
Fang Laowang seperti biasa mengunjungi ibunya. Ibu Kota hari ini sedang sangat sibuk karena hilangnya Fang Ji chang secara tiba-tiba dan deklarasi perang yang resmi diumumkan.
Atas bantuan dan perlindungan secara pribadi dari Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing, Fang Laowang bebas dari penangkapan keluarga Fang.
"Ibu?"
Fang Laowang membuka pintu rumah persembunyian ibunya dan masuk, dia mulai sedikit merasakan keanehan ketika menyadari suasana sangat sepi dan dingin. Tidak seperti biasanya.
Fang Laowang melangkah menuju kamar ibunya, hingga akhirnya ia mematung dengan perasaan syok. Ibunya, kini telah berbaring di atas ranjang dengan bersimbah darah.
Fang Laowang dengan lemas dan gemetar mendekati jasad ibunya, lalu memeluk Han Silue erat. Air mata Fang Laowang mulai berjatuhan, hati dan pikirannya terguncang hebat. Dia tidak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini menimpa ibu dan dirinya.
"Ibu ...." Fang Laowang menangis, dia tidak peduli dengan darah ibunya yang ikut menempel di pakaiannya.
Fang Laowang menangis cukup lama, hingga akhirnya dia mulai berhenti walaupun hatinya masih sangat terluka. Dengan lembut Fang Laowang meletakkan kembali jasad ibunya di ranjang, lalu memperhatikan ruangan sekitar untuk menemukan petunjuk seseorang yang menyelinap kemari.
Ketika sedang memperhatikan, pandangan Fang Laowang berhenti di cermin tembaga. Di cermin itu tertulis 'Xiao', tintanya adalah darah ibunya.
"Xiao?" Melihat nama 'Xiao' tertulis nyata di cermin, hati Fang Laowang semakin remuk. Tulisan itu jelas milik ibunya, kemungkinan ibunya berusaha menulis nama orang yang berusaha membunuhnya sebelum mati.
Kedua telapak tangan Fang Laowang mengepal erat, lalu dengan cepat dia mengarahkan tinju keras ke arah cermin. Membuat cermin itu remuk dan tak berbentuk lagi.
"ARGHH!!"
PRANGG!!
Satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan ibunya adalah Xiao Mingyui, dan kini dia menemukan tanda 'Xiao' di tempat kejadian pembunuhan ibunya. Maka, tidak salah jika Fang Laowang beranggapan bahwa Xiao Mingyui lah yang membunuh ibunya.
"Wanita itu ... pengkhianat!!!" Fang Laowang mengatakan itu dengan emosi yang sangat tinggi, kedua sudut alisnya menyatu, air mata masih mengalir dari matanya. Hatinya remuk, dunianya hancur hari ini.
Sementara itu Xiao Mingyui berdiri di depan pintu gerbang Ibu Kota. Pasukan Xiao Wangfu telah berkumpul di sana, Xiao Xiangqing berada di barisan paling depan bersama Xiao Jiwang. Setelah rapat panjang dan menimang keputusan berkali-kali, akhirnya Xiao Jiwang resmi turun untuk menemani Xiao Xiangqing memimpin pasukan.
Wu Zeyuan ada di sana untuk mengantar kepergian mereka, wanita itu menangis sambil memeluk Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing bersamaan. Dia sangat cemas membiarkan kedua pria yang telah dia sayang sejak kecil harus pergi berperang sekarang.
"Mufei, semua akan baik-baik saja." Xiao Jiwang membalas pelukan ibunya. Ini pertama kalinya dia menunjukkan sisi lembutnya di hadapan publik secara terang-terangan.
"Niangniang, anda tidak perlu khawatir." Xiao Xiangqing pun membantu Xiao Jiwang menenangkan ibunya.
Wu Zeyuan perlahan melepas pelukannya untuk menatap Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang, lalu berkata,"Berjanjilah padaku kalian akan kembali dengan selamat."
Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing mengangguk bersama, Xiao Mingyui yang melihat pemandangan ini tersenyum. Dua pria yang dulu saling bermusuhan dan bersaing, kini telah akur dan bahkan kompak menenangkan Wu Guifei yang tengah khawatir.
Xiao Mingyui maju, lalu berdiri tepat di samping Wu Zeyuan, menatap adiknya dan tunangannya.
"Aku akan menjaga Kekaisaran ini selagi kalian berada di perbatasan. Aku berjanji." Xiao Mingyui tersenyum tipis.
Begitu melihat Xiao Mingyui, Xiao Xiangqing diam-diam mengepalkan kedua tangannya. Satu-satunya orang yang paling berat ia tinggal pergi berperang adalah kakaknya, Xiao Mingyui.
Xiao Xiangqing tiba-tiba berjalan mendekat ke Xiao Mingyui, lalu memeluk wanita itu erat. Xiao Mingyui sedikit terkejut, karena Xiao Xiangqing jarang sekali bersikap seperti ini.
