The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 57. Cinta Atau Keluarga



"Tuan muda, anda baik-baik saja?" tanya pengawal pribadi Fang Laowang, Chuyang.


Fang Laowang menoleh singkat ke arah pria tersebut sambil melepas pakaiannya yang basah, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Chuyang untuk meminta handuk yang dipegang pria tersebut.


"Aku baik-baik saja," jawab Fang Laowang.


Chuyang terlihat tidak begitu percaya. Pria itu telah menemani Fang Laowang hidup selama belasan tahun, melihat Fang Laowang berbohong atau tidak di hadapannya adalah pilihan yang mudah ditebak.


"Apa anda bertemu dengan Tuan Besar atau orang Putri Mingyui?" tanya Chuyang sambil memberikan handuk ke Fang Laowang.


Fang Laowang mengangguk singkat, kemudian mulai mengelap bagian tubuh atasnya yang basah hingga ke wajahnya. Pria itu juga berusaha mengeringkan rambutnya.


"Sungguh? Apa anda berhasil mencegah orang tersebut? Identitas anda tidak ketahuan bukan? Jika ketahuan, saya khawatir akan menimbulkan dampak buruk untuk anda." Chuyang mengerutkan keningnya, raut wajahnya sangat serius.


Fang Laowang duduk di kursinya, lalu menggeleng. "Tidak. Aku gagal."


Chuyang terkejut, bagaimana mungkin Tuan Muda-nya gagal?! Meskipun Fang Laowang sering menghabiskan waktunya untuk belajar, namun bukan berarti kemampuan bela diri pria itu rendah!


"Apa orang yang dikirim oleh Xiao Wangfu adalah anak dari Jenderal Besar Gu? Gu Lingchi?" tanya Chuyang.


Fang Laowang menggeleng lagi. "Tidak. Orang itu adalah Xiao Mingyui sendiri."


Begitu mendengar jawaban Fang Laowang, Chuyang seketika terdiam. Pria itu tidak berani lagi bertanya, sekarang dia tahu alasan Fang Laowang terlihat suram.


Fang Laowang mengalami dua kekalahan sekaligus. Kekalahan pertama, dia gagal melawan dirinya sendiri untuk membulatkan tekad-nya, bahwa sebelum mengetahui siapa utusan Xiao Wangfu yang hendak mengambil surat tersebut, Fang Laowang berniat untuk melawan utusan tersebut demi ibunya. Tetapi ketika melihat Xiao Mingyui, semua rencananya berubah. Seketika, dia gagal di hal pertama.


Kekalahan kedua, ketika dia sudah berkorban demi cinta. Menolong musuh yang seharusnya dia kalahkan karena cinta, yang justru ternyata cinta itu malah menusuknya. Membuat dia kini gagal akan keduanya. Pria itu sekarang kacau dengan hatinya sendiri.


Fang Laowang melirik Chuyang dingin, kemudian bertanya,"Apa yang membuat kemari selarut ini?"


Chuyang seketika tersadar akan tujuannya kemari menemui Fang Laowang, kemudian dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan memberikannya kepada Fang Laowang.


"Saat saya hendak keluar dari Fang Fu, seekor burung dara datang dengan membawa gulungan kertas ini, Taun Muda. Di permukaan gulungan tertulis jelas surat ini ditujukan kepada Anda," jawab Chuyang.


Fang Laowang mengambil gulungan surat tersebut, kemudian membukanya. Kedua matanya membaca dengan teliti. Semakin lama dia membaca, semakin terlipat kening Fang Laowang.


Tak lama surat itu diremas erat, kemudian dia lempar ke sembarang arah sambil menatap Chuyang. "Jangan pernah terima surat apa pun lagi jika penampilannya seperti itu."


Chuyang yang bingung karena tuannya terlihat sangat tidak senang pun mengangguk, ini bukan momen yang pas untuk bertanya.


Fang Laowang melirik ke jendela kamarnya, kemudian menghembuskan napas pelan. Surat tadi adalah surat rahasia yang dikirim oleh Xie Wanting. Wanita itu belakangan ini sering menghubunginya untuk menawarkan 'kerja sama' terkait Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang.


