
Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang kini berjalan bersama di kerumunan pasar dengan membawa setu tentengan berisi beberapa kotak manisan buah kering dan tanghulu, karena manisan yang dipesan terlalu banyak dan tidak mungkin dihabiskan mereka berdua pasa saat itu juga, akhirnya Xiao Mingyui memutuskan untuk membungkus pesanan mereka.
Xiao Jiwang menenteng manisan itu di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya erat menggenggam tangan Xiao Mingyui.
Mereka berdua berhenti tepat di depan penjual tusuk rambut, kedua mata Xiao Mingyui berbinar melihat banyaknya jenis dan model tusuk rambut. Xiao Jiwang tidak terlalu tertarik, pria itu hanya diam di samping Xiao Mingyui sembari melihat sekeliling.
"Yang mul--"
"Hati-hati." Xiao Jiwang memotong ucapan Xiao Mingyui yang hendak memanggilnya 'yang mulia' di tengah keramaian.
Xiao Mingyui memperhatikan sekeliling, ah ... dia melupakan ini. Xiao Mingyui merenung sedikit, lalu ... harus dengan apa dia memanggil Xiao Jiwang?
"Panggil namaku tanpa marga," ucap Xiao Jiwang, membuat Xiao Mingyui mendongak menatap pria itu.
Xiao Mingyui sedikit mengernyitkan keningnya, dia tidak terbiasa memanggil nama pria itu secara langsung. Tetapi, karena tidak mungkin selama di sini Xiao Mingyui tidak memanggilnya, mau tidak mau dia harus bisa melakukannya.
Bibir Xiao Mingyui tersenyum tipis, lalu bertanya,"Jiwang, bagaimana tusuk rambut ini?"
Xiao Jiwang tertegun, dia merasakan detakan aneh lagi di jantungnya hanya karena mendengar Xiao Mingyui memanggil namanya secara langsung. Xiao Jiwang memperhatikan penampilan Xiao Mingyui, wajahnya sedikit memerah.
Perlahan, pria itu melepas genggamannya untuk membetulkan posisi tusuk rambut Xiao Mingyui. "Jika ditusuk di bagian sini akan terlihat lebih baik."
Xiao Mingyui tidak bergerak sama sekali ketika Xiao Jiwang membetulkan posisi tusuk rambutnya secara pribadi. Mata wanita itu masih menatap wajah Xiao Jiwang, Xiao Mingyui menyadari bahwa wajah Xiao Jiwang memerah walaupun tertutup topeng. Tetapi dia tidak mengatakan apa pun.
"Ay ... pasangan yang serasi!"
Xiao Jiwang dan Xiao Mingyui terkejut ketika mendengar suara tersebut dari sang penjual, mereka berdua dengan cepat menoleh ke arah penjual. Penjual itu tersenyum melihat mereka berdua.
"Gunniang, apa anda ingin membeli tusuk rambut itu?" tanya sang penjual.
Xiao Mingyui mengangguk, kemudian hendak mengeluarkan kantung uangnya. Tetapi, Xiao Jiwang tiba-tiba lebih dulu memberikan uang kepada sang penjual.
Sang penjual tersenyum menyambut uang Xiao Jiwang, kemudian berkata,"Apa kalian pengantin baru? Aku baru pertama kali melihat kalian di pasar festival seperti ini."
Xiao Mingyui bingung hendak menjawab apa, matanya segera melirik Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang mengangguk, bibirnya tersenyum tipis. "Kami belum menikah, namun sudah bertunangan secara resmi."
Sang penjual pun tertawa. "Hohoho ... aiya, pantas saja aku melihat cahaya aura berwarna merah di antara kalian berdua."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya. "Aura merah?"
Penjual itu tersenyum lebih dalam. "Pekerjaan sampinganku adalah meramal, jika Gunniang ingin mengetahuinya lebih dalam, anda bisa menggunakan jasa saya."
Xiao Mingyui berpikir sejenak, sejujurnya dia tidak begitu mempercayai hal seperti ini. Tetapi, sepertinya tidak masalah jika dia sesekali menggunakan jasa seperti ini. Lagi pula, ini akan menambah hiburannya.
