
Xiao Mingyui dan yang lain berhasil turun dengan selamat dari Naga Shenlong. Setelah naga itu pergi, Xiao Mingyui menatap hamparan langit malam luas yang dipenuhi bintang-bintang. Dia sedikit terkejut, karena seingatnya dia hanya sebentar di Istana Utusan Agung, namun ketika kembali keadaan sudah gelap gulita.
"Kita bermalam di sini, terlalu berisiko jika nekat menerobos turun." Xiao Jiwang mendudukkan tubuhnya di atas baru besar, kemudian menghela napas. Raut wajah pria itu terlihat sedikit lebih santai dari pada sebelumnya.
Xiao Xiangqing menoleh ke Xiao Mingyui, kemudian berkata,"Aku akan mencari makanan."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Banyak hewan buas berbahaya yang tidak masuk akal, Xiangqing. Terlalu berisiko."
Xiao Xiangqing terkekeh, kemudian menjawab,"Jiejie tidak perlu khawatir, aku berjanji akan kembali dengan cepat. Mati melawan monster terdengar lebih keren dari pada mata kelaparan, bukan?"
Xiao Mingyui menghela napas tipis, menggelengkan kepalanya pelan. Ketika wanita itu mengangguk memberikan izin, Xiao Xiangqing dengan cepat melesat pergi untuk mencari makanan. Entah hewan atau buah, dia mencari apa pun yang bisa dimakan.
Xiao Mingyui kini menatap Xiao Jiwang, pria itu terlihat kelelahan dengan suasana hati yang tidak begitu baik. Ketika Xiao Mingyui hendak memalingkan pandangannya, tiba-tiba Xiao Jiwang menatap ke arahnya sambil melambai, memerintahkan dirinya untuk mendekat.
Xiao Mingyui tidak menolak, wanita itu berjalan mendekati Xiao Jiwang dan duduk tepat di samping pria itu.
"Ilmu pengetahuan medismu baik, bukan?" tanya Xiao Jiwang.
Xiao Mingyui mengangguk. "Lumayan."
Xiao Jiwang tiba-tiba melepas jubah dan pakaian atasnya, kemudian bau anyir darah dengan cepat tercium. Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, sejak kapan pria itu terluka?
"Obati ini." Xiao Jiwang memberikan perintah dengan nada suara datar, seolah luka penuh darah yang terjadi di punggungnya tidak memiliki rasa sakit sedikitpun. Padahal, jika luka ini terjadi kepada seorang manusia, manusia itu pasti akan mengerang kesakitan.
Ada luka cakar yang sangat besar dan dalam di punggung Xiao Jiwang, membuat Xiao Mingyui dengan cepat bertanya,"Sejak kapan luka ini anda miliki?"
"Cukup lama. Kamu tidak perlu tahu," jawab Xiao Jiwang acuh.
Xiao Mingyui sudah terbiasa dengan jawaban ketus Xiao Jiwang, wanita itu dengan cepat berdiri dan berkata,"Saya akan mencari air bersih sebentar. Tidak jauh dari sini saya mendengar ada gemericik air."
Xiao Jiwang melirik singkat, lalu mengangguk tipis tanpa berkata apa pun.
Xiao Mingyui berjalan pergi untuk mencari sungai, meninggalkan Xiao Jiwang sendirian di atas batu besar menunggunya. Tak lama kemudian, Xiao Mingyui berhasil menemukan sungai besar. Bibirnya tersenyum kecil, kemudian dia merobek kain pakaiannya sendiri dan membelahnya menjadi dua bagian. Setelah itu, Xiao Mingyui menceburkan satu kain yang telah ia sobek ke dalam sungai, dia sedikit terkejut kala merasakan sensasi dingin luar biasa dari sungai tersebut.
Ketika hendak mengangkat kain dari dalam air, tiba-tiba sebuah ikan muncul dan membuka mulutnya yang penuh dengan taring tajam. Ikan itu dengan ganas menggigit lengan kanan Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya terkejut, lalu tangan kirinya dengan cepat menarik kain keluar dari sungai, lalu menampar tubuh sang ikan dengan kain basah berat yang telah diberikan saluran kekuatan dalam miliknya.
Ikan itu terpental jauh, Xiao Mingyui pun berhasil menyelamatkan lengan kanannya. Darah segar Xiao Mingyui menetes di tanah, wanita itu mengerutkan keningnya karena sensasi nyeri yang dia rasakan.
Xiao Mingyui kembali memasukkan tangan kanannya ke dalam sungai, kali ini dia pastikan tidak ada ikan ganas yang mendekat. Dia membersihkan lukanya dengan lembut, lalu setelah darah bersih, Xiao Mingyui bergegas pergi dari sungai sambim membawa kain basah dan kering miliknya. Dia membiarkan luka di lengan kirinya terbuka begitu saja karena sudah tidak ada lagi kain bersih. Jika dia nekat merobek kain pakaiannya lagi, maka beberapa jengkal bagian tubuh yang seharusnya tidak terlihat jelas akan tampak. Seperti betis atau dengkul.
