
Xiao Mingyui berbaring di atas kasur, dia dan Xiangqing serta Xiao Jiwang berada di tenda yang berbeda. Sekarang, seorang tabib wanita yang didatangkan langsung secara terburu-buru dari Istana sedang menusukkan banyak sekali jarum akupuntur di kaki Xiao Mungyui, hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyerap dan mengeluarkan racun-racun berbahaya di tubuh Xiao Mingyui. Pergelangan tangannya yang digigit pun kini telah dililit perban yang sebelumnya sudah diakupuntur kemudian ditaburkan oleh bubuk obat herbal.
Proses pengobatannya menghabiskan waktu setengah hari, tabin itu pun terlihat sangat kelelahan ketika selesai menyelesaikan pekerjaannya.
"Kaki anda akan pulih paling cepat dalam satu hari dan paling lambat dalam waktu dua hari. Jika yang mulia mengalami keluhan lainnya, anda bisa langsung menghubungi saya. Bawahan ini izin mengundurkan diri, yang mulia."
Xiao Mingyui mengangguk tipis, matanya menatap tabib wanita tersebut. "Terima kasih, kau boleh pergi."
Setelah tabib itu keluar, Bingbing dan Da Xuan masuk secara bersamaan.
"Yang mulia ...." Bingbing langsung duduk di tepi kasur sambil menggenggam erat lengan Xiao Mingyui yang tidak diperban dengan penuh rasa cemas. Sedangkan Da Xuan, wanita itu membungkuk terlebih dahulu dan mematung berdiri sambil menatapnya sedih.
"Anda tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak, kami semua benar-benar khawatir dan tidak habis pikir bagaimana anda dapat menghilang secara mendadak seperti ini?" Bingbing mengatakan itu sambil menahan air matanya jatuh, dia adalah orang yang paling banyak menangis kala Xiao Mingyui resmi dikabarkan hilang secara misterius.
Xiao Mingyui tersenyum tipis, kemudian tangannya bergerak untuk memeluk Bingbing. "Lalu apa yang sekarang kau tangisi? Aku sudah kembali." Kemudian mata Xiao Mingyui menatap Da Xuan, matanya mengisyaratkan Da Xuan untuk bergabung ke dalam pelukannya.
Da Xuan dengan segan bergabung dan memeluk Xiao Mingyui, namun kemudian dia teterlihat tenang dan mulai menikmati pelukannya bersama Xiao Mingyui serta Bingbing.
Ketika Bingbing dan Da Xuan melepas pelukan mereka, tiba-tiba Xiao Xiangqing muncul di depan pintu tenda dengan kedua lengan yang diperban.
Bingbing dan Da Xuan dengan cepat berdiri kemudian berdiri ke arah Xiao Xiangqing, lalu kedua wanita itu berjalan keluar agar dapat memberikan waktu kedua bersaudara itu untuk berdiskusi.
"Kaki anda sepertinya cukup parah," ucap Xiao Xiangqing kala sebelumnya mendengar bahwa kedua kaki kakaknya sebelumnya sempat ditusuk banyak sekali jarum akupuntur.
"Begitu juga dengan kedua lenganmu." Xiao Mingyui membalasnya sambil tersenyum tipis.
Xiao Xiangqing terkekeh. "Ini beruntung, karena kedua telapak tanganku baik-baik saja dan tidak kena perban. Jika iya, ukhh ... itu akan sangat merepotkan."
Xiao Mingyui mengangguk mengerti, kemudian dia menghela napas sambil memandangi dinding tenda besar tempatnya beristirahat. Tak lama kemudian dia kembali menoleh untuk menatap Xiao Xiangqing. "Bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum kalian hilang?"
Xiao Xiangqing mengangguk singkat, kemudian berusaha menarik kursi agar dapat duduk di samping ranjang kakaknya. Walaupun awalnya dia kesulitan karena perban di tangannya, namun akhirnya pria itu berhasil menarik kursi.
Xiao Xiangqing duduk dengan tenang, lalu mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jiejie tahu alasan Jenderal Han ditangkap dan dihukum berat oleh Putra Mahkota?" tanya Xiao Xiangqing.
Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak."
