
Keesokan paginya, Xiao Mingyui telah siap dengan penampilannya untuk berkunjung ke tempat persembunyian Fang Furen. Di tengah perjalanan menuju kereta kuda, langkah Xiao Mingyui terhenti karena melihat jasad seorang pelayan wanita yang dipukul hingga mati tergeletak begitu saja di tanah. Banyak lebam dan darah di mana-mana.
"Apa yang terjadi dengan pelayan itu?" tanya Xiao Mingyui.
Bingbing bergidik ngeri, lalu menjawab,"Saya mendengar Xiao Wangye baru saja menemukan mata-mata baru di Xiao Wangfu dan sejak pagi dini hari eksekusi di mulai. Para pelayan pun menjadi gaduh, namun Tuan Gu yang mewakili Xiao Wangye datang dan memenangkan mereka dengan berkata bahwa Wangye tidak akan menyakiti mereka yang setia kepada Xiao Wangfu."
Xiao Mingyui tersenyum mendengar cerita Bingbing, lalu melanjutkan langkahnya dengan santai seolah jasad itu bukan apa-apa. Dia senang karena Xiao Xiangqing mulai mengambil keputusan tegas, pria itu perlahan berubah semakin mirip dengan cara kerja mendiang ayah mereka.
Sesampainya di kereta, Xiao Mingyui bergegas naik. Kereta kuda Xiao Wangfu pun siap meluncur menuju ujung Selatan Ibu Kota.
Di tengah jalan, kereta kuda Xiao Mingyui bertemu dengan kuda Fang Laowang. Xiao Mingyui mengangkat tirai jendelanya, lalu tersenyum. Fang Laowang pun mengangguk, membalas senyuman Xiao Mingyui. Mereka akhirnya berangkat beriringan menuju persembunyian Fang Furen.
Setelah sampai, Xiao Mingyui turun. Fang Laowang telah berdiri tidak jauh dari kereta, pria itu segera membungkuk untuk memberi salam seperti biasa. Begitu cukup berbasa-basi, akhirnya mereka berdua memutuskan masuk bersama.
"Ibu?" Fang Laowang memanggil Han Silue, hingga kemudian Han Silue muncul dari dalam kamarnya menuju ruang tamu dengan senyum cerah. Wanita itu berjalan mendekati mereka menggunakan tongkat kayu.
"Putri Mingyui?" Hal pertama yang dilihat Fang Furen adalah Xiao Mingyui, wanita tua itu pun bergegas duduk tepat di samping Xiao Mingyui dan menggenggam hangat tangannya.
Fang Laowang yang melihat ini menaikkan alis kirinya sekilas. "Ibu, anda tidak melupakan anak laki-lakimu yang satu ini, kan?"
Xiao Mingyui dan Han Silue beralih menatap Fang Laowang, kemudian terkekeh. Han Silue menggenggam hangat tangan Fang Laowang yang duduk tak jauh juga darinya. "Tentu saja tidak, namun putri Mingyui terlihat jauh lebih manis darimu."
Xiao Mingyui tertawa kecil mendengar ini, walaupun seluruh ekspresinya yang muncul hanyalah kebohongan semata.
Fang Laowang menghela napas tipis, memasang tampang seolah sakit hati. Tetapi tak lama kemudian dia tertawa dan membalas genggaman hangat ibunya.
Fang Laowang beralih mengeluarkan seluruh barang bawaannya. Makanan dan minuman mewah kembali memenuhi meja seperti kemarin.
"Aku membeli semua makanan ini lebih karena berpikir kemungkinan putri Mingyui akan datang, dan ... ternyata sungguhan datang. Aku senang karena makanan ini tidak akan menjadi sia-sia." Fang Laowang terkekeh di akhir kalimatnya.
Xiao Mingyui membantu Fang Laowang menata makanan, lalu menjawab,"Terima kasih banyak, Tuan muda Fang. Tetapi saya masih cukup kenyang, sebelum berangkat kemari saya telah makan di Xiao Wangfu."
Fang Laowang terlihat sedikit kecewa, namun dia mengangguk mengerti dan kembali tersenyum.
Fang Laowang berdiri, lalu mengeluarkan barang lainnya yang dia bawa menggunakan kotak besar. Itu adalah tombak, tombak untuk memancing ikan.
"Hari ini saya berniat untuk memancing ikan segar langsung di sungai hutan ini, saya pernah mendengar cerita mengenai rasanya. Sangat manis dan gurih," ucap Fang Laowang senang.
