The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 60. Legenda Utusan Agung



"Yang mulia, ke mana lagi anda akan pergi setelah ini?" tanya Bingbing sembari mengikuti Xiao Mingyui berjalan keluar bangunan Chuan Wuqi.


Xiao Mingyui berpikir sejenak. Istana? Tidak, dia tidak memiliki urusan apa pun di sana. Xiao Wangfu? Rasanya terlalu bosan, Xiao Mingyui ingin melakukan aktivitas lain.


Tak lama Xiao Mingyui melirik Bingbing, lalu menjawab,"Kuil yang ada di pojok Utara Ibu Kota."


Bingbing mengangguk mengerti, kemudian membantu Xiao Mingyui naik ke dalam kereta dan berangkat. Kuil yang berada di pojok Utara Ibu Kota adalah Kuil tua yang telah ada sejak Kaisar pertama pendiri Kekaisaran ini. Lokasi Kuil tersebut juga sangat dekat dengan makan mendiang kedua orang tua Xiao Mingyui.


Sesampainya di kuil, Xiao Mingyui bergegas turun dan berjalan masuk ke dalam Kuil. Kuil itu memang lebih sering sepi, masyarakat lebih sering berdoa si Kuil yang terletak di pusat Ibu Kota karena memang jaraknya yang lebih dekat.


Xiao Mingyui masuk ke dalam bangunan tua Kuil, seorang pendeta Kuil muncul dan menghampirinya. Xiao Mingyui dan sang pendeta saling membungkuk serta saling tersenyum.


"Sudah lama sekali saya tidak melihat yang mulia." Pendeta itu menatap teduh Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui mengangguk pelan, matanya memperhatikan pendeta di hadapannya yang telah semakin menua. Dulu, Kuil ini sangat sering didatangi oleh keluarganya setiap satu bulan sekali.


"Benar, sejak kematian mendiang Xiao Wangye sebelumnya jadi banyak sekali yang harus saya urus. Hingga kini kami baru dapat bernapas lega karena setidaknya adik saya berhasil menggantikan ayah saya." Xiao Mingyui menjawab sopan, kemudian sang pendeta mengajaknya masuk lebih dalam dan mulai berdoa.


Xiao Mingyui duduk tepat di hadapan patung buddha, dia mulai berdoa khusyuk untuk keluarganya. Setelah cukup lama berdoa, Xiao Mingyui pun selesai dan menoleh ke arah pendeta yang sedang sibuk memainkan tasbih budha sambil menatapnya lembut layaknya seorang ayah yang melihat putrinya telah dewasa.


"Waktu berjalan sangat cepat, dulu anda dan adik anda masih gemar sekali menyentuh kepalaku karena penasaran mengenai rambutku yang tak kunjung tumbuh." Pendeta itu terkekeh di akhir kalimatnya.


Xiao Mingyui ikut terkekeh, dia kembali mengingat masa kecilnya dengan Xiangqing saat berkunjung ke Kuil ini bersama kedua orang tuanya.


"Tentu saja, karena kami pun hari demi hari selalu bertambah dewasa. Hanya hati yang tidak dapat diubah," jawab Xiao Mingyui.


Pendeta itu mengangguk. "Benar, hanya hati yang tidak dapat berubah. Sejujurnya, saat anda datang kemari, saya sedikit terkejut."


Xiao Mingyui berdiri, lalu berjalan ke arah pendeta dan duduk tepat di samping pria itu.


"Terkejut?" tanya Xiao Mingyui bingung.


Sang pendeta mengangguk. "Benar, saya sangat terkejut karena melihat ada aura Dewa di dalam tubuh anda."


Xiao Mingyui berpikir sejenak, namun kemudian dia tersenyum tipis sambil menyentuh tusuk rambut baru giok putihnya. "Ah ... mungkin itu karena tusuk rambut peninggalan mendiang Ibu saya. Ini diberikan oleh yang mulia Utusan Agung belasan tahun silam."


Xiao Mingyui yang mendengar kata 'hati' langsung kembali teringat dengan mimpinya semalam. Kalimat Utusan Agung yang mengatakan bahwa dia tercipta dari tulang rusuk serta kepingan hati pria itu.


"Pendeta membuat saya menjadi malu, namun ... apakah anda pernah mendengar Utusan Agung?" tanya Xiao Mingyui, dia menanyakan sesuatu yang dapat dikatakan konyol. Bagaimana mungkin seorang pendeta tidak mengenali Utusan Agung? Bahkan rakyat biasa yang masih balita pun tahu siapa itu Utusan Agung.


Pendeta langsung mengangguk cepat. "Tentu saja saya tahu siapa beliau, beliau adalah manusia pilihan Tuhan yang diutus untuk membantu Dewa mewakilinya mengurus alam semesta ini. Dia diberikan mukjizat luar biasa, konon katanya sosok beliau sangat indah. Saya sangat iri sekaligus kagum dengan kedua mendiang orang tau anda karena dapat bertemu dengan beliau."


"Apa anda pernah mendengar kisah bahwa Utusan Agung memiliki kekasih?" tanya Xiao Mingyui.


