
Xiao Mingyui turun dari kereta kudanya, dia pulang lebih cepat sesuai rencana untuk menghindari pertemuan dengan Xiao Jiwang dan Xie Wanting. Fang Laowang mengantar kepulangannya, pria itu ikut turun dari kudanya begitu Xiao Mingyui keluar dari kereta.
"Maafkan saya, karena saya anda tidak dapat membeli hanfu baru untuk Furen," ucap Xiao Mingyui, kini mereka berdiri tepat di depan pintu gerbang Xiao Wangfu.
Fang Laowang mengangguk, bibirnya tersenyum. "Tidak masalah, yang mulia. Saya bisa kembali ke toko butik tersebut atau mencari toko butik berkualitas lainnya, anda tidak perlu merasa bersalah. Menemani yang mulia adalah keputusan saya sendiri."
Xiao Mingyui balas mengangguk juga, lalu kemudian membalas,"Kalau begitu terima kasih, karena tuan muda Fang bersedia menemani saya dalam mencari pakaian hari ini dan 'bermain' sedikit dengan Putra Mahkota."
Fang Laowang terdiam sejenak, namun selanjutnya dia kembali tersenyum dan menjawab,"Saya akan selalu mendukung anda."
Xiao Mingyui hendak membalas ucapan pria itu, tetapi Fang Laowang kembali bicara yang membuat dia mengurungkan niatnya.
"Saya harap hubungan kedua yang mulia tetap baik-baik saja. Saya harap ... kalian dapat tetap utuh sampai hari pernikahan tiba, dan saya akan menjadi pejabat bangsawan yang setia membantu Anda berdua di kursi takhta." Fang Laowang mengatakan itu dengan tulus, membuat Xiao Mingyui tertegun.
Pria itu sungguh mengharapkan dia dan Xiao Jiwang baik-baik saja?
Xiao Mingyui mengangguk kecil. "Terima kasih banyak, tuan muda Fang. Saya harap, kita dapat menjadi kawan politik dan non politik yang baik." Kemudian dia mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Fang Laowang menatap tangan Xiao Mingyui yang terulur ke arahnya, lalu membalas uluran tangan itu dengan senang hati. "Saya juga berharap besar seperti itu. Sebuah kehormatan bagi saya dapat dipandang kawan oleh yang mulia."
Tepat di acara jabat tangan mereka berdua yang menyimbolkan resminya pertemanan Xiao Mingyui dan Fang Laowang, tiba-tiba kereta kuda Xiao Jiwang lewat. Terlihat dari bilik jendela ada yang mengintip keluar, itu adalah Xiao Jiwang sendiri. Pria itu melihat Xiao Mingyui sedang berjabat tangan dengan Fang Laowang sambil tersenyum. Tatapan mengintipnya persis sekali dengan serigala yang sedang menargetkan mangsa.
Xiao Mingyui dan Fang Laowang menarik tangan mereka, tidak ada yang menyadari bahwa sebelumnya kereta kuda Xiao Jiwang lewat. Xiao Mingyui bergegas masuk ke dalam Xiao Wangfu begitu selesai berbincang dua sampai tiga kalimat perpisahan dengan Fang Laowang.
Sesampainya di dalam, dia bergegas menuju ruangan Xiao Xiangqing untuk menyampaikan secara langsung bahwa tidak lama lagi akan ada seorang perancang busana yang datang. Dia tidak yakin akan benar-benar ada Xiao Xiangqing karena belakangan ini pria itu gemar sekali pulang terlambat. Apa lagi sekarang suasananya masih sore.
Tetapi siapa sangka, begitu tiba di dalam ruang kerja pria itu, Xiao Mingyui melihat Xiao Xiangqing tengah duduk di meja kerjanya sambil menulis sesuatu di dokumen pribadinya.
Ketika menyadari kakak perempuannya datang, Xiao Xiangqing menoleh singkat dan bertanya,"Apa ada sesuatu, Jiejie?"
Xiao Mingyui menggeleng. "Tidak terlalu penting, tetapi ... hari ini kau pulang cepat?"
Xiao Xiangqing mengangguk. "Kaisar hanya memintaku untuk fokus melatih tentara, maka dari itu pekerjaanku sedikit senggang sebab rapat-rapat besar berkurang. Seharusnya aku masih ada di sana sekarang, namun jika hanya sekedar melatih pasukan, Gu Lingchi bisa menggantikanku sebentar. Aku kembali lebih awal untuk mengurus dokumen-dokumen ini agar ketika suasana kembali normal, aku tidak kewalahan mengurus mereka."
Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Ketika suasana kembali normal? Kalimatmu sepertinya sangat percaya diri bahwa kita akan memenangkan peperangan, Xiangqing. Meskipun Huan Tenggara negara kecil, jangan meremehkan mereka terlalu jauh. Kita tidak tahu persiapan apa saja yang telah mereka miliki hingga nekat mencari masalah berkali-kali dengan Timur."
