
Dada Xiao Mingyui terasa sangat sesak, seolah oksigen di bumi ini habis dan ingin membunuhnya. Menunduk ke bawah, wanita itu melihat seluruh jalanan Kekaisaran Timur penuh dengan genangan darah. Asap hitam di mana-mana, jasad manusia terbengkalai tak terurus tergeletak rata di sepanjang jalan.
Tiba-tiba latar alam bawah sadarnya berubah, tubuhnya mendadak berlutut di tanah, kedua tangannya diborgol ke belakang, lalu kepalanya diletakkan di atas papan eksekusi.
Dari samping, seorang algojo bersiap memenggal kepalanya, pria itu mengasah pedang tajam yang berat. Perasaan pasrah dan tidak terima membuat Xiao Mingyui perlahan menurunkan air matanya. Seingatnya, dia sudah berjuang mati-matian, dia sudah menyerahkan seluruh yang dia punya, namun ... mengapa dia tetap diberi ujung kematian?
Di detik rasa pasrahnya saat ini, dia melihat Xiao Xiangqing dan mendiang ibu serta ayahnya. Mereka bertiga berdiri berdampingan, mata mereka menatap penuh kekecewaan dan rasa benci kepada Xiao Mingyui.
Huang Mingxiang, ibunya menangis. Xiao Muqing, ayahnya menatap penuh rasa benci dan kekecewaan yang besar. Lalu Xiao Xiangqing, adiknya menatap penuh kesedihan yang besar.
Xiao Muqing bergerak memeluk Huang Mingxiang, matanya masih menatap dengan tatapan yang sama ke arah Xiao Mingyui.
"Kamu mengecewakan Fu qin dan Mu qin, Mingyui. Kamu gagal membuktikan dirimu pantas menjadi bagian keturunan benwang," ucap Xiao Muqing, membuat Xiao Mingyui menunduk dalam. Hati Xiao Mingyui benar-benar hancur ketika mendengar ayahnya berbicara demikian.
"Kamu berjanji bahkan bersumpah akan melindungi Xiao Wangfu dan Kekaisaran ini, namun ... kamu kini mengacaukan segalanya. Kamu ... Menghancurkan seluruh harapan dan kepercayaan kami." Huang Mingxiang mengatakan itu sambil menangis.
Xiao Mingyui mengangkat kepalanya lagi, lalu menggeleng kencang. "Tidak! Mingyui--!"
"Jiejie pembohong! Jiejie menghancurkan segalanya! Seandainya Jiejie tidak keras kepala dan egois, maka kehancuran ini tidak akan terjadi!!" Xiao Xiangqing memotong dengan nada membentak, pria itu terlihat meneteskan air mata begitu mengatakan ini.
"Fu qin tidak pernah mengajarkanmu menjadi pecundang penuh kegagalan, Mingyui! Kamu gagal! Kamu bukan keturunan Xiao Wangye Kekaisaran Timur yang terhormat!" Xiao Muqing membentak Xiao Mingyui, matanya menatap tajam Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui tidak bisa bicara lagi, hatinya hancur. Apakah ... dia dibuang? Setelah kerja keras tanpa peduli risiko itu berbahaya atau tidak untuk dirinya sendiri, kini dia dibuang?
Melirik ke samping, ah ... algojo itu sudah selesai mengasah pedangnya. Dia, Xiao Mingyui akan mati sekarang. Dia mati dengan membawa kesia-siaan dan penyesalan yang besar.
Algojo mulai mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, tatapan mata Xiao Mingyui mulai kosong dan mati. Hatinya terasa sangat dingin, dia mulai mengecap dirinya sendiri sebagai pecundang, tidak berguna, dan penuh kegagalan.
Ketika sang algojo bersiap menurunkan pedangnya untuk membelah leher Xiao Mingyui, tiba-tiba sebuah teriakan terdengar.
"XIAO MINGYUI!!"
Xiao Mingyui membuka matanya lagi, jantungnya berdebar tanpa alasan. Ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat sesosok pria dengan jubah hitam berbordir naga emas menahan keras tangan sang algojo.
