
Xiao Mingyui membuka matanya perlahan, argh ... cahaya putih yang sangat terang, dia kesulitan untuk membuka matanya sempurna. Tetapi perlahan cahaya itu meredup, memberikan pencahayaan terang yang sewajarnya.
Ketika menyadari ada sosok wanita di hadapannya, Xiao Mingyui tertegun. Sosok itu adalah ... ibunya, Huang Mingxiang!
"Mingyui ..." ucap Huang Mingxiang, wanita itu tersenyum hangat ke arah anaknya. Kemudian dia mendekati Xiao Mingyui dan memeluknya hangat.
Xiao Mingyui tidak bergerak sama sekali, wajahnya masih menampiknya ekspresi syok. Dia tidak tahu dirinya sekarang berada di mana, dan ... mengapa ibunya ada di sini?!
Ketika mengingat kejadian sebelumnya, Xiao Mingyui tersenyum tipis. Ah ... sepertinya dia telah mati?
Xiao Mingyui membalas pelukan ibunya, lalu berkata,"Mu qin, Mingyui sangat merindukanmu."
Huang Mingxiang mengangguk. "Mu qin juga sangat merindukanmu, sayang. Mu qin dan Fu qin sangat bangga kepadamu, kamu hebat ... Xiao Mingyui."
Deg!
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, pelukannya terhadap Huang Mingxiang semakin erat.
"Tetapi aku gagal membuat kedamaian tanpa perang. Aku gagal membantu Xiangqing untuk--"
"Tidak. Kamu tidak gagal. Kamu berhasil, Mingyui," potong Huang Mingxiang.
Xiao Mingyui melonggarkan pelukannya untuk menatap wajah ibunya. "Tetapi Fu qin mungkin akan--"
"Fu qin bangga padamu, Mingyui. Fu qin tersenyum setiap kali melihatmu bergerak cepat mencari jalan keluar setiap ada masalah. Fu qin bahkan menangis haru penuh bangga karena anak perempuannya berani mengambil risiko besar demi mempertahankan Xiao Wangfu. Fu qin tidak akan kecewa padamu, Mingyui," potong Huang Mingxiang lagi, membuat Xiao Mingyui menangis.
Fu qin ... bangga padanya? Dia berhasil? Belasan tahun dia hidup, Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing berlatih keras untuk mendapatkan pengakuan hebat dari ayah mereka.
"Fu qin sangat menyaingi dirimu dan Xiangqing. Meskipun dia terlihat keras dari luar, namun ... hatinya sangat mencintai kita semua. Ingatkah kamu saat kamu dan Xiangqing jatuh sakit karena latihan terlalu keras? Fu qin sama sekali tidak beranjak dari kamar kalian, bahkan dia membentak tabib untuk menyembuhkan kalian lebih keras." Huang Mingxiang terkekeh lembut di akhir kalimatnya, tangan kanannya bergerak untuk mengelus lembut kepala Xiao Mingyui.
"Di mana ... Fu qin?" tanya Xiao Mingyui.
Huang Mingxiang tersenyum lebih dalam. "Dia sedang menemui adikmu, Xiangqing. Tetapi dia menitipkan pesan untukmu, katanya ... apa pun yang terjadi jangan pernah menunduk dan memohon kepada orang lain. Tunjukkan bahwa kau, adalah keturunannya yang luar biasa. Ingat, Mingyui, Fu qin memiliki dunia yang luas dan hebat tidak lain hanyalah untuk diwariskan kepada anak-anaknya. Kau dan Xiangqing. Dan sekarang, tugas kalian adalah menikmati dan merawatnya. Jikalau situasi buruk datang, maka angkat pedangmu bersama Xiangqing, lalu katakan pada musuh, bahwa ayahmu adalah seorang legenda besar tiga Kekaisaran. Mereka tidak pantas merusak dunia luas dan hebat yang telah ayahmu ciptakan, mengerti?"
Xiao Mingyui terkekeh mendengar ini, namun air matanya terus mengalir.
"Sekali pagi, selamat atas kehebatan serta keberhasilanmu, buah hatiku, Xiao Mingyui ..." ucap Huang Mingxiang sekali lagi, lalu mengecup lama kening putrinya.
Xiao Mingyui menikmati kehangatan ini, tangan kanannya pun bergerak untuk menyentuh tangan ibunya yang menyentuh lembut pipinya.
"Sekarang kamu harus kembali, sayang. Bangunlah, Xiangqing dan yang lain menunggumu," ujar Huang Mingxiang, membuat Xiao Mingyui mengerutkan keningnya.
"Kembali? Aku tidak mati?" tanya Xiao Mingyui.
Huang Mingxiang menggeleng lembut. "Tidak, sayang. Peranmu masih sangat dibutuhkan di dunia. Temani adikmu dan bangun Kekaisaran lebih makmur lagi bersama calon suamimu, Putra Mahkota."
Xiao Mingyui memeluk Huang Mingxiang lagi. "Tetapi ... aku masih sangat merindukanmu, Mu qin."
