
Di Fuyi maju seorang diri. Seluruh pasukan dia sapu bersih seorang diri hanya dengan satu tangan. Ketika pasukan Huan Tenggara mulai mengepungnya dari segala arah, pria itu menyilangkan kedua tangannya tinggi dan menghempaskannya secara bersamaan ke bawah.
Splash!!!
Boom!!!
Semua terpental dan memuntahkan seteguk darah. Bahkan ada yang langsung mati saat itu juga.
Di Fuyi menoleh, bibirnya tersenyum. Selesai. Peperangan telah selesai.
Seluruh pasukan Kekaisaran Timur tertegun. Sial, luar biasa sekali kekuatan seorang Utusan Agung!
Di Fuyi berdiri tepat di hadapan Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang dengan jarak tiga langkah.
Xiao Mingyui mengepalkan kedua tangannya, lalu berjalan selangkah lebih maju. "Kenapa?"
Di Fuyi mengerutkan keningnya. "Kenapa? Mengenai apa??"
Xiao Mingyui menggertakkan giginya, lalu mendekat ke arah Di Fuyi dan meremas pakaian pria itu. Membuat semuanya terkejut, termaksud Xiao Jiwang yang berada di belakangnya.
"Mengapa kau melakukan ini untukku?! Mengapa kau turun dari gunung Lang Tao?!" tanya Xiao Mingyui, air matanya keluar lagi. Dia benci karena ada orang yang harus mati lagi untuknya.
Di Fuyi masih memasang raut wajah seolah bingung. "Memangnya kenapa? Aku hanya--" omongan Di Fuyi terhenti sesaat, lalu pria itu tersenyum lagi dan berkata,"Kamu sudah mengetahuinya?"
Xiao Mingyui mengeratkan cengkeramannya di pakaian Di Fuyi, kepala wanita itu menunduk dalam. Tubuhnya gemetar karena menangis.
Di Fuyi mengangkat tangan kanannya tiba-tiba, lalu menjentikkan jarinya. Seketika, dia dan Xiao Mingyui berada di dimensi yang berbeda. Hanya ada warna putih di mana-mana.
Xiao Mingyui masih menangis, lalu perlahan mengangkat pandangannya lagi.
"Mingyui ..." Di Fuyi menyeka air mata Xiao Mingyui lembut.
"Kau menangis karenaku?" tanya Di Fuyi.
Xiao Mingyui mengangguk pelan, membuat Di Fuyi tersenyum lembut.
"Maaf, aku tidak berniat untuk membuatmu mena--"
"Aku tidak mengerti mengapa hatiku sangat sakit sekarang! Aku sendiripun tidak menyangka akan menangisimu! Hatiku ... hatiku terasa sangat sesak!" Xiao Mingyui memotong cepat, berusaha menjelaskan bahwa tangisan derasnya ini muncul bukan karena kemauannya. Tanpa alasan yang jelas, hati Xiao Mingyui mendadak sangat sesak. Seolah, ada sesuatu yang sangat menyakitkan menimpanya.
Di Fuyi tertegun, lalu menjawab,"Karena hatimu masih mengingatku, Mingyui."
Xiao Mingyui menggertakkan giginya. "Mengingat?!" Dia berhenti dulu untuk beberapa saat, lalu melanjutkan,"Akhir-akhir ini aku selalu dihantui oleh ingatan asing tentangmu! Aku tidak mengerti! Aku tidak tahu itu ingatan siapa! Hatiku terasa sangat sesak setiap kali mengingatnya!"
Di Fuyi menatap Xiao Mingyui sendu, lalu menarik Xiao Mingyui lembut ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Mingyui. Aku membuatmu menangis," ucap Di Fuyi.
Xiao Mingyui tidak menjawab, wanita itu masih sibuk terisak. Dia kesulitan untuk menenangkan dirinya.
Melihat Xiao Mingyui sibuk menenangkan dirinya, Di Fuyi memeluknya semakin erat dan berkata,"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu selama ratusan tahun. Aku menunggumu selama ratusan tahun, tulang rusukku."
Ketika mendengar itu, tangis Xiao Mingyui semakin pecah. Seluruh kalimat dan suara Di Fuyi terdengar sangat menyakitkan sekarang.