Wajah pria itu tidak bisa dia lihat karena posisinya yang menbelakangi Xiao Mingyui, namun kemudian pria itu berkata,"Jika seluruh dunia dan bahkan keluargamu membuangmu, maka aku adalah tempat yang akan menerimamu. Tetaplah hidup untukku, Xiao Mingyui!"
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, mata sembabnya berusaha melihat wajah pria itu. Dia tidak tahu siapa pria di depannya ini, mengapa dia menyelamatkan Xiao Mingyui? Apa hubungan mereka?
Tiba-tiba cahaya putih muncul tepat saat sang pria menoleh ke arahnya, membuat Xiao Mingyui gagal melihat jelas. Cahaya putih itu semakin terang dan terang, menutupi pandangannya hingga putih seluruhnya.
Ketika Xiao Mingyui mencoba menutup matanya lagi, dia merasakan ada seseorang yang mengguncang keras bahunya, berteriak khawatir seperti berusaha membangunkannya.
Xiao Mingyui kembali membuka matanya cepat begitu tidak lagi merasakan silau dari cahaya tadi, namun ... saat dia membuka matanya, dia melihat Xiao Jiwang sedang memeluknya erat sambil mengguncangkan tubuhnya. Raut wajah pria itu terlihat sangat khawatir, auranya dipenuhi dengan kecemasan.
Xiao Mingyui tertegun, namun saat dia hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba mulutnya terasa kelu. Yang dia rasakan saat ini hanyalah rasa sakit dan sesak, kemudian ingatan akan mimpi buruknya barusan, itu benar-benar membuat seluruh tubuhnya lemas.
Xiao Mingyui merasa sesak itu mulai naik perlahan ke tenggorokannya, dia seperti ingin menangis. Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, astaga ... dia ingin menangis sekarang. Hatinya benar-benar sakit, rasa sesak karena menahan tangis benar-benar membuatnya kesulitan bernapas.
Gawat ... air mata mulai berjatuhan, dia kesulitan menahannya. Tidak, dia tidak boleh menangis! Dia--!
Air mata Xiao Mingyui berjatuhan semakin deras, perlahan isak tangis muncul, tubuhnya gemetar dengan rasa takut, sedih, marah, dan dingin. Dia sendiri terkejut karena dirinya tidak bisa menahan emosinya, sama seperti Xiao Jiwang yang terkejut melihatnya menangis.
Xiao Mingyui menangis cukup lama, hingga akhirnya kini hatinya perlahan kembali tenang. Xiao Jiwang masih memeluknya erat, ketika menyadari Xiao Mingyui kembali tenang, pria itu dengan cepat bertanya,"Ada apa denganmu?"
Xiao Mingyui menarik napas dalam, kemudian melonggarkan jarak mereka sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tatapan matanya masih menunduk dan terlihat sedih. "Maafkan saya, yang mulia. Saya hanya sedang bermimpi buruk, maaf karena saya telah mengganggu--"
"Tidak masalah, lupakan itu. Lagi pula ... sepertinya mimpi buruk parah itu berasal dari gigitan yang kamu miliki sebelumnya, tidak mungkin seseorang yang baik-baik saja sebelumnya mengalami mimpi buruk dengan suhu tubuh uang sangat rendah dan wajah pucat. Kamu juga sebelumnya sempat tiba-tiba mengantuk, bukan?" potong Xiao Jiwang, lalu membuang tatapannya lagi dari Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui menatap gigitan yang ada di pergelangan tangannya, lalu mengangguk. "Mm ... sepertinya begitu." Ah ... dia bersyukur yang tadi hanya mimpi, dia tidak akan bisa menerima takdir itu jika mimpi itu adalah kejadian nyata. Dia tidak bisa menerima kegagalan sehingga keluarganya sendiri pun membuangnya.
"Di mana adikmu yang menjengkelkan itu? Mengapa dia tak kunjung kembali?" ucap Xiao Jiwang dengan nada kesal, kemudian berdiri dan memperhatikan sekitar sambil mrncari-cari sosok Xiao Xiangqing yang siapa tahu telah kembali.
Mendengar pertanyaan Xiao Jiwang, Xiao Mingyui tersadar. Astaga! Benar, adiknya belum juga kembali setelah sekian lama! Ke mana Xiao Xiangqing??
