
Pesta berlangsung meriah, sama sekali tidak ada hambatan. Xiao Mingyui bergegas pulang setelah Kaisar meninggalkan area pesta.
Xiao Xiangqing berjalan ke arahnya, kemudian mengulurkan tangan kanannya ke arah Xiao Mingyui. "Jiejie ...."
Xiao Mingyui tersenyum, kemudian dia segera membalas uluran tangan Xiao Xiangqing. "Xiao Wangye terlalu perhatian."
Xiao Xiangqing memerah saat mendengar Xiao Mingyui menggodanya, pria itu kemudian mendengus tipis kesal. "Jangan menggodaku seperti itu, benar-benar terdengar menjengkelkan!"
Xiao Mingyui terkekeh, kemudian matanya melirik ke arah Xiao Jiwang yang masih sibuk berbincang dengan para pejabat. Ada dua putri utusan juta yang bergabung di sana.
Ketika Xiao Mingyui hendak menggeser tatapannya dari Xiao Jiwang, gerakannya terhenti kala melihat Xie Wanting, putri Kerajaan Huan Tenggara tiba-tiba terjatuh dan Xiao Jiwang lah yang menangkapnya. Ketika melihat raut wajah Xie Wanting yang terkejut sekaligus menatap dalam wajah Xiao Jiwang, kening Xiao Mingyui sedikit mengernyit.
Xiao Xiangqing yang menyadari tatapan tidak biasa dari kakaknya menuju arah belakang pun dengan cepat menoleh, namun dia tidak melihat apa pun yang aneh karena Xie Wanting sudah kembali berdiri normal.
"Jiejie, ada apa?" tanya Xiao Xiangqing ketika kembali menatap kakak perempuannya.
Xiao Mingyui menggeleng, kemudian langsung melangkahkan kakinya ke arah kerumunan Xiao Jiwang. Kerumunan itu segera terbuka begitu Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing tiba.
Xiao Mingyui seperti biasa memasang senyum formalitas di bibirnya, kemudian menatap Xiao Jiwang dan membungkuk. "Yang mulia, Mingyui pamit undur diri."
Xiao Jiwang menoleh, lalu mengangguk singkat, bibirnya tersenyum. Senyumannya terlihat menyebalkan dan sedikit mengerikan. "Kamu sudah hendak pulang? Perlukah aku antar?"
Xiao Xiangqing maju sedikit, bibirnya tersenyum. "Tidak perlu merepotkan Putra Mahkota, kami akan baik-baik saja. Terima kasih banyak."
Xiao Jiwang mengangguk lagi, lalu membalas,"Ah ... seperti itu, baiklah. Hati-hati di jalan, Xiao Wangye." Kemudian tangan kanan Xiao Jiwang bergerak untuk mengelus kepala Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui perlahan sudah mulai terbiasa, wanita itu tetap berpenampilan tenang dan menambahkan kedalaman senyumnya.
Setelah mengucapkan dua sampai tiga kalimat perpisahan, akhirnya Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing mulai berjalan keluar dari aula Istana Kekaisaran. Xiao Xiangqing keluar dari ruangan itu dengan senyum penuh.
Xiao Mingyui melirik adiknya, kemudian bertanya,"Kamu bahagia?"
Xiao Xiangqing mengangguk. "Tentu saja, namun ... aku juga merasakan perasaan sedih secara bersamaan."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Ada apa?"
"Karena aku benar-benar harus menggantikan posisi Fu qin. Tandanya, tidak ada lagi hidup santai berleha-leha, kini aku harus meninggalkan kenangan indah itu dan mulai bekerja keras." Xiao Xiangqing terkekeh saat mengatakan ini.
Mereka tiba di kereta kuda Xiao Wangfu, kali ini Xiao Mingyui kembali dengan menggunakan kereta kuda yang sama bersama adiknya kembali.
Xiao Xiangqing membantu Xiao Mingyui naik ke dalam kereta, sedangkan Xiao Mingyui, sembari menerima bantuan adiknya, wanita itu berkata,"Memangnya sejak kapan kita menjadi orang yang santai dan berleha-leha?"
Setelah Xiao Mingyui duduk rapih di kursinya, Xiao Xiangqing menyusul masuk sembari menutup pintu kereta.
"Setelah dipikir-pikir lagi memang tidak pernah, namun setidaknya aku bukanlah orang yang bertanggungjawab atas keamanan Kekaisaran dan lima ratus ribu pasukan Xiao Wangfu secara langsung." Xiao Xiangqing menghela napas tipis setelah selesai bicara, kemudian merebahkan tubuhnya di sofa kereta miliknya dan mulai memejamkan kedua matanya.
Xiao Mingyui tersenyum melihat Xiao Xiangqing kelelahan, tangan kanannya perlahan bergerak untuk mengelus kepala Xiao Xiangqing. Melirik ke luar jendela, ah ... langit sudah mulai memerah, sedikit lagi malam tiba.
