The Next Of Phoenix

The Next Of Phoenix
Bab 48. Putri Mo



"Wangye, ada seorang wanita yang tersesat. Dia mengaku sebagai perwakilan Kekaisaran Barat, kini wanita itu berada di ruang tunggu kerja anda." Gu Lingchi melaporkan apa yang dia temukan di gerbang kantor militer ketika baru saja kembali mencari informasi.


Xiao Xiangqing yang baru saja selesai dari kegiatannya pun sontak menaikkan alis kirinya singkat. Perwakilan Kekaisaran Barat? Tersesat? Hanya orang idiot yang berani berbohong kepadanya. Apa lagi membawa-bawa utusan Kekaisaran Barat.


Xiao Xiangqing dengan cepat berdiri, kemudian berjalan keluar dari ruang kerjanya menuju ruang tunggu tamu. Sesampainya di sana, dia melihat seorang wanita basah kuyup. Tubuhnya menggigil, pelayan wanita di sebelahnya menangis kecil sesenggukan.


Ketika melihat wajah wanita itu, sial ... apa yang dikatakan Gu Lingchi benar. Wanita itu sungguhan utusan perwakilan Kekaisaran Barat.


"Putri Mo?" tanya Xiao Xiangqing begitu melihatnya, wajahnya menatap heran kepada Mo Wanwan. Mengapa dia bisa tersesat tengah malam dengan kondisi tubuh basah kuyup.


Mo Wanwan mengangkat pandangannya untuk melihat Xiao Xiangqing, tubuhnya terlihat pucat dan lemah, karena gigilan yang kuat, dia kesulitan untuk berdiri dan bicara.


Xiao Xiangqing dengan cepat melepas jubahnya, kemudian mengenakannya kepada Mo Wanwan. Lalu, dia menoleh ke arah Gu Lingchi. "Lingchi, bawa satu mantel hangat kemari untuk pelayan Putri Mo. Kemudian beli dua pakaian wanita di toko pakaian."


Gu Lingchi mengerutkan keningnya. "Wangye, seluruh toko pakaian telah tutup di larut malam seperti ini."


Xiao Xiangqing berdecak kesal. "Tendang saja pintunya. Benwang yang akan bertanggungjawab."


Xiao Xiangqing mulai mengubah sebutannya sendiri, perlahan dia mulai beradaptasi dengan gelar barunya. Dia memaksakan hal ini karena Mo Wanwan adalah utusan dari Kekaisaran Barat, jika berita seorang putri Kekaisaran Barat ditemukan seperti tak terurus ingin mati basah kuyup, Kekaisaran Timur bisa saja dituntut.


"Baik!" Mendengar nada bicara Xiao Xiangqing, Gu Lingchi tanpa banyak bertanya lagi segera melesat keluar. Dia baru menyadari mengapa Xiao Xiangqing terlihat sangat memaksa.


Xiao Xiangqing kembali fokus kepada Mo Wanwan, namun sebelum itu dia melirik sebentar pelayan Mo Wanwan. "Kamu pergi ke ruangan belakang ruangan ini, di sana ada penghangat. Kamu bisa menghangatkan tubuhmu."


Pelayan itu melirik majikannya, dia terlihat ragu. Xiao Xiangqing yang mengerti keraguannya pun segera berkata,"Putri Mo akan menjadi tanggungjawab benwang untuk saat ini."


Begitu mendengar pernyataan Xiao Xiangqing, pelayan itu dengan cepat membungkuk, kemudian berkata,"Baik, Wangye. Terima kasih banyak." Setelah itu dia berjalan keluar ruangan.


Xiao Xiangqing lalu mengambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Mo Wanwan, matanya dengan tajam memperhatikan wanita itu.


"Bagaimana bisa anda tersesat di tengah malam seperti ini? Bukankah ini sangat mencurigakan?" tanya Xiao Xiangqing tanpa mempedulikan tubuh Mo Wanwan yang menggigil.


Mo Wanwan mengerutkan keningnya. "A--apa itu penting saat ... saat ini, yang mulia? Kondisi tubuh saya sa-- sangat menggigil, hing ... hingga kesulitan un-- untuk menjawab. A--apa anda--"


"Tutup mulutmu. Kau pikir benwang pria yang peduli akan hal itu? Bersyukurlah yang menemukanmu malam ini adalah benwang. Jika saudari perempuanku yang menemukanmu, kamu tidak akan diizinkan masuk begitu saja. Tidak peduli apakah kamu sedang sekarat atau tidak." Xiao Xiangqing masih menatap tajam penuh curiga ke arah Mo Wanwan.


Mo Wanwan mengeluh di dalam hati, dia tidak menyangka Xiao Xiangqing cukup keras dan dingin. Jika bukan karena untuk keluarganya, dia tidak akan mau berhubungan dengan pria dingin ini.


Tak lama Gu Lingchi kembali, sepertinya pria itu menggunakan kecepatan maksimal untuk melaksanakan perintah Xiao Xiangqing.


"Wangye, ini ... pakaiannya ...." Gu Lingchi menyerahkan pakaian itu ke arah Xiao Xiangqing dengan napas terengah-engah.


