
Bingbing dan Da Xuan menunggu jauh di belakang sana, sedangkan Xiao Mingyui berdiri tepat di bawah pohon besar nan rindang. Di atas pohon itu terdapat Xiao Jiwang yang sedang berbaring memejamkan matanya dengan alis bertaut.
"Yang mulia, apa yang anda lakukan di atas sana?" tanya Xiao Mingyui, dia pribadi tidak tahu harus bersikap atau berbicara apa ketika menemui pria ini. Dia hanya akan melontarkan apa saja yang terlintas di benaknya.
Xiao Jiwang perlahan membuka matanya, raut wajahnya semakin buruk kala mendengar suara Xiao Mingyui. "Apa itu ada urusannya denganmu? Pergilah, Xiao Mingyui. Aku tidak ingin diganggu!"
Xiao Mingyui memutar kedua bola matanya malas, dia sendiri juga tidak ingin mengganggu Xiao Jiwang.
"Saya diperintahkan yang mulus Kaisar untuk menyusul kepergian anda. Yang mulia, bagaimana jika sekarang anda turun dan kembali ke kediaman untuk beristirahat?" jawab Xiao Mingyui, berusaha bersabar.
"Akan aku lakukan nanti, sekarang kau bisa pergi. Jangan menggangguku," balas Xiao Jiwang ketus, lalu memejamkan matanya kembali.
Xiao Mingyui sendiri lelah, wanita itu juga tidak nyaman dengan suasana canggung panas mereka. Tanpa membujuk lebih jauh, Xiao Mingyui akhirnya memutuskan pergi. Ketika selesai mengucapkan salam pamit kepada Xiao Jiwang, belum ada tiga langkah dia berjalan, tiba-tiba Xiao Jiwang melomoat turun dan mencengkeram lengan kanan Xiao Mingyui yang diperban.
"Argh!" Xiao Mingyui menepis kasar tangan Xiao Jiwang yang tiba-tiba menggenggam erat lukanya. Xiao Jiwang yang menyadari dia melakukan kesalahan pun segera memasang raut wajah terkejut dan khawatir, namun tak lama kemudian dia kembali terlihat angkuh.
"Tidak sengaja," ucap pria itu, matanya tidak berani menatap Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui mulai tidak bisa menahan kekesalannya, wanita itu segera berkata,"Yang mulia, jika tidak ada lagi yang anda butuhkan, saya izin--!"
"Soal yang aku katakan di hadapan Kaisar tadi!" Xiao Jiwang memotong cepat, matanya masih tidak berani menatap Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui akhirnya diam, matanya fokus menatap Xiao Jiwang. Jantungnya terasa berdetak tiga kali lebih cepat, namun Xiao Mingyui berusaha sekeras mungkin untuk tetap terlihat tenang.
Xiao Jiwang perlahan menatap Xiao Mingyui, pancaran matanya kali ini sedikit aneh. Jika ... dilihat lebih dekat, di wajah pria itu muncul sebuah rona merah muda.
"Aku tidak sungguh-sungguh mengatakan itu." Hanya satu kalimat yang dikeluarkan oleh Xiao Jiwang dengan ekspresinya yang seolah memiliki jutaan kalimat tertahan.
Xiao Mingyui mengangguk. "Saya mengerti, yang mulia. Saya sangat berterima kasih atas--"
"Aku membencimu, Xiao Mingyui." Xiao Jiwang tiba-tiba melontarkan kalimat itu, membuat Xiao Mingyui mengerutkan keningnya bingung.
"Maaf?"
"Aku sangat membencimu." Xiao Jiwang mengulang dan bahkan menambahkan satu kata untuk memperjelasnya.
Xiao Mingyui memaksakan senyum tipis. "Apa saya membuat suatu kesalahan?"
Xiao Jiwang mengangguk. "Sangat. Maka dari itu aku membencimu."
Xiao Mingyui mendekatkan jarak mereka, lalu bertanya,"Dalam hal apa? Hal apa yang telah saya perbuat sehingga yang mulia membenci saya?"
Xiao Jiwang menggelengkan kepalanya pelan. "Banyak sekali, sampai aku lupa apa saja kesalahanmu. Aku sangat frustasi setiap kali memikirkanmu, itu benar-benar membuatku sangat membencimu."
Xiao Mingyui tersenyum dingin, kemudian kembali mundur dan membungkuk ke arah Xiao Jiwang sambil berkata,"Saya izin pamit undur diri, sekaligus memohon maaf atas kesalahan yang 'banyak sekali' itu. Saya harap yang mulia dapat beristirahat dengan tenang hari ini." Kemudian dia langsung berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Xiao Jiwang sendirian.
Batang pohon retak, sepertinya jika ada hujan atau angin kencang dia akan tumbang. Tetapi Xiao Jiwang tidak mempedulikan hal itu, kini dia tengah sibuk dengan perasaannya sendiri. Berengsek, dia benar-benar membenci kondisi hatinya hari ini. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini.
