The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 8. Kedinginan Yang Semakin Menebal



Wu Zeyuan menunggu dengan gelisah kedatangan Xiao Mingyui, pasalnya sudah cukup lama dia pergi mengantarkan makanan untuk Xiao Jiwang, namun belum juga kembali sampai sore.


"Niangniang! Itu kuda Pangeran!" seru pelayan pribadi Wu Zeyuan, membuat Wu Zeyuan dengan cepat menoleh dan memperhatikan kuda putranya yang berlari masuk ke dalam Istana.


Wanita itu menatap kuda putranya dari ketinggian gedung Istana dengan kening terlipat. Dia melihat putranya kembali dengan ... seorang wanita di pelukannya??


Wu Zeyuan mempertajam pengelihatannya lagi, saat mengenal siapa wanita yang ada di pelukan anaknya, kedua matanya dengan cepat membulat sempurna!


"AIYA!!" seru Wu Zeyuan spontan, lalu dengan cepat berbalik dan berlarian turun dari gedung.


Sementara itu Xiao Jiwang masih memecut kudanya agar berlari lebih cepat menuju Istana ibunya, dia hendak mengantar Xiao Mingyui terlebih dahulu.


Para pelayan dan pejabat lain yang memiliki kesibukan masing-masing di Istana langsung berhenti bergerak dan menatap penuh kejutan ke arah kuda Xiao Jiwang yang melaju cepat. Mereka berulang kali menggelengkan kepala untuk memulihkan pengelihatan, namun hasilnya tetap sama. Ada seorang wanita di pelukan Xiao Jiwang!


Sesampainya di Istana Kediaman Wu Zeyuan, Xiao Jiwang bergegas turun sambil masih menggendong erat Xiao Mingyui. Raut wajahnya terlihat sangat buruk, seolah dia tidak puas akan sesuatu.


Xiao Jiwang meletakkan Xiao Mingyui kasar di atas sofa panjang, baru hendak berbalik untuk pergi, tiba-tiba sosok Wu Zeyuan muncul.


"Jiwang!!" Wu Zeyuan meletakkan kedua tangannya di pinggang, matanya menatap marah putranya.


Xiao Jiwang hanya menatap datar ibunya, lalu menghela napas tipis dan membungkuk. "Mufei."


Wu Zeyuan berusaha mengatur napasnya dengan benar, lalu perlahan berjalan anggun menuju Xiao Mingyui dan duduk di tepi sofa.


"Aiya ... apa yang terjadi kepada kalian berdua? Apa ada penyerangan tiba-tiba?" tanya Wu Zeyuan khawatir, tangan kanannya mengelus pipi Xiao Mingyui, sedangkan tangan kirinya meraih telapak tangan Xiao Jiwang untuk mengecek suhu tubuh mereka.


"Bukan masalah besar, kami hanya tidak sengaja tergelincir saat hendak kembali. Mufei tidak perlu terlalu khawatir," jawab Xiao Jiwang, lalu mencari kursi dan duduk di sana tanpa peduli kondisi bajunya yang basah kuyup.


Wu Zeyuan melotot ke arah putranya lagi. "Tidak perlu khawatir? Wang'er! Kamu adalah satu-satunya putra Mufei dan penerus takhta Kekaisaran ini! Lalu wanita yang kamu gendong tadi adalah putri dari mendiang Xiao Wangye! Secara silsilah, Putri Mingyui adalah bibi Kekaisaran-mu! Lalu kalian berdua kembali dengan kondisi basah kuyup dan kaki Putri Mingyui yang terkilir?!"


Xiao Jiwang memejamkan kedua matanya acuh, menikmati sandaran kursi. Xiao Mingyui memperhatikan sikap dingin Xiao Jiwang kepada ibu kandungnya sendiri, wanita itu tidak bicara apa pun sejak awal kembali.


"Mufei, bukankah lebih baik sekarang memanggil tabib untuk putri Mingyui?" tanya Xiao Jiwang, pria itu berusaha meredam omelan ibunya.


Wu Zeyuan tersadar, wanita itu dengan cepat menoleh ke arah pelayan pribadinya untuk memanggil tabib. Sebelum tabib datang, Wu Zeyuan mengambil mantel tebal miliknya dan diletakkan di bahu Xiao Mingyui.


"Apa ada bagian tubuh lain yang terasa sakit?" tanya Wu Zeyuan penuh perhatian.


Xiao Mingyui tersenyum tipis, kepalanya menggeleng pelan. "Tidak ada, terima kasih banyak Niangniang." Mendengar jawaban Xiao Mingyui, wanita itu menghela napas lega.


Ketika tabib datang, Xiao Jiwang masih berada di posisinya sambil menatap tajam ke arah Xiao Mingyui. Tatapan pria itu sulit diartikan, bahkan oleh diri pria itu sendiri. Ada secercah kebencian, kesal, namun ... ada juga sesuatu yang terasa janggal.


