
Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing kini berada di dalam kereta kuda Xiao Wangfu yang sama. Setelah membujuk adiknya dengan susah payah, akhirnya anak itu melembut dan bersedia hadir di pesta Istana malam ini.
Warna pakaian yang mereka kenakan sangat serasi, yaitu berwarna ungu tua dengan corak putih yang menambah kesan elegan. Xiao Mingyui menyanggul setengah rambutnya, hiasan bunga mawar berwarna putih dan tidak lupa tusuk rambut batu giok putih peninggalan ibunya selalu is kenakan.
"Yang mulia, kita sudah telat cukup lama. Apa tidak masalah?" tanya Gu Lingchu ke Xiao Xiangqing, pria itu juga turut hadir di pesta malam ini karena selain dia tangan kanan Xiao Xiangqing, pria itu juga merupakan bangsawan kelas 1 penerus keluarga Gu. Ibu dan ayahnya sudah menunggu di sana lebih dulu pastinya.
"Siapa yang akan berani mengkritik? Xiao Wangye sebelumnya pun tidak pernah peduli," jawab Xiao Xiangqing, matanya fokus membaca buku untuk menghilangkan rasa bosan menunggu kereta benar-benar sampai.
Xiao Mingyui tersenyum tipis mendengar itu dari mulut adiknya, kemudian dia segera mengangkat tirai jendela dan berkata,"Percepat laju kereta, Tuan muda Gu."
"Baik, yang mulia."
Kereta Xiao Wangfu melaju dua kali lebih cepat, sesampainya di sana seluruh undangan pesta langsung menatap kereta kuda mereka. Pesta malam ini dilaksanakan di luar ruangan, malam itu seisi Istana terlihat sangat ceria.
Alat musik dan hiruk pikuk bangsawan segera terhenti, mereka semua menahan napas setiap kali melihat kereta kuda dengan lambang Xiao Wangfu. Sosok Xiao Muqing masih sangat melekat di kepala mereka.
Xiao Xiangqing turun lebih dulu, lalu dia segera mengulurkan tangannya ke dalam kereta untuk membantu kakaknya.
Ketika Xiao Mingyui turun, mata wanita itu tanpa ragu langsung menatap ke keramaian. Tatapan dinginnya membuat seluruh orang semakin mengingat Xiao Muqing.
Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing berjalan beriringan, Gu Lingchu berjalan tepat di belakang mereka berdua dan Bingbing menunggu di dekat kereta kuda.
Xiao Mingyui memperhatikan satu persatu wajah, ketika matanya melihat sosok Xiao Jiwang, keningnya diam-diam terlipat. Belakangan ini setiap kali memikirkan Xiao Jiwang, Xiao Mingyui merasa sangat tidak nyaman. Hatinya mendadak gelisah, namun dia tidak bisa menghindar terlalu jauh. Ini adalah keputusan yang dia buat sendiri.
Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing membungkuk ke arah Kaisar. "Salam, yang mulia Kaisar dan para Niangniang. Maafkan keterlambatan kami berdua karena sempat mengalami beberapa kendala di jalan." Xiao Xiangqing menorehkan senyum percaya diri, sosok putus asa sebelumnya seolah tidak pernah ada.
Xiao Jihuang memperhatikan sosok Xiao Xiangqing dan Xiao Mingyui, kemudian dia mengangguk lembut. "Tidak masalah, nak. Nikmatilah pesta ini."
"Terima kasih banyak, yang mulia." Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing membungkuk bersama, kemudian mengambil posisi masing-masing untuk berbaur dengan para bangsawan lainnya.
Xiao Xiangqing langsung dikelilingi oleh para pejabat, mereka mulai berdiskusi dan membahas politik. Sedangkan Xiao Mingyui, wanita itu tidak terlalu senang berbaur dengan para wanita bangsawan. Wanita itu memutuskan untuk diam di tempat duduknya sambil menikmati camilan.
"Mingyui!!" Suara ceria yang lembut menyapanya, tanpa menolah pun Xiao Mingyui tahu siapa pemilik suara itu. Hanya ada satu orang yang berani memanggil namanya langsung selain kedua orang tuanya dan para petinggi Istana, yaitu Putri Xiao Feluan. Dia adalah anak dari Lu Fei Niangniang, salah satu selir Kaisar.
Lu Fei, Wu Guifei, dan mendiang ibunya dulu adalah sahabat dekat. Selain itu, mereka diam-diam adalah sekutu.
