The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 70. Percaya dan Bersabar



PAA!!


Fang Jichang kembali menampar putranya, pria itu bak dirasuki oleh iblis paling kejam di dunia ini, mengamuk dan siap untuk menghajar putranya begitu mendengar kabar bahwa Fang Laowang didapati berduaan di toko butik Song Hua.


"Sepertinya kamu sungguh-sungguh ingin melawan ayahmu, Laowang!" Fang Jichang melotot ganas, siap memberikan tamparan berikutnya.


Fang Laowang berusaha tetap berdiri tegak dan terlihat tenang, kemudian berkata,"Ayah, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu."


"Anak tidak tahu diri! Penjelasan apa lagi yang ingin kau katakan setelah membuat wajah ayahmu ini malu?! Jika pihak Huan Tenggara mendengar ini, maka mereka akan salah paham terhadap Fang Fu!" Fang Jichang menggeleng cepat, kedua tangannya terkepal erat. Dia sangat marah.


Xiao Laowang masih merasakan pedasnya tamparan ayahnya, kali ini pipinya benar-benar memar. Tetapi raut wajahnya terlihat biasa saja walaupun keningnya sedikit mengerut, seolah ini adalah hal yang biasa.


"Pihak Huan Tenggara mungkin telah mengetahui ini. Ada putri Xie--"


BRAK!


"BAJINGAN! PUTRA TIDAK BERGUNA KAU, LAOWANG!" Fang Jichang semakin mengamuk, dia menggebrak kencang meja Fang Laowang. Para pelayan yang bekerja di kediaman Fang Laowang tidak ada yang berani melerai, mereka semua pun sedang menangis ketakutan karena tidak dapat menolong tuan muda mereka.


"Aku mempunyai rencana yang lebih baik dari pada memusuhi dan kemudian baru membunuh putri Mingyui, ayah!" Fang Laowang berusaha mengalahkan suara ayahnya yang menggelegar marah.


Fang Jichang mengerutkan keningnya, diam. Melihat ayahnya diam, Fang Laowang kembali bicara.


"Pertahanan yang dimiliki putri Mingyui sama tingginya dengan Xiao Wangye, sehingga memusuhinya dan kemudian membunuhnya adalah rencana terburuk. Maka dari itu aku lebih memilih untuk berpura-pura menjalin hubungan yang baik dengannya dan kemudian di saat yang tak diduga olehnya, aku menikamnya dari belakang. Dengan begitu proses perang akan menjadi lebih cepat, kita juga dapat dengan mudah memenangkan peperangan." Fang Laowang menatap ayahnya serius.


Fang Jichang diam, sedang berpikir. Ketika suasana sedang hening, tiba-tiba pintu kamar Fang Laowang terbuka, menampilkan seorang wanita cantik dengan pakaian sedikit terbuka berjalan mendekat ke arah mereka dan mulai menggandeng tangan Fang Jichang hangat.


"Tuan, apa anda masih sangat sibuk?"


Fang Laowang mengepalkan kedua tangannya diam-diam ketika melihat sosok wanita itu.


Fang Jichang menoleh, lalu membalas gandengan tangan perempuan tersebut. "Yu'er, kembalilah ke kamarku. Aku akan ke sana nanti setelah--"


"Anda selalu sibuk!" Perempuan yang dipanggil Yu'er itu mendengus tipis, merajuk.


Fang Jichang menghela napas tipis. "Aku berjanji akan memberikanmu perhiasan baru besok, bagaimana?"


Yu'er kembali tersenyum sangat manis. "Sungguh?"


Fang Jichang mengangguk pelan, membuat wanita itu kembali ke dalam perasaan yang baik. Hingga tak lama dia menatap Fang Laowang, bibirnya masih tersenyum.


Fang Jichang ikut kembali menatap putranya, lalu berkata,"Untuk ke depannya perlakukan Yu Yiniang dengan baik, dia yang akan mengurus kediaman ini."


"Yiniang?" tanya Fang Laowang, emosi di hatinya diam-diam mendidih. Yiniang adalah gelar untuk para selir pejabat.


Fang Jichang mengangguk. "Ya, apa ada masalah? Dari pada ibumu, dia tidak berguna sama sekali karena sudah sakit-sakitan. Aku tidak tahu kemana kamu membawanya, namun itu adalah keputusan yang tepat. Jika nanti dia mati, jangan lupa ambil kunci gudang bawah tanah. Karena bagaimana pun juga dia adalah Furen dan bagian dari keluarga ini, hartanya harus diolah. Mengerti?"


Tetapi, untuk menghindari masalah saat ini, Fang Laowang memilih bersabar. Pria itu mengangguk patuh. "Baik, ayah."


Fang Jichang merasa puas, pria itu bergegas keluar sambil menggandeng selir barunya dan berkata,"Ayah akan menuliskan surat penjelasan terlebih dahulu kepada pihak Huan Tenggara untukmu."