Xiao Mingyui mengangguk, bibirnya tersenyum tipis. "Boleh saya menggunakan jasa ramal anda?"
Penjual itu mengangguk ramah. "Tentu saja, Gunniang. Tunjukkan telapak tangan anda."
Xiao Mingyui dengan cepat memberikan telapak tangan kanannya, Xiao Jiwang yang melihat ini memutar bola matanya malam. Dia menganggap apa yang Xiao Mingyui lakukan adalah hal bodoh.
Penjual itu dengan cepat meraih tangan Xiao Mingyui dan memperhatikan garis tangannya dalam-dalam.
"Cahaya merah yang muncul di anda berdua terlihat sedikit memudar, ada kemungkinan pernikahan kalian akan gagal. Entah itu karena orang ketiga ataupun kematian. Kemudian ...."
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya ketika mendengar ramalan sang penjual, kemudian matanya menatap wajah Xiao Mingyui yang tetap terlihat tenang memperhatikan sang penjual sekaligus peramal itu.
Penjual itu tiba-tiba melepaskan genggamannya, kemudian tersenyum lembut ke arah Xiao Mingyui. "Anda ditakdirkan untuk memiliki takdir yang tidak biasa. Aku tidak bisa menjelaskannya secara detail, karena aura dan garis tangan anda sulit untuk dipahami. Terlebih lagi, saya melihat ada campur tangan aura spiritual suci yang akan datang di dalam takdir kehidupan anda. Untuk sekarang, pilihan saling melindungi dan terbuka satu sama lain adalah yang paling tepat. Saya harap, pernikahan kalian dapat terlaksana dengan lancar, yang mulia."
Di akhir kalimat, Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang sedikit tertegun. Peramal itu mengetahui identitas mereka tanpa diberitahu? Hal ini membuat Xiao Mingyui yakin bahwa peramal itu bukanlah peramal gadungan atau orang biasa yang gemar mengarang cerita mengenai takdir seseorang.
Xiao Jiwang menggenggam tangan Xiao Mingyui lagi, kemudian berkata,"Perhatikan kalimat apa yang hendak kamu lontarkan untuk ke depannya. Apa yang kamu ucapkan akan menentukan kapan kematianmu tiba."
Peramal itu tersenyum tipis, lalu mengangguk dan membungkuk ke arah Xiao Jiwang. "Saya menghormati setiap privasi pelanggan."
Xiao Jiwang mengangguk singkat, kemudian melemparkan koin perak ke atas meja sang peramal dan melangkah pergi sambil menggandeng Xiao Mingyui.
Xiao Jiwang berjalan sangat cepat, membuat Xiao Mingyui yang memakai hanfu panjang kesulitan untuk mengimbangi langkah kakinya. Mereka berdua akhirnya berhenti di bawah pohon besar yang rindang, Xiao Mingyui menatap kesal ke arah Xiao Jiwang karena menarik tubuhnya seenaknya.
"Yang mulia, apa suasana hati anda sedang buruk?" tanya Xiao Mingyui, kali ini dia kembali kepada panggilan normal karena tidak ada orang lain do sekitaran mereka.
Xiao Jiwang menggeleng. "Tidak, mengapa kamu berpikir demikian?"
Xiao Mingyui menghela napas tipis, kemudian meletakkan kedua jarinya di alis Xiao Jiwang yang bertaut. "Kalau begitu mengapa ini selalu terlihat menyatu layaknya orang marah?"
Xiao Jiwang yang hendak menjawab, tiba-tiba pandangan matanya tidak sengaja menemukan Chen Qi yang melempar sinyal darurat.
Xiao Mingyui yang juga mendadak menyadari kehadiran Chen Qi pun ikut terdiam. Xiao Jiwang menoleh ke arah Xiao Mingyui, lalu berkata,"Tunggu aku di sini, ada sedikit urusan."
