutup rapat perbuatan liciknya dari para penerus mereka.
"Pembohong! Semua yang kau katakan itu adalah omong kosong! Xiao Wangye adalah tiran berdarah dingin! Dia penjajah bejat! Pria hin--!"
PAA!!
Xiao Mingyui menampar keras pipi Xie Wanting yang mulai mengamuk dan seperti orang gila. Wanita itu sepertinya benar-benar memiliki trauma besar, jiwanya sudah sedikit bermasalah karena rasa takut traumanya. Hingga kini dia terus berteriak, menangis.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. Ughh ... kondisi wanita itu sangat kacau.
"KAMU MEMBUAL! KAMU ADALAH KETURUNAN XIAO MUQING! PEMBOHONG! KETURUNAN TIRAN KEJAM!" Xie Wanting masih menjerit tidak jelas.
Xiao Mingyui berjongkok, lalu berkata,"Kamu perlu bukti? Maka aku akan kembali dengan bukti besok." Setelah itu tangan kanannya bergerak untuk menyentil kening Xie Wanting.
Tak!
Dalam sekejap, Xie Wanting tersentak dan langsung memejamkan matanya. Wanita itu pingsan dan terlihat tengah tertidur lelap. Xiao Mingyui sengaja melakukan ini untuk menghentikan kegilaan Xie Wanting.
Sementara itu di Istana Kediaman tempat Mo Wanwan singgah, Xiao Xiangqing masih tetap di sana hingga saat ini. Pria itu sama sekali tidak beranjak dari duduknya sejak Xiao Mingyui selesai mengobati Mo Wanwan.
"Wangye, para pejabat telah menunggu anda untuk rapat." Gu Lingchi muncul, membuat Xiao Xiangqing menoleh.
Xiao Xiangqing menggeleng. "Aku ingin di sini. Kau bisa pergi ke sana untuk mewakiliku."
Gu Lingchi mendesah lelah. "Wangye, tidak bisa seperti itu. Kaisar secara resmi telah mengumumkan peperangan dengan Huan Tenggara, dan kini para pejabat sekaligus Putra Mahkota dan Kaisar telah menunggu anda. Peran anda sangat penting sekarang, yang mulia."
Xiao Xiangqing mengepalkan kedua tangannya, matanya menatap Mo Wanwan dengan gelisah. Sejujurnya, dia juga tidak mengerti mengapa dirinya tidak ingin beranjak pergi dari sini. Ada kegelisahan dan kekhawatiran yang menyeruak besar di hati Xiao Xiangqing. Bayangan akan Mo Wanwan yang memblokir hunusan pedang untuknya, itu sungguh terngiang-ngiang di ingatannya.
Xiao Xiangqing berdiri dari duduknya, matanya masih menatap lekat ke Mo Wanwan, lalu perlahan bergeser ke Gu Lingchi. "Apa Gu Furen sibuk?"
Gu Lingchi mengerutkan keningnya ketika mendengar ini, untuk apa Xiao Xiangqing menanyakan ibunya?
Gu Lingchi menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, namun ... sepertinya cukup senggang karena beliau belakangan ini senang bermain dengan beruang liar tangkapannya di hutan. Apa yang mulia hendak menyam--"
"Panggil Gu Furen kemari untuk menjaga Putri Mo. Aku harus pergi ke rapat sekarang, dan kau jangan pergi sebelum Gu Furen datang," potong Xiao Xiangqing cepat, kemudian melangkah keluar sambil berlari kecil.
Gu Lingchi tertegun. Hah? Xiao Xiangqing sungguh mengkhawatirkan Mo Wanwan? Gu Lingchi menatap Mo Wanwan yang masih berbaring tak sadarkan diri, wajahnya menunjukkan keheranan. Tak lama dia berjalan keluar, lalu memanggil burung peliharaannya yang biasa dia gunakan untuk mengirimkan surat kepada seseorang.
Gu Lingchi mengeluarkan kertas dari sakunya, lalu menoleh kembali ke dalam kamar Mo Wanwan untuk mencari tinta. Setelah melihat ada kuas untuk menulis di meja wanita itu, dia dengan cepat berlari ke dalam dan menulis pesan untuk ibunya agar bergegas ke Istana.
Setelah selesai, Gu Lingchi mengikatkan kertas itu di kaki burung, lalu mengirimnya ke Gu Fu. Hanya tinggal menunggu kedatangan ibunya, Gu Lingchi ingin beristirahat sejenak di kamar bagian depan Mo Wanwan.
Ketika hendak terlelap, karena sungguh Gu Lingchi sama sekali belum beristirahat dengan benar setelah keributan besar di pesta ulang tahun Kaisar, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar.
Gu Lingchi sontak bangkit dan menatap waspada ke arah pintu, ketika melihat ibunya yang berdiri tegak dengan pedang di pinggangnya, Gu Lingchi mengerutkan keningnya.
"Ibu, anda membawa pedang ke Istana?" tanya Gu Lingchi heran.
Baili Ruyi menaikkan alis kirinya. "Anak bodoh! Negara kita sedang dalam bahaya, ada kemungkinan mata-mata Huan Tenggara masih berkeliaran! Lagi pula tidak ada yang berani melarangku di sini!"
Gu Lingchi menelan ludahnya, dia tidak berani melawan. Ada dua manusia yang dia takuti di dunia ini, mendiang Xiao Wangye dan ibunya Baili Ruyi.
Baili Ruyi berjalan masuk menuju kamar bagian dalam Mo Wanwan sambil berkata,"Pergi sana, bantu Xiangqing. Jika kalian tidak mampu, ibu yang akan turun tangan langsung. Ayahmu sedang mengasah pedangnya, dia bersemangat untuk memburu dan memenggal kepala Fang Jichang karena telah berkhianat."
Gu Lingchi menelan ludah lagi. Benar, dia juga takut ayahnya jika sedang serius marah, apa lagi jika persoalannya berhubungan dengan militer.
Baili Ruyi tersentuh tipis ketika melihat Mo Wanwan yang masih menutup matanya di atas kasur. "Anak ini sudah besar rupanya? Dulu aku dan mendiang Wangfei gemar sekali bermain dengannya ketika ada kunjungan ke Barat."
Gu Lingchi memilih langsung pergi, membiarkan ibunya bernostalgia. Dia baru tahu bahwa ibunya dan mendiang Xiao Wangfei pernah berkunjung ke Kekaisaran Barat bersama sebelumnya.