Xiao Fenghua duduk tepat di samping Xiao Mingyui, kemudian memeluk erat dirinya. "Aku sangat merindukanmu! Kenapa kamu tidak pernah mengunjungi Istana-ku setiap kali kemari? Kau tahu bukan aku tidak boleh keluar Istana sembarangan oleh Kaisar? Aku jadi tidak bisa bertemu denganmu!"
Xiao Mingyui menghela napas tipis, wanita itu tidak memberontak dari pelukan Xiao Fenghua sama sekali. Mereka berdua memang cukup dekat walaupun memiliki kepribadian yang sangat berbeda.
Lu Fenghua lebih tua satu tahun darinya, wanita itu walau terlihat sangat feminim, namun dia adalah ahli pedang. Sebelum Xiao Muqing meninggal, Xiao Fenghua dan Xiao Mingyui sering kali belajar ilmu bela diri bersama di bawah pengawasan Xiao Muqing. Wanita itu sangat menghormati mendiang Xiao Muqing, bahkan katanya saat masih di dalam kandungan Lu Fei pun anak itu sudah menggebu mengagumi Xiao Muqing.
"Aku sibuk, Fenghua," jawab Xiao Mingyui seadanya.
Xiao Fenghua memutar bola matanya malas. "Berkencan dengan Da Ge-ku?"
Xiao Mingyui yang mendengar ini langsung menatap tajam Xiao Fenghua, namun kemudian dia menarik napas pelan dan menjawab,"Ya."
Xiao Fenghua terkekeh, lalu membalas,"Astaga, jadi rumor itu sungguhan?!"
Xiao Mingyui sengaja tidak membalasnya, raut wajahnya terlihat sangat tidak nyaman. Hal ini bukan karena Xiao Fenghua yang menggangunya, namun karena tatapan dari bangku dekat Kaisar sana yang terus menatapnya. Xiao Jiwang, pria itu terus menatapnya seperti serigala yang berhasil menemukan kelinci gemuk untuk disantap!
Xiao Fenghua tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telinga Xiao Mingyui, lalu berbisik,"Jika Da Ge mencari masalah denganmu, ajak dia bertarung dan pukul bahu kirinya, itu adalah titik kelemahan Da Ge yang paling fatal."
Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya sekilas, lalu tersenyum tipis dan mengangguk. "Terima kasih."
Xiao Fenghua tersenyum lebar. "Tentu saja! Kamu kan sahabatku!"
Pesta berlangsung sangat meriah, sampai akhirnya kemeriahan itu usai karena seorang pria berpakaian seperti pelayan toko datang. Di belakang pria itu terdapat tiga orang algojo yang mengawal langkahnya.
"Salam, yang mulia Kaisar Agung. Maafkan kedatangan hamba jika mengotori kemeriahan pesta yang yang mulia gelar, namun ... saya kemari ingin bertemu dengan salah satu tamu undangan anda, apakah yang mulia berkenan memberi izin?" tanya pria yang tidak dikenali tersebut.
Xiao Mingyui sama sekali tidak mengenali sosok pria tersebut, namun ketika dia tidak sengaja menatap Xiao Jiwang, dia melihat bibir pria itu tersenyum tipis. Kening Xiao Mingyui seketika terlipat, matanya kembali menatap pria yang tidak dia kenali tersebut dengan penasaran. Pasti akan terjadi sesuatu setelah ini.
"Lancang! Kamu bicara tanpa memperkenalkan diri secara sopan di hadapan Kaisar!" Xiao Fenghua membentak, matanya menatap pelayan itu galak. Ucapannya ini disetujui oleh para bangsawan yang lain, semuanya menatap tidak senang ke arah pria tersebut.
Pria itu tersadar, dia mendadak gugup dan langsung berlutut menghadap Kaisar. "Yang mulia, hamba mohon ampun! Hamba tidak bermaksud menyinggung yang mulia! Hamba adalah rakyat jelata yang bodoh, hamba tidak terlalu mengerti etika sopan santun!"
Xiao Jihuang menatap dingin pria itu, sebenarnya dari awal kedatangannya Xiao Jihuang sudah tidak begitu senang.
"Perkenalkan dirimu," jawab Xiao Jihuang singkat.
Seluruh mata segera terbelalak, termasuk Xiao Minggu sendiri. Xiao Mingyui tetap terlihat tenang, wanita itu menatap Jubei semakin lekat.
"Rumah bordil?!" ucap Xiao Jihuang dengan nada setengah membentak, kemudian dengan cepat menatap Xiao Mingyui tajam.
