
"Jadi hanya itu?" tanya Xiao Mingyui sambil memiringkan kepalanya ke kanan sedikit, raut wajahnya terlihat datar dan tenang seperti biasa.
Mo Wanwan, wanita itu datang dan mengajaknya bicara mengenai Xie Wanting yang menurutnya bertingkah aneh, seolah ingin merebut Xiao Jiwang.
Xiao Mingyui tidak pernah bertemu dengan Mo Wanwan sebelumnya, dia tidak mengetahui info atau seperti apa Mo Wanwan yang sebenarnya selain info dasar yang dia ketahui dari sejarah. Bahwa kedua ayah mereka sama-sama seorang veteran militer.
Mo Wanwan mengerutkan keningnya. "Mengapa anda terlihat acuh seolah hal itu bukan masalah penting? Tidakkah anda khawatir calon suami anda akan--"
"Apa urusannya?"
"Maaf?" tanya Mo Wanwan setelah Xiao Mingyui memotong ucapannya begitu saja.
"Apa. Urusannya. Dengan. Anda?" Xiao Mingyui mengulang kalimatnya dengan menambahkan beberapa kata dan menekan setiap kata yang dia ucapkan.
Mo Wanwan tertegun, dia terlihat sedikit gugup. Tetapi setelah itu dia berusaha meraih ketenangan dan menjawab,"Kekaisaran Barat dan Timur telah menjalin kedekatan serta kedamaian selama puluhan tahun. Dua orang kuat yang berperan besar dalam kedamaian ini adalah mendiang Xiao Wangye, ayah anda. Dan ayah saya, Mo Talong."
Xiao Mingyui memilih mendengarkan kalimat yang akan diucapkan Mo Wanwan, dia ingin mengetahui maksud dan tujuan wanita itu yang sebenarnya.
"Jika Kekaisaran Timur memiliki Xiao Wangfu, maka Kekaisaran Barat memiliki Mo Wangfu. Tetapi, kejayaan Mo Wangfu saat ini sedang tidak baik-baik saja. Saya terpaksa membuka masalah internal Kekaisaran Barat kepada anda, namun ... hal ini saya lakukan demi keberlangsungan Mo Wangfu. Kekaisaran kami sedang mengalami gejolak karena pergantian takhta. Kaisar baru berusaha mengambil alih pasukan Mo Wangfu, dan kini setengahnya telah lepas dari genggaman Mo Wangfu."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Menarik pasukan? Bukankah tidak semudah itu?"
Mo Wanwan mengangguk. "Benar, maka dari itu Kaisar baru memberikan alasan bahwa Mo Wangfu dianggap sudah tidak mampu atau tidak kompeten lagi untuk bertanggung jawab mengurus tiga ratus ribu pasukan. Kemungkinan besar Kaisar baru itu akan berusaha mengambil setengahnya lagi dari tangan Mo Wangfu, walaupun hal itu belum terlihat pergerakannya, namun semua itu hanya soal waktu."
Xiao Mingyui mengangguk, bibirnya tersenyum samar. Masalah yang dihadapi Mo Wangfu sangat mirip dengan Xiao Wangfu. Terlebih lagi, Mo Wanwan adalah satu-satunya wanita keturunan Mo Talong. Dia memiliki satu kakak laki-laki dan satu adik laki-laki yang masih kecil, jika nasib mereka disandingkan, keduanya hampir serupa. Mereka berdua sama-sama berjuang untuk keberlangsungan keluarga.
"Memangnya ada apa dengan Mo Wangye? Mengapa Kaisar baru anda dapat memberikan alasan klasik seperti itu?" tanya Xiao Mingyui, dia terlihat mulai tertarik berbicara lebih lama dengan Mo Wanwan.
Mo Wanwan sedikit menundukkan kepalanya, namun setelah itu dia kembali menatap Xiao Mingyui. Ada kesedihan tersirat dari tatapannya. "Ayah saya, Mo Wangye, saat ini sedang mengalami koma panjang sejak dua bulan yang lalu. Hal ini memiliki dampak besar terhadap keberlangsungan pasukan Mo Wangfu. Kakak laki-laki saya juga sedang terbaring lemah di kasur, dia memiliki penyakit jantung. Sementara adik laki-laki saya masih kecil, tidak mungkin mengambil alih kekuasaan Mo Wangfu. Dan saya, adalah satu-satunya yang tersisa."
"Lalu apa hubungan semua ini dengan alasan kamu memberitahuku mengenai putri Xie Wanting?" tanya Xiao Mingyui lagi, wanita itu menaikkan alis kirinya sekilas.
Mo Wanwan mengepalkan kedua tangannya diam-diam, kemudian menjawab,"Karena saya membutuhkan bantuan anda, maka dari itu saya berusaha berada di pihak anda. Putri Mingyui, saya berjanji akan menjadi partner anda yang dapat diandalkan. Tetapi saya mohon, bantu saya untuk mempertahankan Mo Wangfu. Saya menginginkan pernikahan dengan adik anda, Xiao Wangye."
