
"Apakah anda marah?" tanya Xiao Jiwang, mengulangi pertanyaannya. Jantungnya berdegup kencang ketika melontarkan pertanyaan ini.
>>>>>>>
Xiao Mingyui kembali turun dari pijakan kereta kuda, lalu menjawab,"Bagaimana mungkin saya berani? Saya mengerti kesibukan anda, justru saat ini saya khawatir karena yang mulia datang dengan napas terengah-engah. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Seperti tersadar dari kebodohan, Xiao Jiwang mengedipkan kedua matanya dua kali dengan gugup. Pria itu reflek mundur selangkah sambil menyentuh tengkuk kepalanya dan mengerutkan keningnya dalam. Pria itu juga sesekali membuang tatapannya ke arah lain.
"Tidak ada. Aku mencarimu karena ingin menitipkan pesan untuk Xiao Wangye dan terengah-engah ini muncul karena kesenjangan. Belakangan ini tubuhku terasa berat, jadi aku paksa untuk berolahraga kecil di tengah kesibukan seperti berlari," ujar Xiao Jiwang, wajahnya sedikit memerah.
Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Ah ... seperti itu. Kalau begitu ... pesan apa yang ingin anda sampaikan? Mingyui akan menyampaikannya secara langsung kepada Xiao Wangye nanti."
Xiao Jiwang menggeleng pelan lagi, kali ini dia kembali menatap Xiao Mingyui. "Setelah dipertimbangkan sekali lagi, sepertinya lebih baik aku sampaikan secara pribadi langsung kepada Xiao Wangye. Kalau begitu, lanjutkan perjalananmu. Aku akan--"
Ketika Xiao Jiwang hendak memutus pembicaraan dan berbalik meninggalkan Xiao Mingyui dengan wajah memerah, Xiao Mingyui dengan cepat menahan lengan pria itu dan berkata,"Saya cemburu."
Xiao Jiwang tertegun, pria itu dengan cepat menatap Xiao Mingyui kembali. Jantungnya diam-diam berdebar, namun wajahnya menunjukkan kebingungan. Seperti ... dia tidak tahu alasan dan arti Xiao Mingyui mengatakan hal tersebut, namun jantungnya berdebar otomatis ketika mendengar pernyataan ini.
Xiao Mingyui mengatakan itu dengan raut wajah datar, namun jika diperhatikan lebih detail lagi, kedua sudut alisnya sedikit bergerak hendak menyatu.
"Karena apa?"
"Wanita tadi. Putri perwakilan Kerajaan Huan Tenggara," jawab Xiao Mingyui, kemudian melepas lengan Xiao Jiwang, tatapannya sedikit menunduk.
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya lebih dalam. "Aku hanya-- tunggu. Kau cemburu?"
Xiao Mingyui mengangguk. "Saya merasa tidak nyaman melihat anda bersama wanita itu, saya berpikir ... saya cemburu, dan itu berarti saya mencintai anda. Mungkin? Tapi, entahlah ... saya merasa sangat tidak nyaman melihat anda--"
"Baiklah. Kau cemburu. Aku mengerti. Kalau begitu, apa yang kau ingin aku lakukan?" Potong Xiao Jiwang, pria itu langsung menembak titik utama perasaan Xiao Mingyui yang masih terlihat abstrak dan bingung. Tatapan bersinar percaya diri milik pria itu membuat tatapan dingin Xiao Mingyui mulai gelisah. Senyum tipis milik wanita itu kini menghilang.
Xiao Mingyui menggeleng. "Saya tidak tahu."
Xiao Jiwang menggerakkan tangan kanannya, kemudian meletakkannya di atas kepala Xiao Mingyui. Pria itu mengelus lembut kepala Xiao Mingyui. "Apa boleh seperti ini?" Xiao Jiwang mempertanyakan perasaan hubungan di antara mereka berdua.
Kini, masing-masing dari mereka telah menyadari bahwa cinta perlahan tumbuh di dasar hati masing-masing. Keduanya sama-sama tidak tahu harus melakukan apa untuk perasaan mereka.
Xiao Mingyui mendongak untuk menatap wajah tampan Xiao Jiwang. Tidak menjawab, pria itu hanya diam dan menatap Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang yang sudah memperhatikan wajah Xiao Mingyui sejak wanita itu masih tertunduk pun kini memfokuskan tatapannya ke kedua bola mata indah berwarna biru milik Xiao Mingyui. Seolah, pria itu sengaja menenggelamkan dirinya di dalam tatapan Xiao Mingyui.
Hening. Semua pelayan menjauh, termasuk Bingbing yang berjalan mengumpat ke sisi sebelah kereta agar tidak menjadi pengganggu untuk keduanya.
"Aku benci perasaan ini. Semakin aku memberontak menjauh, semakin kuat arus cahaya matamu untuk membawaku tenggelam. Tetapi, baik jauh ataupun dekat, hatiku tetap merasakan kegelisahan. Aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya aku butuhkan?" ujar Xiao Jiwang, raut wajahnya datar, sorot matanya pun sangat dingin ketika mengatakan ini.
Dua sorot mata yang sangat dingin bertemu dan saling bertatapan, menciptakan badai es luar biasa besar di antara keduanya.