Xiao Mingyui kembali, matanya melihat Xiao Jiwang yang masih duduk di atas batu itu sambil melamun. Xiao Mingyui tidak mengatakan apa pun setelah sampai, dia segera duduk di samping Xiao Jiwang dan langsung memulai membersihkan luka pria itu.
Xiao Jiwang menoleh sedikit, matanya memperhatikan Xiao Mingyui yang hendak memulai membersihkan lukanya. Kembali menarik pandangannya, pria itu berkata,"Apa yang kau lakukan di sini?"
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Untuk mencari anda dan adik saya, apa lagi?"
"Kamu juga mencariku?" tanya Xiao Jiwang.
Xiao Mingyui mengangguk. "Bagaimana tidak? Anda adalah calon suami saya, bagaimana mungkin saya tidak khawatir?"
"Kamu bicara seolah memiliki perasaan padaku. Itu terdengar menjijikkan," balas Xiao Jiwang, lalu kepalanya mendongak dan menatap bintang-bintang. Tatapan matanya terlihat sulit.
Gerakan Xiao Mingyui terhenti sejenak, lalu kembali dia lanjutkan ketika bicara. "Saya memang tidak tahu ada atau tidaknya cinta untuk anda, tetapi perasaan khawatir saya nyata." Tatapan mata Xiao Mingyui terlihat sedikit meredup, dia merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.
Xiao Jiwang melirik sekilas dengan ekor matanya. "Kau mengkhawatirkanku?"
Xiao Mingyui mengangguk. "Saya sangat mengkhawatirkan anda dan adik saya."
"Jika kita berhasil menikah nanti, apa yang akan kamu lakukan? Mencintaiku?" tanya Xiao Jiwang lagi, pertanyaan ini berhasil membuat Xiao Mingyui menatap kepala pria itu yang membelakanginya.
Xiao Mingyui menunduk sedikit, tangannya masih bergerak lembut untuk membersihkan luka Xiao Jiwang.
"Sebelum itu ... apakah, yang mulia mencintai saya? Apakah yang mulia akan memperlakukan saya dengan lembut penuh kasih sayang? Akankah yang mulia menganggap saya berarti?" tanya Xiao Mingyui balik, matanya terlihat sekali ingin tahu jawaban Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang diam, namun setelah itu menjawab,"Bagaimana jika aku tidak akan pernah mencintaimu?"
"Maka dengan yang mulia memenuhi janji yang mulia untuk melindungi dan membantu Xiao Wangfu, itu sudah cukup. Saya tidak akan berani mengharapkan hal lain lagi," jawab Xiao Mingyui, ini adalah jawaban jujur dari hatinya.
Xiao Jiwang diam lagi, pria itu tak menjawab apa pun hingga Xiao Mingyui selesai membersihkan lukanya. Xiao Mingyui segera meletakkan kedua telapak tangannya di atas luka Xiao Jiwang, lalu cahaya berwarna biru muncul dan menyelimuti luka Xiao Jiwang.
Begitu cahaya biru itu hilang, Xiao Mingyui dengan cepat menarik tangannya sambil berusaha mengatur napas. Ini adalah yang kedua kalinya dia mengobati luka yang sangat berat.
Xiao Jiwang berbalik, ketika matanya tidak sengaja menatap Xiao Mingyui yang sedang beristirahat, dia melihat ada luka gigitan di pergelangan tangan wanita itu. Dia bertaruh itu adalah luka baru.
"Kau terluka?" tanya Xiao Jiwang, keningnya terlupa dalam.
Xiao Mingyui sedikit terkejut karena Xiao Jiwang tiba-tiba melemparkan pertanyaan. Xiao Mingyui menatap pergelangan tangannya, tersenyum tipis. "Ini hanya luka kecil, tidak sengaja saya--"
Xiao Jiwang menarik lengan Xiao Mingyui, kemudian memperhatikan luka itu. "Ini cukup dalam ...." gumam Xiao Jiwang.
"Yang mulia, ini--"
"Kita tidak tahu hewan yang menggigitmu beracun atau tidak, tidak peduli seperti apa kategori hewannya. Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa hewan di gunung ini tidak masuk akal?" tanya Xiao Jiwang, kemudian menghisap lengan Xiao Mingyui dengan mulutnya.
Xiao Mingyui membelalakkan matanya, tanpa sadar wajahnya memerah. Astaga ... Kulitnya bersentuhan dengan bibir Xiao Jiwang, membuat Xiao Mingyui benar-benar malu! Berengsek! Mengapa pria itu tiba-tiba menghisap lukanya?!
Xiao Jiwang meludah ke samping untuk membuang caira aneh yang keluar dari luka Xiao Mingyui, kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil sebuah botol kecil.
Xiao Jiwang membuka botol itu dengan cepat, lalu menuangkan sebuah bubuk yang tersimpan di dalamnya. Xiao Mingyui sedikit mengerutkan keningnya, pasalnya sensasi yang dihasilkan oleh bubuk itu terhadap lukanya terasa sangat dingin dan seolah ada jarum yang menusuk.