"Maafkan aku yang tidak pandai menjagamu. Kesalahanku ratusan tahun yang lalu, aku memohon maaf untuk itu. Sekali lagi, aku mencintaimu. Meskipun ini akan menjadi akhir dari kehidupanku karena aku tidak akan bereinkarnasi sebab melanggar perjanjian dengan Tuhan, namun ... aku tetap mencintaimu. Tidak peduli seberapa hancur jiwaku nanti di alam baka, aku akan tetap mencintaimu."
Xiao Mingyui menangis semakin keras, hatinya benar-benar sakit mendengar itu semua. Air mata dan rasa sakit hatinya sama sekali tidak bisa ia kontrol.
Di Fuyi melonggarkan pelukannya, lalu mencium kening Xiao Mingyui cukup lama.
Di Fuyi mengangguk, bibirnya tersenyum. Di sini, pria itu tersenyum sambil mengeluarkan air mata.
"Seharusnya bisa. Tuhan memberikanku dua pilihan jika kembali melanggar perjanjiannya lagi. Pertama, aku dileburkan dan tidak akan bereinkarnasi lagi. Kedua, kamu lah yang tidak dapat bereinkarnasi. Lalu aku, memilih pilihan pertama."
Mendengar jawaban Di Fuyi, Xiao Mingyui langsung mengepalkan kedua tangannya. Matanya yang masih menangis menatap dalam Di Fuyi, rasanya sekarang dia sedang menjadi orang lain.
"Sejujurnya aku sedikit-- tidak, tetapi sangat kecewa. Sangat kecewa jika ternyata kau bukan menjadi milikku setelah aku menunggumu selama ratusan tahun. Aku pikir itu karena usahaku membuatmu mengingatku tidak maksimal, namun ternyata bukan. Aku telah semaksimal mungkin, melakukan hal gila yang membahayakan jiwaku. Tetapi, kamu tetap menolakku meskipun ingatan itu telah perlahan masuk ke kepalamu. Melihatmu yang terus menolak, aku tidak bisa berbuat banyak lagi. Aku tidak mau egois, aku tidak mau membuatmu menangis hingga membenciku. Oleh karena itu, aku mengambil satu-satunya jalan yang paling benar meskipun jalan itu sangat menyakitiku. Tetapi itu cukup jika aku dapat melihat senyumanmu."
Xiao Mingyui tertegun ketika mendengar kalimat Di Fuyi. Kalimat akhir pria itu sangat serupa dengan yang dikatakan Rong Wangxia!
Berarti ... bukankah itu tandanya perasaan pria itu sangat besar dan dalam? Xiao Mingyui semakin menangis memikirkan hal ini, ini sedikit menyentuh hati aslinya.
Sebuah cahaya muncul, dari belakang Di Fuyi. Perlahan, bagian bawah tubuh Di Fuyi mulai berubah menjadi seperti serpihan kaca.
Xiao Mingyui yang melihat ini tertegun. Apakah ... sudah waktunya?
Xiao Mingyui dengan cepat memeluk Di Fuyi, lalu berkata,"Terima kasih banyak. Terima kasih banyak atas bantuan, pengorbanan, dan cinta ratusan tahun yang selalu setia. Aku ... menyayangimu sebagai teman terbaik, Di Fuyi. Dan diriku yang ratusan tahun, sepertinya dia masih ada dan mencintaimu. Maka untuk mewakilinya ..." Xiao Mingyui memberi jeda sejenak, lalu melanjutkan,"Aku juga mencintaimu, Di Fuyi. Terima kasih."
Di Fuyi tersenyum lebih dalam, tubuhnya perlahan berubah menjadi serpihan kaca dan terbang seperti tertiup angin. Cahaya terang itu menghisap pecahan kaca tubuh Di Fuyi.
Xiao Mingyui berusaha tersenyum, matanya masih menatap Di Fuyi, bahkan setelah seluruh tubuh pria itu hancur menjadi kaca seutuhnya. Tak lama, cahaya merah muncul dari dada sebelah kanannya. Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, karena rasanya sangat sakit sekali. Wanita itu sampai jatuh berlutut, kedua tangannya mencengkeram dada kanannya. Sakit sekali, seperti ada yang ditarik keluar secara paksa.
