The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 49. Berusaha Memancing Xiao Mingyui?



Xiao Xiangqing tersedak ketika menengguk air putih setelah mendengar apa yang kakaknya katakan.


"Pernikahan dengan Putri Mo? Hah?" Pria itu menatap penuh keterkejutan ke arah Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui yang melihat adiknya terkejut bukan main tetap bersikap tenang, kemudian berkata,"Hal ini belum pasti. Selidiki dulu Putri Mo, jika apa yang dia katakan benar, maka kamu bisa mempertimbangkannya."


Xiao Xiangqing menghela napas tipis. "Wanita itu sangat mencurigakan, Jiejie."


"Mencurigakan?" tanya Xiao Mingyui bingung.


Xiao Xiangqing mengangguk, kemudian mulai menceritakan apa yang baru saja dia alami. Kemunculan dan cerita Mo Wanwan yang menurutnya agak aneh.


Xiao Mingyui menyimaknya dengan baik, membuatnya memiliki dua pemikiran. Pertama, Mo Wanwan melakukan itu karena terpaksa dan sebuah bagian dari rencananya untuk mendekatkan diri dengan Xiao Xiangqing, seperti apa yang sempat Xiao Mingyui lakukan dulu terhadap Xiao Jiwang. Kedua, memang ada keanehan yang harus mereka kuak.


Xiao Mingyui bangkit dari duduknya, sebelum pergi dia berkata,"Selidiki semuanya secara mendetail. Jangan bicarakan apa pun dulu kepada Kaisar tentang apa yang terjadi hari ini."


Xiao Xiangqing mengangguk setuju. "Tentu." Pria itu terlihat sedikit merenung setelah Xiao Mingyui pergi. Dia masih tidak habis pikir mengapa kakaknya tiba-tiba setuju untuk membantu Putri Mo.


Xiao Mingyui bergegas masuk ke dalam kediamannya setelah selesai berdiskusi dengan Xiao Xiangqing. Dibantu Bingbing, wanita itu membersihkan dirinya dan siap untuk beristirahat dengan tenang.


Xiao Mingyui berjalan ke arah mejanya yang berisi tumpukkan buku, wanita itu mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa sebelum tidur. Halaman demi halaman dia baca, sesekali matanya melirik ke arah jendela kamar. Sepertinya ... Utusan Agung tidak akan menemuinya lagi. Dia ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting kepada pria itu.


Ketika kedua mata Xiao Mingyui mulai terasa berat, wanita itu dengan cepat menutup bukunya dan berjalan ke arah kasur. Xiao Mingyui merebahkan tubuhnya, lalu mulai memejamkan matanya untuk tertidur pulas.


Keesokan paginya, Xiao Mingyui bangun dan mulai bersiap. Tadinya dia berencana untuk menetap di Xiao Wangfu, namun undangan dari Istana tiba-tiba datang. Wu Zeyuan, wanita itu menggelar pesta teh yang mengundang seluruh wanita bangsawan Ibu Kota kelas satu dan dua.


"Apa anda akan memilih datang?" tanya Bingbing.


Xiao Mingyui mengangguk. "Tentu saja."


Pesta teh yang mengundang para nona muda ... berarti apakah Xie Wanting dan Mo Wanwan ada di sana? Ya, ada atau tidak kehadiran mereka tidak akan mempengaruhi Xiao Mingyui.


Selesai bersiap, Xiao Mingyui bergegas menuju kereta kuda. Seperti biasa dia akan menanyakan kabar Xiao Xiangqing, pria itu juga telah pergi sejak pagi dini hari.


Sampai di Istana, Xiao Mingyui langsung turun dan masuk ke dalam tandu untuk diantar menuju Istana Kediaman Wu Zeyuan. Setelah tiba di Istana Kediaman Wu Zeyuan, Xiao Mingyui turun dengan anggun dibantu oleh Bingbing.


Seluruh wanita bangsawan dengan cepat berdiri, satu persatu mata mereka menatap ke arah Xiao Mingyui. Xiao Mingyui yang sudah terbiasa dengan puluhan, ratusan, bahkan jutaaan tatapan dari orang-orang pun kini tetap bersikap santai.


"Salam, Putri Mingyui." Para wanita bangsawan itu tersenyum dan membungkuk ke arah Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui balas tersenyum, lalu matanya melirik ke arah Xie Wanting yang ikut berdiri dan membungkuk ke arahnya. Berusaha menghiraukan Xie Wanting, Xiao Mingyui menggeser tatapannya ke arah Wu Zeyuan dan membungkuk ke arah wanita itu.


"Mingyui menyapa Bibi."


Wu Zeyuan tersenyum cerah, wanita itu dengan cepat melambaikan tangannya ke arah Xiao Mingyui agar dia duduk di sampingnya. "Kemari, nak."


Xiao Mingyui mengangguk, lalu berjalan mendekat ke arah Wu Zeyuan dan duduk tepat di samping wanita itu.


Xiao Mingyui menggeleng pelan, bibirnya masih tersenyum. "Tidak sama sekali, bibi. Mingyui sangat bahagia karena dapat bertemu bibi setiap hari."


Wu Zeyuan terkekeh. "Ay, cara bicara yang sangat manis dari orang yang sangat manis pula!" Seluruh wanita bangsawan pun tertawa ketika Wu Zeyuan tertawa. Tidak peduli apakah topik itu lucu atau tidak, jika Wu Zeyuan tertawa, mereka juga harus tertawa.