Han Silue menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum. "Tidak perlu, Laowang. Ibu khawatir di sungai itu ada ular liar, kita masih--"
"Tidak perlu khawatir, bu. Aku sudah terbiasa," jawab Fang Laowang memotong kalimat ibunya dengan percaya diri.
Pagi itu Han Silue dan Fang Laowang makan bersama, sedangkan Xiao Mingyui hanya memilih untuk memakan camilan ringan. Wanita itu sungguhan sudah makan di Xiao Wangfu sebelum berangkat. Begitu acara makan mereka selesai, Fang Laowang kembali berdiri dan berkata,"Aku akan menuju sungai sekarang, ikannya akan kita santap untuk makan siang!"
"Udaranya masih cukup dingin, Tuan Fang," ucap Xiao Mingyui.
Fang Laowang mengangguk, lalu dia menjawab sambil mengangkat tombak serta embernya keluar. "Saya tahu, yang mulia. Tidak masalah, percayakan saja pada saya."
Han Silue tertawa lagi sambil menggeleng pelan melihat tingkah anaknya. Sementara Xiao Mingyui secara pribadi membereskan peralatan makan mereka bersama Bingbing.
Ketika hari sudah cukup siang, Fang Laowang kembali ke rumah dan tidak menemukan siapapun. Hanya ada Bingbing di ruang tamu yang sedang mengelap meja.
"Di mana yang mulia dan Furen?" tanya Fang Laowang.
Bingbing tersadar, dengan cepat berdiri dan membungkuk. "Yang mulia sedang berada di dapur dan Furen, beliau tengah beristirahat di kamarnya."
Fang Laowang mengerutkan keningnya. "Dapur?"
Bingbing mengangguk. "Yang mulia berinisiatif hendak membuat bumbu untuk ikan yang akan Tuan Muda Fang tangkap."
Fang Laowang yang mendengar ini tertegun, kemudian berjalan cepat menuju dapur. Ketika sampai, dia tertegun lagi karena melihat Xiao Mingyui tengah memotong bawang dan menyiapkan bumbu lainnya di dapur.
Penampilan Xiao Mingyui saat ini sangat indah menurut Fang Laowang. Rambut Xiao Mingyui disanggul sempurna, tidak ada rambut yang digerai layaknya wanita senior yang telah menikah. Kemudian hanfu-nya sedikit diikat lebih naik agar memudahkan langkahnya di dapur. Penampilan mereka saat ini seperti seorang suami yang baru saja pulang bekerja dan membawa bahan pangan sementara Xiao Mingyui adalah seorang istri yang sibuk mengurus rumah dan siap menyambut kepulangannya. Khayalan konyol kemarin itu kembali muncul, membuat Fang Laowang menggelengkan kepalanya pelan.
Fang Laowang meletakkan ember penuh ikan di lantai kayu, lalu berkata,"Yang mulia, lebih baik saat ini anda beristirahat dan--"
"Bukan masalah, Tuan muda Fang. Saya sudah terbiasa melakukan pekerjaan kecil seperti ini, mendiang ibu saya gemar memasak di dapur untuk mendiang ayah saya. Lagi pula, saya melakukan ini dengan suka rela," potong Xiao Mingyui, membuat Fang Laowang terdiam cukup lama namun akhirnya tersenyum kembali.
Fang Laowang berjalan ke arah Xiao Mingyui, lalu memperhatikan kegiatan wanita itu. "Apa ada yang bisa saya bantu?"
Xiao Mingyui mengangguk, kemudian menoleh dan bertanya,"Berapa banyak ikan yang Anda tangkap?" Jarak mereka cukup dekat, namun Xiao Mingyui tidak menyadarinya.
Fang Laowang melirik embernya lagi, lalu menjawab,"Hanya enam ekor."
Xiao Mingyui mengangguk lagi. "Tidak masalah, kalau begitu kita akan memasak sup ikan siang ini dan ikan bakar malam nanti. Bagaimana?"
Wajah Fang Laowang terlihat cerah. "Saya setuju."
"Tolong bersihkan tiga ikan yang akan kita olah saat ini, Tuan muda Fang," ucap Xiao Mingyui.
Fang Laowang kembali berjalan menuju embernya untuk mengambil tiga buah ikan, lalu membawanya menuju tempat pembersih. Pria itu membersihkan ikan dengan sangat lihai, seperti seolah berpengalaman dalam.
Siang itu, Fang Laowang dan Xiao Mingyui sibuk di dapur untuk memasak bersama. Tetapi selain sibuk membantu Xiao Mingyui, Fang Laowang juga sibuk menepis khayalan 'rumah tangga' dari benaknya.