
"SAMPAH! KAU BENAR-BENAR MEMPERMALUKANKU!" Fang Jichang membanting seluruh kanvas lukis anaknya, Fang Laowang. Setelah mengetahui berita yang dia dengar dari salah satu pelayanan bahwa Fang Laowang sering diam-diam mengunjungi Xiao Wangfu untuk menemui Xiao Mingyui, pria itu murka.
Fang Laowang tidak membalas bentakan ayahnya, pria itu bersikap tenang namun dengan kedua sudut alis yang sedikit menyatu memungut satu persatu kanvas lukis yang dibanting ayahnya.
"Bagaimana bisa kamu berbuat hal bodoh seperti itu?! Kamu ingin membuat wajahku menjadi lelucon?!" Bentak Fang Jichang lagi, matanya menatap murka Fang Laowang.
Fang Laowang meletakkan seluruh kanvas yang telah selesai dia pungut, kemudian menatap ayahnya dan menjawab,"Saya hanya ingin membahas lukisan--"
"Jangan bodohi ayahmu, Laowang!" Fang Jichang membentak sekali lagi, kemudian melanjutkan,"Kamu jatuh cinta dengan wanita itu?!!"
Fang Laowang diam, namun selanjutnya dia bertanya,"Dari mana ayah tahu? Tidak ada bukti yang dapat membuktikan seluruh yang ayah katakan sungguhan. Benar, saya sering menemui Putri Mingyui. Tetapi untuk perasaan seperti--"
"Kamu mulai berani membalas kalimatku di luar pertanyaan? Laowang, jangan kira ayahmu ini bodoh! Tingkahmu benar-benar membuatku muak!" Fang Jichang memotong cepat, dia mulai kehabisan kesabaran.
Fang Laowang mengepalkan kedua tangannya, jantungnya mulai berdegup kencang. "Jika saya katakan bahwa saya mencintainya, apa ayah akan tetap berusaha membunuhnya?"
Fang Jichang mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum dingin. "Apa yang sudah kamu ketahui sejauh ini tentang cinta? Aku mengirimmu sekolah di luar Ibu Kota bukan untuk mengenal cinta! Tetapi untuk menjadi penerusku!"
Fang Laowang menggeleng. "Tetapi bukan berarti saya kehilangan hak untuk jatuh cinta seperti remaja lainnya. Selama ini saya sudah berbakti dan belajar mati--"
PAA!!
Fang Jichang menampar pipi putranya keras, lalu berkata,"Jangan menjadi bodoh karena cinta! Tidakkah kamu tahu banyak petinggi Kekaisaran yang menjadi konyol karena perasaan menjijikkan itu?! Kamu ditakdirkan menjadi penerus keluarga Fang! Maka hindari pemikiran dan perasaan bodoh yang akan merepotkanmu!"
"Mengapa ayah sangat bersikeras?! Mereka adalah keluarga Kekaisaran yang memegang kekuatan besar! Mengapa ayah sangat ingin menjatuhkan Xiao Wangfu?!" Fang Laowanh tidak tahan untuk bertanya, dia sama sekali tidak sejalan dengan pemikiran ayahnya.
"Karena aku tidak ingin kembali hidup susah! Apa kamu tidak tahu perjuanganku untuk mendapatkan kursi tuan besar keluarga Fang?! Aku harus mengalami penghinaan dan hidup susah selama bertahun-tahun. Dan kali ini, kita memiliki kesempatan. Aku akan membawa keluarga Fang menjadi yang paling tinggi!" Fang Jichang menjelaskan ambisinya dengan perasaan menggebu-gebu.
"Lalu bagaimana dengan ibu? Apa ayah tidak pernah mencintainya? Mustahil ayah tidak pernah--!"
"Dia hanya wanita rendahan yang mengalami kesejahteraanku! Lihat dia sekarang! Apa dia memiliki manfaat untuk keluarga Fang? Dia hanya berbaring sakit-sakitan di kasur! Sama sekali tidak pantas disebut Fang Furen!" Potong Fang Jichang, pria itu sepertinya sudah dibutakan oleh kekuasaan dan ambisinya untuk menjadi yang paling berkuasa.
Fang Laowang mengepalkan kedua tangannya, dia paling benci mendengar ayahnya memaki ibunya. Jika bukan karena kebodohan ayahnya yang tidak pandai mengurus istri dan memberikan kepedulian lebih kepada ibunya, ibunya juga tidak akan menjadi stres lalu sakit-sakitan seperti sekarang!
Raut wajah Fang Laowang mendingin, begitu pintu kamarnya ditutup rapat, pria itu berjalan pelan ke arah kanvas lukisan Xiao Mingyui yang telah patah karena ayahnya.
Fang Laowang mengambil kanvas itu, kemudian mengambil duduk di sofa sambil memandangi lukisan wajah Xiao Mingyui.
