
Xiao Mingyui duduk dengan canggung, dia sebenarnya benci keadaan canggung ini. Walaupun dari luar dia terlihat tenang dan santai, namun di dalam dia gugup setengah mati. Bagaimana tidak? Di hadapannya duduk seorang pangeran yang bertelanjang dada lalu menatapnya terus menerus!
"Bagaimana dengan luka di punggung anda?" tanya Xiao Mingyui untuk memecah keheningan.
Xiao Jiwang menaikkan alis kirinya sekilas, lalu menjawab dengan raut wajah acuh tak acuh. "Baik-baik saja."
Xiao Mingyui mengangguk pelan, setelah itu dia tidak bertanya apa pun lagi. Keheningan kembali menyelimuti mereka, hingga akhirnya Xiao Jiwang berdiri dan berjalan mendekati ranjangnya lalu berbaring. Pria itu berbaring dengan posisi tengkurap karena salep luka yang ada di punggungnya belum kering total.
Xiao Mingyui memperhatikan Xiao Jiwang, lalu tiba-tiba Xiao Jiwang menatapnya dari atas tempat tidur. "Besok jika kakimu sudah membaik kita akan kembali ke Ibu Kota."
Xiao Mingyui mengangguk kecil. "Mm, saya juga memiliki banyak hal yang harus dilakukan. Saya akan berusaha agar cepat membaik."
Xiao Jiwang yang hendak memejamkan matanya segera mengurungkan niatnya untuk bertanya,"Kalimatmu seolah kamu adalah seseorang yang sangat sibuk."
Xiao Mingyui terkekeh kecil, lalu menjawab,"Yang mulia, saya memang sangat sibuk setiap harinya, anda lah yang tidak mengetahui hal itu. Kesibukan saya adalah senang mencoba hal-hal baru, saya ingin melakukan apa pun yang membuat saya penasaran."
Xiao Jiwang memilih memejamkan matanya sambil terus menanggapi Xioa Mingyui. "Lalu jadi sampai saat ini kau sudah tidak memiliki keinginan yang tidak terkabulkan, begitu?"
Xiao Mingyui menggeleng lagi. "Tidak, bukan begitu. Saya mempunyai dua kategori untuk hal-hal yang ingin saya lakukan. Kegiatan resmi atau kegiatan mengandung reputasi baik yang membuat saya penasaran, dan kegiatan yang murni dari hati kecil saya sendiri. Sampai saat ini yang terkabul hanyalah kategori yang pertama."
Xiao Jiwang masih terpejam. "Hal bodoh apa yang kau inginkan dari hati?"
Xiao Mingyui berpikir sejenak, kemudian menjawab,"Saya ingin berkeliling pasar Ibu Kota tanpa beban dan bersenang-senang seperti wanita bangsawan lainnya."
Xiao Jiwang membuka matanya lagi, kali ini alisnya bertaut bingung. "Kau tidak pernah berkeliling pasar Ibu Kota?"
Xiao Mingyui sekali lagi menggeleng. "Tidak, bukan seperti itu. Saya pernah berkeliling pasar Ibu Kota, namun tujuannya bukan untuk bersenang-senang, tetapi menjalankan misi dari mendiang Xiao Wangye. Saat senggang, kedua orang tua saya melarang saya pergi ke pasar Ibu Kota secara bebas jika tanpa Xiao Xiangqing. Sedangkan Xiao Xiangqing sejak kecil sudah dilatih dan dididik sebagai pewaris gelar mendiang ayah saya, sehingga jadwalnya selalu sangat padat. Satu-satunya tempat yang bisa saya kunjungi secara bebas dan sendirian hanyalah Istana, namun ... sejujurnya saya tidak terlalu begitu menyukai Istana. Saya lebih menyukai pasar yang penuh keramaian."
Xiao Jiwang tersenyum tipis, tepatnya seperti senyum meledek. "Maka dari itu jangan lahir sebagai seorang bangsawan yang memiliki darah keluarga Kerajaan."
Xiao Mingyui menghela napas tipis, kemudian bibirnya kembali tersenyum. "Saya tidak pernah membenci takdir ini, saya bahkan sangat bersyukur karena memiliki kedua orang tua yang sangat bermartabat. Tetapi, saya hanya sedikit sedih ...." Di akhir cerita, tatapan Xiao Mingyui terlihat sedikit melunak. Sepertinya wanita itu menikmati momennya bercerita dengan Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang yang menangkap perubahan ekspresi di akhir kalimat Xiao Mingyui terdiam, dia kembali merasakan sesuatu yang aneh penuh gelisah di hatinya. Tanpa sadar kesua alisnya bertaut karena perasaan itu.
Xiao Mingyui kembali menatap sempurna ke arah Xiao Jiwang. "Lalu bagaimana dengan yang mulia? Apakah yang mulia mempunyai sesuatu yang belum sempat terwujud?"
Tatapan mata Xiao Jiwang berubah dingin saat mendengar pertanyaan Xiao Mingyui, kemudian dia mulai menatap ke atas langit-langit tenda dan berkata,"Diperlakukan seperti manusia."
