The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 79. Dia Milikku, Bukan Milikmu



Pasukan maju, Xiao Mingyui dan pasukannya menyerang ganas. Pasukan yang dipimpin Baili Ruyi serta Gu Sinjie pun telah bergerak, mengepung musuh dari berbagai sisi.


Hanya dalam hitungan menit, pasukan Huan Tenggara mulai kewalahan. Ini adalah hal baik untuk Kekaisaran Timur.


"BOM MULAI DITEMBAKKAN LAGI!!"


Salah satu pasukan Timur ada yang berseru lantang, membuat Xiao Mingyui dengan cepat menoleh ke arah Rong Wangxia.


"Tuan Rong!" Kemudian dia menoleh ke arah Yui berada. "Bibi Yui! Semuanya! SEKARANG!!"


Xiao Mingyui bergegas berbalik dan mundur dari area perang, sesuai dengan apa yang Rong Wangxia katakan sebelumnya. Pasukan yang lain pun demikian, mereka ikut mundur mengikuti Xiao Mingyui.


Rong Wangxia mencengkeram pedangnya lebih kencang, lalu berlari ke arah bom tersebut. Pria itu berhenti di satu posisi, selanjutnya mulai fokus mengumpulkan seluruh kekuatan dalamnya. Mata Rong Wangxia menatap tajam bom tersebut, setelah itu bibirnya tersenyum.


BOOM!!!


SIUNGGG!!!


BEDEBAMM!!!


Bom itu jatuh, bergesekan dengan perisai Rong Wangxia. Xiao Mingyui yang melihat ini menegang, matanya menatap syok ke arah Rong Wangxia.


Gila! Pria itu menghentikan bom dengan memblokirnya langsung menggunakan tubuhnya! Ini sama saja seperti bunuh diri!!


"TUAN RONG! APA YANG ANDA LAKUKAN?!" Ketika Xiao Mingyui hendak berlari ke arah Rong Wangxia, tiba-tiba pasukan menahan tubuhnya.


Xiao Mingyui menoleh, matanya menatap tajam para pasukan. "APA YANG KALIAN LAKUKAN?! LEPASKAN AKU! TUAN RONG--!"


"TIDAK ADA CARA LAIN, YANG MULIA! BOM ITU BERBAHAYA! TIDAK ADA CARA LAIN UNTUK MENGHENTIKANNYA SELAIN MENGGUNAKAN TUBUH SENDIRI!" Salah satu pasukan memotong ucapannya, sepertinya dia adalah pasukan yang telah bertarung sejak hari pertama perang dimulai. Penampilannya terlihat sangat kacau.


"Apa yang mereka katakan adalah benar, yang mulia. Tuan Rong melindungi kita, itu adalah pilihan beliau." Da Xuan yang juga ikut menahan Xiao Mingyui berkata demikian, membuat Xiao Mingyui menundukkan kepalanya dalam.


"ARGHH!!!" Xiao Mingyui menggerang frustasi, lalu kepalanya kembali terangkat, air mata mulai mengalir keluar.


Xiao Mingyui menjatuhkan pedangnya, setelah itu membungkuk ke arah Rong Wangxia. Para pasukan yang melihat ini pun mengikuti Xiao Mingyui membungkuk ke arah Rong Wangxia.


Sementara itu Rong Wangxia, pria itu menghadang bom sambil tersenyum. Air mata diam-diam menetes. "Kita bertemu lagi, Mingxiang ...."


KRAK! KRAK!


BAMM!!


BOOM!!!


Cahaya putih benar-benar menyilaukan pandangan mereka, membuat semuanya memejamkan mata. Angin panas berhembus, membuat perasaan semakin gelisah.


Ketika angin panas serta cahaya putih itu berhenti, semuanya kembali membuka mata mereka.


Rong Wangxia sudah tidak terlihat sama sekali, sosok pria itu seolah lenyap begitu saja. Sepertinya ... tubuh Rong Wangxia hancur dan terbakar karena efek panas serta ledakan bom.


Tak!


Xiao Mingyui melihat sebuah kalung dengan tali yang telah terlihat usang akibat ledakan tadi. Kalung itu memiliki liontin batu giok berbentuk koin, serta ... ada ukiran penyu di liontin tersebut.


Xiao Mingyui memungut kalung itu, itu adalah kalung Rong Wangxia. Xiao Mingyui menggenggam erat kalungnya, kedua matanya kembali terpejam. Kalung ini adalah pemberian ibunya untuk Rong Wangxia, pria itu pernah menceritakannya.


"Terima kasih banyak, Tuan Rong," gumam Xiao Mingyui.


Kedua mata Xiao Mingyui kembali terbuka, matanya menatap tajam ke arah depan. Di depan sana, terlihat kobaran api raksasa menyala. Sepertinya Yui berhasil membakar salah satu meriam.


"KEPUNG MARKAS MEREKA!" Xiao Mingyui menunjuk markas militer perang Huan Tenggara dengan pedangnya.


Sementara itu Yui, wanita itu masih menguasai tubuh salah satu tentara Huan Tenggara. Ketika dia buru-buru hendak membakar meriam satunya, tiba-tiba tentara lain datang dan mendorongnya jauh.


Yui dengan gesit menyerang, berusaha menyingkirkan orang tersebut.


BLUSH!!


Api berhasil melahap meriam satunya, membuat Yui tersenyum senang. Ketika dia hendak beranjak pergi dari jiwa tentara yang ia rasuki, tiba-tiba tentara Huan Tenggara yang tadi menyerangnya nekat menyentuh meriam yang terbakar.


Yui membelalakkan matanya.


