The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 38. Target Yang Dimaksud



Satu minggu kemudian, semuanya berjalan seperti biasa. Pihak keluarga Fang tidak melakukan gerakan mencurigakan apa pun, namun bukan berarti Xiao Mingyui dan yang lain harus lengah. Semuanya waspada seperti biasa.


Pagi ini Xiao Wangfu sangat sibuk, karena tepat pada hari ini, bersamaan dengan datangnya perwakilan Kekaisaran Barat dan Kerajaan Huan Tenggara, penobatan gelar 'Xiao Wangye' untuk Xiao Xiangqing dilakukan. Kaisar memberikan penobatan khusus yang membuat pria itu diizinkan melakukan penobatan serta pesta besar di Istana.


Xiao Mingyui saat ini tengah bersiap di kamarnya, wanita itu berdiri sambil menatap cermin tembaga besar untuk melihat penampilannya. Bingbing seperti biasa menjadi orang garis pertama yang akan membantu Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui mengenakan hanfu berwarna hitam yang memiliki gradasi berwarna merah. Karena hari ini adalah termasuk penobatan gelar tinggi, maka para pejabat atau bangsawan diperbolehkan memakai atribut yang menunjukkan identitas mereka.


Xiao Mingyui mengenakan jubah mantel berwarna merah, jubah itu memiliki lambang burung Phoenix yang mencengkeram dua pedang menyilang di kakinya. Lambang itu menjelaskan tentang gelar Xiao Mingyui sebagai putri Kekaisaran yang memiliki hak di dalam dunia politik. Phoenix yang memegang pedang.


Rambut hitam Xiao Mingyui disanggul setengah, menyisakan helai rambut yang tetap tergerai indah. Kepalanya mengenakan tusuk rambut giok putih peninggalan Huang Mingxiang dan dua jepit rambut bunga mawar putih yang memiliki gradasi berwarna emas.


Setelah siap, Xiao Mingyui bergegas berjalan keluar. Di luar, Da Xuan sudah berdiri sigap menunggunya, wanita itu dengan cepat membungkuk sambil menyerahkan sebuah pedang berwarna putih ke arah Xiao Mingyui.


"Yang mulia ...."


Xiao Mingyui mengambil pedang tersebut, pedang itu adalah miliknya. Pedang ini dia dapatkan dengan usaha setengah mati, dia harus berdarah ratusan kali agar mendapatkan pengakuan dan penghargaan besar dari ayahnya, Xiao Muqing.


"Apa pedang 'Xiao Wangye' sudah berada di Istana?" tanya Xiao Mingyui sambil memasangkan pedang itu di pinggangnya.


Da Xuan mengangguk. "Sudah, yang mulia. Semuanya telah siap untuk menggelar penobatan."


Xiao Mingyui mengangguk puas, kemudian berjalan ke arah kereta kuda. Dia dan Xiao Xiangqing kali ini berada di kereta kuda yang berbeda, sebab pria itu nanti tidak akan langsung menuju tempat penobatan secara langsung, dia harus melakukan beberapa persiapan di belakang layar sebelum muncul di hadapan para tamu undangan.


Kereta kuda Xiao Mingyui berjalan dengan lancar menuju Istana, kepalanya diam-diam sibuk menerka apa yang akan terjadi setelah penobatan adiknya selesai? Keluarga Fang terlihat sangat santai dan tidak bergerak akhir-akhir ini, membuat Xiao Mingyui curiga.


Setelah sampai di Istana, Xiao Mingyui dengan hati-hati dibantu turun oleh Da Xuan dan Bingbing. Tetapi, begitu pintu kereta dibuka, dia terkejut kala melihat sosok Xiao Jiwang.


Dengan raut wajah datar, Xiao Jiwang mengulurkan tangan kanannya ke arah Xiao Mingyui. Xiao Mingyui melirik ke sekitar, astaga ... saat ini banyak sekali mata yang memperhatikan mereka.


Xiao Jiwang tersenyum tipis. "Aku kira aku akan terlambat karena harus menyambut utusan Kekaisaran Barat dan Kerajaan Huan Tenggara terlebih dahulu. Syukurlah tepat waktu."


Xiao Mingyui masih diam menatap Xiao Jiwang aneh, dia tahu mereka berdua harus berakting di depan banyak orang. Tetapi, dia tidak menyangka, pria itu fasih sekali memainkan ekspresi dan kebohongannya.


Xiao Mingyui balas tersenyum, kemudian menyambut uluran tangan Xiao Jiwang dan kini mulai berdiri di samping pria itu. "Bukan masalah besar untuk saya berjalan sendiri, anda pasti lelah. Terima kasih banyak, yang mulia."


