The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 63. Mengukir Kedamaian



"Xiao Mingyui." Xiao Jiwang memanggil Xiao Mingyui begitu mereka keluar dari ruangan kerja Kaisar, membuat Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing otomatis berhenti bersama.


"Ya, yang mulia?" tanya Xiao Mingyui begitu menoleh, sedangkan Xiao Xiangqing memilih langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Pria itu tidak terlalu ribut seperti dulu jika kakak perempuannya didekati oleh Xiao Jiwang, namun wajah pria itu tetap sedikit kesal.


"Mau ... tidak jadi." Xiao Jiwang terlihat gengsi untuk mengutarakan niatnya, pria itu membuang pandangannya sedikit ke samping, enggan menatap wajah Xiao Mingyui.


"Apa yang mulia sibuk?" tanya Xiao Mingyui, dia memilih untuk mengambil peran.


Xiao Jiwang menggeleng pelan. "Saat ini tidak, aku akan mengurus perintah Kaisar besok."


Xiao Mingyui tersenyum. "Bagaimana jika kita pergi ke kolam teratai Istana?"


Xiao Jiwang tertegun, kedua matanya kembali menatap Xiao Mingyui dan mengangguk. "Bukan masalah." Kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui membalas uluran tangan Xiao Jiwang, lalu mereka berjalan beriringan menuju kolam teratai Istana.


Sesampainya di sana, Xiao Mingyui berdiri satu langkah di lebih maju dari Xiao Jiwang. Kedua mata wanita itu memperhatikan bunga teratai yang sangat indah mengambang di kolam.


Xiao Jiwang tidak memperhatikan bunga teratainya, mata pria itu fokus memperhatikan Xiao Mingyui.


Hingga tiba-tiba ada hembusan angin entah dari mana, membuat rambut Xiao Mingyui berkibar lembut hingga menutupi sebagian wajahnya. Xiao Jiwang maju dan membantu Xiao Mingyui untuk menyingkirkan rambut wanita itu.


Xiao Mingyui menoleh, bibirnya tersenyum lebih dalam. "Terima kasih, yang mulia."


Xiao Jiwang mengangguk, lalu sebelum tangannya beranjak dari wajah Xiao Mingyui, pria itu menyempatkan diri untuk mengelus pipi Xiao Mingyui.


"Jika peperangan terjadi, aku akan membantu Xiangqing untukmu. Aku berjanji," ucap Xiao Jiwang tiba-tiba.


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Tidak, yang mulia. Peperangan terlalu berisiko, anda adalah satu-satunya penerus takhta. Anda tidak bisa--"


"Aku melakukan ini untukmu, karena aku tahu Xiangqing adalah keluargamu satu-satunya." Xiao Jiwang memotong, membuat Xiao Mingyui tertegun.


"Tetapi berperang adalah kewajiban dari pemegang gelar 'Xiao Wangye', Xiangqing bisa--"


"Lalu bagaimana dengan Putra Mahkota? Aku ditakdirkan menjadi pemimpin negara ini namun tidak berkontribusi apa pun? Lagi pula dengan turunnya aku ke medan perang akan menekan kemungkinan keributan seperti puluhan tahun silam." Xiao Jiwang lagi-lagi memotong.


Apa yang dikatakan pria itu benar. Dengan turunnya Xiao Jiwang ke medan perang bersama Xiao Xiangqing itu dapat menekan kemungkinan keributan besar yang sempat terjadi pada zaman Xiao Muqing dulu. Hingga tidak akan ada lagi keributan yang mengungkit tentara lima ratus ribu Xiao Wangfu dan 'ancaman' pada posisi penerus takhta.


Xiao Jiwang menarik Xiao Mingyui lembut ke dalam pelukannya, kemudian berkata,"Kedamaian ini aku usahakan hanya untuk kupersembahkan padamu, Mingyui."


Xiao Mingyui mengangguk, lalu membalas,"Izinkan saya berada di sisi anda untuk melukis kedamaian dunia bersama." Kemudian dia mendongakkan kepalanya, tersenyum lagi.


Xiao Jiwang balas mengangguk, lalu menempelkan dahinya di dahi Xiao Mingyui. "Jika ke depannya aku menyakitimu, tolong ingat niat awal perjuangan kita untuk apa."


Xiao Mingyui mengerti. Sebelumnya, Kaisar telah membagikan tugas kepada mereka bertiga. Xiao Xiangqing diminta untuk memperketat keamanan setiap sudut Kekaisaran, lalu melatih mereka secara diam-diam dengan lebih keras. Pria itu fokus disiapkan untuk berperang.


Sedangkan Xiao Jiwang, pria itu diminta untuk mengawasi Xie Wanting. Jika target Xie Wanting adalah 'memecah' hubungan Istana dengan Xiao Wangfu, maka untuk sementara ini mereka akan mengikuti alur yang dibuat Xie Wanting dan berpura-pura terjebak. Kaisar juga akan segera mengumumkan perayaan ulang tahunnya, sehingga Xie Wanting tidak dapat kembali ke Huan Tenggara lebih cepat karena seluruh akses Kekaisaran ditutup.


Sementara Xiao Mingyui, dia ditugaskan untuk 'mengendalikan' Fang Laowang. Sebisa mungkin untuk menjauhkan Fang Laowang dari Xie Wanting. Dia juga ditugaskan untuk memantau seberapa jauh pergerakan Fang Jichang.