"APA YANG KAU LAKUKAN?! MENJAUH! TUBUHMU BISA TERBAKAR!" Seru Yui. Sejujurnya dia tidak peduli jika orang itu terbakar, dia berteriak demikian agar pria itu menghentikan tindakannya mengotak-atik meriam.


Yui menggertakkan giginya, dia dengan cepat kembali ke tubuhnya dan berteriak lantang dari atas batuan besar tempatnya bersembunyi.


"PERUBAHAN RENCANA! MERIAM AKAN KEMBALI MEMUNTAHKAN BOM! SIAGA!!" Teriak Yui lantang.


Deg!


Xiao Mingyui dan seluruh pasukan terkejut, mereka segera berhenti dari langkah masing-masing.


Apa? Akan ada bom lagi yang diluncurkan? Gagal?


Xiao Mingyui menggigit bibirnya. Gawat, apa yang harus dia lakukan?


BOOM!


SIUNGGG!!!!


Bom baru diluncurkan, membuat Xiao Mingyui dan yang lain kembali dihantui ketakutan. Xiao Mingyui mengeratkan genggamannya pada pedang, lalu memejamkan matanya sebentar dan membukanya kembali.


Baik, kali ini giliran dia yang harus berkorban. Xiao Mingyui bertaruh, dia tidak akan mati. Tetapi, mungkin akan terluka parah seperti yang dikabarkan mengenai kondisi terakhir Xiangqing.


"Bantu aku, Mu qin ... Fu qin ..." gumam Xiao Mingyui sebelum melangkah maju dan mengangkat tangannya ke atas. Xiao Mingyui mulai mengumpulkan kekuatan tenaga dalamnya, dia bersiap membuat perisai besar.


"PUTRI!!"


Baili Ruyi dan Gu Sinjie berlari cepat ke arah Xiao Mingyui, jantung mereka berdebar sangat kencang.


Ketika bom itu mendekat, pengelihatan Xiao Mingyui semakin menyempit. Cahaya akibat api dari bom tersebut sangat menyilaukan pandangannya.


BOOM!


BEDEBAM!!!


Xiao Mingyui memejamkan matanya erat, kedua tangannya terangkat. Dia mulai menahan napasnya sedikit, namun ... dia sedikit merasa aneh. Kenapa ... tubuhnya sama sekali tidak merasakan tekanan apa pun?


Xiao Mingyui perlahan membuka matanya, dia terkejut ketika melihat Utusan Agung berada tepat di hadapannya! Entah kapan pria ini muncul?!


BLUSH!


BOOM!!


Utusan Agung tidak hanya menahan tekanan bom, pria itu juga 'mengembalikan' bom tersebut ke tempat asalnya. Membuat bangunan pertahanan pertama tempat meriam Huan Tenggara hancur tak tersisa! Hebatnya, Di Fuyi melakukan semua itu hanya dengan satu tangan!


Para pasukan Huan Tenggara yang melihat Di Fuyi terkejut, beberapa dari mereka mengenali Di Fuyi!


"U--utusan Agung?!" ujar Baili Ruyi dan Yui bersamaan.


Di Fuyi menghiraukan mereka semua, lalu menoleh ke arah Xiao Mingyui dan tersenyum. "Kamu baik-baik saja, Xiao Mingyui?"


Xiao Mingyui mengangguk. Dia tidak bisa mengatakan apa pun, ada banyak sekali kata di kepalanya sehingga tidak tahu harus melontarkan yang mana lebih dulu.


Pasukan Huan Tenggara mulai merasakan ketegangan, mereka tahu siapa yang sedang berdiri di dekat Xiao Mingyui sekarang.


Tetapi, mereka tidak menyerah. Huan Tenggara melanjutkan menyerang, berusaha melukai pasukan Timur lagi. Tetapi, tiba-tiba Utusan Agung mengangkat tangan kirinya. Sebuah pukulan angin kencang menghantam tubuh mereka, ribuan orang terpental ke belakang dan memuntahkan seteguk darah. Lalu, Di Fuyi menoleh ke arah mereka dan berkata,"Jangan pernah melukai wanitaku!"


Semua orang kebingungan mendengar ini. Wanitanya? Xiao Mingyui? Bukankah dia adalah tunangan Putra Mahkota Kekaisaran Timur? Xiao Jiwang?


"Dia wanitaku. Bukan wanitamu." Tiba-tiba suara dingin dan berat Xiao Jiwang terdengar, membuat semua orang menoleh. Suasana rasanya jauh lebih mencekam sekarang dibandingkan suasana pedang beberapa jam yang lalu.


Xiao Jiwang berjalan ke arah Xiao Mingyui, lalu berdiri tepat di samping Xiao Mingyui. Kini, Xiao Mingyui berada di tengah-tengah dua pria tersebut.


Yang satu memiliki kekuatan Dewa dan yang satu pemegang kursi takhta Kekaisaran paling luas dan makmur. Mereka terlihat sekali sedang memperebutkan Xiao Mingyui, seorang putri dari legenda besar tiga Kekaisaran dan satu kerajaan maju. Xiao Muqing.


Utusan Agung tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Xiao Mingyui dan mengecupnya. Membuat Xiao Jiwang melotot marah.


"Bajingan!" umpat Xiao Jiwang terang-terangan, lalu menarik lengan Xiao Mingyui satunya.


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya kesal. Ketika dia hendak menghempaskan dua pria aneh yang menghimpitnya, tiba-tiba Utusan Agung mendorong pelan tubuhnya ke arah Xiao Jiwang.


"Jaga dia untukku. Peperangan ini, akan berakhir dalam waktu lima menit," ucap Di Fuyi, lalu berjalan ke arah pasukan Huan Tenggara dan meninggalkan Xiao Mingyui di pelukan Xiao Jiwang.