Xiao Mingyui menunggu sendirian di bawah pohon, Xiao Jiwang cukup lama meninggalkannya sendirian. Xiao Mingyui mulai bosan, wanita itu memutuskan untuk melihat-lihat penjual pakaian yang berjarak tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Xiao Mingyui menyentuh kain hanfu itu, hm ... kualitas kainnya memang tidak terlalu tinggi, namun masih terbilang nyaman digunakan.
Ketika Xiao Mingyui sedang sibuk melihat-lihat, tiba-tiba dari belakang terdengar suara pria yang merdu dan lembut.
"Putri Mingyui?"
Xiao Mingyui dengan cepat menoleh, dia terkejut mendengar seseorang menyebut nama sekaligus gelar miliknya. Ketika melihat sosok pria itu, Xiao Mingyui dengan cepat tersenyum tipis. "Ah ... tuan muda Fang?"
Fang Laowang, rambut hitam berkilau pria itu terlihat sangat indah. Ditambah, pria itu kini mengenakan topeng berwarna putih sama seperti dirinya. Kedua bola mata biru cerah yang mirip dengan mendiang ayahnya membuat Xiao Mingyui terpaku untuk terus menerus menatap bola mata itu.
"Anda sendirian di sini?" tanya Fang Laowang sambil menoleh ke sana kemari untuk menemukan pelayan atau rekan Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui menggeleng. "Tidak, saya datang bersama seseorang, namun saat ini dia sedang memiliki urusan sebentar."
Fang Laowang mengangguk mengerti, dia tidak menaruh pikiran aneh apa pun. Pria itu kemudian menoleh ke arah hanfu-hanfu yang tergantung indah. "Anda hendak membeli hanfu di sini?"
Xiao Mingyui menggeleng. "Tidak, saya hanya melihat-lihat."
Fang Laowang mengangguk lagi, kemudian kembali menatap Xiao Mingyui dan tersenyum. "Apa anda bersedia menjadi partner saya berkeliling di festival malam ini? Kebetulan saya juga seorang diri."
Xiao Mingyui hendak menjawab untuk menolah, namun tiba-tiba hujan deras turun, membuat jawabannya tertahan. Fang Laowang dengan sigap menarik tangan Xiao Mingyui untuk meneduh di sebuah toko obat herbal.
"Astaga, hujan ..." ucap Fang Laowang sambil menatap langit yang menurunkan hujan sangat deras. Tangan pria itu masih menggenggam erat tangan Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, matanya menatap lekat pergelangan tangannya yang digenggam erat oleh Fang Laowang.
Xiao Mingyui dengan cepat namun sopan melepas genggaman Fang Laowang, membuat pria itu menatap tangan mereka berdua. Ada secercah tatapan dingin di mata Fang Laowang, namun tak berlangsung lama, pria itu kembali tersenyum ke arah Xiao Mingyui. "Maafkan saya, yang mulia. Saya menyentuh anda tanpa izin, namun ... saya benar-benar khawatir anda akan basah kuyup nanti."
Xiao Mingyui mengangguk singkat. "Tidak masalah, tuan muda Fang. Saya mengerti, terima kasih."
Fang Laowang mengangguk puas, kemudian berkata,"Ah ... ngomong-ngomong, saya dengar anda menyukai semua hal yang berbau seni. Kebetulan saya tertarik dengan seni lukis, saya juga mendengar bahwa yang mulia pandai sekali melukis. Jika anda tidak keberatan, bersediakah anda untuk melihat dan menilai hasil karya seni saya? Saya sempat melukis ulang lukisan mendiang Huangtaihou niangniang dan mendiang Xiao Wangfei niangniang, saya pikir anda akan tertarik untuk melihatnya?"
Xiao Mingyui yang mendengar ini pun tidak bisa menolak, namun ... mengingat pria ini bermarga Fang, Xiao Mingyui tidak begitu terbuka.
"Tentu saja, mungkin lain waktu jika ada kesempatan untuk melihat karya lukisan anda, saya pasti akan membantu," jawab Xiao Mingyui tanpa memberikan kepastian kapan mereka akan bertemu kembali.
