
Pesta teh telah selesai, seluruh tamu termasuk Wu Zeyuan telah kembali ke tempat masing-masing. Begitu juga dengan Xiao Mingyui, wanita itu hendak keluar dari paviliun Istana Kediaman Wu Zeyuan.
Ketika hendak naik ke atas tandu, Xie Wanting yang telah pamit undur diri lebih dulu sebelumnya tiba-tiba muncul dengan raut wajah suram.
"Putri Mingyui."
Xiao Mingyui menghentikan langkahnya, kemudian menatap Xie Wanting dengan tatapan mata dinginnya. Wanita itu tersenyum tipis ke arah Xie Wanting.
"Anda kembali? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Xiao Mingyui walaupun dia tahu alasan wanita itu kembali adalah dirinya.
Xie Wanting menggeleng. "Saya kembali karena ingin membicarakan sesuatu kepada anda."
Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya sekilas. "Ah ... seperti itu? Mengenai apa?"
"Masalah tadi. Apakah anda sengaja bersikap baik agar dapat mempermalukan saya? Apa anda melakukan hal keji seperti itu karena cemburu Putra Mahkota menaruh kepedulian terhadap saya?" tanya Xie Wanting, wajahnya nampak suram. Kedua tangannya mengepal erat.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Sengaja mempermalukan anda?"
Xie Wanting mengangguk. "Benar. Apa anda selicik itu? Anda tega melakukan hal kejam kepada saya hanya karena Putra Mahkota perhatian terhadap saya? Putri Mingyui, bahkan jika anda sungguh telah resmi menjadi Putri Mahkota kemudian Huanghou Kekaisaran Timur, Putra Mahkota masih dapat memiliki selir dan anda--"
"Lancang! Pengawal tang--!" Bingbing yang diam di belakang pun berusaha berseru memanggil pengawal untuk menangkap Xie Wanting karena berani mengucapkan kalimat lancang kepada majikannya. Tetapi, kalimat itu ditahan Xiao Mingyui.
"Tidak perlu kasar, Bingbing. Aku baik-baik saja." Xiao Mingyui tersenyum ke arah Bingbing, kemudian kembali menatap Xie Wanting.
Xiao Mingyui berjalan ke arah Xie Wanting, senyumannya perlahan menghilang. Tatapan matanya semakin dingin, aura membunuh mulai keluar. Xie Wanting yang merasakan penekanan aura tidak biasa dari Xiao Mingyui mendadak gugup.
"A--apa yang ingin anda lakukan?!" tanya Xie Wanting, kemudian mengambil langkah mundur sedikit untuk menjauhi Xiao Mingyui. Tetapi gagal, Xiao Mingyui selalu mengikuti langkah kakinya.
Xiao Mingyui berhenti tepat di hadapan Xie Wanting, kemudian membungkuk sedikit untuk berbisik di telinga Xie Wanting.
"Bahkan ayahmu sang Raja Huan Tenggara harus berpikir seribu kali untuk mengucapkan kalimat lancang seperti itu terhadapku," bisik Xiao Mingyui, kemudian tangan kanannya bergerak untuk menepuk pundak Xie Wanting pelan, membuat tubuh wanita itu tersentak kecil karena terkejut.
Xie Wanting mendadak membisu, tubuhnya pun ragu untuk bergerak. Dia merasa seolah jika tubuhnya bergerak sedikit saja, maka Xiao Mingyui akan membunuhnya di tempat.
"Kamu pendatang baru yang tidak tahu apa pun, aku tidak menyarankanmu untuk bertindak gegabah. Kamu mungkin sesuatu yang berharga di Huan Tenggara, tetapi di sini ... kamu bukan apa-apa." Xiao Mingyui kembali berbisik.
Xie Wanting mengepalkan kedua tangannya lebih erat, kemudian dia memberanikan diri untuk membalas tatapan tajam penuh kedinginan Xiao Mingyui.
"Apa yang anda katakan dapat memicu perang besar terhadap--"
"Terhadap apa? Kerajaan Huan Tenggara dan Kekaisaran Timur? Sadari siapa yang lebih dulu menggigit. Bahkan jika terjadi perang pun, Kekaisaran Timur tak akan pernah risau. Bahkan dengan satu kalimatku, aku dapat membuat lima ratus ribu pasukan Xiao Wangfu mengepung rata Huan Tenggara." Xiao Mingyui memotong kalimat Xie Wanting, membuat wanita itu terdiam.
Xiao Mingyui kembali menegakkan badannya, matanya masih menatap lekat wajah ketakutan Xie Wanting.
"Jika ingin Kerajaanmu tetap ada sampai kau kembali, bersikap baik dan waras lah di sini. Aku diam bukan karena takut terhadap Kerajaan Huan Tenggara ataupun para petinggi lainnya. Aku diam karena menghormati apa yang telah terjadi dan ditinggalkan oleh mendiang Xiao Wangye sebelumnya. Jika bukan karena mendiang Xiao Wangye sebelumnya yang masih setuju Kerajaan Huan Tenggara ada, maka kau tidak akan pernah lahir sekarang. Dengar, aku tidak pernah ragu untuk membunuh seseorang. Ini peringatan dariku untukmu, cerna dan lakukan itu dengan baik." Setelah mengatakan ini, Xiao Mingyui berbalik dan naik ke atas tandu-nya menuju kereta kuda Xiao Wangfu yang telah menunggu di pintu masuk Istana.