"Itu karena Jenderal Han adalah dalang dibalik masalah ini sekaligus terbukti sebagai kaki tangan Menteri Fang," balas Xiao Xiangqing, kemudian mulai memasuki ceritanya.
Xiao Xiangqing bercerita, bahwa pada awalnya dia dan Xiao Jiwang sama sekali tidak ada niatan untuk pergi ke area gunung Lang Tao, sebab mereka berdua pun tahu seperti apa berbahayanya gunung itu. Tetapi, sore itu sebelum menjelang malam saat Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing sedang berada di perkumpulan para prajurit yang beristirahat, tiba-tiba Jenderal Han datang dan melaporkan bahwa ada beberapa korban ditemukan di area bencana dan sulit dievakuasi.
Mendengar hal itu, Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang dengan cepat pergi ke lokasi bencana. Sejak awal Xiao Xiangqing sendiri telah merasa curiga kepada laporan Jenderal Han, pasalnya ... pria itu mengatakan lokasi sang korban berada di sekitar kaki gunung Lang Tao. Padahal, sebelumnya kepala daerah yang mengurus daerah ini mengatakan tidak ada satu pun warga mereka yang berani mendekati jarak satu kilo meter dari gunung Lang Tao. Dan jika memang ada pun, bencana ini sudah terjadi sekitar tiga hari yang lalu, seharusnya jika posisi korban sulit untuk dievakuasi (terjebak), bukankah berarti seharusnya sang korban tewas karena tidak ada asupan apa pun untuk bertahan hidup ditambah mereka pastinya memiliki luka yang parah. Atau jika tidak mati kelaparan, korban seharusnya mati dimakan monster ganas karena berada dekat dengan kaki gunung Lang Tao.
Tetapi, ketika dia dan Xiao Jiwang sibuk mencari posisi pasti korban, dari atas sana dia melihat beberapa pria berpakaian hitam tak dikenali sedang menyalakan api untuk membakar sumbu bom tersembunyi.
Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang menyadari kehadiran orang-orang itu, namun ... gerakan mereka kalah cepat karena api telanjur membakar sumbu bom. Tak lama kemudian bom itu meledak, namun ... anehnya bom itu tidak memiliki suara apa pun tetapi getarannya terasa sekali.
Tanah, batu, pohon, semuanya hancur dan perlahan meluncur ke bawah gunung layaknya longsor dan gempa. Tidak ada yang melihat beberapa orang misterius itu selain Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang sendiri.
Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang dengan cepat berusaha menghindari batu dan benda kasar lainnya yang menggelinding, mereka kesulitan bertahan kala tanah mulai merosot turun.
Singkat cerita, mereka dibawa ke puncak gunung, letak Istana Utusan Agung tinggal. Mereka disambut ramah, terutama Xiao Xiangqing, pria itu disambut dengan sangat ramah. Kemudian mereka dibawa langsung ke dalam ruangan besar untuk beristirahat, abdi dalam di sana pun bercerita bahwa sebelumnya ayah dan ibu Xiangqing juga pernah mengunjungi Istana ini.
Tetapi, ketika sedang beristirahat dengan tenang, tiba-tiba kaca di hadapan mereka mengeluarkan cahaya dan menampilkan sosok Xiao Mingyui yang telah mengenakan pakaian persis seperti wanita yang hendak melakukan upacara pernikahan.
Xiao Xiangqing tidak begitu senang dengan cara Utusan Agung menggoda kakak perempuannya, hal inilah yang membuat Xiao Xiangqing menjadi tidak begitu ramah dengan Utusan Agung. Lalu, bagaimana dengan Xiao Jiwang? Jangan ditanya lagi, pria itu mendadak membisu dan menonton kejadian itu dengan raut wajah suram.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya ketika mendengar akhir dari cerita Xiao Xiangqing. Ah ... jadi perasaan buruk Xiao Jiwang sudah muncul sebelum bertemu dengannya?
"Xiangqing, menurutmu ... apa yang menyebabkan Putra Mahkota menjadi sangat marah?" tanya Xiao Mingyui, pertanyaannya terdengar sangat polos.
Xiao Xiangqing yang sama 'tidak berpengalamannya' pun ikut menggelengkan kepala. "Aku juga kebingungan, sepertinya pria itu sudah gila? Atau ... dia merasa kesal karena aku mendapatkan perlakuan lebih istimewa? Tch, pecemburu!"
Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. Semua jawaban yang diberikan Xiao Xiangqing menurutnya tidak ada yang masuk akal. Pria itu tidak mungkin mendadak gila, dan ... jika benar cemburu karena perlakuan yang tidak adil, menurutnya ... Xiao Jiwang tidak mungkin menunjukkannya dengan cara yang kekanakan, apa lagi berani bersilat lidah langsung kepada Utusan Agung.
Xiao Mingyui berusaha mengambil posisi duduk, membuat Xiao Xiangqing bergegas berdiri dan membantu kakaknya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Xiao Xiangqing dengan kening terlipat.
"Di mana Putra Mahkota?" tanya Xiao Mingyui.
"Tentu saja di tendanya," jawab Xiao Xiangqing.
"Aku ingin bertemu dengannya, tolong ambilkan tongkat itu." Xiao Mingyui menunjuk tongkat yang bersandar di ujung tiang tempat tidurnya.
Xiao Xiangqing terlihat jengkel. "Untuk apa? Jiejie harus banyak beristirahat."
"Lakukan apa yang aku perintahkan, Xiangqing. Aku ingin menemui Putra Mahkota sekarang." Xiao Mingyui menolak larangan Xiao Xiangqing dengan keras kepala.
Xiao Xiangqing memutar bola matanya malas, kemudian mengambil tongkat itu dan memberikannya kepada Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui menerima tongkat itu, lalu perlahan meletakkan kedua talapak kakinya di alas tenda untuk mengambil ancang-ancang berdiri.
Xiao Mingyui perlahan berdiri dengan bertumpu pada tongkat bantu jalan, keningnya sedikit terlipat kala merasakan nyeri-nyeri kecil muncul di kedua kakinya.
"Aku akan membantumu sampai tenda pria itu," ucap Xiao Xiangqing, kemudian perlahan menggenggam tangan kakaknya agar tidak mudah terjatuh. Dia juga sedikit kerepotan karena harus menjaga perban lengannya agar tidak terkena kakaknya.
Sesampainya di depan tenda Xiao Jiwang, Xiao Xiangqing yang hendak ikut masuk pun gagal karena tiba-tiba Gu Lingchi datang dan mengatakan bahwa Gu Sinjie, ayah pria itu memanggilnya. Dengan penuh rasa kesal, Xiao Xiangqing berjalan menemui Gu Sinjie.
Xiao Mingyui akhirnya masuk sendirian, begitu masuk, dia melihat sosok Xiao Jiwang yang duduk di kursi kayu dengan bertelanjang dada. Pria itu tidak mengenakan pakaian atas, membiarkan bagian atas tubuhnya terbuka bebas. Xiao Mingyui memahami kondisinya, mengingat ada luka dalam di punggung pria itu.
"Kau gila? Apa yang kau lakukan di sini dengan kaki seperti itu?" tanya Xiao Jiwang ketus saat melihat Xiao Mingyui masuk ke dalam tendanya dengan kedua kaki gemetar berusaha terus berjalan.
"Saya hanya ingin memastikan yang mulia baik--" Belum selesai Xiao Mingyui bicara, Xiao Jiwang tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arahnya. Xiao Mingyui sejujurnya sedikit terganggu dengan tubuh kekar pria itu yang terlihat sangat jelas, apa lagi saat Xiao Jiwang mendekat, Xiao Mingyui sedikit membuang tatapannya ke samping.
Xiao Jiwang tiba-tiba mengangkatnya ke atas gendongannya, lalu dengan hati-hati meletakkan Xiao Mingyui tepat di atas kursi yang tadi dia duduki.
"Aku sudah menggendongmu dari puncak gunung sampai kembali kemari agar kakimu baik-baik saja, jika sampai di sini kau keras kepala banyak bergerak yang tidak perlu dan memaksakan terlalu keras otot-ototmu sehingga memperburuk kondisi kakimu, maka aku sendiri yang akan mematahkan kedua kakimu secara langsung. Mengerti?" ucap Xiao Jiwang kesal, kemudian menarik kursi tepat di hadapan Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui tertegun, namun di sisi lain dia sedikit merasa aneh. Apakah ... sekarang Xiao Jiwang sedang mengkhawatirkannya?