Xiao Mingyui berdiri dengan tenang, lalu berjalan keluar dari mejanya dan berlutut ke arah Xiao Jihuang. Sebelum benar-benar berlutut, matanya melirik sekilas ke arah Xiao Jiwang. Lagi-lagi dia mendapati pria itu yang tengah tersenyum, dan kini senyumannya semakin dalam.
"Yang mulia, pasti ada kesalahan. Mingyui sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat seperti itu, bisa jadi pegawai di sana salah--"
"Tidak mungkin salah, yang mulia! Saya--!"
Ketika Jubei mencoba memotong ucapan Xiao Mingyui, tiba-tiba ucapannya terhenti karena dia merasakan pedang dingin menempel di lehernya.
Xiao Mingyui menoleh, dia melihat Xiao Xiangqing sedang meletakkan pedangnya tepat di samping leher Jubei dengan tatapan tajam.
"Statusmu terlalu rendah untuk memotong ucapan Putri Mingyui," ucap Xiao Xiangqing.
"Xiangqing, turunkan pedangmu," ujar Xiao Mingyui, membuat Xiao Xiangqing berdecak kesal dan mau tidak mau menarik pedangnya kembali. Tak lama, pria itu ikut berlutut di samping kakaknya.
"Yang mulia, saudari saya difitnah! Mohon usut kasus ini dengan bijak!" ucap Xiao Xiangqing, lalu matanya yang penuh dengan api menatap Xiao Jihuang.
Xiao Jihuang tertegun sesaat, pasalnya tatapan penuh api semangat milik Xiao Xiangqing mengingatkannya dengan seseorang di masa lalu. Huang Mingxiang ....
Xiao Jihuang menatap Xiao Mingyui terlebih dahulu, lalu berkata,"Mingyui, silahkan bicara."
"Terima kasih banyak, yang mulia." Xiao Mingyui memaksakan senyum tipis, kemudian dia berhenti sejenak untuk memberi jeda dan melanjutkan,"Yang mulia, saya sungguhan difitnah, saya memohon keadilan. Saya tidak pernah mengunjungi tempat seperti itu, saya tidak mungkin menghancurkan reputasi yang sudah saya bangun hampir dengan seluruh hidup saya untuk mendatangi tempat seperti itu. Saya tentunya sadar akan siapa diri saya, ke manapun saya melangkah, saya selalu membawa nama Kekaisaran dan Xiao Wangfu. Saya tidak berani melakukan hal-hal menjijikkan seperti itu."
"Kau, bicara." Mata Xiao Jihuang bergeser cepat kepada Jubei.
"Terima kasih banyak yang mulia. Yang mulia, mata dan telinga saya masih sangat sehat. Saya mendengar dan melihat sendiri kedatangan Putri Mingyui ke dalam rumah bordil kami. Rumah bordil kami memang sering dianggap sebagai tempat rendahan penuh dosa oleh para bangsawan, namun bukan berarti kami juga menggunakan pelayanan dan cara rendahan untuk menipu orang lain!" Jubei tak mau kalah, dia berani berdebat dengan Xiao Mingyui di hadapan Kaisar tanpa tahu seperti apa kondisi dan pengaruh Xiao Mingyui.
Jubei, dia adalah kepala pelayan di rumah bordil yang seminggu lalu sempat Xiao Mingyui datangi untuk bertemu dengan Putra Mahkota. Sesungguhnya, pria itu sama sekali tidak tahu menahu mengenai kedatangan Xiao Mingyui, dia kemari dan berani melempar tudingan seperti itu karena menerima bayaran dan perintah dari Fang Jichang, kepala keluarga Fang.
Xiao Mingyui tetap terlihat sangat tenang walaupun di dalam hati dia bertanya-tanya. Pasalnya, dia tidak sekalipun membiarkan orang lain mengetahui kedatangannya selain Putra Mahkota.
"Kamu yakin dengan ucapanmu? Semua ucapanmu itu harus di pertanggung jawabkan, ingat dengan siapa saat ini kamu bicara. Kamu sedang melontarkan tuduhan kepada keluarga Kekaisaran, putri dari pahlawan besar Kekaisaran." Xiao Mingyui sengaja menggertak Jubei dengan statusnya, pasalnya orang seperti ini tidak bisa dilawan dengan teori. Otak mereka yang kecil hanya takut kepada status yang lebih berkuasa.
