
"BUNUH MEREKA SEMUA!!"
Xiao Xiangqing berseru lantang sambil menebas kepala musuh yang ada di hadapannya. Perang besar dimulai, Xiao Jiwang pun sedari tadi sama sekali tidak mengeluarkan suara. Tubuh serta pikiran pria itu seratus persen fokus melenyapkan musuh di hadapannya.
Telah resmi terhitung tiga hari sejak keberangkatan para pasukan Xiao Wangfu ke medan perang, kondisi dua kubu pun semakin memanas.
Di tengah kesibukan mereka bertarung, tiba-tiba suara meriam yang dilepaskan terdengar. Xiao Xiangqing dengan cepat mencari keberadaan bom yang dilepaskan, ketika melihat bom besar melayang ke arah mereka, Xiao Xiangqing kembali berteriak.
"BOM BERACUN! MUNDUR! CARI PERLINDUNGAN!!"
Seluruh prajurit Xiao Wangfu menarik serangan mereka, terpukul mundur dan berusaha mencari perlindungan. Sedangkan Xiao Xiangqing, pria itu justru berjalan semakin maju, kedua tangannya menggenggam erat pedangnya, menimbulkan goresan dalam di telapak tangan kirinya karena menggenggam badan pedang yang tajam. Tetapi Xiao Xiangqing tidak peduli, dia mulai fokus mengumpulkan energi dalamnya untuk membuat perisai raksasa. Benar, pria itu berusaha membuat perisai raksasa untuk melindungi seluruh pasukan.
BEDEBUM!!!
KRAKK!!!
Xiao Xiangqing terus berusaha bertahan. Angin panas mulai menyapu mereka, semuanya berusaha bertahan di posisi masing-masing agar tidak keluar dari perisai Xiangqing.
"XIANGQING!" Xiao Jiwang berseru panik ketika melihat pria itu memblokir bom dengan kekuatan dalamnya sendiri.
Xiao Jiwang berusaha mendekat, namun tekanan angin panas benar-benar sulit dilawan.
"XIANGQING! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"HENTIKAN XIANGQING! KAU BISA MATI!!"
Xiao Jiwang terus berteriak, namun Xiao Xiangqing sama sekali tidak bergeming. Pria itu tetap fokus memblokir bom.
Begitu efek ledakan mereda dan angin besar menghilang, Xiao Jiwang langsung mendekati Xiao Xiangqing. Ketika dekat, tiba-tiba saja Xiao Xiangqing terhuyung ke belakang, beruntung Xiao Jiwang menangkapnya.
"Xiangqing!"
Xiao Xiangqing terbatuk, ada asap hitam kecil yang keluar dari mulutnya ketika dia terbatuk. Pria itu kemudian tersenyum tipis, lalu ketika ingin bicara dia kembali terbatuk dan kini mengeluarkan seteguk darah.
"Benar ... apa yang dikatakan Jiejie. Meremehkan ... meremehkan musuh adalah tindakan yang salah. Mereka berani ... karena ... telah memiliki rencana yang-- UHUK! ... matang ...." Xiao Xiangqing berusaha bicara.
Xiao Jiwang yang melihat darah Xiao Xiangqing semakin berdebar, pria itu khawatir Xiao Xiangqing akan mati di peperangan ini.
"Ingat janjimu kepada Mingyui agar kembali dengan selamat, Xiangqing. Dia tidak akan memaafkanmu jika dia-!!"
Uhuk!
"Sialan kau, aku tidak akan mati, berengsek," potong Xiao Xiangqing, kesadarannya terlihat mulai menipis.
Plak!
Xiao Xiangqing tiba-tiba menampar pipi Xiao Jiwang. "Pimpin perang ini dengan baik, dan ... aku ... aku tidak akan mati ...." Kemudian perlahan kedua mata Xiao Xiangqing tertutup.
"Medis! Di mana divisi medis?!" Xiao Jiwang berteriak, hingga tak lama tiga orang prajurit datang mendekat untuk membawa Xiao Xiangqing mundur dari area peperangan.
"Gawat! Ada bom beracun lagi!" Salah satu prajurit lainnya berseru, membuat Xiao Jiwang menatap bom yang sedikit lagi siap diluncurkan.
"Gawat, tidak ada Xiao Wangye lagi di sini. Lalu siapa yang akan membuat perisai?"
"Kita akan mati. Ini adalah akhir dari kita semua!"
"Tidak ... tidak ... aku belum siap mati!"
Xiao Jiwang mengeratkan genggaman pedangnya, lalu berbalik dan berseru,"Kita tidak bisa membiarkan ada petinggi militer berkorban seorang diri lagi! Pengorbanan Xiao Wangye barusan, kita tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja! Ingat, kita tidak akan mati di sini hari ini! Kita akan berjuang! Bersama! Demi tanah air! Aku, Xiao Jiwang! Putra Mahkota Kekaisaran Timur! Akan mengambil alih komando Xiao Wangye!"
Seluruh prajurit mengangguk mantap, mereka pun ikut mencengkeram pedang lebih erat. Setelah melihat tekad para prajurit yang perlahan kembali, Xiao Jiwang kembali menoleh sebentar ke arah meriam dan balik menatap mereka lagi untuk berkata,"Satukan kekuatan kita! Kumpulkan kekuatan dalam kalian dalam satu poros! Cepat!"
Seluruh pasukan mulai berlutut di tanah, lalu mereka saling memegang pundak satu sama lain. Barisan paling depan pasukan ada yang berdiri untuk menghubungkan kekuatan mereka kepada Xiao Jiwang yang berada di paling depan.