Xiao Jiwang mengangguk, bibirnya masih tersenyum. Mereka berdua berjalan bergandengan menuju aula penobatan, begitu Kasim penjaga pintu mengumumkan kedatangan mereka, seluruh pandangan sudah tertuju kepada mereka berdua.


"Yang mulia Putra Mahkota dan Yang mulia Putri Mingyui, datang!!"


Karena mereka berdua belum resmi menikah, maka Xiao Mingyui masih memakai gelar-nya sendiri. Wanita itu belum bisa disebut Putri Mahkota.


Mereka berdua tampak serasi ketika berjalan berdampingan, walaupun masih ada beberapa orang yang menganggap perjodohan mereka adalah sebuah kesalahan.


Xiao Jiwang yang selalu tersenyum menggoda dan memiliki reputasi kasar, dan Xiao Mingyui yang terlihat tenang dan elegan yang memiliki reputasi halus sebagai wanita berprestasi sekaligus anak dari mendiang Adipati terhormat Kekaisaran. Sifat dan latar belakang mereka sangat bertolak belakang, membuat beberapa orang ragu akan kelancaran rumah tangga mereka nanti.


Xiao Jiwang hari ini mengenakan jubah hitam yang memiliki corak naga yang sangat indah, hal ini menunjukkan bahwa dia adalah sang Putra Mahkota, pewaris takhta Kaisar Kekaisaran Timur selanjutnya.


Memperhatikan sekeliling, Xiao Mingyui melihat seluruh tamu undangan membungkuk dalam ke arah mereka berdua. Xiao Mingyui memasang senyum tipis yang elegan seperti biasa.


Ketika telah dekat dengan kursi yang biasanya disediakan untuk dirinya dan Xiao Xiangqing, Xiao Mingyui mengerutkan keningnya diam-diam melihat Xiao Jiwang terus menggandengnya dan tidak berhenti.


"Yang mulia--" Xiao Mingyui hendak mengatakan sesuatu dengan nada berbisik.


Xiao Jiwang dengan cepat memotong menggunakan nada yang sama. "Kursi itu bukan milikmu lagi. Itu milik istri adikmu kelak."


Xiao Mingyui tertegun kala mereka berdua berhenti tepat di kursi yang biasanya menjadi tempat Xiao Jiwang duduk. Kursi itu dekat sekali dengan kursi Kaisar, dan kini Xiao Jiwang menariknya untuk duduk di tempat yang sama.


Tidak ingin terlihat canggung dan aneh di depan umum, Xiao Mingyui akhirnya dengan tenang duduk di samping Xiao Jiwang. Di posisi ini, dia bisa melihat berbagai macam sudut dari para tamu undangan. Dia dapat melihatnya secara menyeluruh, benar-benar kursi penguasa.


"Yang mulia Kaisar dan Wu Guifei Niangniang, serta Lu Fei Niangniang, datang!!!"


Pengumuman mengenai Kaisar dan dua selir-nya terdengar, seluruh orang kembali berdiri, namun kali ini untuk menyambut Kaisar, mereka tidak hanya membungkuk, tetapi berlutut.


Xiao Jiwang adalah satu-satunya yang tidak berlutut, pria itu membungkuk dalam seperti biasa. Sedangkan Xiao Mingyui, wanita itu masih harus berlutut karena belum menjadi Putri Mahkota secara sah.


Setelah Xiao Jihuang dan kedua selir-nya telah duduk di kursi masing-masing, suasana terasa lebih berat. Seorang Kaisar datang, itu tandanya mereka tidak bisa lagi bersikap santai.


Xiao Jihuang menoleh ke arah Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang, bibir pria itu tersenyum kala melihat mereka berdua duduk berdampingan. "Mingyui, bagaimana kabarmu?"


Xiao Mingyui tersenyum sedikit dalam. "Mingyui baik, yang mulia. Terima kasih karena yang mulia mengkhawatirkan kondisi Mingyui."


Xiao Jiwang terkekeh, Wu Zeyuan dan Lu Fenghua yang sudah lama sekali tidak terlihat di hadapan umum seperti ini pun tertawa.


Lu Fenghua terlihat terbatuk beberapa kali, tangan wanita itu menggenggam sapu tangan berwarna biru muda erat. Sepertinya kondisi tubuh wanita itu tidak lagi sehat seperti dulu.


"Meimei, jika kamu merasa kedinginan tolong segera katakan. Aku akan meminta air jahe kepada pelayan." Wu Zeyuan menatap Lu Fenghua dengan khawatir.


