
Xiao Mingyui dan Xiao Jiwang melompat dari satu atap ke atap lainnya. Tangan Xiao Mingyui digenggam erat oleh pria itu. Tak terasa, kini mereka sudah benar-benar tiba di pasar besar Ibu Kota. Hari ini pasar terlihat lebih meriah dan ramai karena acara festival topeng yang rutin diadakan satu tahun sekali, festival ini baru resmi diadakan tujuh tahun lalu.
Xiao Jiwang menoleh untuk melihat Xiao Mingyui, dia melihat wanita itu sedang asyik memperhatikan kondisi pasar. Pandangan Xiao Mingyui sedari tadi berpindah-pindah, banyak sekali hal yang membuatnya tertarik, dia tidak pernah terlalu memperhatikan keadaan pasar sedetail ini.
"Yang mulia, bolehkah kita turun sekarang?" Xiao Mingyui menoleh ke arah Xiao Jiwang, mata mereka bertemu. Xiao Mingyui sedikit terkejut karena ternyata Xiao Jiwang sudah lebih dulu menatapnya, namun wanita itu berusaha menutupi keterkejutannya.
Xiao Jiwang mengangguk, lalu mengulurkan tangannya lagi ke arah Xiao Mingyui. Xiao Mingyui tersenyum tipis, kemudian membalas uluran tangan pria itu. Tanpa basa-basi lagi, Xiao Jiwang dan Xiao Mingyui melompat bersama, mereka mendarat dengan mulus di dalam gang sepi agar tidak menimbulkan keterkejutan kepada para pengunjung lainnya.
Xiao Mingyui terlihat sangat antusias, wanita itu melangkah lebih dulu. Xiao Jiwang yang dapat melihat binar antusias di mata Xiao Mingyui pun ikut tersenyum, pria itu menyusul Xiao Mingyui dengan berjalan santai.
"Jangan terlalu jauh dariku," ucap Xiao Jiwang setelah kembali berdiri tepat di samping Xiao Mingyui, kemudian menggenggam tangan wanita itu lagi.
Xiao Mingyui tertegun, lalu matanya menatap tangannya yang digenggam erat oleh Xiao Jiwang. Dia tidak tahu mengapa hari ini Xiao Jiwang memperlakukannya sedikit berbeda.
"Yang mulia, bolehkah saya membeli manisan tanghulu di sana? Mendiang ibu saya pernah bercerita bahwa toko manisan itu memiliki kualitas rasa yang luar biasa." Bibir Xiao Mingyui tersenyum tulus kala jari telunjuknya menunjuk sebuah toko manisan yang telah berdiri selama puluhan tahun.
Xiao Jiwang mengangguk, kemudian mereka berdua segera berjalan beriringan menuju toko manisan tersebut.
"Selamat datang di toko manisan kami, silahkan tentukan di mana kedua tamu terhormat hendak menyantap manisan kami. Dibungkus atau makan di sini?" Sapa tanya penjaga toko dengan ramah.
Xiao Mingyui berpikir sejenak untuk membawa manisan itu atau memakannya langsung di sini. Sejujurnya dia ingin memakan manisan itu langsung di sini, namun ... dia tidak berani mengatakannya karena Xiao Jiwang. Xiao Mingyui khawatir Xiao Jiwang akan merasa tidak senang karena harus 'terjebak' di tempat ini.
"Makan di sini dan tolong siapkan ruang VIP untuk kami."
Xiao Jiwang menjawab pertanyaan penjaga toko, membuat Xiao Mingyui menatapnya terkejut. Pria itu ... tidak keberatan?
Xiao Jiwang kembali menatap Xiao Mingyui, keningnya sedikit terlipat. "Ada apa? Kau tidak senang? Perlukah kita mengubahnya?"
Xiao Mingyui dengan cepat menggeleng. "Tidak, saya menyukainya. Eh ... saya ingin tanghulu dan manisan buah kering."
Xiao Jiwang mengangguk singkat, lalu menatap penjaga toko sambil berjalan menuju lantai atas, tangannya masih menggenggam erat tangan Xiao Mingyui. "Siapkan tanghulu dan manisan buah kering terbaik."
"Baik, tuan dan nona. Selamat menikmati waktu anda ...."
Xiao Mingyui mengikuti langkah kaki Xiao Jiwang, ketika mereka sudah sampai di ruangan VIP tersebut, tanpa sadar Xiao Mingyui tersenyum semakin dalam. Wanita itu dengan cepat berlari ke arah balkon ruangan yang menampilkan secara langsung kemeriahan di bawah sana.
"Yang mulia, di sana ada orang yang dapat mengeluarkan api!" Xiao Mingyui menunjuk secara antusias ke pertunjukkan kecil di bawah.
Xiao Jiwang memilih duduk di kursi yang ada di balkon tersebut, kemudian mengangguk singkat. "Ya."
Xiao Mingyui menoleh, kemudian duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kursi Xiao Jiwang. Xiao Mingyui masih tersenyum. "Apa anda sering mengunjungi pasar yang meriah seperti ini?"
Xiao Jiwang menggeleng. "Aku sibuk, tidak terlalu sering. Tetapi setidaknya tidak setidaktahu apa-apa seperti dirimu."
Senyum Xiao Mingyui sedikit menghilang, kejengkelan sedikit tumbuh di hatinya. Tetapi karena Xiao Mingyui tidak ingin merusak suasana baik malam ini, wanita itu berusaha tetap tersenyum.
Tak lama, pesanan mereka tiba. Xiao Mingyui menatap penuh minat ke arah manisan-manisan tersebut.
"Dulu mendiang ibu saya sering memesan manisan dari toko ini, rasanya memang enak sekali. Tetapi katanya manisan ini akan terasa jauh lebih nikmati jika disantap di ruang terbaik yang dimiliki toko ini," ujar Xiao Mingyui sambil mengambil manisan kering.
