
"Mo Wanwan, menghadap yang mulia Kaisar Kekaisaran Timur."
"Xie Wanting, menghadap yang mulia Kaisar Kekaisaran Timur."
Dua putri perwakilan Kekaisaran Barat dan Kerajaan Huan Tenggara berlutut ke arah Xiao Jihuang bersebelahan.
Mo Wanwan berasal dari Kekaisaran Barat, menurut buku sejarah yang pernah Xiao Mingyui pelajari, dulunya Kekaisaran itu sempat dikuasai oleh Kekaisaran Timur. Pernah terjadi perang berdarah besar pula antara Barat dan Timur, pemimpin perang dari Timur adalah Xiao Muqing, sedangkan Barat adalah Mo Talong, ayah kandung Mo Wanwan. Lambang kedamaian mereka adalah pernikahan. Kekaisaran Timur mengirim putri Kekaisaran mereka untuk menjadi 'Huanghou' di Kekaisaran Barat, ditambah dengan adanya pertukaran antar pelajar yang akan mengabdi untuk dua Kekaisaran seperti Rong Wangxia. Hingga saat ini, kedamaian antara Timur dan Barat selalu berlangsung.
Sedangkan Xie wanting, dia adalah putri dari Kerajaan Huan Tenggara. Kerajaan Huan Tenggara bukanlah Kekaisaran, mereka masih dapat dikatakan sebagai negara kecil. Tetapi, Huan Tenggara adalah negara yang kaya akan batu-batu mulia seperti permata. Hal inilah yang menjadi faktor utama Kerajaan Huan Tenggara dipandang oleh para Kekaisaran besar lainnya. Kerajaan ini dulunya memiliki konflik yang cukup serius dengan Kekaisaran Timur, kejadian itu muncul pada zaman Xiao Muqing dan Huang Mingxiang baru saja menikah.
Kedua putri utusan itu bergegas kembali berdiri tegak kalau Xiao Jihuang menganggukkan kepalanya. Karena Mo Wanwan adalah putri dari Kekaisaran, maka wanita itulah yang terlebih dahulu maju.
"Yang mulia, atas mandat dari Kaisar Kekaisaran Barat Kami, saya Mo Wanwan sebagai putri sulung Kekaisaran Barat mewakili negara kami untuk menyapa anda. Saya membawa lima peti kain sutra berkualitas tinggi terbaik untuk anda. Kain ini adalah produksi baru Kekaisaran Barat, saya harap yang mulia menyukainya." Mo Wanwan kembali membungkuk setelah mengucapkan hal itu.
Xiao Jihuang melirik lima peti besar yang berjejer di belakang Mo Wanwan, bibirnya tersenyum. "Sungguh hadiah yang luar biasa, Kekaisaran Barat selalu mempunyai kualitas bahan sutra terbaik. Zhen akan menulis surat secara pribadi untuk Kaisar Kekaisaran Barat."
Mo Wanwan tersenyum ketika mendengar ini, kemudian dia mengangguk.
Setelah Mo Wanwan selesai, kini giliran Xie Wanting. Wanita itu terlihat memiliki senyum yang sangat ceria, berbeda dengan Mo Wanting yang terlihat lebih elegan.
"Xie Wanting, urusan Kerajaan Huan Tenggara, mewakili seluruh daratan dan perairan Huan Tenggara, menyapa yang mulia Kaisar Kekaisaran Timur. Yang mulia, atas perintah Raja kami, saya membawa hadiah yang sangat berarti bagi Kerajaan kami." Kemudian matanya melirik ke arah pelayan yang sedari tadi diam berdiri di belakangnya membawa kotak berwarna emas berukuran sedang.
"Di dalam kotak itu ada sebuah berlian terbaru yang memiliki nilai serta kualitas yang sangat tinggi. Hanya ada dua di dunia dan berasal dari Kerajaan Huan Tenggara. Kini, satu kepingan berlian tersebut kami persembahkan kepada yang mulia Kaisar Kekaisaran Timur."