Suasana saat itu terasa sangat damai, Xiao Mingyui sangat menikmatinya. Xiao Xiangqing pun terlihat tertidur di bawah belaian-nya. Sampai akhirnya tak terasa, mereka sudah tiba di Xiao Wangfu.
Xiao Mingyui menepuk pelan pipi Xiao Xiangqing. "Xiangqing, kita sudah sampai."
Xiao Xiangqing mengerutkan keningnya, kemudian membuka matanya dan mengambil posisi duduk.
Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan melihat wajah bangun tidur Xiao Xiangqing, kemudian dengan cepat membuka pintu kereta dan berkata,"Aku akan memasakkan bubur kacang merah untukmu. Beristirahatlah."
Xiao Xiangqing mengangguk, persis seperti anak kecil. "Hm ... terima kasih."
Xiao Mingyui meninggalkan Xiao Xiangqing yang masih antara sadar dan tidak di atas kereta, wanita itu bergegas membersihkan dirinya seperti mandi dan mengganti pakaian. Bingbing seperti biasa membantunya, kali ini hanfu baru yang dikenakan Xiao Mingyui berwarna putih dengan gradasi warna orange yang manis.
"Yang mulia, saat anda sedang membersihkan diri tadi, Da Xuan datang dan memberikan surat ini." Bingbing memberikan sepucuk amplop surat kepada Xiao Mingyui begitu riasannya selesai.
Xiao Mingyui melirik amplop tersebut, lalu mengambilnya dan membukanya perlahan. Ketika mengetahui bahwa surat itu berasal dari Fang Fu, keningnya sedikit terlipat. Jika berasal dari Fang Fu, kemungkinan besar pengirimnya adalah Fang Laowang.
Xiao Mingyui mulai membaca isi surat itu dari dalam hati, raut wajah dan tatapannya masih terlihat tenang seperti biasa.
"Yang terhormat Putri Xiao Mingyui, saya Fang Laowang menyapa anda. Putri, sebelumnya saya hendak memohon maaf atas kelancangan saya menyentuh lengan anda tanpa izin di malam festival topeng beberapa waktu lalu. Kemudian, karena pembicaraan kita sempat terpotong, izinkan saya mengulangi maksud dan tujuan ucapan saya."
Xiao Mingyui melipat kertasnya, kemudian tersenyum tipis.
Fang Laowang ini ... bodoh atau bagaimana? Pria itu sudah satu minggu lebih berada di Ibu Kota, tetapi mengapa masih terus berani menghubungi dan mendekatinya?
Xiao Mingyui meletakkan surat itu di atas meja, kemudian bergegas berdiri. "Bantu aku di dapur, Bingbing. Aku akan membalas suratnya nanti."
Bingbing mengangguk, lalu bergegas menyusul Xiao Mingyui dengan riang. Memasak bersama Xiao Mingyui di dapur adalah momen yang paling dia senangi.
Di dapur, Xiao Mingyui membuat bubur kacang merah bersama Bingbing. Selama Xiao Mingyui di dapur, tidak ada satu pun pelayan lain yang berani masuk dan mengusik.
Setelah dua jam berkutat di dapur, akhirnya kini bubur kacang merah milik Xiao Mingyui siap. Wanita itu mengambilnya satu mangkuk dan diletakkan di atas nampan untuk Xiao Xiangqing. Setelah siap, Xiao Mingyui melepas kain yang menutupi setengah badannya untuk memasak dan bergegas menuju kediaman Xiao Xiangqing.
"Di mana Xiao Wangye?" tanya Xiao Mingyui kepada salah satu pelayan di kediaman Xiao Xiangqing, pasalnya kamar pria itu tampak sepi dari luar.
Pelayan itu membungkuk untuk menjawab,"Yang mulia sedang berada di ruang kerjanya bersama Tuan Muda Gu, yang mulia."
Xiao Mingyui mengangguk paham, lalu langsung menggerakkan kakinya menuju ruang kerja Xiao Xiangqing. Setelah tiba di sana, pintu langsung dibuka oleh pelayan. Xiao Mingyui masuk, kedua matanya langsung melihat pria dengan wajah serta kaki yang berlumuran darah. Pandangan mata Xiao Mingyui berubah menjadi sangat dingin, raut wajahnya tetap terlihat tenang walaupun sudah disuguhi pemandangan buruk seperti itu.
Xiao Mingyui menoleh ke arah Xiao Xiangqing, wajah adiknya terlihat sangat buruk. Dengan tenang, Xiao Mingyui berjalan menuju meja kerja adiknya untuk meletakkan nampan bubur kacang merah sambil bertanya,"Ada apa?" Lalu matanya melirik Gu Lingchi seperti menuntut penjelasan.
Gu Lingchi membungkuk terlebih dahulu ke arah Xiao Mingyui, kemudian kembali berdiri tegak dan berkata,"Pria ini adalah pelayan Xiao Wangfu yang baru bekerja selama satu minggu, dia ditangkap karena terbukti menjadi mata-mata Menteri Fang Jichang."