Xiao Xiangqing mengangguk setuju. "Benar, namun tetap aku menaruh kepercayaan besar bahwa kita akan menang. Kita memiliki fasilitas berkualitas untuk perang baik di laut maupun darat."
"Udara?" tanya Xiao Mingyui bercanda, bibirnya terus tersenyum senang karena adiknya semakin serius menggeluti pekerjaannya sebagai 'Xiao Wangye'.
Xiao Xiangqing berhenti dari aktivitas menulisnya, lalu mengangkat kepalanya dan menatap Xiao Mingyui. "Akan aku ciptakan sebuah kapal terbang nanti, tenang saja. Adikmu ini multitalenta."
Xiao Mingyui terkekeh, kepalanya menggeleng pelan. Kemudian dia mulai menjelaskan apa yang menjadi tujuan utamanya kemari.
"Sebentar lagi akan datang seorang perancang busana dari toko butik Song Hua. Jadi persiapkan dirimu, dan bergegas ke kediamanku jika aku telah memanggilmu."
Xiao Xiangqing mengangguk paham. "Baiklah ...."
Ketika Xiao Xiangqing hendak melanjutkan aktivitas menulisnya dan Xiao Mingyui hendak berbalik untuk pergi, tiba-tiba Xiao Xiangqing teringat akan sesuatu.
"Jiejie, tunggu."
"Ada apa?"
Xiao Xiangqing meletakkan kuasnya, lalu menatap fokus kakaknya dan berkata,"Kaisar memberiku tugas baru."
"Tugas seperti apa?" tanya Xiao Mingyui, alis kirinya sedikit terangkat.
"Pencetus pemaparan bukti kejahatan putri Xie," jawab Xiao Xiangqing.
Xiao Mingyui tertegun. "Kaisar telah berhasil menemukan buktinya?"
Xiao Xiangqing mengangguk. "Benar, Kaisar bergerak sangat cepat saat ini."
Xiao Mingyui tersenyum tipis, lalu berjalan semakin dekat ke meja kerja Xiao Xiangqing, pertanda dia tertarik dengan pembicaraan ini.
"Lalu apa lagi?"
Xiao Xiangqing menggeleng. "Hanya itu. Tepat satu hari sebelum hari perayaan ulang tahunnya dimulai, Kaisar akan mengirimkan bukti kejahatan Xie Wanting ke Xiao Wangfu."
Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya singkat. "Hanya itu?"
Xiao Xiangqing mengerutkan keningnya bingung. "Ya, memangnya apa lagi?"
Xiao Mingyui menyeringai tipis. "Aku memiliki ide yang lebih menarik."
Xiao Xiangqing masih mengerutkan keningnya, namun kemudian dia tersenyum tipis. "Jiejie bisa melakukan apa pun yang terpenting adalah tidak mengubah perintah awal."
Xiao Mingyui mengangguk singkat, dia tahu. Xiao Xiangqing tidak tahu jelas apa yang sedang ada di dalam pikiran kakaknya, namun dia tahu ... apa pun itu pasti akan memberikan guncangan di hari itu.
Ketika mereka masih dalam posisi yang sama, tiba-tiba pintu ruangan Xiao Xiangqing diketuk. Bingbing masuk dan berkata,"Yang mulia, perancang busana toko butik Song Hua telah tiba."
Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing mengangguk, lalu pria itu bergegas berdiri dan berjalan keluar beriringan dengan Xiao Mingyui menuju kediaman wanita itu.
Sesampainya di kediaman Xiao Mingyui, mereka mulai mengukur lingkar dan lebar tubuh. Prosesnya cukup lama karena harus memilih model pakaian terbaik.
Begitu selesai, perancang busana itu pergi dan Xiangqing pun kembali ke ruangan kerjanya. Xiao Mingyui kembali sendirian di kamarnya, wanita itu memutuskan untuk membersihkan dirinya.
Selesai membersihkan diri, Bingbing masih tetap berada di sana untuk membantu Xiao Mingyui mengenakan pakaian dan menyisir rambut. Setelah selesai, Bingbing bergegas keluar untuk kembali ke kediaman para pelayan sebentar dan nanti kembali lagi ke kediaman Xiao Mingyui untuk mengantar makan malam.
Ketika Xiao Mingyui masih sibuk duduk di depan kaca sambil terus menyisir rambut panjangnya, tiba-tiba pintu jendelanya diketuk.
Xiao Mingyui dengan cepat menoleh, raut wajahnya datar menatap jendela. Siapa itu? Utusan Agung?
Xiao Mingyui berdiri, lalu berjalan ke arah jendela dan membukanya. Ketika jendela terbuka, sesosok pria merangsek masuk dan memeluk tubuhnya erat.
Xiao Mingyui sedikit tersentak kaget, namun ketika dia menyadari pria yang memeluknya erat ini adalah Xiao Jiwang, dia sedikit tenang, setidaknya bukan penyusup.
"Ada apa, yang mulia?" tanya Xiao Mingyui sambil melirik Xiao Jiwang dengan sudut ekor matanya, kedua tangannya pun perlahan membalas pelukan Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang menggeleng, pelukannya semakin erat.