The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 18. Fang Laowang



Sepulang dari Gu Fu menemui Baili Ruyi, Xiao Mingyui banyak melamun di dalam kereta. Ketika pikirannya sedang sibuk dengan berbagai macam hal, tiba-tiba kereta kudanya berhenti, lalu suara Bingbing terdengar berbisik dari balik pintu kereta.


"Yang mulia, ada kereta entah milik bangsawan mana. Dia tidak bersedia mengalah."


Xiao Mingyui menghela napas tipis, siapa orang itu? Ini adalah pengalaman pertama yang dia dapati, sebelumnya tidak pernah ada yang berani menghadang kereta kuda Xiao Wangfu.


Xiao Mingyui tidak bisa mundur begitu saja, karena itu akan melukai harga dirinya. Sepertinya pemilik kereta kuda yang tidak mau mundur ini adalah pendatang baru di Ibu Kota.


Tiba-tiba suara pria asing terdengar dari luar kereta, membuat Xiao Mingyui mengangkat tirai jendela-nya sedikit.


"Mohon maaf, yang mulia putri Xiao Mingyui. Tetapi, kereta tuan muda kami tidak bisa mundur karena sedang tergesa-gesa. Tuan muda kami terluka parah, mohon kerendahan hati yang mulia."


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. Pengawal itu mengenali dirinya? Berarti dia bukan orang asing.


"Apa yang terjadi?" tanya Xiao Mingyui, nada bicaranya sangat tenang dan jernih, membuat pengawal itu berdebar karena takjub dengan aura Xiao Mingyui.


"Menjawab, yang mulia. Tuan muda kami baru saja kembali dari Kota Fuchang, lalu di tengah jalan kami sempat diserang oleh bandit-bandit gunung, menyebabkan tuan muda kami mengalami luka tusuk dalam di bagian perut."


Xiao Mingyui mengangguk singkat, lalu membuka pintu kereta tanpa bantuan Bingbing. Bingbing terkejut, namun dia tidak berbicara apa pun.


Selagi turun dari kereta kuda dengan bantuan Bingbing, Xiao Mingyui berkata,"Pendarahannya pasti sangat parah, aku bisa mencium aromanya sangat pekat. Jika harus pergi ke tabib tidak akan sempat, jaraknya masih terlalu jauh dari sini."


Pengawal itu tertegun melihat sosok Xiao Mingyui. "Eh?"


Xiao Mingyui melirik dingin. "Buka pintu kereta kalian, aku akan membantu sedikit."


Pengawal itu masih bengong, dia tidak menyangka Xiao Mingyui sangat murah hati. Bingbing yang melihat pengawal itu hanya diam merasa kesal.


"Lancang! Putri sudah berbaik hati akan membantu, namun anda hanya diam saja? Buka pintunya!"


Pengawal itu terkesiap, dia bergegas berlari ke arah pintu kereta kuda milik majikannya dan mempersilahkan Xiao Mingyui untuk masuk.


Xiao Mingyui masuk ke dalam kereta. Raut wajah dan tatapannya datar walaupun bau amis darah semakin pekat. Di dalam, dia melihat seorang pria duduk dengan mata terpejam dan tangan kanan yang memeluk erat perutnya yang sudah dibalut kain. Kain itu penuh dengan darah, bahkan warna aslinya hampir tertutupi.


Rambut pria itu tidak hitam atau putih layaknya albino seperti Rong Wangxia, tetapi pirang. Warna blonde yang identik dengan orang-orang benua Barat.


Perlahan mata pria itu terbuka, ketika mata kesakitan itu menatap Xiao Mingyui yang dingin, dengan cepat dia kembali menunduk. Xiao Mingyui pun terdiam di posisinya, jantungnya seakan berhenti berdetak kala melihat warna bola mata pria itu.


Pria itu memiliki bola mata berwarna biru, persis seperti mendiang ayahnya. Bukan bola mata biru biasa yang dimiliki oleh keturunan benua Barat, tetapi bola mata khas yang hanya pernah dia lihat di sosok ayahnya. Mata biru yang sangat berkilau dan memancarkan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.


"Maafkan saya ... karena tidak bisa memberi ... hormat pada anda, yang mulia ...." Pria itu sedikit terbata untuk bicara, sepertinya luka di perutnya sangat menyiksanya.


"Izinkan saya menyentuh anda. Perlu diingat, saya adalah tabib dan anda adalah pasien yang membutuhkan pengobatan. Sentuhan yang akan terjadi nanti adalah bagian dari proses pengobatan." Xiao Mingyui memberikan penegasan sebelum memulai pengobatan, karena di zaman ini, sentuhan intens wanita dan pria adalah hal tabu. Terlebih mereka adalah seorang bangsawan.