Xiao Xiangqing mengangguk. "Kemampuanku di atas rata-rata, Jiejie tidak perlu meragukanku lagi. Aku sudah dewasa."
Xiao Mingyui terkekeh, mengangguk pelan.
Setelah Xiao Xiangqing selesai memeluknya, kini giliran kontak Xiao Jiwang dan Xiao Mingyui. Xiao Jiwang menatap lekat Xiao Mingyui tanpa bicara, namun matanya menunjukkan bahwa banyak sekali yang ingin ia katakan.
Xiao Mingyui kembali tersenyum, kali ini rasanya sedikit canggung. "Saya akan menunggu kabar baik dari yang mulia di sini."
Xiao Jiwang tidak membalas apa pun, pria itu justru berjalan mendekat dan mengecup kening Xiao Mingyui di depan umum. Seluruh orang yang menyaksikan ini menjerit, khususnya wanita.
Xiao Mingyui tertegun, dia tidak menyangka Xiao Jiwang berani melakukan hal ini. Wajahnya kini sedikit memerah.
"Setelah kemenangan nanti, pernikahan kita tidak akan lagi ada penundaan," ucap Xiao Jiwang, lalu berbalik dan naik ke atas kuda.
Hanya kalimat singkat, namun berhasil membuat Xiao Mingyui tersenyum hangat.
Setelah pasukan mulai melaju pergi meninggalkan Ibu Kota, seluruh rakyat membungkuk ke arah pasukan, termasuk Xiao Mingyui, terkecuali Wu Zeyuan.
Xiao Mingyui dan Wu Zeyuan bergegas pergi menuju kereta kuda untuk kembali ke Istana. Gerbang pintu masuk Ibu Kota pun kembali ditutup rapat, seratus ribu pasukan Xiao Wangfu ditinggalkan di Ibu Kota untuk menjaga Kekaisaran. Sedangkan Xiao Xiangqing dan Xiao Jiwang membawa sekitar tiga ratus ribu pasukan dan selebihnya telah menunggu di perbatasan.
Gu Lingchi dan Chen Qi pun mengikuti tuan mereka untuk berperang, kini para petinggi militer terjun ke medan perang. Xiao Mingyui dan pejabat politik lainnya beserta Kaisar, bertugas untuk mempertahankan Kekaisaran di Ibu Kota.
Kembali ke Fang Laowang, pria itu kini telah kembali ke Fang Fu. Dia baru saja selesai mengubur jasad ibunya, pria itu kembali ke Fang Fu dengan tatapan kosong serta hati yang dingin.
Fang Laowang masuk ke dalam kamarnya, lalu melihat Fang Jichang di sana. Fang Jichang tak lama menoleh, matanya menatap penuh penghinaan kepada Fang Laowang seperti biasa.
"Cepat bereskan seluruh barang-barangmu, kita akan kabur dari Ibu Kota malam ini."
Fang Laowang mengerutkan keningnya, sejak kapan ayahnya ada di sini? Bukankah sejak kekacauan kemarin ayahnya tiba-tiba menghilang?
"Di mana ibumu?" tanya Fang Jichang, membuat emosi kembali mengalir di tubuh Fang Laowang.
"Ibu ... baru saja meninggal, dia dibunuh," jawab Fang Laowang, lalu mengeluarkan kunci harta bawah tanah ibunya. Tetapi Fang Laowang tidak menyerahkannya begitu saja kepada Fang Jichang.
"Dibunubh?!" tanya Fang Jichang terkejut.
Fang Laowang mengangguk singkat, tatapannya kembali mendingin.
"Manusia bermarga Xiao lah yang membunuhnya," ucap Fang Laowang, lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Dia tidak mempedulikan tatakrama lagi di hadapan ayahnya, Fang Laowang sudah sangat lelah.
Fang Jichang tersenyum dingin lalu berkata,"Kamu lihat bukan sekarang? Mereka adalah pengkhianat, Laowang. Mereka tidak pantas memimpin. Itulah alasanku melakukan pemberontakan."
Fang Laowang mengepalkan tangan kanannya lagi, dia diam dan tidak menjawab. Perlahan, Fang Jichang berjalan mendekati anaknya dan meletakkan tangan kanannya di pundak putranya. "Tetapi untuk mengalahkan mereka belum terlambat, kita masih memiliki kesempatan. Demi ibumu, Laowang. Ayo, berjuang bersama ayah dan Huan Tenggara. Kita gulingkan Kekaisaran munafik ini!"
Seperti iblis yang berbisik di telinga manusia, hati dan pikiran Fang Laowang langsung menjadi tak menentu begitu mendengarnya. Tekad jahat baru muncul, dia telah dikuasai oleh amarah dan rasa kecewa. Sayang sekali ... Fang Laowang ....