Kotak itu diambil oleh Kasim pribadi Xiao Jihuang, lalu kemudian diantar dengan hati-hati menuju meja pria itu. Ketika kotak dibuka, bibir Xiao Jihuang tersenyum puas.
"Sebuah hadiah yang luar biasa, Kerajaan Huan Tenggara tak pernah perhitungan kepada pihak lain jika berurusan dengan saling beri memberi. Zhen juga akan menuliskan surat terima kasih secara pribadi untuk Raja Huan Tenggara."
Xie Wanting tersenyum lagi, wanita itu kembali membungkuk dan duduk di tempatnya semula.
Acara penyambutan utusan Kekaisaran Barat dan Kerajaan Huan Tenggara selesai, maka saatnya penobatan gelar 'Xiao Wangye' untuk Xiao Xiangqing dimulai.
Alunan musik berubah drastis, kali ini terdengar lebih berat dan serius. Seluruh tamu undangan pun dipersilahkan berdiri tegak menghadap karpet merah yang tergelar mulus dari awal pintu masuk hingga kursi para anggota keluarga Kekaisaran.
"Pangeran Xiao Xiangqing, datang!!"
Xiao Mingyui mengepalkan kedua tangannya, seluruh tubuhnya terasa merinding. Kedua matanya menatap erat ke arah pintu masuk.
Xiao Xiangqing, pria itu memasuki aula Kekaisaran dengan tubuh tegap. Paras pria itu benar-benar mirip dengan Xiao Muqing, raut wajah serius dan mata biru milik pria itu benar-benar membuat para sesepuh Kekaisaran meneteskan air mata karena mengingat sosok mendiang Xiao Muqing.
Xiao Muqing mengenakan pakaian berwarna senada dengan Xiao Mingyui, warna hitam yang memiliki gradasi berwarna merah. Pria itu masih mengenakan mantel seorang Pangeran Kekaisaran, tidak ada pedang apa pun di tubuhnya seperti petinggi militer lainnya.
Kedua mata Xiao Mingyui sedikit berkaca-kaca, melihat pemandangan ini benar-benar menampar pipinya. Dia dan Xiao Xiangqing sudah dewasa, mereka telah memiliki jalan dan gelar masing-masing. Mereka yang dulunya masih hidup nyaman di Xiao Wangfu bersama ayah dan ibunya, kini harus mengenal konflik politik dan militer, kemudian meneruskan nama baik mereka.
Xiao Xiangqing berdiri tepat di hadapan Xiao Jihuang yang telah berdiri. Kini seluruh orang di ruangan berdiri, termasuk Xiao Jihuang yang seorang Kaisar. Xiao Jihuang tersenyum menatap Xiao Xiangqing, dia benar-benar melihat sosok Xiao Muqing di diri Xiao Xiangqing.
Kasim pribadi Kaisar lebih dulu membuka suara untuk melakukan pembukaan.
"Di hari yang diberkati penuh kegembiaraan ini, kita disadarkan oleh cepatnya waktu berlalu. Generasi baru mulai menggantikan generasi lama. Pangeran Xiao Xiangqing tumbuh dengan ajaran dan sifat yang baik, membuktikan bahwa dia pantas menjadi bagian dari pemimpin Kekaisaran Timur ini. Tuhan memberkati kelahirannya, hingga sampai akhirnya hari ini kita dapat berkumpul di momen penuh hari ini. Penobatan 'Xiao Wangye' Kekaisaran baru!!"
Gong dipukul sebanyak tiga kali setelah sangat Kasim berbicara demikian, kemudian pria itu segera berjalan ke arah Kaisar dan memberikan gulungan dekrit berwarna emas.
"Aku, Kaisar Kekaisaran Timur, Xiao Jihuang. Secara resmi dan sah menjadi saksi atas perjuangan dan pengorbanan yang selama ini Pangeran Xiao Xiangqing lakukan. Pangeran Xiao Xiangqing berhasil membuktikan bahwa dirinya pantas dan layak menyandang gelar 'Xiao Wangye', keringat dan jerih payah itu akan diberikan penghargaan gelar mulia. Gelar mulia itu dapat dengan resmi menjadi milik Xiao Xiangqing jika anda bersedia menjawab sumpah-sumpah."
