The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 42. Mengunjungi Wu Guifei



Xiao Mingyui membuka matanya pelan, seluruh tubuhnya terasa sakit. Mengambil sikap duduk perlahan, dia menatap ruangan kamarnya yang lengang. Utusan Agung, pria itu sepertinya telah pergi. Xiao Mingyui tidak mengingat kejadian apa pun setelah dia terbangun dari mimpi yang 'dihadiahkan' oleh Utusan Agung, yang dia ingat setelah bangun, dia berada di pelukan Utusan Agung. Berikutnya, dia tidak mengingat apa pun lagi.


Xiao Mingyui turun dari ranjangnya, lalu berjalan ke arah cermin. Ketika melihat bayangannya di cermin, keningnya mengernyit dalam. Kedua matanya sangat sembab, astaga ... sepertinya dia menangis cukup lama semalam.


Tak lama suara ketukan terdengar, Bingbing seperti biasa datang untuk membantunya mandi dan bersiap. Dia tidak memiliki jadwal khusus hari ini, namun sepertinya dia akan tetap mengunjungi Istana untuk menemui Wu Guifei dan Lu Fei setelah melihat kondisi tubuh wanita itu yang semakin memburuk.


Begitu masuk, Bingbing yang melihat kondisi mata sembab Xiao Mingyui tidak berani berkomentar apa pun. Wanita itu dididik agar menghargai privasi majikannya, sehingga dia tidak akan banyak bertanya sebelum Xiao Mingyui sendirilah yang bercerita.


"Apa hari ini anda akan mengunjungi Istana?" tanya Bingbing untuk memastikan pakaian apa yang akan Xiao Mingyui kenakan.


Xiao Mingyui mengangguk. "Ya, siapkan air hangat juga untuk mengompres kelopak mataku."


"Baik."


Xiao Mingyui dengan cepat bersiap, selagi Bingbing membantunya, Xiao Mingyui sibuk membayangkan mimpi yang dihadiahkan oleh Utusan Agung. Dia tidak dapat memastikan apakah di mimpi itu adalah sebuah kejadian nyata yang terjadi di alam bawah sadarnya, atau hanya sekedar mimpi dan tidak memiliki arti lain selain untuk menghibur kerinduannya. Jika dia bertemu dengan Utusan Agung lagi, Xiao Mingyui ingin memastikan hal ini.


Setelah selesai bersiap, Xiao Mingyui bergegas berjalan keluar menuju halaman depan Xiao Wangfu. Dia mengenakan hanfu berwarna merah muda dan biru, terlihat sangat manis. Terdapat jepit rambut bunga anggrek kecil berwarna merah muda di kepalanya, tak lupa dia juga mengenakan tusuk rambut giok putih peninggalan ibunya.


"Wangye sudah pergi?" tanya Xiao Mingyui kepada pelayan yang sedang bekerja di halaman depan Xiao Wangfu.


Pelayan itu mengangguk, kemudian membungkuk ke arah Xiao Mingyui. "Benar, yang mulia. Wangye telah pergi saat matahari baru saja muncul, beliau berpesan agar anda tidak perlu menunggunya kembali."


Xiao Mingyui mengangguk singkat, sebelum dia naik ke dalam kereta kuda, Xiao Mingyui berkata,"Aku tidak tahu siapa yang akan pulang lebih dulu. Jika Wangye kembali sebelum aku kembali, katakan padanya bahwa aku pergi ke Istana untuk menemui Wu Guifei dan menjenguk Lu Fei."


"Baik, yang mulia."


Setelah berada di dalam kereta, kereta itu segera melaju keluar dari Xiao Wangfu menuju Istana. Dengan raut wajah datar dan tenang seperti biasa, Xiao Mingyui duduk di dalam keretanya sambil sesekali melirik ke arah luar jendela.


Sampai di Istana, wanita itu segera turun dari kereta yang dibantu oleh Bingbing. Kasim pribadi Wu Zeyuan datang menghampiri Xiao Mingyui untuk mengantarnya ke dalam. Xiao Mingyui memilih untuk menemui Wu Zeyuan terlebih dahulu.


"Anda tahu di mana Putra Mahkota?" tanya Xiao Mingyui sambil berjalan mengikuti sangat Kasim.


Kasim itu menjawab lembut. "Yang mulia sedang menemani utusan Kekaisaran Barat dan Kerajaan Huan Tenggara, yang mulia. Mereka berkumpul di Paviliun utama Istana."


Xiao Mingyui mengangguk singkat, setelah itu dia tidak bertanya apa pun lagi. Begitu sampai di ruangan Wu Zeyuan, wanita itu sedang menyulam sapu tangan dengan anggun.


"Niangniang." Xiao Mingyui membungkuk ke arah Wu Zeyuan, wanita itu dengan anggun mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah Xiao Mingyui.


Xiao Mingyui balas tersenyum, lalu duduk di samping Wu Zeyuan dan memperhatikan sulaman wanita itu. Sulaman itu berbentuk naga, ada nama Kaisar 'Xiao Jihuang' di sudut bawah sapu tangan.


