The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 62. Kita Teman ... Kan?



Fang Laowang turun dari kudanya, dia baru saja kembali dari pasar untuk membeli makanan dan minuman. Ketika hendak membuka pintu rumah sederhananya, gerakannya terhenti karena mendengar suara tawa bahagia penuh keceriaan milik ibunya.


"Putri Mingyui, anda adalah teman bicara yang sangat menyenangkan!"


Fang Laowang tertegun. Ibunya dan Xiao Mingyui berbicara dengan sangat akrab dalam waktu singkat? Bibir Fang Laowang tersenggol tipis, dia senang karena akhirnya dapat mendengar suara tawa bahagia ibunya lagi walaupun itu karena Xiao Mingyui.


Fang Laowang membuka pintu rumahnya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Xiao Mingyui dan ibunya yang sedang duduk berdekatan sambil tersenyum bahagia bersama. Dan tak lama Xiao Mingyui menoleh sambil tersenyum tipis. "Anda telah kembali?"


Deg!


Fang Laowang kembali berdebar, kemudian dia tersadar dari lamunannya dan membungkuk singkat. "Benar, yang mulia." Kemudian dia meletakkan barang belanjaannya di atas meja, banyak sekali makanan dan minuman mahal yang Fang Laowang beli.


Yang membuat Fang Laowang terpaku tadi karena suasana hangat yang dia lihat, itu seperti ... sebuah keluarga kecil yang bahagia. Dia yang baru saja pulang kerja dan disambut hangat oleh istrinya serta ibunya.


Fang Laowang menggelengkan kepalanya singkat diam-diam, berusaha menyadarkan dirinya dan kembali mengingat kejadian menyakitkan tadi malam.


Mereka bertiga makan bersama di ruang tamu, bahkan Bingbing pun diajak bergabung. Suasana benar-benar hangat, Han Silue dan Fang Laowang terlihat sangat bahagia. Jika boleh mengatakan fakta ... momen hangat seperti inilah yang didambakan oleh Fang Laowang, dia ingin memiliki keluarga yang hangat dan bahagia. Hanya itu, apakah sesulit itu?


Mereka terus berbincang hingga akhirnya Han Silue harus beristirahat. Xiao Mingyui dan Fang Laowang bersama-sama secara pribadi mengantar Han Silue ke kamarnya. Setelah Han Silue berhasil beristirahat, mereka berdua kembali ke ruang tamu.


"Terima kasih banyak, yang mulia. Saya akan mengantar anda kembali ke--"


"Tidak perlu, tuan muda Fang. Saya dapat kembali secara mandiri, terima kasih banyak." Xiao Mingyui menolak halus.


Fang Laowang mengangguk, mengerti. "Kalau begitu izinkan saya mengantar anda ke kereta kuda."


Xiao Mingyui mengangguk setuju, ketika Xiao Mingyui hendak melangkah lebih dekat ke kereta, Fang Laowang memanggilnya lagi, membuat langkah Xiao Mingyui tertahan.


"Yang mulia."


Xiao Mingyui menoleh. "Apa masih ada sesuatu lagi, Tuan muda Fang?"


Fang Laowang membungkuk dalam secara tiba-tiba, membuat Xiao Mingyui bingung. "Saya memiliki satu permohonan."


Xiao Mingyui mengangguk singkat. "Katakan."


"Saya tahu ini sangat lancang dan akan merepotkan yang mulia, namun ... ini demi ibu saya. Yang mulia, tolong lebih sering berkunjung kemari. Ibu saya terlihat bahagia ketika bersama anda, dan saya ... saya ingin melihat senyum ceria beliau lagi." Fang Laowang mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, kedua tangannya mengepal di samping. Dia bersumpah mengatakan ini murni untuk ibunya, sama sekali tidak ada ego atau perasaannya yang ikut campur.


Xiao Mingyui terdiam sejenak. Mereka berdua ... Fang Laowang dan Han Silue, mereka benar-benar saling menyayangi satu sama lain. Kedua duanya memohon kepada Xiao Mingyui agar dapat saling membahagiakan.