"Lalu?" tanya Xiao Mingyui, dia menginginkan permasalahan intinya. Karena tidak mungkin adiknya berwajah muram hanya karena masalah sepele.
Wajah Xiao Xiangqing benar-benar terlihat suram dan dingin, seolah sikap anak kecil bangun tidur beberapa waktu lalu tak pernah ada.
"Dia menolak keras untuk memberitahukan rencana Fang Jichang mengirimnya sebagai mata-mata, lalu mulai menggigit lidahnya sendiri untuk bunuh diri. Sekarang dia mati." Suara datar yang sangat dingin milik Xiao Xiangqing terdengar, matanya masih menatap ke arah jasad pria berlumuran darah tersebut.
Xiao Xiangqing tak lama kemudian menoleh untuk menatap Xiao Mingyui, kemudian tersenyum dingin. "Tuan muda dari marga bedebah Fang itu baru saja mengirimkan surat kepadamu, bukan? Sepertinya hubungan kalian cukup baik?"
Xiao Mingyui yang mengerti maksud perkataan Xiao Xiangqing terkekeh, kemudian kepalanya mengangguk. "Aku akan mencobanya."
Xiao Xiangqing menghela napas tipis, lalu mengambil mangkuk bubur kacang merah buatan kakaknya sambil berkata,"Terima kasih banyak."
Xiao Mingyui mengangguk, lalu menepuk pelan pundak adiknya. "Beristirahatlah dengan baik. Untuk keluarga Fang, aku akan coba mengurus mereka dengan caraku sendiri." Kemudian mata Xiao Mingyui melirik Gu Lingchi. "Buang jasad ini dengan bersih." Lalu Xiao Mingyui melangkah keluar dari ruangan kerja Xiao Xiangqing.
"Yang mulia, apa anda juga ingin saya sediakan bubur merah?" tanya Bingbing begitu melihat Xiao Mingyui keluar dari ruangan kerja Xiao Xiangqing dan mulai kembali mengikuti langkahnya seperti biasa.
Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan. "Aku sedang tidak ingin. Kau boleh kembali ke kamarmu, Bingbing."
Bingbing mengangguk mengerti. Setelah selesai mengantar Xiao Mingyui kembali ke kediamannya, wanita itu bergegas menuju kamarnya yang masih berada satu kediaman dengan Xiao Mingyui namun terletak di belakang kediaman. Di sana adalah tempat para pelayan yang melayani kediaman Xiao Mingyui tinggal.
Xiao Mingyui kini seorang diri di kamarnya, wanita itu sedang duduk di depan sebuah alat musik kecapi, tangan kanannya sibuk menuliskan balasan surat untuk Fang Laowang.
"Sebuah kabar gembira bagi saya ketika mendengar ada seseorang yang memiliki antusiasme tinggi yang sama mengenai hal yang disukai secara bersama. Sebuah kesenangan sekaligus kehormatan dapat melihat karya lukis Tuan Muda Fang, saya dan Xiao Wangye sangat menantikan kedatangan anda kemari. -Xiao Mingyui."
Selesai menulis suratnya, Xiao Mingyui meletakkan kembali kuas tinta miliknya dan mulai memasukkan kertas tersebut ke dalam amplop berwarna cokelat. Surat itu siap dikirim besok pagi.
Xiao Mingyui menghela napas tipis, kemudian jari-jari tangan kanannya menyentuh lembut senar kecapi. Kecapi ini adalah peninggalan ibunya, mereka gemar bermain kecapi bersama.
Xiao Mingyui mulai memetik senar kecapi perlahan untuk membentuk melodi yang lembut, wanita itu sesekali memejamkan matanya untuk mengenang momen menyenangkan sekaligus damai ketika ia baru saja mempelajari kecapi bersama mendiang ibunya.
Ketika sedang asyik memetik senar kecapi, tiba-tiba salah satu senar kecapi putus dengan keras, membuat jari telunjuk dan tengah Xiao Mingyui terluka.
"Ahh ...!" Xiao Mingyui dengan cepat membuka matanya, lalu menarik tangannya untuk melihat jari telunjuk dan tengahnya yang berdarah. Aish ... kecapi ini memang sudah terlalu tua.
"Mingyui, kamu terluka?"
Suara pria yang terdengar cemas dari arah jendela membuat Xiao Mingyui menoleh cepat dengan waspada. Kedua matanya terbelalak kala melihat sosok Utusan Agung berdiri di depan jendela kamarnya dengan raut wajah khawatir.
Utusan Agung, entah dari mana dan sejak kapan pria itu muncul di sini! Xiao Mingyui benar-benar terkejut!
Utusan Agung dengan cepat masuk ke dalam kamar Xiao Mingyui tanpa permisi, pria itu menatap penuh kecemasan ke arah dua jari Xiao Mingyui yang terluka.
"Aku akan membantumu." Utusan Agung menarik lembut lengan Xiao Mingyui, lalu menghisap darah jari telunjuk dan tengah Xiao Mingyui.