Alasan Xiao Jiwang meminta maaf adalah karena ke depannya mereka akan sibuk dengan tugas masing-masing. Xiao Jiwang dengan Xie Wanting dan Xiao Mingyui dengan Fang Laowang. Mereka berdua memiliki motif yang sama, yaitu melakukan 'pendekatan'. Maka bukan tidak mungkin tidak akan ada percikan api cemburu, sebab ke depannya mereka dituntut untuk terlihat seperti api dan air. Pernikahan mereka juga diundur lebih lama sampai peperangan selesai.


Sementara itu Xiao Xiangqing, pria itu mengunjungi kediaman Mo Wanwan terlebih dahulu sebelum keluar dari Istana.


"Di mana putri kalian?" tanya Xiao Xiangqing dingin, kemudian duduk di ruang tamu begitu saja tanpa peduli tatakrama.


"Xiao Wangye?" Suara Mo Wanwan terdengar, memotong kalimat pelayan yang hendak memanggilnya.


Xiao Xiangqing menoleh acuh, kemudian dia kembali menarik tatapannya. Mo Wanwan terlihat sedikit terengah-engah, seperti begitu mendengar kedatangan Xiao Xiangqing wanita itu bergegas lari tanpa peduli apa pun.


Mo Wanwan mencoba mengatur napasnya, kemudian berjalan dengan tenang ke kursi yang berada di hadapan Xiao Xiangqing dan duduk di sana.


"Barang-barangmu sudah siap?" tanya Xiao Xiangqing.


Mo Wanwan mengangguk, raut wajahnya terlihat sedikit sedih. "Sudah, yang mulia. Saya akan berangkat besok ketik--"


"Urungkan itu. Kaisar akan mengumumkan perayaan ulang tahunnya, semua akses masuk dan keluar Kekaisaran ditutup." Xiao Xiangqing memotong kalimat Mo Wanwan.


Mo Wanwan tertegun. "Sungguh? Lalu, bagaimana dengan para utusan?"


"Tentu saja harus menunggu sampai akses masuk dan keluar kembali dibuka," jawab Xiao Xiangqing.


Mo Wanwan mengangguk mengerti, kemudian dia bertanya,"Lalu ... apa ada sesuatu yang ingin yang mulia sampaikan?"


Xiao Xiangqing yang mendengar ini segera bertanya,"Berapa total pasukan yang dipegang Mo Wangfu saat ini?"


Mo Wanwan berpikir sejenak untuk mengingatnya, kemudian menjawab,"Sekitar seratus lima puluh ribu pasukan, yang mulia. Mengapa Wangye bertanya mengenai ini?"


Xiao Xiangqing mengangguk singkat, lalu menjawab,"Xiao Wangfu akan mengirimkan surat ke Mo Wangfu."


"Surat? Surat apa?" tanya Mo Wanwan lagi.


"Permintaan kerja sama. Kemungkinan besar sedikit lagi akan terjadi perang, Timur akan meminta kerja sama ke Barat. Karena bagaimanapun Kaisar kalian saat ini masih lah Kaisar baru, ada kemungkinan Huan Tenggara menyelinap dan menghasut Kaisar baru untuk berada di pihaknya. Untuk berjaga-jaga, lebih baik Timur maju lebih dulu untuk menjaga keutuhan perdamaian. Mendengar dari ceritamu kemarin aku khawatir dia Kaisar yang bodoh," jawab Xiao Xiangqing, membuat Mo Wanwan terkejut.


"Perang? Timur dan Huan Tenggara?" tanya Mo Wanwan.


Xiao Xiangqing mengangguk, dia tidak akan menjelaskannya secara detail, namun hanya menjabarkan garis besarnya.


"Iya."


Mo Wanwan terlihat khawatir. "Kalau begitu, bukankah anda ... akan menjadi pemimpin peperangan dan ikut bertarung?"


Xiao Xiangqing mengangguk lagi. "Tentu."


Mo Wanwan menunduk sedikit, dia terlihat lumayan gelisah. Xiao Xiangqing yang melihat ini tidak mengatakan apa pun, pria itu masih tidak terlalu peduli.


Xiao Xiangqing berdiri dan hendak beranjak pergi. "Kalau begitu tidak ada lagi yang ingin aku bicarakan, aku akan--"


"Wangye." Mo Wanwan memanggil, memotong kalimat Xiao Xiangqing.


Dengan alis yang sedikit naik, Xiao Xiangqing menatap Mo Wanwan heran karena tiba-tiba memanggilnya.


Mo Wanwan kembali mengangkat pandangannya, lalu menatap Xiao Xiangqing dalam dan sungguh-sungguh. Ada harapan yang sangat besar di matanya.


"Jika peperangan terjadi, saya mohon kembalilah dengan selamat." Mo Wanwan mengatakan itu dengan tulus.


Xiao Xiangqing sedikit tertegun, namun kemudian ekspresinya kembali normal seperti biasa. Dia berpikir Mo Wanwan mengatakan itu karena memang wanita itu membutuhkan dirinya. Tidak lebih.


"Ya, tentu. Maka kau bisa menjaga dirimu sendiri di sini, Istana adalah tempat paling aman. Begitu perang berakhir, kita akan mengurus Mo Wangfu," jawab Xiao Xiangqing, lalu langsung berlalu pergi.