Melihat Xiao Mingyui hanya diam menatapnya, Fang Laowang kemabli melanjutkan bicaranya. "Yang mulia, saya bersumpah ketika mengatakan ini adalah murni untuk ibu saya. Saya sama sekali tidak mencampur permohonan saya yang ini dengan masalah kemarin malam."


Belum sempat Xiao Mingyui membalas, tiba-tiba Bingbing mendekat dan memberikan lipatan kertas putih ke arahnya.


"Yang mulia."


Xiao Mingyui mengambil surat itu terlebih dahulu, lalu membacanya. Ketika melihat isinya, dia mengetahui bahwa ini berasal dari Istana yang dikirim menggunakan burung. Kaisar memanggilnya ke Istana menggunakan surat seperti ini? Sepertinya panggilan ini bukan panggilan biasa.


Xiao Mingyui kembali melipat surat tersebut, lalu menyimpannya dan menatap Fang Laowang lagi.


Xiao Mingyui mengulurkan tangan kanannya ke arah Fang Laowang yang masih berlutut, membuat pria itu sedikit terkejut dan mengangkat kepalanya.


"Tegak lah, Tuan muda Fang. Sejujurnya saya sangat terharu dengan kasih sayang kalian satu sama lain. Tuan muda Fang, saya telah melupakan kejadian tadi malam, namun bukan berarti saya menganggap remeh anda. Saya menghargai seluruh yang anda katakan semalam, terima kasih dan maaf. Sebagai gantinya, saya akan menyetujui permintaan anda yang ini. Tentu saja, saya akan mengabulinya, karena kita adalah teman ... kan?" ucap Xiao Mingyui, tersenyum.


Fang Laowang tertegun, kemudian dia membalas uluran tangan Xiao Mingyui dan kembali berdiri tegak. Bibirnya tersenyum senang meskipun hatinya sedikit terluka karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan, namun ... situasi ini lebih baik dari pada dia dan Xiao Mingyui harus saling membenci.


"Tentu saja. Saya bersumpah akan setia kepada anda dan Xiao Wangfu serta Kekaisaran ini." Fang Laowang menjabat tangan Xiao Mingyui erat, mereka berdua tersenyum puas.


"Jika aku gagal menjadi kekasihmu, izinkan aku menjadi seseorang yang tetap menemanimu setidaknya untuk mengukir kedamaian dunia ini, Xiao Mingyui." Batin Fang Laowang, keningnya sedikit terlipat khusyuk saat mengatakan hal ini di dalam hati.


Sementara itu di Istana, ruang kerja Xiao Jihuang, suasana sedang sedikit menegang.


Xiao Jiwang, Xiao Xiangqing, mereka berdua sudah berada di sana lebih dulu. Hingga akhirnya Xiao Mingyui datang, mereka berempat mulai melakukan diskusi.


"Ada yang mencurigakan di putri perwakilan Huan Tenggara itu." Raut wajah Xiao Jihuang dan Xiao Jiwang terlihat buruk, ayah dan anak itu sepertinya sedang mengalami persoalan yang sama.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Xiao Mingyui.


Xiao Jihuang mengangguk. "Baru saja ditemukan kandungan racun di dupa pengharum ruangan Wu Guifei. Ada seorang pelayan yang bersaksi bahwa dia melihat putri Xie Wanting tengah malam berada di gudang penyimpanan dupa Istana."


Xiao Mingyui yang mendengar ini dengan cepat melirik adiknya. "Xiao Wangye, anda telah menceritakan apa yang kita dapatkan tadi malam kepada Kaisar?" Xiao Mingyui menggunakan cara bicara formal kepada adiknya di hadapan Xiao Jihuang.


Xiao Xiangqing menggeleng, kemudian mulai menceritakan apa yang telah mereka dapatkan kemarin malam. Begitu Xiao Xiangqing selesai menjelaskan, Xiao Jihuang mengambil kuas di atas mejanya dan membantingnya ke lantai.


