
"Aku melihat sedikit kerutan di sini ketika kita baru saja bertemu tadi."
>>>>>>
Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Saya baik-baik saja, mungkin yang mulia keliru karena terlalu lelah bekerja?"
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya, dia yakin dengan apa yang dia lihat sebelumnya. Tetapi ... karena Xiao Mingyui berkata demikian, baiklah ....
"Aku sudah mendengar cerita mengenai Putri Mo Kekaisaran Barat. Gu Lingchi memberikan laporan bersih kepada Xiao Wangye," ucap Xiao Jiwang.
Xiao Mingyui melepaskan pelukannya dari Xiao Jiwang, lalu berjalan ke benda lain untuk melihat-lihat sambil menjawab,"Sungguh? Anak itu pasti sedang kesulitan sekarang."
Xiao Jiwang terkekeh. "Wajahnya terlihat sangat kesal, jika bukan karena kamu yang meminta untuk dipertimbangkan, mungkin pria itu sudah menolaknya mentah-mentah."
Xiao Mingyui mengangguk. "Xiangqing adalah anak yang mencintai kebebasan, dia lebih senang bertarung sampai mati di lapangan dari pada berdiam diri di dalam ruangan. Pernikahan mungkin terlalu tiba-tiba untuknya sekarang, pemikirannya terkait hubungan belum terlalu matang."
"Putri Mo memilih pria yang salah, dia pasti akan menangis sepanjang pernikahan." Xiao Jiwang terkekeh ketika mengolok-olok Xiao Xiangqing.
Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan, lalu dia teringat akan sesuatu.
"Kekaisaran Barat dan Huan Tenggara masing-masing mengirimkan utusan seorang wanita. Apakah ... ini adalah langkah awal mereka untuk membujuk Timur mempersunting kedua utusan sebagai alasan mempererat hubungan antar negara?" tanya Xiao Mingyui, matanya menatap Xiao Jiwang tenang.
Xiao Jiwang tidak pernah memikirkan hal ini, mendengar Xiao Mingyui berkata demikian, pria itu termenung sejenak.
Melihat Xiao Jiwang berpikir, Xiao Mingyui melanjutkan,"Jika mereka berniat seperti itu dan mengirimkan wanita sekelas keluarga Kekaisaran atau Kerajaan, bukankah posisi yang mereka incar adalah Harem Kaisar Kekaisaran Timur?" Ada sedikit ego wanita di dalam pertanyaan Xiao Mingyui, matanya menatap Xiao Jiwang lekat, menunggu jawaban pria itu.
"Bukankah itu terlalu kejam? Ayahku sudah tua, namun mereka rela berniat menikahkan putri mereka kepada ayah?" tanya Xiao Jiwang, matanya menatap aneh Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui menggeleng pelan. "Bukan Kaisar, tetapi anda. Bukankah anda adalah penerus takhta Kaisar?"
Xiao Jiwang tertegun, dia sebenarnya menyadari maksud dari pertanyaan Xiao Mingyui, namun sengaja membelokkan jawabannya. Tetapi siapa sangka Xiao Mingyui terus mengejarnya.
Hening. Setelah pertanyaan Xiao Mingyui dilontarkan, Xiao Jiwang tidak dapat menjawabnya dengan cepat. Pria itu berpikir keras mengenai jawaban apa yang akan dia lontarkan kepada Xiao Mingyui dan tidak menyakiti hatinya.
Xiao Jiwang berjalan mendekati Xiao Mingyui, kemudian mengambil cermin yang tergelatak di atas peti hadiah pernikahan mereka. Pria itu lalu mengerahkan cermin itu tepat di depan wajah Xiao Mingyui. Sambil mengelus lembut pipi Xiao Mingyui, dia berkata,"Mengapa kamu harus memikirkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya? Bukankah yang pasti saat ini adalah tanggal pernikahan kita?"
Xiao Mingyui tersenyum tipis lagi, kemudian menurunkan cermin itu dari hadapannya dan menatap Xiao Jiwang.
"Anda tidak perlu khawatir mengenai perasaan saya. Saya baik-baik saja, meskipun saya mencintai anda. Tetapi inilah yang harus saya bayar untuk kedamaian Xiao Wangfu dan hidup bersama pria yang saya cintai." Xiao Mingyui tersenyum semakin dalam untuk meyakinkan Xiao Jiwang bahwa dia baik-baik saja.
Tatapan mata Xiao Jiwang terlihat redup, pria itu kemudian meletakkan cermin kembali si atas peti dan menarik Xiao Mingyui ke dalam pelukannya.
"Maaf."
Wajah Xiao Mingyui memerah, bukan karena tersipu malu, namun karena bahagia. Dia senang setiap kali melihat sisi lembut Xiao Jiwang, pria itu terlihat sangat manis.
"Apa aku perlu membunuh mereka secara diam-diam setelah memasuki Istana?" tanya Xiao Jiwang, pertanyaannya membuat Xiao Mingyui mengerutkan keningnya tidak setuju.
"Tidak, itu ide buruk. Perlakuan mereka dengan baik, dan ... ini mungkin terdengar egois, tapi ... pastikan saya adalah satu-satunya di hati anda." Kepala Xiao Mingyui tertunduk saat mengatakan ini.