Pria itu mengangguk singkat, lalu dengan hati-hati melepas pakaiannya. Kain penuh darah itu pun dibuang ke dasar kereta, kini pria itu bertelanjang dada di hadapan Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui mengeluarkan sapu tangannya, kemudian mulai membersihkan darah yang terus mengalir keluar dari luka pria itu. Setelah bersih, Xiao Mingyui pun turut membuang sapu tangannya ke dasar kereta. Wanita itu dengan cepat meletakkan kedua telapak tangannya di atas luka pria itu.


Sebuah cahaya berwarna biru muda muncul dari telapak tangan Xiao Mingyui, wanita itu mengolah kekuatan dalamnya menjadi pengobatan medis untuk pria itu. Pria itu pun menatap Xiao Mingyui dengan keningnya bertaut karena rasa sakitnya.


Xiao Mingyui terlalu fokus, sampai tidak menyadari beberapa bulir keringat mulai turun dan membasahi keningnya yang cantik. Tatapan mata pria itu pun semakin lekat, dia terus memperhatikan Xiao Mingyui selagi wanita itu sibuk mengobatinya.


Setelah selesai, Xiao Mingyui menarik kedua telapak tangannya, lalu menarik napas sebentar. Luka pria itu cukup parah, tenaganya hampir habis karena hampir semua kekuatan dalamnya dia kerahkan.


Xiao Mingyui membuka tirai jendela untuk bertanya,"Apa kalian memiliki kain bersih yang cukup panjang?"


Bingbing dan pengawal itu saling tatap, lalu menggeleng pelan dengan raut wajah bingung.


"Tidak, yang mulia."


Xiao Mingyui menutup tirai jendela agi, lalu menatap pria itu. Tatapan mereka kembali bertemu, lalu dengan cepat Xiao Mingyui menarik tatapannya untuk berpikir cepat sambil melihat ke arah luka yang sudah jauh membaik walaupun masih basah.


Xiao Mingyui menghela napas tipis, kemudian dengan terpaksa merobek kain hanfu-nya sendiri. Pria itu terlihat sangat terkejut, wajahnya menatap Xiao Mingyui bingung. "Yang mulia--"


"Diam." Xiao Mingyui memotong cepat, dia ingin urusan ini segera selesai. Tidak peduli hanfu-nya akan rusak.


Xiao Mingyui melilitkan kain ke pinggang pria itu hingga menutup lukanya. Setelah selesai, dia dengan cepat mengikatnya erat dan menatap pria itu lagi. "Pergi ke toko obat dan beli salep khusus di sana agar lukanya cepat kering. Jangan biarkan luka ini terkena air secara berlebihan."


Pria itu menatap perutnya yang sudah bersih dari darah, kemudian bibirnya tersenyum dan menatap Xiao Mingyui lagi. "Terima kasih banyak, yang mulia. Saya tidak akan melupakan kebaikan anda."


Xiao Mingyui mengangguk singkat, ketika dia hendak beranjak pergi, tiba-tiba pria itu mengucapkan sesuatu lagi. "Maafkan saya karena telah merepotkan anda dan belum sempat memperkenalkan diri secara formal. Saya Fang Laowang, putra sulung Mentri Fang."


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, pandangan matanya dengan cepat berubah. Fang Laowang yang menyadari ini pun merasa bingung, dia tidak tahu alasan atas berubahnya ekspresi Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui dengan cepat bergegas turun dari kereta. "Ya, baiklah." Wanita itu tidak menoleh sedikitpun, membuat Fang Laowang khawatir. Apa dia sempat mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan Xiao Mingyui?


Begitu turun, Xiao Mingyui langsung naik ke dalam kereta kuda Xiao Wangfu kembali. Bingbing sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat noda darah dan kain hanfu yang robek di hanfu majikannya.


Ketika Xiao Mingyui sudah berada di dalam kereta, kereta kuda milik Fang Laowang mundur, lalu kereta kuda Xiao Wangfu pun melaju melewati mereka begitu saja.


Xiao Mingyui menghela napas tipis, astaga ... dia baru saja menyelamatkan musuhnya sendiri. Tetapi, mengingat ekspresi pria itu yang bingung dan tidak ada gerak gerik mencurigakan darinya, Xiao Mingyui berpendapat bahwa sepertinya Fang Laowang tidak tahu menahu mengenai persoalan panas yang sedang terjadi di Ibu Kota.