Xiao Xiangqing mengambil pakaian itu, lalu melemparkannya ke arah Mo Wanwan. "Cepat ganti pakaianmu dan berikan satu pakaian lainnya kepada pelayanmu itu. Kembali kemari untuk menghadap benwang setelah selesai."


Gu Lingchi mengangguk, dia segera membantu Mo Wanwan berjalan menuju ruangan belakang tempat pelayan pribadi Mo Wanwan menunggu.


Setelah menunggu sedikit lagi, Mo Wanwan dan pelayannya kembali muncul. Penampilan Mo Wanwan tidak lagi gemetar kedinginan, kali ini dia terlihat lebih baik dari pada sebelumnya, namun kulitnya tetap terlihat sangat pucat.


"Perintahkan orang dapur untuk menyeduh teh hangat untuk Putri Mo, Lingchi," perintah Xiao Xiangqing lagi. Gu Lingchi pun bergegas kembali berjalan keluar menuju dapur.


Kemudian mata Xiao Xiangqing menatap pelayan pribadi Mo Wanwan. "Kau bisa keluar atau kembali ke ruangan sebelumnya."


Pelayan pribadi Mo Wanwan tidak berani membantah, wanita itu bergegas keluar. Kini, di ruangan tunggu tamu kantor militer Xiao Wangfu hanya ada mereka berdua.


"Aku beri waktu setengah dupa untuk menjelaskan kejadian ini," ucap Xiao Xiangqing, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa. Kedua mata birunya perlahan terpejam, tangan kanannya bersandar pada lengan sofa.


Mo Wanwan tanpa banyak bertanya lagi dengan cepat menceritakan kejadian yang menimpanya. "Saya sempat pergi ke pasar malam Ibu Kota, banyak orang yang mengatakan bahwa pasar malam Ibu Kota Kekaisaran Timur sangat menawan. Tetapi ketika sedang asyik menikmati waktu, seorang pria tiba-tiba mencuri dompet saya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung berlari mengikutinya. Tetapi, pria itu berlari ke arah yang tidak biasa, seolah membawa saya ke hutan tepi Ibu Kota. Di sana saya sempat bertarung, sialnya saya kalah dan tercebur ke danau. Beruntung saya mempunyai kemampuan untuk berenang. Saya dan pelayan saya tidak mengetahui jalan kembali, kami hanya berjalan mengikuti insting hingga menemukan kantor militer Xiao Wangfu."


Xiao Xiangqing diam, pria itu tak membuka matanya atau pun berkomentar sama sekali. Tetapi terlihat keningnya sedikit terlipat.


Tetapi tak lama kemudian kedua mata Xiao Xiangqing terbuka, bola mata birunya seperti panah yang menusuk tajam Mo Wanwan. Tatapan itu benar-benar terlihat menawan dan mematikan dalam waktu yang bersamaan.


"Jangan anggap remeh Xiao Wangfu, benwang akan memeriksa hal ini lebih lanjut," ucap Xiao Xiangqing, kemudian berdiri dan berkata,"Kembalilah, dua prajurit Xiao Wangfu akan mengawal anda. Setelah itu, harap lebih berhati-hati."


Xiao Xiangqing langsung berjalan pergi meninggalkan Mo Wanwan begitu saja, Gu Lingchi pun ikut pergi mengikuti langkah Xiao Xiangqing. Di luar, Xiao Xiangqing langsung memberikan perintah kembali. "Selidiki Putri Mo."


Gu Lingchi mengangguk cepat. "Baik, yang mulia. Hati-hati di jalan."


Begitu Xiao Xiangqing menaiki kudanya, Gu Lingchi bergegas berlari kecil untuk memanggil dua prajurit yang sedang senggang untuk mengawal kepulangan Putri Mo menuju Istana.


Sementara itu di Xiao Wangfu, Xiao Mingyui dan Fang Laowang baru saja selesai berbincang. Ketika Xiao Mingyui mengantar kepulangan Fang Laowang hingga gerbang Xiao Wangfu, tak lama kemudian sosok Xiao Xiangqing yang baru saja kembali tiba.


Xiao Xiangqing turun dari kudanya, lalu bertanya,"Pria itu kemari?"


Xiao Mingyui mengangguk. "Dia kemari untuk membahas lukisannya. Kedepannya, mungkin dia akan sering kemari. Tetapi pastikan kamu berada di Xiao Wangfu setiap dia datang agar tidak melukai nama Putra Mahkota."


Xiao Xiangqing tersenyum tipis. "Sekarang Jiejie peduli dengan Putra Mahkota?"


Xiao Mingyui mengerutkan keningnya, menatap adiknya kesal, kemudian menjawab,"Aku mengatakan ini demi nama baik Xiao Wangfu dan diriku sendiri."


Xiao Xiangqing terkekeh. "Baiklah, Jiejie ...." Nada bicara Xiao Xiangqing terdengar meledek.


Xiao Mingyui menggelengkan kepalanya pelan, kemudian berkata,"Masuklah ke dalam, Xiangqing. Ada yang ingin aku bicarakan mengenai Putri Mo utusan Kekaisaran Barat."


Xiao Xiangqing tertegun, keningnya otomatis terlipat tipis. Dia juga baru saja hendak mengatakan hal yang sama, apa ... kakaknya sudah mengetahui kejadian barusan? Atau pembahasan mengenai Putri Mo yang berbeda?