Fang Laowang membungkuk untuk mengantar kepergian ayahnya, kedua tangannya masih mengepal erat. Dia berusaha sekeras mungkin untuk menekan rasa benci dan amarahnya.


Ketika Fang Laowang kembali menegakkan tubuhnya, dia melihat Yu Yiniang menoleh dan melemparkan senyum menggoda ke arahnya. Fang Laowang yang menyadari itu tidak berekspresi apa pun, dia juga membenci wanita penggoda seperti itu.


Fang Laowang menutup pintunya rapat, lalu duduk di atas ranjangnya sambil menghela napas panjang. Dia harus bersabar untuk ibunya dan kebenaran.


(Kebenaran atau Xiao Mingyui, nih? Wkwk- iklan author)


Sementara itu di Istana Kekaisaran, Wu Zetian tengah meminum sup penawar racun. Beberapa hari yang lalu dia keracunan, setelah diselidiki orang yang dicurigai pelakunya adalah Xie Wanting.


Xiao Jihuang tidur di kediamannya malam ini, sehingga dapat menemani secara intens istrinya.


"Sudah merasa baikan?" tanya Xiao Jihuang khawatir.


Wu Zeyuan mengangguk lembut. "Sudah, yang mulia. Tetapi ... seluruh makanan atau minuman yang saya konsumsi terasa hambar."


Xiao Jihuang balas mengangguk juga, kemudian dia menghela napas tipis.


"Apa hasil penyelidikan mengenai putri Xie Wanting itu benar?" tanya Wu Zeyuan.


Xiao Jihuang mengangguk lagi. "Benar, dia adalah pelakunya. Aku pun masih tidak begitu mengerti alasannya melakukan hal ini padamu, apa kau pernah bersinggungan dengannya?"


Wu Zeyuan mengerutkan keningnya, berusaha mengingat-ingat. Tak lama, dia mengingat sesuatu. "Pernah, sedikit. Saat itu aku mengundang seluruh nona bangsawan Ibu Kota untuk minum teh bersama, lalu ... wanita itu bersikap tidak sopan kepada Mingyui di hadapan para nona bangsawan lainnya. Aku hanya menegurnya sedikit untuk memberikan peringatan, tidak lebih. Bukankah itu wajar?"


Xiao Jihuang mengangguk. "Sepertinya ... selain untuk membalas kekesalannya padamu, dia juga memiliki tujuan lain."


Wu Zeyuan termenung sejenak, hingga dia mendapatkan pemikiran baru di kepalanya. "Dia ingin membuat harem kacau dengan menjadikanku lemah?"


Xiao Jiwang sekali lagi mengangguk. "Benar, kemungkinan besar seperti itu. Xie Wanting adalah mata-mata Huan Tenggara yang akan ditempatkan di sini. Wanita itu kemungkinan besar ingin membuat kekacauan dengan membentuk dua lubang. Lubang pertama di Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang, dan lubang kedua di Harem Istana. Jika Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang renggang, maka lubang untuk memasukkan kekacauan akan semakin leluasa. Dan jika Harem Istana kacau, maka pemerintahan kemungkinan besar juga akan kacau. Sesuai yang kamu tahu, pemerintahan tentu akan kacau jika kondisi harem kacau."


"La--lalu bagaimana kondisi Mingyui dan Jiwang saat ini?" tanya Wu Zeyuan khawatir.


Xiao Jihuang mengelus pundak istrinya. "Mereka berdua tetap baik-baik saja. Sebab mereka telah membaca gerakan Xie Wanting terlebih dahulu, hingga kini mereka masih bekerja sama, seolah sedang termakan dengan jebakan Xie Wanting untuk menjebak Xie Wanting. Dan Xiao Wangye, anak itu sudah sibuk dengan mempersiapkan pasukan. Kemungkinan besar, dalam waktu dekat ini perang akan terjadi."


Wajah Wu Zeyuan semakin khawatir, namun dia cukup lega karena Xiao Mingyui, Xiao Jiwang, dan Xiao Xiangqing tetap kompak. Karena salah satu dari mereka ada yang jatuh, maka formasi pertahanan Timur akan melemah drastis.


Xiao Jihuang memeluk istrinya, lalu berkata,"Tenanglah, kita percayakan saja kepada mereka. Saat ini Kekaisaran dalam kendali penuh berada di bawah kekuasaan mereka, dan aku ... aku hanya akan mengawasi dan memberi masukan. Aku ingin mereka berkembang lebih pesat lagi untuk mengabdi kepada Kekaisaran ini. Kita percayakan saja kepada mereka."


Wu Zeyuan mengangguk, lalu membalas pelukan Xiao Jihuang. Walaupun dia percaya kepada kemampuan mereka bertiga, tetapi tetap saja ... naluri seorang ibu, selalu khawatir dan penuh perhatian.