Xiao Mingyui tertegun, dia terlihat sedikit terkejut.
Melihat raut wajah terkejut Xiao Mingyui, Mo Wanwan dengan cepat menambahkan,"Saya mengerti rasa keterkejutan anda, anda mungkin akan menganggap saya sebagai wanita rendahan karena tak tahu malu memohon pernikahan seperti ini. Tetapi, rasa malu saat ini tak berarti apa-apa untuk saya. Saya lebih memikirkan bagaimana nasib keluarga saya di masa depan. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, sebab kehadiran saya kemari mewakili Kekaisaran Barat bukanlah sesuatu yang mudah didapat."
Xiao Mingyui tertegun lagi, tekad wanita itu .... terlihat sangat serupa dengannya.
"Mengapa kamu tidak mencari pria berkuasa lainnya? Mengapa harus Xiao Wangye?" tanya Xiao Mingyui, dia tidak secara langsung mengiyakan kalimat menyentuh Mo Wanwan.
Xiao Mingyui tersenyum tipis, kemudian dia melirik ke arah langit. Ah ... sudah sangat gelap, namun Xiao Jiwang belum juga datang. Baiklah ....
Xiao Mingyui berdiri, matanya menatap Mo Wanwan. "Aku akan coba untuk mendiskusikannya dengan Xiao Wangye, tidak perlu khawatir. Terima kasih atas perasaan berpihak tulusmu padaku, namun ... sesungguhnya aku juga menyadari hal itu. Tetapi, selama wanita itu tak menyentuh keluargaku, maka kepalanya masih akan kupastikan aman hingga kembali ke Huan Tenggara. Aku permisi." Xiao Mingyui berjalan keluar dari paviliun utama, dia memutuskan untuk pergi setelah Xiao Jiwang tak kunjung terlihat.
"Yang mulia, apa yang barusan dapat kita anggap sebagai teman?" tanya Bingbing, dia sengaja mempertanyakan ini agar dapat berhati-hati.
Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan. "Entahlah, Bingbing. Kita lihat dan tunggu saja, tidak perlu memberikan keputusan secara terburu-buru."
Bingbing menghela napas gusar. "Pada akhirnya Putra Mahkota tak kunjung menjemput anda, dasar!"
Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Tenanglah, Bingbing. Mungkin beliau sedang sangat sibuk?"
"Sibuk? Hanya karena putri Xie Wanting adalah perwakilan Huan Tenggara, yang mulia sampai melupakan anda. Bagaimana pun anda adalah calon Putri Mahkota dari Xiao Wangfu!" Bingbing mendengus kesal.
Xiao Mingyui masih terlihat tersenyum, sampai akhirnya dia kembali menatap lurus ke depan. Raut wajahnya terlihat sangat datar dan dingin, seolah senyum barusan tak pernah ada.
Ketika tiba di kereta kuda, Xiao Mingyui bergegas hendak naik ke dalam kereta. Tetapi, belum baru setengah jalan, sebuah suara pria menyerukan namanya.
"Mingyui!"
Xiao Mingyui otomatis menoleh, kemudian melihat Xiao Jiwang yang terengah-engah berlari ke arahnya. Pria itu menatapnya kesal. "Astaga, aku mencarimu. Tetapi yang aku temukan hanyalah putri Mo dari Kekaisaran Barat itu!"
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, kemudian menjawab,"Yang mulia, tidak sadarkah anda bahwa langit sudah--"
"Ya, aku tahu! Dengar, tadi ada kejadian merepotkan yang membuat aku--"
"Saya mengerti. Anda memiliki tanggungjawab dengan kedua urusan Kekaisaran Barat dan Huan Tenggara. Tidak perlu dijelaskan, saya benar-benar mengerti dan tidak masalah." Xiao Mingyui balik momotong kalimat Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya, dia ... entah mengapa merasa khawatir. Raut wajah dan nada bicara Xiao Mingyui terlihat dan terdengar seperti biasa. Tetapi entah mengapa dia mengalami kekhawatiran yang aneh di hatinya, seolah dia telah membuat suatu kesalahan besar. Sejujurnya, Xiao Jiwang juga tidak mengetahui alasan pasti mengapa dia sangat mempedulikan hal ini. Dia bahkan rela berlarian mencari sosok Xiao Mingyui ketika melihat wanita tak lagi di paviliun utama, sementara jika dia memilih tidak peduli seperti biasa pun seharusnya bisa.
Hening. Setelah Xiao Mingyui melontarkan kalimat seperti itu, keadaan menjadi hening. Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang mematung di posisi masing-masing, hingga tak lama kemudian Xiao Jiwang memutuskan keheningan dengan melontarkan pertanyaan yang membuat suasana menjadi canggung.
"Apakah anda marah?"
"Maaf?" tanya Xiao Mingyui sambil mengerutkan keningnya.
"Apakah anda marah?" tanya Xiao Jiwang, mengulangi pertanyaannya. Jantung berdegup kencang ketika melontarkan pertanyaan ini.