Pendeta itu mengangguk, dia senang karena mengira Xiao Mingyui tertarik membahas sosok mulia sekelas Utusan Agung yang berarti wanita itu ingin mempelajari kisah teladan para petinggi agama lebih dalam lagi.


"Tentu saja ada dan cerita ini telah menjadi legenda turun temurun selama ratusan tahun. Tidak ada yang mengetahui keasliannya, namun banyak orang yang telah mempercayainya," jawab sang Pendeta.


"Benarkah? Seperti apa ceritanya? Apakah anda tidak keberatan untuk menceritakannya kepada saya?" tanya Xiao Mingyui lagi.


Sang pendeta mengangguk. "Tentu saja." Sejak saat itulah mereka berdua sibuk menghabiskan waktu untuk bercerita. Bingbing yang ada di sana pun akhirnya ikut menyimak.


Diceritakan bahwa dulu ... lima ratus tahun yang lalu, Utusan Agung pertama kalinya diangkat menjadi 'Utusan Agung'. Tiga tahun pertama, Utusan Agung mengeluh kesepian. Oleh karena itu saat Utusan Agung tengah tertidur, Tuhan secara diam-diam menciptakan pendamping wanita untuk menjadi pasangan Utusan Agung.


Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk dan kepingan hati Utusan Agung, singkat cerita mereka hidup penuh kebahagiaan di Istana Utusan Agung. Tetapi, suatu hari pasangan Utusan Agung penasaran dengan dunia manusia di bawah gunung. Wanita dari Utusan Agung ingin sekali ke bawah, namun karena menurut peraturan Tuhan mereka dilarang turun ke dunia manusia sembarangan, maka Utusan Agung tidak dapat memenuhi permintaan kekasihnya.


Hari demi hari dilewati begitu saja, perasaan penasaran yang ada di dalam hati kekasih Utusan Agung tak kunjung hilang. Wanita itu mencoba membujuk dan merayu Utusan Agung agar mau menemaninya turun sembunyi-sembunyi ke bawah gunung. Utusan Agung yang sangat mencintai kekasihnya pun akhirnya tergoda, pria itu menyetujui permintaan kekasihnya untuk turun.


Di tengah jalan, perjalanan mereka harus berhenti dan kembali ke dalam Istana karena Tuhan mengetahui perbuatan mereka. Tuhan menghukum kekasih Utusan Agung dengan mengirimnya ke alam baka khusus. Utusan Agung dianggap gagal untuk menjaga sekaligus mengurus kekasihnya, oleh karena itu Tuhan 'menarik' atau 'menyimpan' kekasih Utusan Agung di alam bakal khusus agar dapat bereinkarnasi. Tuhan berjanji akan mempertemukan mereka kembali jika Utusan Agung telah mempelajari dengan baik kesalahannya.


Xiao Mingyui mendengarkannya dengan serius, ah ... ternyata ada cerita seperti itu?


Pendeta yang melihat Xiao Mingyui sangat bersemangat mendengar ceritanya terkekeh. "Ada beberapa versi berbeda mengenai cerita di paragraf akhir. Ada yang mengatakan kekasih Utusan Agung tidak disimpan di alam bakal untuk bereinkarnasi, melainkan disimpan di ruangan tersembunyi yang hanya Tuhan yang tahu dan akan diizinkan keluar jika Utusan Agung telah berhasil belajar dari kesalahan dan masih banyak lainnya. Tetapi, apa pun versinya semuanya menyentuh. Karena pada dasarnya semuanya dapat terjatuh karena cinta, bahkan sekelas Utusan Agung yang telah diberikan mukjizat besar oleh Tuhan. Karena cinta, Utusan Agung sama sekali tidak pernah memiliki Maharani Agung baru. Beliau setia menunggu kekasihnya yang 'disimpan' oleh Tuhan untuk kembali selama lima ratus tahun lebih."


"Memangnya apa yang terjadi jika Utusan Agung turun tanpa izin dari Tuhan?" tanya Xiao Mingyui ketika dia mengingat Utusan Agung yang pernah tiba-tiba muncul di jendela kamarnya.


Pendeta itu mengerutkan keningnya. "Saya pun tidak tahu pasti karena banyak sekali macam cerita. Tetapi yang memiliki suara kepercayaan paling besar adalah kitab ketiga puluh yang turun bersamaan dengan bintang paling terang yang hanya muncul seratus tahun sekali. Di kitab itu menceritakan perjanjian Tuhan dengan Utusan Agung. Setelah tertangkapnya mereka berdua karena melanggar perintah Tuhan, Tuhan menarik kekasih Utusan Agung dan membuat perjanjian sakral. Jika Utusan Agung kembali diam-diam turun dari gunung Lang Tao tanpa sepengetahuan atau izin dari Tuhan lagi, maka Tuhan akan menghancurkan secara penuh jiwa Utusan Agung. Dengan kata lain, Utusan Agung tidak dapat bereinkarnasi seperti manusia pada umumnya setelah jiwanya dihancurkan. Dia langsung lenyap di zaman itu juga."