Xiao Jihuang yang duduk di antara kedua selir-nya pun mengangguk, pria itu menggenggam lengan Lu Fenghua dan berkata,"Kamu sudah bekerja keras untuk hari ini."


Lu Fenghua tersenyum menatap Wu Zeyuan dan Xiao Jihuang secara bergantian. "Terima kasih banyak, saya baik-baik saja."


Xiao Mingyui memperhatikan adegan ini, dia sedikit merasa aneh. Bagaimana mungkin mereka dapat berbagi suami dengan akur? Mungkin dia merasa aneh karena ayahnya hanya memiliki satu istri sepanjang hidupnya. Tetapi ... kali ini dia akan menikah dengan pewaris takhta, sudah menjadi sebuah kepastian mutlak bahwa Xiao Jiwang akan memiliki selir. Memikirkan ini, diam-diam Xiao Mingyui merasa tidak nyaman.


Xiao Jiwang yang menyadari raut wajah aneh Xiao Mingyui tidak mengatakan apa pun, pria itu hanya memperhatikan wajah Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui menghembus napasnya, dia berpikir terlalu jauh. Lagi pula, mereka menikah tanpa cinta, dan Xiao Jiwang menolak untuk saling mencintai. Tidak ada alasan untuk Xiao Mingyui memikirkan hal ini.


Menggeser tatapannya ke arah Xiao Feluan, wanita itu duduk dengan raut wajah khawatir menatap ibunya. Ya ... jika Xiao Mingyui berada di posisi Xiao Fenghua pun dia akan merasakan kekhawatiran yang besar.


Ketika suasana sudah kondusif, Xiao Jihuang pun mulai berbicara dan membuka acaranya. Xiao Mingyui hanya diam dan mendengarkan, sampai akhirnya dia mulai merasa bosan. Wanita itu mengambil satu kue manis yang ada di atas mejanya, kemudian memakan kue itu dengan tenang.


Tanpa sadar, sepasang mata biru dari arah kursi para bangsawan menatap intens ke arahnya. Mata itu milik Fang Laowang, pria itu duduk dengan tenang di samping ayahnya, Fang Jichang, sambil menatap Xiao Mingyui.


Beberapa waktu lalu setelah mengetahui kabar bahwa Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang bertunangan, pria itu terlihat sangat terpukul. Tetapi kali ini dia terlihat baik-baik saja seperti biasa.


Fang Jichang melirik putranya, pria itu mengetahui bahwa putranya tertarik kepada Xiao Mingyui, tunangan Putra Mahkota. Pria itu kemudian menyenggol pelan lengan Fang Laowang, kemudian berbisik,"Hal yang pernah kita diskusikan beberapa hari lalu, target yang aku maksud saat itu adalah ... dia, tunangan Putra Mahkota."


Mendengar bisikan ini, Fang Laowang terlihat menegang. Tak pernah dia bayangkan ayahnya akan memberikan informasi seperti itu di tengah pesta.


Beberapa hari lalu, ayahnya sempat memanggilnya ke ruangan kerja, mereka banyak bicara dah berdiskusi. Salah satu topik yang membuat pembicaraan itu serius adalah 'target' yang namanya tak disebutkan oleh ayahnya.


Dari dalam hati, sejujurnya dia tidak setuju mengenai ambisi ayahnya untuk dapat menguasai Kekaisaran menggantikan tingginya kekuasaan Xiao Wangfu, namun dia tidak mungkin menolak perkataan ayahnya sendiri. Sebagai pewaris keluarga Fang berikutnya, Fang Laowang harus selalu bersedia membantu ayahnya.


Saat itu ayahnya memberikan dia dua pilihan. Pertama, membiarkan wanita itu hidup namun harus 'merebutnya' dari seorang 'serigala liar'. Atau membunuhnya begitu saja namun dengan syarat tidak boleh meninggalkan jejak sedikitpun. Di awal, Fang Laowang sama sekali tidak tahu bahwa 'serigala liar' adalah julukan untuk Putra Mahkota. Dan jika dia memilih untuk membunuh Xiao Mingyui, kemampuan bela diri dan ketahanan wanita itu tidak dapat diremehkan. Xiao Wangfu adalah kekuatan besar, tidak mudah menyerang apa lagi membunuh bagian dari mereka.


Fang Laowang menggeser tatapannya untuk menatap Xiao Mingyui kembali, tatapan pria itu terlihat sangat sulit. Yang mana yang harus dia pilih? Dia tidak mungkin membunuh wanita yang dia cintai, maka dari itu berarti dia harus ....