Xiao Mingyui tertegun, dia memperhatikan sosok Xiao Jiwang yang dengan telaten mengobati lukanya. Sisi Xiao Jiwang yang dia lihat saat ini sangat hangat dan penuh rasa kepedulian, bibir Xiao Mingyui tersenyum tanpa sadar.
Xiao Jiwang menyimpan kembali botol kecil miliknya, kemudian menatap Xiao Mingyui. Pria itu sedikit terkejut kala melihat Xiao Mingyui yang sedang tersenyum lembut ke arahnya, dia jarang melihat senyum tulus Xiao Mingyui. Kali ini dia sangat yakin, senyum Xiao Mingyui yang ini tidak ada kemunafikan sama sekali.
Xiao Mingyui sedikit menundukkan kepalanya kala Xiao Jiwang menyadari tatapannya, wanita itu dengan cepat berkata,"Saya mengantuk."
Xiao Jiwang tersadar, lalu dengan cepat menoleh ke sana kemari untuk melihat kondisi. Kening Xiao Jiwang sedikit terlipat kala menyadari seluruh permukaan di gunung ini kasar, tidak ada tempat yang nyaman untuk berbaring. Rencananya dia hendak menyuruh Xiao Xiangqing untuk membuat papan tidur minimalis dari batang atau ranting pohon, namun pria itu sudah lebih dulu hilang untuk mencari makanan.
Xiao Mingyui benar mengantuk, kali ini dia benar-benar merasakan sensasi mengantuk yang luar biasa. Entah apa penyebabnya, mungkin karena dia terlalu lelah?
Xiao Mingyui berbaring begitu saja di atas batu besar yang kasar, suhu tubuhnya mendadak menurun. Permukaan kulit Xiao Mingyui tiba-tiba pucat, badannya menggigil.
Xiao Jiwang tidak menyadari hal ini sama sekali, sampai akhirnya pria itu mendengar lenguhan Xiao Mingyui.
Xiao Jiwang menoleh, wajahnya terlihat sedikit khawatir kala melihat Xiao Mingyui sedang menggigil.
Xiao Jiwang mendekat, kemudian melepas jubahnya dan meletakkannya di atas tubuh Xiao Mingyui. Dan ... sayangnya lapisan jubahnya pun tak kuasa mengusir kedinginan Xiao Mingyui.
"Fu qin ...."
"Mu qin ...."
"Tidak ... Xiangqing ...."
"Ini salahku ... Semuanya hancur karenaku ...."
"Aku terlalu lemah ... aku tidak berguna ...."
Xiao Mingyui tampak mengigau, wanita itu seperti sedang mengalami mimpi buruk. Xiao Jiwang memperhatikan Xiao Mingyui terus menerus, dia semakin mendekat kala melihat air mata menetes lembut dari mata wanita itu yang masih tertutup.
Gigilan di tubuh Xiao Mingyui tiba-tiba berubah menjadi kejang-kejang ringan. Xiao Jiwang mulai panik total, pria itu reflek menarik Xiao Mingyui ke dalam pelukannya sambil menggoyangkan keras tubuh Xiao Mingyui.
"Mingyui! Mingyui!!"
Xiao Mingyui terbangun dari tidurnya, matanya terbuka lebar. Kedua matanya terlihat sangat merah, air mata benar-benar tumpah berlinang. Sosok pertama yang dia lihat ketika membuka mata adalah Xiao Jiwang. Xiao Jiwang yang khawatir, Xiao Jiwang yang memeluknya hangat.
"Kau baik-baik saja?!" tanya Xiao Jiwang cepat melihat Xiao Mingyui membuka matanya.
Xiao Mingyui diam, mulutnya terasa kelu. Mimpi buruk yang dia rasakan benar-benar terasa nyata, hatinya sangat sakit dan juga takut sekali.
Perlahan, kedua alis Xiao Mingyui bertaut, bibirnya pun mulai gemetar, napas wanita itu semakin tidak beraturan. Xiao Mingyui, wanita itu sedang menahan tangis mati-matian di hadapan Xiao Jiwang. Dia tidak boleh menangis! Tidak boleh!
Tetapi, usahanya sia-sia. Tangis Xiao Mingyui pecah, wanita itu menangis sesenggukkan di pelukan Xiao Jiwang.
Memalukan ... benar-benar memalukan! Dia tidak pernah merengek seperti ini di depan orang lain! Termasuk keluarganya sendiri!
Xiao Jiwang terkejut ketika Xiao Mingyui tiba-tiba pecah menangis, hati khawatir pria itu ikut terenyuh diam-diam. Xiao Jiwang menggertakkan giginya kesal, dia benci perasaan gelisah ini muncul lagi di hatinya.
Xiao Jiwang memeluk erat Xiao Mingyui, tangan kanannya bergerak lembut untuk mengelus kepala wanita itu. Sial, pria itu membenci dan diam-diam menikmati momen ini secara bersamaan.
Tidak ada percakapan apa pun di pelukan mereka berdua, hanya ada suara tangis sesenggukkan Xiao Mingyui.