Entah dari mana wanita itu tahu mengenai perasaannya terhadap Xiao Mingyui. Tetapi jika dipikirkan kembali, kemungkinan wanita itu mengetahui hal ini dari ayahnya sendiri, Fang Jichang. Mengingat Fang Jichang memiliki hubungan dengan Huan Tenggara dan Xie Wanting adalah mata-mata yang akan digunakan oleh negara tersebut untuk membuat kekacauan.


"Tuan muda, anda harus dengan cepat memutuskan di mana posisi anda." Chuyang mengingatkan Fang Laowang mengenai keputusan yang harus cepat pria itu ambil. Berada di pihak ayahnya, atau Xiao Mingyui, wanita yang dia cintai.


"Aku tidak bisa berpikir." Fang Laowang menyandarkan punggungnya, kemudian memijat pelan keningnya. Kepalanya berisik.


Chuyang mengangguk mengerti, kemudian berkata,"Kalau begitu, saya akan membantu Anda. Dua hari ke depan, kita akan segera menemukan keputusannya."


Fang Laowang menatap Chuyang. "Caranya?"


Chuyang dengan cepat bertanya balik. "Apa putri Mingyui telah mengetahui perasaan anda?"


Fang Laowang mengangguk. "Baru saja."


Fang Laowang menghela napas gusar, kedua matanya terpejam selagi otaknya kembali mengingat momen saat ia dan Xiao Mingyui berdebat kecil.


"Buruk."


Chuyang mengepalkan kedua tangannya diam-diam, dia juga dapat merasakan rasa sakit dan kecewa tuannya.


"Tuan muda, yang perlu kita lakukan saat ini adalah melakukan pendekatan kepada keduanya. Di samping itu, pikirkan lebih matang pula yang mana yang harus anda pilih. Cinta anda atau keluarga anda. Jika anda memilih cinta, maka anda harus merelakan keluarga anda yang akan hancur, termasuk nyonya besar, ibu anda. Dan jika anda memilih keluarga, anda pun harus siap untuk kehilangan cinta anda, putri Mingyui."


Fang Laowang membuka matanya lagi, kemudian berkata,"Fang Jichang, pria itu bukan keluargaku. Keluargaku hanya satu, ibu. Aku bertahan di sini untuk ibu."


Chuyang tidak terkejut lagi, dia mengerti akan kebencian Fang Laowang terhadap ayah kandungnya sendiri. Fang Jichang terlalu ambis mengejar kekayaan dan kekuasaan sampai rela melupakan kebahagiaan keluarga serta membuat istri sendiri. Dan kini setelah ia lahir menjadi putra pertama, pria itu tanpa peduli dan memikirkan perasaannya, memaksa Fang Laowang untuk mengikuti langkahnya sekaligus memaksanya untuk sempurna. Hal itu dilakukan Fang Jichang dengan alasan karena khawatir Fang Tianyao, pewaris keluarga Fang sebelumnya yang mundur karena memilih cinta kembali. Fang Jichang terlalu takut dengan Fang Tianyao, takut pria itu tiba-tiba muncul dan merebut kembali seluruh kekuasaan dan hartanya.


Di tengah perbincangannya dengan Chuyang, tiba-tiba ketukan mendesak terdengar dari pintu kamarnya. Fang Laowang dan Chuyang dengan cepat saling tatap penasaran, mereka berdua khawatir kepergian diam-diam Fang Laowang diketahui oleh Fang Jichang.


Chuyang dengan jantung berdebar berjalan ke arah pintu, kemudian membukanya perlahan. Seorang pelayan wanita tua yang tengah menangis muncul, dengan cepat masuk dan berlutut ke arah Fang Laowang.


"Tuan muda! Tuan muda! Tolong Furen! Furen hendak dihukum cambuk oleh Tuan besar!" Pelayan wanita tua itu menangis sesenggukan sambil menahan tubuhnya yang gemetar.


Fang Laowang dengan cepat berdiri, kemudian mengambil pakaian barunya dan berlari keluar sambil mengenakan pakaiannya secara terburu-buru.


Pria itu terus berlari kencang ke arah halaman utama Fang Fu kediaman mereka, hatinya sangat cemas, khawatir ibunya akan terluka parah dan terlalu lama merasakan cambukan.