"Eh?" Xiao Mingyui sedikit kebingungan, namun setelah itu dia mengerti. Tatapan mata Xiao Mingyui berubah menjadi tatapan yang sulit diartikan, ada simpati, kepedulian, dan tatapan yang jarang muncul lainnya.
Xiao Jiwang tiba-tiba mengubah posisi berbaringnya, kini dia memunggungi Xiao Mingyui. "Lupakan. Aku tidak memimiliki keinginan apa pun. Jika ada pun aku bisa langsung mengabulkannya sendiri."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, lalu menjawab,"Anda sempat mengatakan sesuatu sebelumnya."
Xiao Jiwang berdecak kesal. "Ck, tidak ada."
"Ada!"
"Tidak!"
"Mengapa kau keras kepala sekali? Yang berbicara kan aku!"
"Tetapi anda berbohong, anda sempat mengatakan sesuatu sebelumnya!"
"Ah, keparat! Menyebalkan sekali! Aku tidak mengatakan apa pun!"
Xiao Jiwang akhirnya menoleh lagi dengan raut wajah kesal, sedangkan Xiao Mingyui masih tersenyum tipis, membuat pria itu semakin kesal dan kembali memunggungi Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui perlahan berdiri, kemudian dengan susah payah berjalan mendekati ranjang Xiao Jiwang. Tanpa sungkan, Xiao Mingyui segera duduk di tepi kasur pria itu.
Xiao Jiwang kembali menoleh, pria itu melotot galak karena dia terkejut Xiao Mingyui tiba-tiba duduk di tepi ranjangnya.
"Kau ingin mati? Siapa yang mengizinkanmu duduk di kasurku?!" ucap Xiao Jiwang.
Xiao Mingyui mengangguk singkat. "Saya tidak sungkan jika anda ingin membunuh saya, silahkan saja."
"Xiao Mingyui, kita tidak sedekat itu! Jangan lancang!" Xiao Jiwang mulai kesal.
Xiao Mingyui menghilangkan senyumannya, wanita itu berekspresi seperti biasa. Dia tidak Tersinggung sedikitpun dengan kalimat Xiao Jiwang, dia kemari duduk di sini karena ingin melakukan sesuatu yang dapat membantu pria itu.
"Saat kita tidur bersama di atas batu bersama Xiangqing kemarin malam, saya tidak sengaja menyadari bahwa anda sepertinya mengalami gangguan tidur." Xiao Mingyui mengatakan itu sambil bersandar di papan ranjang Xiao Jiwang dan menatap pria itu.
"Bukan urusanmu." Xiao Jiwang menjawab ketus.
Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan, lalu tersenyum tipis lagi. "Saya akan membantu anda mengurangi gangguan itu."
Xiao Jiwang diam, tidak menjawab. Tetapi sepertinya pria itu diam-diam sedang bergelut di hatinya untuk menerima atau menolak tawaran Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui menyadari perasaan dilema Xiao Jiwang, wanita itu pun akhirnya kembali berusaha berdiri sambil berkata,"Baiklah, sepertinya anda tidak begitu terganggu dengan masalah itu. Maafkan saya karena terlalu--"
"Diam di situ." Xiao Jiwang memotong, kemudian kembali menoleh untuk menatap Xiao Mingyui tajam.
"Baik, yang mulia." Xiao Mingyui tersenyum semakin dalam melihat Xiao Jiwang akhirnya berhasil mengalahkan ego tingginya.
Xiao Jiwang kembali memunggungi Xiao Mingyui. "Silahkan kerahkan kemampuanmu jika itu tidak mengganggu pengobatan lenganmu. Sebagai imbalannya aku akan mengabulkan hal konyol tidak berguna yang kamu inginkan sebelumnya."
Xiao Mingyui mengangguk singkat. "Pengobatan ini tidak menggunakan kekuatan supranatural seperti ilmu pengobatan medis besar lainnya. Cara yang akan saya gunakan adalah cara yang sempat mendiang Ibu saya pakai dulu ketika mendiang ayah saya mengalami kesulitan tidur. Tetapi sepertinya anda harus salep luka di punggung anda kering terlebih dahulu agar dapat mengambil posisi telentang."
Tak lama setelah Xiao Mingyui mengatakan itu, Xiao Jiwang dengan cepat berbaring telentang di atas kasur, membuat Xiao Mingyui sedikit terkejut.
"Yang mulia, bukankah--"
"Sudah kering. Jadi cepat lakukan." Xiao Jiwang memotong acuh, dia diam-diam penasaran dengan pengobatan seperti apa yang akan Xiao Mingyui gunakan. Pasalnya sudah puluhan tabin Istana senior berkualitas baik yang berusaha mengobatinya selalu gagal, kali ini wanita itu datang dan menawarkan tawaran seperti ini, jadi ... tidak ada salahnya Xiao Jiwang menerimanya bukan?
Xiao Mingyui menghela napas tipis, kemudian mengangguk dan mulai mengambil posisi duduk lebih dekat dengan Xiao Jiwang.