The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 50. Tidak Akan Menceraikan Xiao Mingyui



Ketika kotak yang berisi jubah Xiao Jiwang telah berada di tangan Xiao Mingyui, Wu Zeyuan pun akhirnya buka suara.


"Putri Xie, anda mungkin tamu terhormat yang sangat penting untuk hubungan diplomatik negara. Tetapi, tolong hormati petinggi dan tradisi di setiap daerah yang baru saja kau jejaki." Wu Zeyuan mengatakan itu sambil tersenyum ramah, dia berusaha mengeluarkan kalimat sebaik mungkin agar tidak terlalu menyinggung hati Xie Wanting.


Pandangan mata Xie Wanting yang dingin perlahan menghilang, kemudian senyum manis beracun terbit di bibir manisnya. "Tentu, niangniang. Terima kasih banyak atas nasihat anda, Wanting akan mengingat ini dengan sangat baik." Kemudian dia kembali menatap Xiao Mingyui, bibirnya masih tersenyum. "Putri Mingyui, tolong maafkan sikap tidak sopan saya sebelumnya. Saya benar-benar merasa buruk."


Xiao Mingyui mengangguk, bibirnya ikut tersenyum, menyeimbangi senyum manis beracun Xie Wanting. "Jangan terlalu dipikirkan, Putri Xie. Saya baik-baik saja."


"Meimei selalu rendah hati, hal inilah yang membuat aku menyukaimu!" seru Xiao Feluan, kemudian memeluk Xiao Mingyui dari samping. Para nona bangsawan kembali tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah manis Xiao Feluan.


Wu Zeyuan ikut terkekeh, kemudian tangannya bergerak untuk mencubit pipi Xiao Feluan. "Feluan, jangan peluk Putri Mingyui terlalu erat seperti itu! Nanti dia tidak bisa bernapas."


Sementara itu di kantor militer Xiao Wangfu, Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang tengah mengadakan rapat penting dengan para Jenderal dan pejabat lainnya. Begitu rapat selesai, mereka berdua bergegas menuju ruangan kerja pribadi Xiao Xiangqing. Para pejabat yang melihat ini sedikit heran, karena pasalnya dulu dua pangeran itu saling bertolak belakang.


"Yang mulia, mengenai ...." Gu Lingchi yang baru saja datang dan sedikit terkejut karena melihat Xiao Jiwang yang berada di ruangan pribadi Xiao Xiangqing pun ragu untuk menyampaikan hasil laporannya mengenai Mo Wanwan.


Xiao Xiangqing tanpa ragu mengatakan,"Katakan saja."


Gu Lingchi tidak banyak bertanya walaupun dia keheranan di dalam hati. "Mengenai Putri Mo Wanwan, wanita itu ... terbukti bersih. Dan untuk cerita yang sempat anda dapatkan dari Putri Mingyui itu ... juga fakta."


Xiao Xiangqing mengangguk singkat, dia terlihat sedikit merenung di sofa-nya. Xiao Jiwang yang duduk tepat di seberang pria itu menyeringai tipis. "Kau sedang menguntit seorang wanita? Apa Putri perwakilan Kekaisaran Barat itu yang akan mengisi posisi 'Xiao Wangfei' selanjutnya?"


Xiao Xiangqing melotot kesal. "Tidak! Aku mencari tahu informasi mengenai dirinya karena perintah saudariku sendiri, dia juga sempat terlihat mencurigakan di mataku." Xiao Xiangqing tidak menggunakan panggilan atau cara bicara formal kepada Xiao Jiwang. Diam-diam, mereka berdua terpaksa akrab karena Xiao Mingyui. Dan lagi, demi membuat sukses rencana Xiao Mingyui, mereka berdua harus terlihat dekat untuk membuat para pejabat percaya.


Mendengar ini Xiao Jiwang teringat akan sesuatu. "Ah ... Putri Mo itu? Dia adalah satu-satunya keturunan wanita dari Mo Wangye yang sekarang dikabarkan koma selama dua bulan. Kekaisaran Barat juga diam-diam tengah memanas."


Melihat Xiao Xiangqing termenung, Xiao Jiwang pun menambahkan,"Bagaimana jika kau menikahinya? Hal ini dapat menguntungkan Xiao Wangfu juga, bukan? Kondisi Mo Wangfu di sana juga pasti sedang sangat genting. Kamu bisa menjadi pahlawan untuk wanita cantik di sini."


Xiao Xiangqing melirik dingin Xiao Jiwang, dia kesal. "Urus saja dengan baik pernikahanmu dengan saudariku. Jika aku tahu kamu melukai saudariku, lika ratus ribu pasukan akan mengepung Istana sampai hancur."


Xiao Jiwang terkekeh. "Astaga, mengancam penerus takhta. Kamu bisa kehilangan kepala, Xiangqing."


Gu Lingchi yang mendengar pembicaraan mereka mmebatu. Apakah ... seperti ini topik bercanda para penguasa?


"Kau boleh kembali, Lingchi. Terima kasih." Xiao Xiangqing menghiraukan Xiao Jiwang, matanya mengatakan itu tanpa melihat ke arah Gu Lingchi.