Perlahan, cahaya merah keluar dari dalam dada kanan Xiao Mingyui. Bentuknya seperti pecahan kaca, mengeluarkan cahaya berwarna merah. Sepertinya ... itu adalah pecahan hati Di Fuyi.
"Arghh ...."
Xiao Mingyui menatap kepingan hati itu yang ikut terhisap ke cahaya putih, mengikuti pecahan kaca tubuh Di Fuyi. Pecahan hati Di Fuyi itulah yang membuatnya menangis untuk Di Fuyi. Apa yang dikatakan pria itu benar, hati itu masih mengingatnya. Dan kini, pecahan hati itu ikut hancur bersama Di Fuyi.
Xiao Mingyui menarik napas dalam. Sepertinya ... dia tidak akan lagi merasakan perasaan cinta untuk Di Fuyi. Itu adalah perasaan cintanya ratusan tahun yang lalu untuk Di Fuyi, kini lenyap. Semuanya sudah berbeda, dia terlahir jelas dari rahim ibunya, Huang Mingxiang. Xiao Mingyui saat ini adalah Xiao Mingyui, bukan Maharani Agung.
"MINGYUI!"
Suara Xiao Jiwang yang sangat cemas terdengar, membuat Xiao Mingyui tersentak kaget dan mendapati tubuhnya telah berada di pelukan pria itu.
"Kau baik-baik saja?!" tanya Xiao Jiwang, kemudian langsung memeluknya erat.
"A--apa yang terjadi?" tanya Xiao Mingyui, dia masih sedikit linglung.
"Kamu tiba-tiba terdiam di hadapan Utusan Agung dan mulai menangis, kemudian ... tubuh Utusan Agung berubah menjadi pecahan kaca. Tuan Gu berkata bahwa Utusan Agung resmi gugur, seluruh pasukan berlutut ke arahnya, termasuk diriku. Tetapi setelah tubuhnya lenyap sempurna, cahaya berwarna merah muncul dari dalam dirimu lalu kamu tiba-tiba terhuyung ke belakang. Beruntung aku berada tepat di belakangmu! Ada apa sebenarnya?! Kau membuatku sangat--!"
"Aku baik-baik saja, Jiwang," potong Xiao Mingyui, lalu dengan cepat memeluk Xiao Jiwang. Berusaha menenangkan pria itu, sekaligus menenangkan hatinya.
Ketika menghirup aroma tubuh Xiao Jiwang, perlahan kecemasan Xiao Mingyui berkurang. Pasangan itu kembali bangkit, mereka berjalan kembali ke arah pasukan berkumpul.
Xiao Mingyui memukul dua kali dadanya pelan, sisa sesak di dadanya masih sedikit terasa. Untuk membuatnya fokus, Xiao Mingyui berusaha menepis seluruh rasa sedih tersebut.
"Pertarungan kita masih belum selesai," ucap Xiao Mingyui, lalu melanjutkan,"Dengar, sekarang saatnya kita menyelamatkan Xiao Wangye."
Xiao Mingyui menoleh ke arah Xiao Jiwang. "Yang mulia, anda yang akan memimpin pasukan untuk mengepung markas." Lalu mata Xiao Mingyui menatap Baili Ruyi, Gu Sinjie, dan Yui secara bergantian. "Lalu aku akan menyelinap ke dalam mencari Wangye, kemudian Gu Furen dan Tuan Gu, anda berdua membantu Putra Mahkota memimpin pasukan. Pasukan pengepungan akan kembali dibagi menjadi tiga, oleh karena itu, Putra Mahkota tidak mungkin mengurusnya sendirian. Selanjutnya bibi Yui, anda mengawasi keadaan. Ketika sekiranya situasi cocok untuk digunakan mengepung, maka segera kirim sinyal kepada tiga pemimpin pasukan pengepung. Mengerti?"
Yui mengangguk. "Mengerti, yang mulia."
Xiao Mingyui tersenyum puas. "Bagus! Ayo, kita selamatkan Xiao Wangye!"
"Ayo!!" Seluruh pasukan berseru penuh semangat sambil mengangkat tinggi pedang mereka ke langit.