"Putri Mingyui mengalami keram dan kakinya sempat terbentur oleh batu saat tercebur ke sungai. Untuk sekarang putri Mingyui disarankan berpergian menggunakan tongkat sebagai alat bantu berjalan. Dalam waktu kurang dari satu minggu, kondisi kakinya akan kembali pulih jika rajin diberikan salep herbal." Tabib melaporkan kondisi kaki Xiao Mingyui, wajah Wu Zeyuan berangsur lebih lega. Wanita itu bersyukur Xiao Mingyui tidak mengalami cedera parah.


Xiao Mingyui tidak berbicara apa pun, matanya hanya menatap datar ke pergelangan kakinya. Dia tidak keberatan dengan kondisi kakinya, karena memang luka ini adalah luka yang sengaja dia buat.


Setelah kepergian tabib, Wu Zeyuan memerintahkan pelayan untuk mengganti pakaian basah Xiao Mingyui. Saat sedang sibuk memilih pakaian yang akan dia kenakan ke Xiao Mingyui, tiba-tiba Kasim pribadi Xiao Jihuang datang menghampirinya.


"Salam, Niangniang. Yang mulia Kaisar memanggil anda."


Wu Zeyuan menaikkan alis kirinya, lalu dia mengangguk singkat. Sebelum benar-benar berdiri dan pergi, wanita itu menunjuk hanfu berwarna merah muda manis agar nanti para pelayan mengambil hanfu itu untuk Xiao Mingyui.


Mata Wu Zeyuan melirik ke arah putranya yang sudah bertelanjang dada. "Jiwang, tetap di sini dan temani Putri Mingyui. Kamu harus belajar bertanggung jawab dan segera pakai bajumu dengan benar!"


Xiao Jiwang hanya memutar kedua bola matanya malas, dia tidak bisa mengucapkan atau bersikap kasar dengan ibunya. Dia memang bukan putra yang patuh, namun setidaknya dia tidak kasar untuk ibunya.


Tak lama hanfu merah muda yang ditunjuk Wu Zeyuan tadi diambil oleh pelayan, lalu kemudian sosok Xiao Mingyui muncul dari ruang ganti. Kulit putih miliknya tampak serasi disandingkan dengan hanfu merah muda, benar-benar terlihat sangat manis dan anggun. Dia seperti boneka sekarang walaupun tangan kanannya menggenggam erat tongkat.


Rambut panjang hitam wanita itu masih tergerai bebas, kondisinya masih sangat basah. Baru tiga langkah menjalankan kaki, gerakannya segera berhenti. Wajahnya dengan cepat berpaling dari sosok Xiao Jiwang, keningnya terlipat kesal. Berengsek, apa Xiao Jiwang gila? Dia bertelanjang dada di hadapannya begitu saja??


Masih dengan posisi kepala yang sama, Xiao Mingyui menggeleng singkat. "Masih ada."


Xiao Jiwang menyadari tingkah malu Xiao Mingyui, pria itu segera bangkit dari duduknya dan memberikan sinyal kepada para pelayan untuk segera keluar dari ruangan.


Begitu para pelayan keluar, Xiao Jiwang perlahan berjalan mendekat ke arah Xiao Mingyui sambil berkata,"Apa Xiao Wangfu tidak mengajarkanmu sopan santun? Bagaimana bisa seorang wanita bangsawan muda berprestasi berbicara sambil membuang wajah seperti itu?"


Tepat di hadapan Xiao Mingyui, pria itu berhenti. Kepala Xiao Jiwang menunduk untuk menatap Xiao Mingyui, karena memang Xiao Mingyui hanya setinggi dada-nya.


Xiao Mingyui memejamkan kedua matanya, keningnya terlipat semakin dalam, kali ini ada perasaan kesal. Apa sekarang Xiao Jiwang sedang menggodanya? Berengsek!


Xiao Mingyui melangkah mundur perlahan, berusaha mengambil jarak. Tetapi, tidak peduli berapa kali dia melangkah mundur, karena Xiao Jiwang akan terus mengikuti gerakannya dengan melangkah maju. Pria itu tidak membiarkan jarak di antara mereka berkurang.


"Katakan. Apa lagi urusanmu di sini?" tanya Xiao Jiwang, nada bicaranya kali ini terdengar dingin. Diam-diam bibir pria itu menyeringai tipis melihat tingkah malu-malu Xiao Mingyui. Ini pertama kalinya dia melihat Xiao Mingyui tidak berani memandangnya, karena biasanya wanita itu selalu mengangkat pandangannya dan berbicara tanpa takut.


Xiao Mingyui menghela napas tipis. "Yang mulia, bisakah anda mundur tiga langkah saja? Jarak kita--"


"Ada apa dengan jarak kita? Bukankah ini yang kamu inginkan?" potong Xiao Jiwang cepat, bibirnya masih menyeringai tipis.


Xiao Mingyui menggertakkan giginya kesal. Apakah Xiao Jiwang adalah pangeran cabul?! Bagaimana bisa dia bertelanjang dada di hadapan wanita yang bukan istrinya?!


Xiao Mingyui mengepalkan kedua tangannya. Baiklah, sepertinya memang dia harus menghadapi ini. Jika dirinya terus menghindar, maka pasti pria itu akan semakin gencar mengusilinya.