Fang Laowang mengangguk, pria itu belum mengetahui kondisi buruk keluarga Fang dengan beberapa oknum seperti Xiao Wangfu dan Putra Mahkota. Mendengar kalimat Xiao Mingyui, pria itu berpikir Xiao Mingyui tidak begitu berminat dengan apa yang dia katakan. Tetapi, pria itu tidak menyerah, dia tetap berusaha.
"Baik, kalau begitu apakah anda mengizinkan saya untuk bertamu ke Xiao Wangfu? Saya sangat berantusias untuk menunjukkan karya saya kepada anda dan pangeran Xiangqing. Dan jika anda tidak keberatan, apakah anda bersedia untuk--"
"Untuk apa?"
Suara berat dan dingin milik Xiao Jiwang terdengar, pria itu tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua sambil mengenakan payung. Tatapan mata Xiao Jiwang terlihat sangat dingin.
Fang Laowang mengerutkan keningnya, dia tidak mengenali Xiao Jiwang.
Xiao Mingyui membungkuk ke arah Xiao Jiwang, membuat Fang Laowang bingung. Xiao Mingyui membungkuk? Gelar putri yang dimiliki oleh Xiao Mingyui sudah sangat tinggi, namun ... wanita itu membungkuk kepada pria yang baru saja muncul? Hal ini membuat Fang Laowang bertanya-tanya, siapa pria di hadapannya ini?
"Yang mulia, anda sudah selesai?" tanya Xiao Mingyui.
Fang Laowang masih belum menyadari bahwa pria di hadapannya ini adalah Putra Mahkota. Xiao Jiwang menghiraukan Fang Laowang, pria itu beralih menatap Xiao Mingyui dan menarik tangan Xiao Mingyui untuk berdiri di sampingnya.
Xiao Jiwang tersenyum ke arah Fang Laowang. "Terima kasih banyak karena telah menemani wanita saya."
Fang Laowang mengerutkan keningnya semakin dalam. 'Wanita saya'? Jantung Fang Laowang perlahan berdetak karena kekhawatiran.
Xiao Mingyui yang melihat Fang Laowang kebingungan segera membantu menjelaskan. "Tuan muda Fang, ini adalah yang mulia Putra Mahkota." Kemudian dia menoleh ke arah Xiao Jiwang. "Yang mulia, tuan muda Fang baru saja tiba di ibu kota beberapa hari yang lalu. Tolong anda jangan memasukkan hal ini ke dalam hati, tuan muda Fang hanya tidak mengenali anda karena beliau jarang berada di Ibu Kota."
Fang Laowang tertegun, dia dengan cepat membungkuk ke arah Xiao Jiwang. "Mohon maaf karena saya tidak mengenali yang mulia, saya pantas dihukum."
Xiao Jiwang menatap dingin Fang Laowang. "Tidak masalah, bagus jika kau sudah tahu."
Tatapan mata Fang Laowang diam-diam mendadak berubah sangat dingin, tatapan ini tidak disadari oleh Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang, karena pria itu membungkuk.
"Kalau begitu, selamat bersenang-senang di Ibu Kota, tuan muda Fang. Sekali lagi terima kasih karena telah menemani tunangan saya untuk sementara waktu," ucap Xiao Jiwang, membuat Fang Laowang diam-diam merasakan kemarahan sekaligus kedinginan di hatinya.
Xiao Jiwang menoleh lagi ke arah Xiao Mingyui, kemudian berkata,"Ayo, kita kembali sekarang. Kamu bisa sakit jika terlalu lama di luar seperti ini."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, kalimat Xiao Jiwang memang tidak ada yang aneh, namun mendengar Xiao Jiwang yang mengucapkan itu untuknya benar-benar sangat aneh.
Xiao Jiwang melonggarkan lengannya yang memegang payung sebagai tempat Xiao Mingyui melingkarkan tangannya, setelah itu mereka berdua berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Fang Laowang yang masih membungkuk dengan raut wajah suram.
Tak lama kemudian Fang Laowang kembali menegakkan badannya, matanya masih memancarkan kedinginan yang luar biasa. Ada perasaan kecewa yang sangat besar di hatinya ketika mendengar kabar tersebut.