Xiao Mingyui dengan cepat berdiri, namun ... ketika dia hendak berdiri, tiba-tiba otot kakinya terasa lemas. Xiao Mingyui jatuh kembali di atas batu besar, keningnya mengernyit bingung. Ada apa dengan kakinya? Mengapa dia kesulitan berdiri??
Xiao Jiwang yang menyadari ini segera menoleh, lalu berkata,"Sepertinya yang menggigitmu bukan ikan biasa, dia banyak sekali memberikan efek negatif. Jangan terlalu banyak bergerak untuk sekarang."
Xiao Mingyui tidak menjawab kalimat Xiao Jiwang, wanita itu segera meletakkan dua jarinya di atas tulang kering miliknya untuk mendeteksi apa yang telah terjadi.
Xiao Mingyui menghela napas tipis, dia sepertinya terkena pengaruh lumpuh sementara. Ada racun yang masuk dari gigitan sang ikan, racun itu adalah penyebab utama mengapa Xiao Mingyui lumpuh sementara, mimpi buruk, dan kondisi lemah yang dialami tubuhnya baru-baru ini.
Krak ... Krak ....
Suara ranting dan daun kering yang diinjak terdengar, membuat Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang menatap tajam ke sumber suara. Ketika sosok itu muncul sempurna, mereka berdua diam-diam menghembuskan napas lega. Ah ... ternyata itu Xiao Xiangqing.
Tetapi Xiao Mingyui menunjukkan reaksi yang berbeda, wanita itu dengan cepat kembali khawatir. "Xiangqing??"
Xiao Xiangqing melemparkan senyum ke arah kakaknya dengan napas yang terengah-engah. Penampilan pria itu sedikit berantakan, lalu ada banyak noda darah di pakaiannya. Tangan kanan Xiao Xiangqing menenteng jasad rubah liar.
"Maaf, aku hanya berhasil mendapatkan rubah ini. Tadinya aku ingin membunuh rusa, namun ular mengerikan entah datang dari mana muncul dan mengacaukan semuanya. Aku harus membunuh ular itu dulu baru berhasil menemukan rubah ini," ujar Xiao Xiangqing, lalu naik ke atas batu dan meletakkan jasad rubah tersebut di hadapan Xiao Jiwang.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Sepertinya kamu terluka, kemari Xiangqing."
"Tidak." Xiao Jiwang, pria itu menahan perintah Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui melirik kesal ke arah Xiao Jiwang, ada apa dengan pria itu? Mengapa dia menahan dirinya yang ingin mengobati Xiao Xiangqing?
"Kondisi tubuhmu sangat mencemaskan, jika dipaksa untuk mengeluarkan energi medis lagi, maka kamu akan jatuh pingsan, kemungkinan paling mengkhawatirkannya adalah koma." Xiao Jiwang melarang tegas.
Xiao Xiangqing menaikkan alis kirinya bingung. "Apa yang terjadi?"
Xiao Jiwang menatap Xiao Xiangqing. "Wanita itu baru saja digigit ikan aneh ketika hendak mengambil air bersih, gigitan ikan itu sepertinya mengandung racun. Kini kakinya tidak bisa berjalan dan suhu tubuhnya sangat rendah."
Xiao Xiangqing terkejut, lalu dia kembali lebih memperhatikan wajah kakaknya. Ah ... benar, wajah kakaknya terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Tidak perlu, Jiejie. Aku baik-baik saja, luka ini bisa ditahan sampai nanti kita berhasil turun dari gunung ini," ujar Xiao Xiangqing, tersenyum tipis. Pria itu benar-benar penuh pengertian dan hangat, walaupun terkadang sisi menyebalkan, keras kepala, dan bengisnya muncul.
Xiao Jiwang mengarahkan telapak tangannya ke sebuah batang pohon terbengkalai di bawah batu besar, lalu sebuah cahaya berwarna orange muncul dari telapak tangannya dan terbang menabrak batang pohon tersebut. Dengan cepat, batang pohon itu terbakar.
Xiao Jiwang melirik jasad rubah yang berhasil didapatkan Xiao Xiangqing, kemudian berkata,"Kita bisa makan sekarang."