Xiao Mingyui masuk dan duduk di tandu-nya dengan raut wajah datar dan tenang, seolah tak pernah membunuh seseorang yang berkaitan dengan kedamaian dua negara serta kematian. Wanita itu benar-benar memiliki hati yang beku, dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi melalui kalimat ancamannya barusan. Hal ini dia lakukan untuk menghindari keras drama pertikaian wanita klasik yang memperebutkan pria. Xiao Mingyui tidak ingin fokusnya terhadap Xiao Wangfu terbagi menjadi dua.
Sesuai prosedur, Xiao Mingyui harus turun untuk membungkuk ke arah Xiao Jiwang. Bahkan jika pria itu tak ikut berhenti untuk membalas salamnya, jika status yang lebih rendah bertemu dengan status yang lebih tinggi, mereka harus tetap membungkuk.
Ketika Xiao Mingyui keluar dan membungkuk, tiba-tiba kuda Xiao Jiwang berhenti tepat di hadapannya.
Xiao Mingyui mendongak, matanya melihat Xiao Xiangqing yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu sibuk?" tanya Xiao Xiangqing.
Xiao Mingyui menggeleng. "Kebetulan tidak."
Xiao Xiangqing mengangguk mengerti, kemudian menjulurkan tangan kanannya ke arah Xiao Mingyui. "Mau mampir ke Istana Kediamanku lebih dulu untuk memeriksa perlengkapan pernikahan?"
Xiao Mingyui mengangguk, saat tangannya membalas juluran Xiao Mingyui, pria itu langsung menarik tubuh Xiao Mingyui ke atas kuda. Kini, Xiao Mingyui duduk di atas kuda tepat di hadapan Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang melirik ke arah Bingbing. "Bawa langsung kereta kuda Putri Mingyui ke tempatku."
Bingbing mengangguk, kemudian membungkuk dalam. Setelah itu, Xiao Jiwang kembali memacu laju kudanya.
Sesampainya di sana, Xiao Mingyui langsung digendong turun dari atas kuda hingga masuk ke dalam ruangan Xiao Jiwang. Para pelayan yang melihat ini terkejut, namun mereka tidak berani berkomentar apa pun. Wajah mereka memerah ketika melihat pemandangan itu.
Xiao Jiwang meletakkan Xiao Mingyui di kursinya, Xiao Mingyui sudah lebih dulu memperhatikan barang-barang yang ada di kamar Xiao Jiwang. Banyak sekali perlengkapan pernikahan, dari kain sutra yang berpeti-peti, lalu perhiasan, dan barang-barang mahal lainnya.
"Aku tidak tahu mana yang akan kau sukai, tetapi aku menyiapkan semua ini sesuai dengan pilihan Mufei." Xiao Jiwang menunjuk semua barang yang ada di ruangannya.
Xiao Mingyui tersenyum tipis, kemudian dia beranjak berdiri dan berjalan mendekati barang-barang tersebut. Hal pertama yang dia sentuh adalah kain sutra berwarna biru muda yang sangat cantik.
"Jadi anda mulai membuatnya menjadi pernikahan sungguhan?" tanya Xiao Mingyui, matanya masih menatap kain sutra tersebut.
Tangan besar tiba-tiba melingkar di pinggang mungilnya, kemudian hembusan napas hangat terasa sangat dekat di telinga serta lehernya. Xiao Mingyui hanya sedikit menoleh, namun wajahnya sudah hampir menabrak wajah Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang menyandarkan dagunya di bahu Xiao Mingyui, pria itu memeluk calon Putri Mahkota-nya dari belakang.
"Ayolah ... jangan bicara menggunakan kalimat seperti itu!" Xiao Jiwang mendengus tipis, kedua matanya terpejam untuk menghirup aroma tubuh Xiao Mingyui yang membuatnya tenang.
Xiao Mingyui melepas kain tersebut, lalu berputar untuk membalas pelukan Xiao Jiwang. Tangan kanan Xiao Mingyui bergerak naik dan mengelus pipi pria itu. "Kau terlihat lelah hari ini."
Xiao Jiwang mengangguk, kemudian dia bertanya,"Tetapi sepertinya kau juga demikian. Katakan, apa yang terjadi hari ini?"
"Atas dasar apa anda memiliki kesimpulan seperti itu?" tanya Xiao Mingyui heran, dia belum menceritakan apa pun kepada Xiao Jiwang, namun pria itu tahu ada sesuatu yang membuat suasana hatinya sedikit buruk.
Jari telunjuk Xiao Jiwang bergerak untuk menyentuh lembut dahi Xiao Mingyui. "Aku melihat sedikit kerutan di sini ketika kita baru saja bertemu tadi."
Xiao Mingyui tertegun, pria itu memperhatikannya dengan sangat detail seperti itu?