Huang Mingxiang mengelus lembut kepala anaknya. "Kembalilah, Mingyui. Adikmu membutuhkanmu, kalian saling membutuhkan satu sama lain. Dia sangat mengkhawatirkanmu sekarang."
Ketika sedang memejamkan matanya erat, perlahan Xiao Mingyui kembali membuka matanya dan melihat sosok ayahnya, Xiao Muqing berdiri di ujung sana.
"Fu qin ..." gumam Xiao Mingyui.
Xiao Muqing berdiri tegak menatap ke arahnya, wajahnya datar seperti biasa. Bahkan setelah mati, pria itu tidak memiliki perubahan apa pun. Tetapi, Xiao Mingyui tersenyum. Dia juga sangat merindukan ayahnya meskipun sejak kecil dai dan Xiangqing selalu dididik keras. Xiao Mingyui tahu didikan keras ayahnya adalah untuk diri mereka sendiri di masa depan.
Ketika Xiao Mingyui tersenyum, tiba-tiba ayahnya tersenyum, membuat Xiao Mingyui tertegun.
Bibir ayahnya terlihat bergerak tanpa suara. "Xiao Mingyui, putriku."
Xiao Mingyui tersenyum lebih hangat, dia kemudian kembali memejamkan matanya.
"Jiejie! Jiejie! Panggil tabib! Putri telah sadarkan diri!"
Xiao Mingyui sedikit tersentak kaget ketika mendengar suara Xiao Xiangqing, pria itu segera mengambil sikap duduk dan melihat Xiao Xiangqing yang berada tepat di sampingnya. Memperhatikan ruangan sekitar, sepertinya mereka telah berada di markas militer perang Kekaisaran Timur. Tak lama, Xiao Mingyui merasakan nyeri di perutnya. Menunduk, Xiao Mingyui melihat perban melilit perutnya.
Tak lama tabib datang bersama Xiao Jiwang. Xiao Jiwang terlihat sangat cemas, penampilan pria itu sedikit berantakan di saat tentara lainnya telah membersihkan diri. Sepertinya Xiao Jiwang tidak dapat tenang dan gelisah sepanjang waktu selama Xiao Mingyui tidak sadarkan diri.
Tabib memeriksa kondisi Xiao Mingyui, bibirnya tersenyum ketika mendapati hasil pemeriksaan yang baik. Tabib tersebut segera menoleh ke arah Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang.
"Yang mulia, kondisi putri Mingyui baik-baik saja. Energi dalamnya pun kembali pulih sempurna, luka tusukkan pedangnya membaik. Hanya butuh waktu satu minggu agar dapat beraktivitas seperti biasa lagi."
Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang tertegun. Luka tusuk yang begitu dalam dapat membaik sangat cepat? Sementara Xiao Xiangqing, pria itu tidak heran sama sekali. Setelah tabib pergi, dia segera bertanya,"Apa Jiejie bertemu Fu qin/Mu qin?"
Xiao Mingyui sedikit terkejut. Dari mana anak itu tahu? Tetapi ketika mengingat kalimat ibunya yang mengatakan bahwa ayahnya tengah menemui Xiangqing, bibir Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Iya."
Xiao Xiangqing ikut tersenyum, setelah itu memeluk kakaknya. Mereka berpelukan tanpa mengatakan apa pun, intinya perasaan saling melengkapi dan sayang antara satu sama lain sangat besar.
Setelah Xiao Xiangqing selesai memeluk kakaknya, pria itu bergegas berbalik dan menepuk pundak Xiao Jiwang. Bibirnya tersenyum, lalu dia berjalan keluar dari tenda tempat Xiao Mingyui beristirahat.
Xiao Jiwang balas tersenyum, sepertinya hubungan mereka semakin membaik. Xiao Jiwang pun bergegas mendekati Xiao Mingyui, keduanya mulai melempar senyum.
Xiao Jiwang menyodorkan bunga mawar putih untuknya. "Untukmu. Aku butuh perjuangan besar mencarinya."
Xiao Mingyui terkekeh, lalu menerima bunga itu. Xiao Jiwang ikut terkekeh melihat Xiao Mingyui, kemudian tangan kanannya bergerak untuk mengelus kepala wanitanya lembut. Perlahan, Xiao Jiwang mendekatkan wajahnya ke Xiao Mingyui.
"Dunia berhasil kembali damai. Terima kasih karena telah menjadi wanita hebat yang menemaniku mengukir kedamaian, sayang."
Cup!
Xiao Jiwang mengecup singkat dahi Xiao Mingyui, lalu turun sedikit ke bawah untuk memberikan ciuman hangat.
Xiao Jiwang menarik Xiao Mingyui ke dalam pelukannya selagi ciuman terus berlangsung, pria itu tidak berani berbuat lebih agresif seperti biasa karena luka tusuk Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui mengalungkan lengannya di leher Xiao Jiwang, kini ... mereka dapat saling mencintai dengan dunia yang damai.