Sementara itu Xiao Mingyui memutuskan untuk kembali ke Xiao Wangfu secepatnya, wanita itu terlihat sangat kelelahan. Dia belum sempat beristirahat dengan benar begitu sampai di Ibu Kota, sehingga dia tidak memiliki perasaan yang baik untuk meladeni Xiao Jiwang yang bertingkah aneh.
Sesampainya di Xiao Wangfu, wanita itu bergegas membersihkan diri dan beristirahat total. Hari itu benar-benar berlangsung penuh canggung dan bingung, Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang, dua orang itu sedang dilanda perasaan yang gelisah.
Keesokan harinya, tepat di malam hari, Xiao Mingyui duduk seperti biasa di meja kerjanya sambil membaca buku. Wanita itu mengenakan hanfu gradasi putih dan ungu yang dihiasi bordiran bunga pulm putih indah. Rambutnya setengah sanggul, hiasan kupu-kupu manis berwarna ungu dan emas menambah kesan manis terhadap penampilannya, tidak lupa juga dia menggunakan tusuk rambut giok putih peninggalan ibunya.
Ketika sedang asyik membaca, tiba-tiba dari arah jendela terdengar ketukan ringan sebanyak tiga kali. Melirik datar ke jendela, Xiao Mingyui dengan cepat berdiri dan mendekat ke arah jendelanya.
"Buka."
Suara berat yang dingin terdengar, Xiao Mingyui mengerutkan keningnya kala mengenali pemilik suara tersebut. Xiao Jiwang, apa yang pria itu lakukan di Xiao Wangfu? Dan bagaimana bisa dia menerobos masuk ke dalam Xiao Wangfu begitu saja??
Xiao Mingyui membuka pintu jendelanya, kemudian bayangan hitam tiba-tiba melesat masuk begitu saja. Xiao Mingyui dengan cepat menoleh dan menatap terkejut ke arah Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang, pria itu mengenakan pakaian berwarna merah dan hitam, terdapat bordiran naga di punggung pakaian pria itu.
"Apa yang anda lakukan di ruangan seorang wanita malam-malam begini, yang mulia?" tanya Xiao Mingyui heran, dia tidak habis pikir Xiao Jiwang melakukan ini. Kedatangan pria itu sama sekali tidak dia duga.
Xiao Jiwang menjulurkan sebuah topeng berwarna putih ke arah Xiao Mingyui. "Pakai ini." Kemudian dia mengeluarkan satu topeng lagi berwarna hitam dan mengenakan pada dirinya sendiri.
"Untuk apa?" tanya Xiao Mingyui bingung samb menerima topeng itu.
Xiao Jiwang menaikkan alis kirinya dari balik topeng. "Bukankah kamu ingin berjalan-jalan di pasar untuk bersenang-senang?"
Xiao Mingyui tertegun. Huh? Pria itu mengingatnya? Bahkan dia hampir melupakannya.
Xiao Mingyui akhirnya memasangkan topeng itu ke wajahnya sambil bertanya,"Anda mengingatnya?"
Xiao Jiwang mengangguk, matanya memperhatikan cara Xiao Mingyui mengikat topeng. Tak lama kening pria itu mengerut dan segera mengambil alih ikat tali topeng Xiao Mingyui sambil berkata,"Aku sudha berjanji. Ck ... kemari, ikatanmu salah."
Xiao Mingyui sedikit terkejut kala Xiao Jiwang mengambil alih ikat tali topengnya, kini jarang mereka sangat dekat. Xiao Jiwang mengikat tali topeng Xiao Mingyui dengan posisi saling berhadapan.
"Apa kita harus mengenakan topeng seperti ini hanya untuk berjalan-jalan di pasar?" tanya Xiao Mingyui, pasalnya dia merasa hal seperti ini tidak perlu dilakukan.
Xiao Jiwang tersenyum meremehkan. "Ternyata benar, ya? Kau jarang keluar Xiao Wangfu untuk bersenang-senang. Dengar, malam ini adalah malam festival topeng. Seluruh orang yang hadir di pasar festival malam ini wajib mengenakan topeng."
Xiao Mingyui tertegun, ah ... ternyata ada acara yang sangat unik seperti itu?
Selesai mengikatkan topeng kepada Xiao Mingyui, Xiao Jiwang bergegas mendekati jendela, kemudian menoleh dan mengulurkan tangannya ke arah Xiao Mingyui.
"Seluruh tubuhmu sudah kembali normal, bukan? Seingatku kamu pandai bela diri, seharusnya dapat mengimbangi jurus Qinggong-ku bukan?" ucap Xiao Jiwang, pria itu bersiap melompat keluar sambil menggenggam tangan Xiao Mingyui.