"Kurangajar! Mereka berani menyentuh istri zhen!" Xiao Jihuang terlihat sangat marah, Xiao Mingyui yang melihat ini dengan cepat menuangkan air ke dalam cangkir Xiao Jihuang dan menyuguhkannya untuk pria itu.


"Yang mulia, tenangkan diri anda. Saya, Xiao Wangye, dan Putra Mahkota akan membantu anda," ucap Xiao Mingyui.


Ketika Xiao Jihuang mulai kembali tenang, Xiao Mingyui pun kembali bicara,"Kabar baiknya, kita mendapatkan 'teman' baru."


"Teman baru?" tanya Xiao Xiangqing bingung.


Xiao Mingyui mengangguk. "Hari ini saya sempat mengunjungi kuil tua yang terletak di pojok Utara Ibu Kota. Saya tidak sengaja bertemu dengan Tuan Muda Fang di sana, lalu beliau mengajak saya berdiskusi dan menawarkan kerjasama."


"Tidak. Bagaimana jika itu adalah jebakan?" Xiao Jiwang menjadi orang pertama yang menentang, dia sepertinya sangat tidak menyukai Fang Laowang, entah apa masalahnya. Hanya pria itu yang tahu.


Xiao Mingyui menggeleng, matanya menatap Xiao Jiwang. "Tidak, yang mulia. Saya memiliki kartu kematian Tuan Muda Fang, pria itu tidak akan berani berbuat macam-macam." Kemudian Xiao Mingyui diam menatap tiga pria di hadapannya menunggu jawaban.


"Aku tidak setuju." Xiao Jiwang tetap keras kepala, raut wajahnya suram setiap kali membahas Fang Laowang.


"Saya setuju."


"Zhen setuju."


Xiao Mingyui tersenyum, lalu menatap Xiao Jiwang lagi. "Bagaimana, yang mulia? Dua setuju dan satu tidak, saya tentu akan mengambil suara terbanyak."


"Kau-!!"


"Putra mahkota, di mana salahnya? Bukankah itu adalah sesuatu yang sangat baik? Kita dapat mengetahui rahasia musuh sehingga mudah melawan balik atau membuat pertahanan." Xiao Jihuang menatap heran anaknya, dia juga tidak mengerti apa yang membuat Xiao Jiwang menolak.


Xiao Jiwang berdecak kesal, lalu berkata,"Ya, baiklah!" Lalu matanya menatap Xiao Mingyui, tatapannya terlihat sedang menahan sesuatu untuk diungkapkan.


"Tuan muda Fang juga sudah memverifikasi mengenai pemberontakan yang akan dilakukan keluarganya serta Kerajaan Huan Tenggara. Yang mulia, keputusan untuk berperang dan tidak ada di tangan anda," ujar Xiao Mingyui lagi.


Raut wajah Xiao Xiangqing dan Putra Mahkota kembali jauh lebih serius, karena jika perang pecah, maka mereka berdua lah yang harus terjun langsung memimpin perang. Terutama Xiao Xiangqing, dia sudah pasti menjadi pemimpin besar pasukan. Sedangkan Xiao Jiwang? Pria itu adalah penerus takhta, dia akan menjadi pemimpin perang jika Xiao Jihuang memang rela membiarkan penerusnya berperang. Kemungkinan pria itu turut berperang masih dipertanyakan.


Xiao Jihuang menatap tiga penerus petinggi Kekaisaran, lalu berkata,"Kita tidak bisa secara tiba-tiba mengumumkan peperangan, maka dari itu, bergerak lah lebih cepat untuk menemukan bukti perbuatan Putri Xie Wanting dan bukti pemberontakan yang ingin dilakukan oleh keluarga Fang. Zhen akan membagi tugas kepada kalian bertiga."


Xiao Mingyui, Xiao Xiangqing, dan Xiao Jiwang mengangguk.


"Baik, yang mulia." Mereka bertiga membungkuk dan mengatakan itu dengan serempak.