Seketika Jubei membeku, matanya diam-diam melirik Fang Jichang, tatapan itu ditangkap oleh Xiao Mingyui. Xiao Mingyui tersenyum samar, lalu kembali menatap Kaisar dan berkata,"Yang mulia, saya tidak akan keberatan jika anda harus mengirim seseorang ke rumah bordil dan memeriksa data pelanggan."
Jubei mengepalkan kedua tangannya, nama Xiao Mingyui pasti tidak akan pernah ada di buku catatan pelanggan. Dia sama sekali tidak tahu apakah Xiao Mingyui benar-benar datang ke rumah bordil atau tidak. Dia berani melakukan ini karena sejumlah uang dan jaminan aman yang diberikan oleh pihak keluarga Fang!
"Aiya, di sini ramai sekali ternyata." Suara yang bertahun-tahun tak pernah terdengar muncul, membuat seluruh orang menoleh dan menatap sosok tersebut.
Sosok pria dengan pakaian berwarna biru dan rambutnya yang terlihat sangat mencolok karena berwarna putih muncul. Pria itu berjalan dengan sangat tenang memasuki area pesta, sebelum membungkuk ke arah Kaisar, dia sempat melempar senyum manis ke arah Xiao Mingyui.
"Saya menyapa yang mulia, maafkan saya karena baru sempat hadir di acara pesta kali ini. Bagaimana kabar anda, yang mulia?"
"Rong Wangxia?" tanya Xiao Jihuang, pria itu segera tersenyum lebar ketika melihat sosok Rong Wangxia.
Rong Wangxia mengangguk, senyuman pria itu tak pernah berubah ataupun hilang walaupun sudah belasan tahun berlalu. Kini wajahnya sudah mulai bermunculan dengan kerutan, namun sama sekali tidak menutup keindahan miliknya.
Rong Wangxia melirik ke arah Jubei dan Xiao Mingyui. "Aiya, apa sedang terjadi masalah di sini?" Belum sempat orang-orang bereaksi, Rong Wangxia langsung memasang ekspresi terkejut ke arah Jubei dan langsung memberikan sekantung koin perak kepada Jubei.
"Aiya, bagaimana bisa anda ada di sini? Ini ambil, segera pergi sekarang," bisik Rong Wangxia, namun masih dapat didengar oleh para bangsawan yang lain.
Semua orang terlihat sangat bingung, termasuk Xiao Mingyui, Fang Jichang yang menonton dengan hening, Xiao Jiwang, dan juga Jubei.
Jubei mengerutkan keningnya bingung, saat dia hendak berbicara, Rong Wangxia sudah lebih dulu berpaling darinya dan berlutut ke arah Kaisar. "Yang mulia, maafkan saya. Sepertinya pegawai ini salah mengira hingga membuat kekacauan. Saya sudah sempat kembali ke Ibu Kota satu minggu yang lalu, kemudian menyempatkan diri untuk beristirahat di rumah bordil. Saat itu keadaannya sangat darurat, sehingga saya tidak bisa mencari hotel terlebih dahulu. Maka dari itu, saya terpaksa menggunakan rumah bordil untuk bermalam. Paginya saya mendapat laporan mendesak, sehingga langsung pergi dan lupa membayar tagihannya. Sepertinya pegawai ini salah mengira orang."
Lagi-lagi, belum sempat semua orang bereaksi, termasuk Xiao Jihuang, Rong Wangxia sudah lebih dulu bangkit dan menoleh ke arah Jubei. Senyum dan tatapan Rong Wangxia mengandung berjuta arti, senyumannya membuat Jubei merinding!
"Mengapa anda masih di sini? Cepat pergi dan bawa uangnya. Lalu ... untuk kedepannya tolong lebih hati-hati, ya?" ucap Rong Wangxia, akhir dari kalimatnya memiliki arti tersembunyi.
Jubei terlihat ragu, namun Rong Wangxia mengerti tatapan penuh ketakutan dan keraguannya. Rong Wangxia segera mengangguk singkat, lalu kali ini benar-benar berbisik yang hanya dapat didengar mereka berdua. "Aku yang akan melindungimu. Cepat pergi."
Mendengar itu, Jubei bergegas berlutut dan pamir pergi dari area pesta. Pria itu lari terbirit-birit, menjauh dari area pesta.
Rong Wangxia menatap kepergian Jubei dengan senyum, lalu kembali berbalik dan menatap Xiao Mingyui serta Xiao Xiangqing secara bergantian. "Bukankah kalian adalah kakak beradik Xiao itu? Xiao Mingyui dan Xiao Xiangqing?" tanya Rong Wangxia tanpa menggunakan gelar putri atau pangeran.