Xiao Xiangqing yang berlutut pun semakin menundukkan kepalanya. "Bersedia, yang mulia."
Xiao Jihuang menutup gulungan tersebut, kemudian menyerahkannya lagi kepada Kasim pribadinya. Kini, Xiao Jihuang beralih mengulurkan tangan kanannya ke samping.
Gu Sinjie, pria itu muncul dari pintu samping ruangan. Di belakang pria itu terdapat Gu Lingchi yang membawa kotak besar persegi panjang bersama ibunya, Baili Ruyi. Kotak itu berisi pedang legendaris Xiao Muqing. Kini, pedang itu dijadikan simbol resmi sebagai pemilik gelar 'Xiao Wangye'.
Begitu kotak pedang dibuka, Gu Sinjie dengan cepat berbalik dan mengambil pedang itu secara hati-hati. Selanjutnya, dia berjalan tegap ke arah Xiao Jihuang, kemudian membungkuk sambil mengangkat pedang itu tinggi.
Xiao Jihuang mengambil pedang tersebut, lalu menariknya keluar dari sarung pedang. Xiao Jihuang kemudian menghunuskan ujung pedang di atas pundak Xiao Xiangqing.
"Bersediakah kamu mengabdikan diri kepada Kekaisaran ini menggunakan nyawamu?"
"Bersedia!"
"Bersediakah kamu mengabdi kepada Kaisar-mu, bahkan jika setelah Kaisar yang melantikmu tiada?"
"Bersedia!"
"Bersediakah kamu mengorbankan waktu dan tenaga demi melindungi Kekaisaran ini?"
"Bersedia!"
"Bersumpah lah!"
Xiao Xiangqing segera meletakkan telapak tangan kanannya yang telah terkepal di dada sebelah kiri. "Saya, Xiao Xiangqing, bersumpah dengan kehidupan saya sendiri untuk melindungi seluruh daratan Kekaisaran Timur. Saya, Xiao Xiangqing, bersedia mengabdi setia dan menjadi tangan kanan yang penuh loyalitas kepada Kaisar Kekaisaran Timur!"
Xiao Jihuang tersenyum lagi, kemudian berkata,"Dengan ini, Xiao Xiangqing, resmi dinyatakan menyandang gelar Adipati Pangeran agung Kekaisaran, 'Xiao Wangye'!"
Gong kembali dipukul keras sebanyak tiga kali. Xiao Mingyui meneteskan air mata haru di tengah berlututnya.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh lengannya, membuat Xiao Mingyui mengangkat kepalanya.
"Berdirilah, kamu tidak perlu membungkuk terlalu lama," ucap Xiao Jiwang, pria itu menarik Xiao Mingyui pelan agar kembali berdiri.
Setelah Xiao Mingyui berdiri, dia baru menyadari bahwa seluruh bangsawan lain belum ada yang berhenti berlutut.
Tak lama, Kasim pribadi Kaisar mendekat. Mereka menyodorkan nampan yang berisi mantel berwarna hitam bercorak naga. Mantel itu dulunya adalah milik ayah mereka, Xiao Muqing.
"Kamu copot mantel yang dikenakan Xiao Xiangqing," bisik Xiao Jiwang ke telinga Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui menaikkan alis kirinya, saat melihat adiknya tiba-tiba berdiri dan berlutut ke arahnya dan Xiao Jiwang, dia tertegun.
Xiao Mingyui bergegas mendekat, kemudian melepaskan mantel lama Xiao Xiangqing. Bibir wanita itu tersenyum, begitu juga dengan Xiao Xiangqing yang membalas senyumannya.
Setelah mantel lama itu dilepas oleh Xiao Mingyui, kini giliran Xiao Jiwang yang maju dan menyematkan mantel baru. Begitu mantel itu dipasang, Xiao Jiwang segera berdiri, tamu undangan yang lain juga demikian. Tepuk tangan meriah mulai terdengar, banyak sekali berbagai jenis respon. Ada yang menangis harus, tersenyum bahagia, biasa saja, hingga yang melemparkan tatapan penuh kebencian.