Xiao Jiwang melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Xiao Mingyui, setelah itu mengangkat wajah Xiao Mingyui yang tertunduk menggunakan jari telunjuk serta ibu jari yang menjepit pelan dagu Xiao Mingyui. "Kamu akan menjadi Phoenix yang memiliki bunga serta sayap paling indah." Kemudian pria itu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui memejamkan matanya. Selagi bibirnya dan Xiao Jiwang saling bersentuhan, dia merasakan kedinginan di hatinya memudar.
Setelah ciuman itu berakhir, Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang kembali membuka mata masing-masing. Xiao Jiwang tersenyum tipis, dia merasa lucu kepada dirinya sendiri. Bisa-bisanya sekarang dia begitu jatuh kepada Xiao Mingyui dan kini sangat menikmatinya.
Xiao Jiwang lanjut mengecup lama dahi Xiao Mingyui, lalu kedua tangannya menangkup lembut pipi Xiao Mingyui dan mengelusnya lembut. "Kau akan kembali sekarang?" tanya Xiao Jiwang, raut wajahnya terlihat tidak rela Xiao Mingyui pergi sekarang.
Xiao Mingyui melirik ke arah jendela ruangan Xiao Jiwang, langit mulai berwarna orange. Sebentar lagi akan gelap, jika Xiao Mingyui mengulur waktu lagi dia akan kembali sangat terlambat seperti kemarin.
Xiao Mingyui jembaki menatap Xiao Jiwang, lalu mengangguk pelan, membuat pria itu terlihat semakin gelisah.
Xiao Mingyui mengelus lembut tangan Xiao Jiwang yang masih berada di pipinya. "Yang mulia, kita masih dapat bertemu besok." Kemudian Xiao Mingyui melirik ke arah pintu ruangan Xiao Jiwang.
"Bingbing, bawa kotak itu kemari," perintah Xiao Mingyui, kemudian dia buru-buru melonggarkan jaraknya dengan Xiao Jiwang, namun pria itu justru semakin erat menahannya.
Hingga akhirnya pintu dibuka, menampilkan Bingbing yang masuk membawakan kotak yang sempat dititipkan kepada Xie Wanting dengan bodohnya.
Bingbing terlihat terkejut melihat kedekatan jarak yang tidak biasa di antara Xiao Jiwang dan Xiao Mingyui, namun dia tidak berani berkomentar banyak. Bingbing hanya langsung menundukkan kepalanya dan memberikan kotak itu kepada Xiao Mingyui, setelah itu kembali keluar dengan cepat dan menutup pintu tanpa disuruh.
Xiao Jiwang terlihat bingung melihat kotak yang dipegang Xiao Mingyui.
"Ini adalah jubah anda yang sempat anda pinjamkan kepada Putri Xie Wanting. Dia memintaku mengembalikan ini padamu," ucap Xiao Mingyui, lagi-lagi matanya menatap penuh arti tersirat.
Raut wajah Xiao Jiwang berubah kesal, pria itu segera mendengus. "Tidak tahu malu! Beraninya dia memerintahmu seperti pelayan?"
Xiao Mingyui menggeleng, bibirnya tersenyum semakin dalam. "Tidak, yang mulia. Saya tidak keberatan. Mungkin Putri Xie sedang sangat tidak enak badan sehingga membutuhkan pertolongan saya yang kebetulan juga ingin menemui anda."
Xiao Jiwang terlihat semakin kesal. "Tetap saja salah, derajatnya bahwa jauh di bawahmu namun berani tak tahu malu seperti ini. Kejadian kemarin sudah cukup membuatku repot."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Apa yang terjadi dengan kemarin?"
"Wanita itu mengeluh dingin dan lelah namun tak mau cepat kembali ke kediamannya dan malah tidak sopannya meminta jubahku. Aku paling benci barangku digunakan orang lain." Xiao Jiwang hanya bercerita sampai di situ, dia tidak menceritakan perbincangannya dengan Xie Wanting saat sedang berada di taman Istana. Khawatir Xiao Mingyui akan tersinggung, pria itu mempedulikan Xiao Mingyui lebih dalam dari yang orang tahu.
Xiao Mingyui terdiam. Jadi ... bukan karena Xiao Jiwang sendiri yang menginginkannya? Xiao Mingyui tersenyum lagi, kali ini dia sedikit menahan tawa. Tangan kanan Xiao Mingyui bergerak untuk mengelus pipi Xiao Jiwang. "Anda harus bersabar karena dia adalah utusan Huan Tenggara, ini demi Kekaisaran Timur sendiri."
Xiao Jiwang mendengus. "Aku tidak akan peduli jika wanita itu berani melewati batas lagi. Lagi pula dia hanya Putri dari Kerajaan kecil, tidak pantas baginys berlagak sombong apa lagi berani memerintahmu seperti itu."
Xiao Mingyui hanya tersenyum ketika mendengar ini. Ah ... Xie Wanting yang malang, dia salah mengambil langkah untuk menjadi bersinar ....