Perlahan, Xiao Mingyui menoleh ke arah Xiao Jiwang dan membuka matanya. Dengan penuh keterpaksaan dia harus melihat dada bidang Xiao Jiwang. Menggeser tatapannya dengan cepat, kini Xiao Mingyui beralih mendongak untuk menatap wajah Xiao Jiwang.


Kening wanita itu terlipat, wajahnya merah. Xiao Jiwang yang melihat ini menahan tawa, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertawa.


"Katakan. Apa urusanmu?" tanya Xiao Jiwang lagi, dia sengaja menjahili Xiao Mingyui. Belakangan ini dia benar-benar dibuat kesal karena diganggu oleh wanita itu.


Xiao Mingyui masih menatap wajah Xiao Jiwang. "Saya ingin memastikan janji anda. Saya sudah terjun ke sungai, kaki saya bahkan sampai cidera dan kini harus berjalan menggunakan bantuan tongkat. Apakah yang mulia akan segera menepati janji anda?"


Raut wajah bersemangat menjahili milik Xiao Jiwang hilang dan segera digantikan oleh kedinginan lagi. Pria itu mengambil langkah mundur satu kali, kedua mata mereka masih saling tatap.


"Bagaimana jika aku hanya membual tadi?" tanya Xiao Jiwang, bibirnya tersenyum dingin.


Xiao Mingyui balas tersenyum. "Bagaimana mungkin anda membual selagi anda ikut terjun ke dalam sungai yang dipenuhi buaya untuk menolong saya?"


Xiao Jiwang membuang tatapannya sekilas sambil tertawa singkat, lalu kembali menatap dingin Xiao Mingyui. "Aku menolongmu karena Mufei. Jika kamu mati karena mengantar makan siangku, maka Mufei akan mengutukku sampai tua." Setelah itu dia berhenti sejenak untuk memberikan jeda dan melanjutkan,"Katakan, apa jawabanmu jika ternyata sebelumnya aku membual?"


Tatapan mata Xiao Mingyui menjadi jutaan kali lebih dingin. Kehangatan, perhatian, walaupun sebelumnya semua itu pura-pura, namun kini benar-benar menghilang dan terasa semakin nyata kedinginan di matanya.


"Maka saya akan secara resmi menganggap anda sebagai musuh Xiao Wangfu, sama seperti pejabat bangsawan lainnya." Xiao Mingyui menyatakan itu tanpa berkedip, dia sungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Lalu bagaimana jika aku serius?" tanya Xiao Jiwang lagi.


"Maka saya akan mengabdikan seluruh mati dan hidup saya untuk anda," jawab Xiao Mingyui cepat.


Suasana menjadi hening setelah Xiao Mingyui menjawab demikian. Tetapi tak lama, Xiao Jiwang kembali mendekat dan membungkukkan tubuhnya ke arah Xiao Mingyui. Dengan nada bicara yang rendah, dia berbisik,"Maka selamat datang di neraka. Aku tidak akan peduli akankah kamu hidup atau mati nanti. Jadi biasakanlah untuk hidup mandiri."


Xiao Jiwang kembali menegakkan badannya, matanya menatap tajam Xiao Mingyui. "Aku memang bedebah, namun bukan berarti aku akan mengingkari setiap ucapanku walaupun itu sekedar bualan. Para bangsawan yang memihak Xiao Wangfu sudah mengajukan permohonan dekrit pertunangan kita berdua, walaupun Kaisar belum secara resmi mengabulkannya, namun aku sangat yakin. Selama apa pun diskusi antara Kaisar dan Mufei, jawabannya pasti adalah setuju. Selain karena Mufei menyukaimu, hubungan ini memang sangat menguntungkan untuk berpolitik."


Xiao Jiwang menoleh ke arah jendela, langit mulai terlihat akan menggelap. Pria itu dengan cepat berbalik, lalu berjalan pergi meninggalkan Xiao Mingyui sambil berkata,"Aku benar-benar membenci situasi ini."


Xiao Mingyui tidak bergerak ataupun berekspresi, matanya hanya menatap lekat ke arah Xiao Jiwang. Diam-diam, kedinginan semakin terasa tebal di hatinya.


Tujuannya untuk mencegah Xiao Jiwang memberontak saat menerima dekrit pertunangan telah berhasil, namun ... mengapa dia tidak terasa puas dan bahagia? Seharusnya dia merasa sangat senang karena berhasil menyelamatkan keluarganya dari guncangan besar.


Xiao Mingyui tidak pernah mengharapkan pernikahan hangat dan bahagia sejak kecil, dia hanya mencintai keluarganya sendiri. Dia tidak peduli apakah tubuhnya akan hancur atau hatinya akan remuk, yang dia pikirkan hanyalah keluarganya. Jadi, menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia cintai dan menjalani kehidupan penuh kehampaan di Istana ke depannya, itu bukan masalah besar. Dia ... sudah terbiasa dengan rasa sakit. Ibu dan ayahnya mendidiknya menjadi wanita yang kuat, Xiao Mingyui tidak boleh lemah untuk menjaga nama mendiang kedua orang tuanya.