Xiao Mingyui dengan tenang menjawab,"Kejujuran. Hanya butuh kejujuran untuk menghilangkan rasa kegelisahan anda."
"Kejujuran akan apa?"
"Kejujuran bahwa anda mulai mencintai saya. Seharusnya anda tidak perlu menolak dan berlari terlalu keras, karena hati anda tak akan bisa disalahkan. Semakin keras anda menjauh, semakin besar kegelisahan anda," jawab Xiao Mingyui lagi.
Xiao Jiwang terus tertawa, dia sedang menertawakan dirinya sendiri. Sampai akhirnya tak lama kemudian dia perlahan berhenti dan berkata,"Rasanya seperti bodoh sekali."
Xiao Jiwang perlahan menarik Xiao Mingyui ke dalam pelukannya. Xiao Mingyui tidak memberontak, wanita itu diam dan menerima pelukan tubuh kekar Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang memeluk Xiao Mingyui dengan raut wajah kesal namun juga dengan perasaan yang sangat lega, seolah kejanggalan dan pertanyaan besarnya menghilang.
Xiao Mingyui mendongak, kedua tangannya perlahan bergerak untuk melingkar di pinggang Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang yang melihat kecantikan dingin Xiao Mingyui, untuk pertama kalinya tersipu.
"Sial ..." umpat Xiao Jiwang, kemudian kedua tangannya bergerak untuk memindahkan lengan Xiao Mingyui mengalung di lehernya.
Xiao Jiwang sedikit membungkuk, kemudian berbisik di telinga Xiao Mingyui. "Sialan, nona. Bolehkah saya merasakannya sedikit?"
Xiao Mingyui tersenyum dingin, kemudian menjawab dengan nada berbisik yang sama. "Sebelumnya anda bertanya apa yang ingin anda lakukan untuk saya? Maka lakukan sesuatu yang sedang ada di pikiran anda."
Xiao Jiwang menggertakkan giginya, dia tidak percaya bahwa dirinya benar-benar akan jatuh kepada Xiao Mingyui. Dengan cepat, pria itu menggendong tubuh Xiao Mingyui ke dalam kereta Xiao Wangfu.
Xiao Jiwang meletakkan Xiao Mingyui dengan lembut di kursi kereta, kemudian memposisikan dirinya tepat di atas Xiao Mingyui namun dengan lengan yang menahan berat tubuhnya di permukaan kursi tempat Xiao Mingyui berbaring. Kereta Xiao Wangfu cukup luas untuk digunakan berbaring.
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya. "Sejak kapan malam ini terasa panas?"
Xiao Mingyui mengalungkan kembali lengannya di leher Xiao Jiwang, kemudian mengelus lembut kepala pria itu. "Mingyui tidak tahu, yang mul--"
"Jiwang."
"Panggil aku Xiao Jiwang. Dengan namaku," lanjut Xiao Jiwang yang sempat memotong kalimat Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui tertegun, dia dapat merasakan napas pria itu yang menderu. Sesuatu yang sangat menggebu dan ingin segera dilepaskan muncul.
Xiao Mingyui melirik ke arah jendela kereta, sedikit terbuka. Ketika lengannya hendak bergerak untuk menarik tirai jendela agar tertutup sempurna, lengan Xiao Jiwang tiba-tiba dan menahannya, kemudian Xiao Jiwang menarik tirai jendela menggantikan Xiao Mingyui.
Begitu jendela telah tertutup sempurna, Xiao Jiwang kembali menatap Xiao Mingyui lebih fokus dan teduh. Bibir pria itu menyeringai tipis, kemudian matanya beralih sedikit turun untuk menatap bibir merah muda menggoda milik Xiao Mingyui.
"Terakhir kali ada wanita yang nekat menyentuh tubuhku, kepalanya langsung tergantung di gerbang pintu masuk Ibu Kota," ucap Xiao Jiwang.
Xiao Mingyui nenaikkan alis kirinya singkat, bibirnya masih tersenyum dingin. "Jika anda mampu, maka penggal lah kepala saya."
Xiao Jiwang berdecak kesal. "Ck, aku khawatir akan menyesal nantinya." Kemudian wajahnya semakin dekat dengan wajah Xiao Mingyui, hingga perlahan bibir mereka saling bersentuhan.
Xiao Jiwang mulai mencium panas bibir Xiao Mingyui. Perlahan, tubuh keduanya bangkit. Xiao Jiwang mengangkat tubuh Xiao Mingyui hingga duduk terpangku di atasnya.
Bibir mereka masih sibuk bercumbu, kedua lengan mereka pun saling memeluk erat satu sama lain.
Setelah ciuman itu perlahan lepas, keduanya berusaha mengatur napas masing-masing. Jantung mereka berdegup kencang, wajah keduanya memerah.
Xiao Jiwang mengelus pipi Xiao Mingyui, membuat wanita itu bergidik kecil karena sentuhan Xiao Jiwang. Lalu tangan Xiao Jiwang bergerak menyentuh kepala Xiao Mingyui.
"Di mana tusuk rambut itu?" tanya Xiao Jiwang.