"Hentikan! Hentikan ini! Apa yang kalian lakukan pada Furen?!" Fang Laowang berteriak lantang, kemudian tanpa pikir panjang menangkap cambuk yang hendak dilayangkan ke punggung ibunya. Alhasil, telapak tangan pria itu memerah dan sedikit mengeluarkan darah dikarenakan layangan cambuk yang dia tahan menggunakan tangan kosong.


"Laowang! Beraninya kamu!" Fang Jichang menatap garang putranya, namun Fang Laowang tidak mengindahkan bentakan ayahnya. Pria itu justru lebih dulu melirik punggung ibunya. Ketika melihat noda darah di pakaian ibunya, pria itu menggertakkan gigi kesal. Baru setelah itu dia beralih menatap ayahnya.


"Seharusnya saya yang bertanya, ayah. Apa yang sedang ayah lakukan terhadap ibu?" ucap Fang Laowang, raut wajahnya terlihat sangat suram. Meskipun begitu ada sedikit ketakutan di hatinya untuk melawan Fang Jichang.


"Ibumu telah lancang mengganggu kesibukan ayah, bukankah pantas dihukum?!" jawab Fang Jichang, matanya menatap penuh kebencian ke arah istrinya.


Fang Laowang menghempaskan cambuk itu, lalu beralih membantu ibunya berdiri. Fang Laowang mendekap ibunya yang sedang menangis sesenggukkan. Pria itu akan melindungi ibunya malam ini, tidak peduli jika dia harus menggantikan hukumannya.


Fang Laowang menatap dua wanita berpakaian tipis dan sedikit terbuka di belakang Fang Jichang. Kebencian dan kemarahan pria itu semakin tinggi, ayahnya pasti mengundang wanita lagi dari rumah bordil untuk bersenang-senang. Bajingan.


Fang Laowang berusaha mengambil napas untuk menenangkan hati serta pikirannya, dia harus bersikap hati-hati agar tidak salah ucap sehingga memperburuk suasana.


Fang Laowang memeluk ibunya semakin erat, lalu berkata,"Ayah, tindakan ini kurang pantas. Saya khawatir kejadian hari ini bocor hingga keluar kediaman. Untuk nama baik kita semua, lebih baik semua ini diakhiri."


Fang Jichang mendengus. "Lalu kenapa jika bocor? Ibumu dihukum karena perbuatan lancangnya sendiri!"


Fang Laowang mengerutkan keningnya dalam. "Maka orang-orang akan mencari tahu masalah ini lebih lanjut. Seorang Tuan besar keluarga terhormat menghukum cambuk Furen-nya sendiri. Baik, tidak masalah jika alasannya ibu bertingkah tidak sopan. Tetapi bagaimana jika orang lain juga mengetahui fakta selain itu? Seperti ... dua wanita di belakang anda."


Fang Jichang tercekat, pria itu segera menoleh dingin ke belakang untuk menatap dua wanita sexy dan cantik, kemudian kembali menatap Fang Laowang dan istrinya yang masih dipeluk erat pria itu.


Melihat ayahnya kesulitan menjawab, Fang Laowang pun berusaha tersenyum di tengah kemarahan dan kebenciannya, lalu berkata,"Betul, bukan? Lebih baik jika ini segera diakhiri. Anda bisa memberikan hukuman yang lebih ringan dari ini jika memang benar menurut anda tindakan ibu sangat melenceng."


Fang Jichang masih diam, sampai akhirnya dia mendengus kasar dan berbalik pergi meninggalkan Fang Laowang bersama ibunya sambil berkata,"Semuanya, bubar dan tutup mulut atas kejadian malam ini."


Fang Laowang menghela napas lega di dalam hati melihat sosok ayahnya yang perlahan menjauh, kemudian menunduk untuk menatap ibunya yang masih menangis.


Fang Laowang mencium kepala ibunya. "Tenanglah, ibu. Putramu di sini." Kemudian dia menggendong tubuh ibunya sambil berjalan ke arah kediamannya.


"Malam ini anda akan tidur di kediaman saya terlebih dahulu. Anda bisa menenangkan diri sambil bercerita."