Gu Lingchi mengangguk, dia dengan cepat membungkuk dan pamit undur diri untuk pergi. Setelah di ruangan itu tersisa mereka berdua lagi, Xiao Xiangqing segera bertanya,"Kamu sudah memikirkan jalan selanjutnya setelah menikah dengan Jiejie-ku nanti?"


Xiao Jiwang menaikkan alis kirinya. "Rencana selanjutnya setelah menikah?" Pria itu merasa heran.


Xiao Xiangqing terlihat lebih heran. "Tentu saja jalan rencana perceraian. Kamu tidak berencana untuk menahan saudariku, bukan? Lagi pula kalian menikah tanpa--"


"Bagaimana jika aku tidak akan menceraikannya?" tanya Xiao Jiwang, memotong kalimat Xiao Xiangqing.


Xiao Xiangqing tersenyum dingin. "Jangan bercanda, kau gila?" Di akhir kalimat senyum Xiao Xiangqing menghilang.


Xiao Jiwang menyeringai tipis. "Untuk apa aku bercanda?"


"Apa alasannya?" tanya Xiao Xiangqing.


Xiao Jiwang mengerutkan keningnya. "Jika aku menceraikan saudarimu, harga dirinya akan hancur. Tidak akan ada yang berani menikahi saudarimu selanjutnya karena dia dianggap telah 'dibuang'."


"Maka dari itu kita butuh rencana agar--" Belum selesai Xiao Xiangqing bicara, Xiao Jiwang telah kembali memotongnya.


"Aku tidak akan pernah menceraikan Xiao Mingyui." Dengan tegas, Xiao Jiwang berkata demikian. Membuat Xiao Xiangqing menatapnya kesal, dia melihat Xiao Jiwang seperti orang aneh.


Melihat Xiao Xiangqing masih diam, Xiao Jiwang segera menambahkan,"Aku akan bertanggungjawab penuh akan saudarimu baik sebelum ataupun sesudah menikah."


"Aku tidak peduli dengan semua itu, yang aku pedulikan hanyalah perasaan saudariku. Dia tidak--"


"Aku mencintainya. Dan dia, juga mencintaiku." Xiao Jiwang memotong kesekian kalinya.


Xiao Xiangqing melotot kesal. "Tidak mungkin! Jiejie itu--!"


"Kami sudah saling menyatakan perasaan! Apa susahnya kau terima fakta ini?!" Xiao Jiwang ikut kesal, dia tidak mengerti mengapa Xiao Xiangqing tidak mau percaya. Seburuk itukah dirinya?! Sialan Xiangqing!


Xiao Xiangqing menggeleng, lalu membuang wajahnya dari Xiao Jiwang. "Tidak, aku tidak percaya! Aku tidak percaya dengan semua yang kau katakan sebelum saudariku sendiri yang mengatakannya!"


Xiao Jiwang memutar bola matanya malas, lalu beranjak berdiri sambil berkata,"Silahkan ambil keputusan sesuka hatimu, aku ingin mengurus pernikahanku." Kemudian dia berlanggang pergi meninggalkan Xiao Xiangqing dengan perasaan tidak terima.


Xiao Xiangqing kesal! Berengsek! Dia dan Xiao Jiwang?! Keluarga sungguhan?! Kakaknya mencintai pria seperti itu??


YANG BENAR SAJA!!


Di tempat lain, puncak gunung Lang Tao, Istana Kediaman Utusan Agung. Musik bermelodi sedih menari di telinga, sepertinya tuan rumah tempat tersebut sedang dilanda kegalauan.


"Baobao, apa kita harus turun saja dan menjemput pengantinku kemari? Aku sangat merindukannya ...." Utusan Agung bertanya kepada pelayan pribadinya, wajah pria itu terlihat sangat lesu.


Pria bernama Baobao itupun menggeleng cepat. "Ide buruk, yang mulia! Anda dapat terkena murka Tuhan nanti jika nekat turun dan membuat kerusuhan di bawah sana!"


Utusan Agung mendengus kesal. "Aku tidak membuat kerusuhan! Aku hanya menjemput Xiao Mingyui!"


Baobao menghela napas tipis. "Tetapi ... banyak yang akan menahannya, yang mulia. Hal inilah yang akan menyebabkan keributan. Kehadiran anda tidak boleh ditunjukkan secara sembarangan di hadapan umat manusia biasa."


"Tetapi aku sangat merindukannya ...." Utusan Agung terdengar sangat frustasi dengan kerinduan di hatinya. Dia benar-benar merindukan Xiao Mingyui, dia iri terhadap manusia biasa lainnya yang dapat bertemu dengan Xiao Mingyui kapanpun mereka mau. Berbeda dengan dirinya yang tidak boleh turun dari gunung Lang Tao secara sembarangan.


"Bukankah anda bisa menemui Putri Mingyui di mimpinya?" tanya Baobao, memberikan satu solusi yang sempat dilupakan.


Ketika mendengar ini, Utusan Agung dengan cepat pulih. Pria itu terlihat sangat bersemangat. "Benar! Tetapi ... cara itu cukup menguras energi tenaga dalam, Baobao."


Baobao berdecak. "Ck ... ck ... ck ... Yang mulia, seharusnya anda tidak perlu ragu untuk cinta."


Utusan Agung tertegun, kemudian matanya tampak berbinar penuh semangat. "Benar! Aku seharusnya tidak ragu!"