Sebuah cahaya putih muncul, seluruh kekuatan mereka mulai mengalir dan berkumpul pada satu titik. Begitu bom beracun itu mulai diluncurkan, perisai telah siap untuk memblokir. Kali ini mereka benar-benar bekerjasama, tidak ada yang memikirkan diri sendiri. Xiao Jiwang berhasil mencegah ketakutan mereka.
Bom itu menghantam keras perisai mereka, Xiao Jiwang sedikit terkejut karena ternyata tekanannya luar biasa. Pria itu berusaha bertahan, dadanya terasa terbakar.
"Arghh ...." Xiao Jiwang sedikit meringis, urat-urat di dahi pria itu terlihat sempurna. Hawa panasnya seolah sedang membakar Xiao Jiwang dari dalam.
Di tengah ini, tiba-tiba satu bom lagi diluncurkan. Xiao Jiwang dan yang lain membelalakkan matanya. Xiao Jiwang menggertakkan giginya marah, lalu berusaha tetap fokus. Sejujurnya, memblokir satu bom saja sudah memiliki risiko yang sangat tinggi, dan kini mereka harus memblokir dua bom sekaligus. Jika perisai ini tidak kuat meskipun mereka telah membentuknya bersama, jadi kemungkinan korbannya tumbang sangat sedikit. Hanya ada satu orang yang akan hancur, Xiao Jiwang, yang menjadi poros sekaligus tumpuan mereka.
KRAK!
Perisai perlahan menunjukkan keretakan, semua orang semakin panik, hanya Xiao Jiwang yang terlihat tetap tenang berdiri di depan.
"Yang mulia! Mundur! Tubuh anda bisa hancur!" Pasukan mulai meneriaki Xiao Jiwang, mereka khawatir penerus takhta Timur akan gugur di medan perang. Jika hal itu terjadi, kondisi politik internal Kekaisaran lah yang ikut bermasalah.
Xiao Jiwang tidak mendengarkan mereka, dia bersikap acuh seperti Xiao Xiangqing sebelumnya.
Retakan perisai semakin besar, Xiao Jiwang mulai memejamkan matanya. Baiklah ... jika dia harus mati dan hancur saat ini juga, tidak masalah.
"Xiao Mingyui ... Mufei ... maaf," batin Xiao Jiwang, cahaya merah api menyala pun terasa semakin dekat dengannya.
Tetapi, di tengah keputusasaan semua orang, tiba-tiba seseorang melintas di atas bom dan meninju bom itu dengan tangan kosong.
BOOM!
KRAK!!
BEDUMM!!!!
Bom itu hancur berkeping-keping, ledakannya pun selesai lebih cepat.
Xiao Jiwang dan yang lain terkejut bukan main. Begitu bom selesai, Xiao Jiwang langsung jatuh berlutut di tanah dan mengeluarkan seteguk darah. Seluruh bagian dalam tubuhnya terasa terbakar, ternyata rasanya sangat menyakitkan.
Xiao Jiwang perlahan mengangkat pandangannya, kemudian melihat Gu Sinjie, mantan Jenderal Besar Kekaisaran, berdiri di hadapannya.
"Bangkit kembali, yang mulia. Peperangan belum selesai. Anda masih mampu, bukan? Dilihat-lihat ... sepertinya anda memiliki jumlah kekuatan dalam lebih banyak dari Xiao Wangye baru?" ucap pria itu, bibirnya tersenyum meskipun kalimatnya sama sekali tidak ada yang menggambarkan kemanisan.
Gu Sinjie mengulurkan tangannya ke arah Xiao Jiwang, membantu pria itu berdiri.
"Anda kemari? Lalu ... bagaimana dengan keamanan Kaisar?" tanya Xiao Jiwang, khawatir akan keamanan Ibu Kota.
Gu Sinjie terkekeh, lalu kembali berdiri lurus menghadap posisi musuh dan berkata,"Istriku yang bertanggungjawab sekarang, dia masih cukup berani untuk menebas kepala manusia. Tenang saja, Tianyao dan Yui juga ada di Ibu Kota. Keluarga termasuk tunangan tercinta anda aman."
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya. Tianyao dan Yui? Bukankah itu pasangan yang sempat keluar dari Ibu Kota? Yui, Xiao Jiwang mengenal wanita itu. Yang Xiao Jiwang tahu, dia dulunya adalah pengawal pribadi elit mendiang Xiao Wangfei yang memiliki darah keturunan Kekaisaran sebelumnya. Jadi ... kini mereka telah kembali dan berkumpul?
Xiao Jiwang tersentuh tipis, dia kembali mencengkeram gagang pedangnya erat. Matanya menatap tajam ke arah musuh, dia tidak peduli dengan darah yang mengotori bajunya sekarang.
"Apa--" ketika Xiao Jiwang hendak menanyakan sesuatu, tiba-tiba dari arah belakang ada yang berseru.
"XIAO WANGYE MENGHILANG!!!"
Xiao Jiwang dan Gu Sinjie terkejut, kedua pria itu menoleh cepat ke belakang.
"Sial. Sepertinya mereka hendak menjadikan Xiao Wangye sebagai sandera seperti putri Xie," ucap Gu Sinjie, tatapan matanya mendingin.
Xiao Jiwang tidak mengatakan apa pun, meskipun di dalam kepalanya dia memiliki banyak sekali pertanyaan. Sebab, bagaimana mungkin Xiao Xiangqing dapat menghilang begitu saja?! Huan Tenggara bahkan dapat menembus pertahanan mereka diam-diam di tengah perang begini?!
Sepertinya ... Huan Tenggara telah merencanakan semuanya dengan sangat baik. Xiao Jiwang tidak boleh meremehkan mereka terlalu jauh seperti Xiangqing, karena cara bertarung Huan Tenggara benar-benar mulus seperti negara besar.