Xiao Jiwang ikut mengambil manisan kering tersebut, lalu menjawab,"Apa lagi yang ingin kamu lihat setelah ini?"
Xiao Jiwang menaikkan alis kirinya. "Hanya sedikit toko perhiasan yang buka di jam segini, jika--"
"Tidak, bukan di toko perhiasan mahal. Saya ingin tusuk rambut biasa yang dijual di pedagang kaki lima. Bingbing, pelayan pribadi saya sering mengunjungi pasar seperti ini, dia selalu kembali dengan tusuk rambut yang manis-manis. Walaupun memang kualitas dan nilainya tidak tinggi, namun secara tampilan dia sangat menarik." Xiao Mingyui memotong cepat kesalahpahaman Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang mengangguk singkat. "Baiklah."
Xiao Mingyui kini meraih manisan tanghulu, lalu kembali berdiri dan memakannya di pinggiran balkon sambil menatap ke bawah. Xiao Jiwang diam-diam ikut berdiri dan kini berada tepat di samping Xiao Mingyui.
Xiao Mingyui mendongak, dia melihat Xiao Jiwang sedang melihat langit malam yang tampak mendung, tidak ada bintang sama sekali malam ini.
"Yang mulia, jika saya bertanya akan sesuatu apakah anda bersedia menjawab?" tanya Xiao Mingyui.
Xiao Jiwang menunduk, matanya menatap Xiao Mingyui. "Tergantung dengan apa yang ingin kamu tanyakan."
Xiao Mingyui kembali menatap keramaian di bawah sana, lalu bertanya,"Bagaimana jika saya meminta untuk dicintai setelah kita menikah?"
Xiao Jiwang menghela napas tipis, lalu menjawab,"Aku sudah sering menjelaskannya. Tidak akan."
Xiao Mingyui mengangguk singkat, lalu bertanya lagi. "Kalau begitu, apakah anda mengizinkan saya untuk mencintai pria lain selagi status pernikahan kita terus berjalan?"
Xiao Jiwang mengerutkan keningnya dalam, raut wajahnya terlihat terkejut. Matanya menatap Xiao Mingyui semakin dalam, ada siluet ketidaksetujuan di matanya.
Mendengar Xiao Jiwang tak menjawabnya, Xiao Mingyui pun memilih melanjutkan ucapannya. "Bukankah itu hal yang baik? Pernikahan kita hanya sandiwara untuk menjaga perdamaian Kekaisaran dan menekan oknum yang ingin menjatuhkan Xiao Wangfu dan anda secara bersamaan. Artinya tidak ada perasaan serius antara kita berdua, dan artinya juga saya dan anda bebas menentukan kepada siapa kita akan saling mencintai."
Tatapan mata Xiao Jiwang menjadi dingin, lalu dia ikut memandang ke arah kerumunan di bawah. "Kamu bebas memilih, namun jika tidak ingin dinilai sebagai wanita murahan, lebih baik tidak perlu melakukan hal yang merugikan."
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, kemudian mendongak untuk menatap Xiao Jiwang. "Bukankah itu tidak adil? Anda adalah Kaisar, maka dari itu anda dapat mencintai dan menikahi wanita lain tanpa pandangan buruk sedikitpun. Tidakkah anda memikirkan bagaimana perasaan saya? Saya tidak bicara mengenai rasa cemburu jika anda menikahi wanita lain, namun ini tentang perasaan tidak adil yang akan saya dapatkan. Haruskah saya mati kesepian?"
Xiao Jiwang berdecak kesal. "Ck, apa yang membuatmu bertanya hal aneh seperti ini? Pernikahan masih jauh, untuk apa dipikirkan sekarang?"
Xiao Mingyui menggigit tanghulu-nya sambil kembali menatap kerumunan, namun kali ini kepalanya sedikit lebih menunduk.
"Walaupun saya terkesan terbiasa dengan kedinginan dan kekerasan, namun sejujurnya saya ingin hidup bahagia seperti mendiang ibu saya. Tidak, saya tidak ingin menirunya terlalu keras seperti yang sudah anda katakan pada saya beberapa hari lalu. Tetapi, keinginan untuk mencintai dan dicintai adalah milik saya sendiri. Salahkah saya mengharapkan hal seperti itu?" tanya Xiao Mingyui lagi.
Xiao Jiwang tersenyum tipis. "Jika aku izinkan, kepada siapa kamu ingin saling mencintai? Utusan Agung?"
Xiao Mingyui mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat sedang merenung, membuat Xiao Jiwang yang menyadari ini entah mengapa bertambah kesal.
Xiao Mingyui mengangguk. "Sepertinya pilihan itu tidak terlalu buruk, namun ... dia adalah Utusan Agung, apa tidak masalah?"
Raut wajah Xiao Jiwang seratus persen menunjukkan kekesalan, dengan acuh dia berkata,"Bajingan itu terlalu tua ratusan tahun untukmu, dia tidak cocok dijadikan pasangan, karena sebentar lagi akan mati."
Xiao Mingyui terkejut dengan kalimat kasar penuh terus terang Xiao Jiwang, wanita itu dengan cepat menoleh ke arah Xiao Jiwang.
Xiao Jiwang menyeringsi tipis, lalu mencondongkan wajahnya ke wajah Xiao Mingyui, lalu bertanya,"Apa? Kau tidak terima?"
Xiao Mingyui mengerutkan keningnya kesal, lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Xiao Jiwang. "Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja--"
"Sudah, cepat habiskan manisan itu. Setelah ini kita pergi dari sini." Xiao Jiwang memotong kalimat Xiao Mingyui, kemudian berbalik dan kembali duduk di kursinya semula.