"Putra Mahkota saat ini sedang melakukan rapat dengan para bejabat termasuk Xiao Wangye, jika kamu ingin menemuinya maka temui dia sore hari nanti. Sebab setelah rapat dia harus mengurus pernikahan kalian bersama Kaisar, kamu tidak perlu khawatir mengenai acaranya, sayang." Wu Zeyuan dengan senang hati menceritakan ini, dia ingin menunjukkan kepada para wanita bangsawan lainnya bahwa dia sangat bahagia atas pernikahan putranya.


Xiao Mingyui mengangguk. "Mingyui mengerti, terima kasih banyak."


"Meimei, lihat ini!" Suara Xiao Feluan yang ceria terdengar, membuat Xiao Mingyui menoleh. Tempat duduk mereka bersebelahan, sangat dekat.


Xiao Feluan menunjukkan dua gelang giok hijau dengan motif dan bentuk yang senada. "Ini adalah barang yang ingin aku berikan kepadamu kemarin, namun gagal karena aku terlalu fokus membahas hal lain. Gelang giok hijau ini mempunyai manfaat yang baik untuk tubuhmu! Aku ingin kamu menikah dengan raga yang sehat nanti! Anggap ini sebagai hadiah pernikahanmu dengan Putra Mahkota."


Xiao Mingyui dengan senang hati menerimanya, dia tidak pernah bisa menolak apa pun yang diberikan Xiao Feluan. Hati dan pikiran wanita itu sangat bersih, seperti anak-anak.


"Waktu pernikahan putri Mingyui dan Putra Mahkota hanya tersisa satu bulan lagi?" Suara Mo Wanwan terdengar, membuat Xiao Feluan dan Xiao Mingyui menatap wanita itu berbarengan.


Xiao Mingyui mengangguk, bibirnya tersenyum tipis. Ketika melihat Mo Wanwan, dia mengingat cerita yang Xiao Xiangqing katakan.


Raut wajah Mo Wanwan terlihat khawatir. "Aiya ... saya belum sempat mempersiapkan hadiah apa pun karena baru mengetahui kabar ini sekarang."


Belum sempat Xiao Mingyui bereaksi, suara Xie Wanting telah menahan niatnya.


"Astaga, saya juga melupakan ini. Yang mulia Putra Mahkota sempat menceritakan ini pada saya kemarin."


Mo Wanwan menoleh, alis kirinya sedikit terangkat singkat. "Sungguh? Kapan itu?" Raut wajah wanita itu menunjukkan bahwa dia sungguhan tidak tahu.


Xie Wanting terlihat gugup untuk mengatakannya, namun pada akhirnya pun dia menceritakannya. "Saat anda dan dua pejabat lainnya datang sedikit terlambat, saya dan yang mulia lah yang pertama tiba. Ketika saya hendak pingsan karena angin hari itu cukup kencang, yang mulia membantu saya dan memberikan jubah beliau. Kemudian kami duduk dan beliau sempat menceritakan hal ini."


Seluruh pandangan mata di ruangan ini mendingin, termasuk Wu Zeyuan. Kalimat Xie Wanting yang ini seperti sengaja dilontarkan untuk memancing Xiao Mingyui.


Seolah tidak menyadari tatapan sekitarnya, Xie Wanting dengan cepat mengambil sebuah kotak di sampingnya dan meletakkannya di atas meja. "Karena anda hendak bertemu dengan Putra Mahkota, maka saya akan memberikan jubah beliau kepada--"


"Lancang!" Xiao Feluan tiba-tiba berseru, membuat seluruh orang sedikit terkejut. Termasuk Xie Wanting, wanita itu tersentak kaget dan menatap Xiao Feluan ngeri.


"Kamu pikir Putri Mingyui apa? Tidak sopan! Kamu mungkin adalah utusan penting Kerajaan Huan Tenggara yang bergelar 'Putri', namun caramu bicara dan berperilaku sama sekali tidak mencerminkan gelarmu! Perhatikan kepada siapa kamu bicara, dia adalah Putri dari mendiang pria terhormat sekaligus saudari Xiao Wangye, di masa depan dia adalah Huanghou Kekaisaran Timur. Tidak tahu malu!" Xiao Feluan terlihat sangat marah, wanita itu memang telah memendam rasa kesalnya kepada Xie Wanting. Sehingga kini begitu ada kesempatan, Xiao Feluan langsung meneriaki wanita itu habis-habisan.


Xie Wanting terlihat panik, lalu salah satu nona bangsawan ada yang berkata,"Apa yang dikatakan Putri Feluan benar, anda sangat tidak sopan, Putri Xie. Bagaimana bisa anda bicara dan hendak menitipkan sesuatu tanpa bangkit dari tempat anda menuju Putri Mingyui? Hendak menitipkan barang kepada beliau saja sudah termasuk tindakan kurangajar!"


Para nona bangsawan dengan cepat mulai berbisik-bisik, mereka menatap tidak suka ke arah Xie Wanting.


Xiao Mingyui tertawa di dalam hati melihat ini, wajah cantik kemayu Xie Wanting saat ini terlihat sangat suram.


"Sudah, cukup. Putri Xie, bawa barang itu kemari. Aku tidak keberatan." Xiao Mingyui akhirnya membuka suara setelah membiarkan beberapa cibiran mengenai Xie Wanting.


Xie Wanting dengan memendam rasa kesal yang besar segera bangkit, kemudian berjalan ke arah Xiao Mingyui dan memberikan kotak itu dengan posisi membungkuk. Dia tidak pernah membungkuk kepada orang lain selain Raja dan Ratu Huan Tenggara atau orang yang dengan jelas memiliki posisi tinggi seperti Kaisar, penguasa Harem, atau Putra Mahkota sebelumnya. Dan kali ini dia harus membungkuk kepada Xiao Mingyui, ini benar-benar melukai hatinya!