"Sapu tangan ini untuk yang mulia Kaisar?" tanya Xiao Mingyui.


Wu Zeyuan mengangguk, bibirnya tersenyum sambil terus menyulam. "Iya, aku senang membuat sesuatu dengan mengukir nama Kaisar."


Xiao Mingyui tersenyum tipis. "Hal yang sangat manis. Anda berdua sepertinya saling mencintai satu sama lain."


Wu Zeyuan mengangguk. "Tentu, aku sangat mencintai Kaisar sejak awal aku mengikuti seleksi pemilihan selir di usiaku yang masih sangat muda."


"Apa anda tidak pernah merasa terganggu dengan istri Kaisar yang lain?" tanya Xiao Mingyui penasaran, matanya memperhatikan wajah Wu Zeyuan dalam.


Wu Zeyuan terkekeh. "Terganggu? Maksudmu cemburu? Tentu saja ... pernah, tetapi aku memilih tidak terlalu memikirkannya. Sudah menjadi takdirku menjadi istri Kaisar, dan sudah menjadi takdir suamiku menjadi seorang Kaisar dan memiliki banyak istri. Melihatnya membagi perhatian dan waktu kepada wanita lain di hadapanku, aku tidak akan mengelak bahwa aku cemburu. Tetapi itu tidak masalah selagi dia berhasil membuktikan bahwa aku adalah satu-satunya wanita di hatinya dan akan menjadi istri yang paling dia utamakan."


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya sedikit. Jika Wu Zeyuan adalah satu-satunya wanita di hati Xiao Jihuang, lalu mengapa sampai saat ini pria itu tak kunjung mengangkat Wu Zeyuan sebagai 'Huanghou'-nya? Seolah dia masih mencintai mendiang Rong Huanghou yang melakukan tindak kriminal besar. Terlebih lagi, Kaisar juga tidak pernah mencabut gelar 'Huanghou' dari istrinya yang dieksekusi.


Wu Zeyuan yang melihat kilasan kebingungan di wajah Xiao Mingyui pun terkekeh, kemudian berkata,"Ada banyak hal yang mungkin menjadi pertanyaanmu mengenai hubungan rumit ini, bukan? Dengar, Mingyui, Kaisar adalah orang yang sangat baik. Dia menghargai kebaikan sekecil apa pun. Mendiang Rong Huanghou sejatinya adalah wanita yang baik, namun karena dorongan negatif keluarganya saat itu, beliau menjadi buta mata. Kaisar mempertahankan gelarnya karena perasaan tulus yang dimiliki mendiang Rong Huanghou kepadanya. Meskipun masyarakat mengecapnya sebagai Huanghou terjahat sepanjang sejarah Kekaisaran, namun di mata Kaisar beliau adalah Huanghou yang penuh dengan kesepian. Aku pribadi pun setuju dengan pendapat Kaisar, maka dari itu aku tidak pernah sekalipun mendesak Kaisar agar memberikanku gelar 'Huanghou'."


Xiao Mingyui menganggukkan kepalanya mengerti, karena ini dia termenung beberapa saat. Wu Zeyuan yang menyadari Xiao Mingyui melamun pun segera mencolek ujung hidup wanita itu sambil berkata,"Jika kelak kau telah menjadi istri resmi Putra Mahkota, berjanjilah padaku agar menjadi Huanghou yang baik dan bertanggungjawab."


Xiao Mingyui tersenyum tipis, mengangguk lagi. "Tentu, bibi. Mengapa anda terlihat meragukan Mingyui?"


Wu Zeyuan tertawa pelan. "Aiya, tidak seperti itu. Aku hanya ingin memberimu motivasi dan semangat karena kita mempunyai suami dengan takdir serupa. Penerus takhta."


Xiao Mingyui terkekeh. "Baiklah, aku berjanji."


Xiao Mingyui menemani Wu Zeyuan bicara sampai wanita itu selesai menyulam. Begitu selesai, Xiao Mingyui pamit undur diri karena harus menjenguk Lu Fenghua.


Di tengah perjalanan, Xiao Mingyui sempat melewati paviliun utama Istana. Di sana dia melihat Xiao Jihuang tengah berbincang dengan dua utusan penting. Mereka tidak hanya bertiga, ada dua pejabat lainnya yang turut bergabung di sana.


Tetapi alis kiri Xiao Mingyui sempat sedikit terangkat kala melihat mantel milik Xiao Jiwang terpasang sempurna di putri kerajaan Huan Tenggara, Xie Wanting.


"Yang mulia?" Bingbing menyadarkan Xiao Mingyui setelah cukup lama berdiam diri sambil memandangi paviliun utama.


Xiao Mingyui tersadar, wanita itu dengan raut wajah datar seperti biasa kembali melanjutkan langkah kakinya. "Aku sedikit melamun tadi. Ayo, segera temui Lu Fei Niangniang."