"Bagaimana bisa aku melakukannya?" gumam Fang Laowang, bibirnya tersenyum kecut. Hatinya benar-benar remuk, semangat dan kebahagiaannya sejak kecil selalu dihancurkan oleh ayahnya sendiri. Katanya, itu adalah takdirnya sebagai pewaris keluarga Fang. Memuakkan.
Alasan Fang Jichang sangat mengincar kematian Xiao Mingyui, karena pria itu mulai menyadari bahwa kekuatan Xiao Wangfu yang sebenarnya ada pada wanita itu. Xiao Xiangqing memanglah kepala keluarga sekaligus pemilik gelar agung 'Xiao Wangye', namun pria itu tak mengurus Xiao Wangfu seorang diri. Pria itu sangat patuh kepada kalimat Xiao Mingyui, mereka benar-benar saling menempel dan melengkapi. Salah satu cara untuk merubuhkan Xiao Wangfu adalah membunuh salah satunya.
Xiao Xiangqing adalah pria muda yang memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi, begitu juga dengan Xiao Mingyui. Tetapi karena gelar Xiao Wangye Xiao Xiangqing, membunuh Xiao Xiangqing adalah pilihan yang berat. Walaupun hal keberatan ini juga berlaku pada Xiao Mingyui sebab banyak sekali petinggi Kekaisaran yang menaruh perhatian padanya, namun pilihan membunuh Xiao Mingyui terasa lebih baik dari pada Xiao Xiangqing. Ditambah, baru-baru ini Fang Jichang mendengar kedekatan Xiao Mingyui dan Putra Mahkota yang semakin erat. Jika mereka membunuh Xiao Mingyui, bukan hanya Xiao Xiangqing saja yang akan jatuh terpukul, tetapi juga dengan Putra Mahkota. Maka dari itu, membunuh Xiao Mingyui adalah pilihan yang tepat.
Tetapi Fang Laowang yang ditugaskan untuk menjadi orang yang membunuhnya justru malah ikut terjebak di dalam mata indah itu. Dia, ikut terjatuh dalam pesona Xiao Mingyui. Fang Laowang tidak akan sanggup membunuh orang yang dia cintai, karena jika dia melakukan itu, mungkin dia akan menjadi orang yang jauh lebih hancur dari pada Xiao Jiwang dan Xiao Xiangqing. Sebab dialah yang membunuh cintanya sendiri.
Di lain sisi, jika Fang Laowang tidak melaksanakan perintah ayahnya, impiannya untuk menjadi pewaris keluarga Fang agar dapat melindungi ibunya yang sakit-sakitan akan gagal. Dia tidak akan sanggup jika melihat ibunya terus terusan menderita.
Dunia Fang Laowang terasa sangat gelap, dia tidak tahu jalan mana yang harus dia pilih. Ibunya atau cintanya, keduanya sama-sama menyiksanya.
Fang Laowang memeluk lukisan Xiao Mingyui, kemudian tangan kanannya bergerak untuk memijat keningnya yang terasa pening. Hidupnya sejak dulu terasa sangat berat, kapan dia dapat merasakan kebahagiaan tanpa beban?
Sementara itu Xiao Xiangqing yang hendak menaiki kudanya untuk kembali ke Xiao Wangfu dihentikan oleh panggilan Gu Lingchi.
"Wangye! Tunggu sebentar!"
Xiao Xiangqing menoleh, lalu melihat Gu Lingchi yang berlari ke arahnya sambil membawa sebuah bingkisan berwarna cokelat.
"Ini adalah titipan dari putri Mo ketika saya pergi ke Istana sore tadi untuk memberikan laporan yang telah anda kerjakan." Gu Lingchi kemudian menyerahkan bingkisan titipan Mo Wanwan kepada Xiao Xiangqing.
Xiao Xiangqing berdecak kesal di dalam hati, kemudian dia menatap dingin bingkisan itu dan mengambilnya. Melihat ini, dia jadi teringat akan 'pernikahan' yang disebutkan kakaknya. Sial, dia tidak bisa terlalu lama memikirkan ini, karena kakaknya memberikan dia batas waktu untuk berpikir.
Xiao Xiangqing naik ke atas kuda sambil menghela napas gusar, lalu menoleh ke arah Gu Lingchi lagi dan berkata,"Kirim surat terima kasih kepada Putri Mo, lalu katakan padanya bahwa besok aku akan menemuinya untuk membahas sesuatu."
Gu Lingchi tertegun, kemudian mengangguk. "Baik!" Setelah Xiao Xiangqing pergi, Gu Lingchi langsung tertawa terbahak-bahak. Dia mengetahui cerita bahwa Xiao Mingyui meminta Xiao Xiangqing memikirkan pernikahannya dengan Putri Mo jika benar kecurigaan terhadap Mo Wanwan bersih.